Halo!

Golok Naga Terbang - Chapter 56

Memuat...
Golok Naga Terbang

Chapter 56

Li Cu Liong berbisik hampir tak terdengar. Sepasang matanya memandang penuh pertanyaan dan keharuan melihat dara yang diculik Sim Tok Tojin itu ternyata tidak kurang suatu apa pun. Sejak menolong gadis itu dari rantai di Batu Iblis, perasaan Cu Liong tidak karuan melihat dara itu selamat. Akan tetapi, sekarang masih banyak yang harus dikerjakan dan di situ banyak orang kang-ouw sehingga ia merasa tak leluasa untuk mengutarakan isi hatinya.

"Heh-heh-heh, akhirnya ketemu juga! Gin Nio, sejak kau menghilang di depan kuil itu, kami semua merasa cemas akan nasibmu. Terutama... ha-ha-ha..." Pek-tung Lo-kai memandang ke arah Thio Hwie Kian.

Wajah Thio Hwie Kian memerah melihat pandangan mata Gin Nio. Ia menunduk malu. Tak sepatah kata pun dapat keluar dari pemuda tinggi besar murid Siucai Sinting itu. Kakinya tampak bergerak-gerak tak menentu. Li Cu Liong yang melihat keadaan ini segera menyingkir. Apalagi mendengar ucapan Pek-tung Lo-kai itu, ia merasa ada sesuatu antara kedua teruna tersebut. Maka, ia lalu menuju ke tempat bekas amukan para durjana itu. Sepasang matanya basah teringat bahwa dendam gurunya telah terbalas, walaupun ia melihat korban yang berjatuhan tidak sedikit.

Orang-orang yang masih hidup segera mengurus yang luka dan mengobatinya, lalu membawa yang tewas ke dalam ruangan kuil yang telah ambruk sebagian besar itu. Dari barisan batu pun tampak orang-orang mengusung jenazah dan semua dikumpulkan di ruangan kuil. Ada seratus orang lebih yang menjadi korban pertempuran itu. Tanpa pandang bulu, semua mayat dikumpulkan di ruangan itu.

"Kita harus sempurnakan jenazah mereka. Baik musuh atau teman. Mayat-mayat ini kalau tidak disempurnakan akan menimbulkan penyakit dan mengotori udara!" Siucai Sinting mendekat sambil membawa dua tong kayu besar berisi minyak lemak.

Beberapa orang telah membawa balok-balok kayu dari reruntuhan kuil. Malah ada yang membongkar pintu-pintu atau dipan kayu, lalu ditumpuk di ruangan untuk membakar mayat-mayat itu beserta kuilnya sekalian. Pekerjaan itu hampir selesai ketika matahari telah sepenggalah tingginya.

"He-heh-heh, semua akhirnya mati! Kenapa kalau masih hidup tidak mau berbuat baik? Sekarang kalau sudah mampus apa yang dibanggakan lagi?" Pek-tung Lo-kai mengedumel sendiri. Sepasang mata kakek pengemis itu pun tampak basah karena melihat tumpukan mayat tersebut.

Li Cu Liong mengawasi semua itu dengan berbagai macam pikiran mengganggu benaknya. Tampak sekali dari kerut di dahinya. Sesekali pemuda itu melirik ke arah Tan Gin Nio dan Thio Hwie Kian silih berganti. Nelayan Pantai Timur pun tampak sedang berbincang dengan Soo Kian Kun di pojok kuil setelah Siucai Sinting itu meletakkan tong besar berisi minyak tersebut. Entah apa yang dibicarakan dua sahabat itu.

Orang-orang yang berada di tempat itu segera menyalakan obor dan membakar tumpukan mayat serta kayu yang telah disiram minyak. Tampak asap mengepul tebal dan bau daging terbakar membuat mereka segera mundur menjauhi. Pek-tung Lo-kai juga mundur setelah tadi bertahan di dekat api yang berkobar. Kakek pengemis tonggos ini mendekati kedua tokoh tua persilatan itu, sedangkan di kejauhan tampak Tan Gin Nio sedang berbicara lirih dengan Thio Hwie Kian. Sesekali tampak Gin Nio melihat ke arah Cu Liong.

"Heh-heh-heh, Sobat Nelayan, sungguh pandai kau memilih murid. Tidak seperti diriku, pengemis jembel miskin ini. Tak seorang pun dapat cocok lama, ha-ha-ha!"

"Tentu saja! Siapa mau mempunyai guru tak pernah mandi, heh-heh!" ejek Soo Kian Kun.

"Apa? Aku? Aku tak pernah mandi? Jangan menghina kau, pelajar gendeng! Aku pun tak kalah denganmu. Ya, nama besar. Lebih besar dari nama gurunya..." Pek-tung Lo-kai memandang ke angkasa, memandang awan berarak.

"Kau? Macammu itu punya murid? Tak usah ya. Belum pernah aku mendengarnya?" kembali Siucai Sinting mencemooh.

Pek-tung Lo-kai seperti orang kena pesona ketika melihat awan putih bergumpal-gumpal terbawa angin. Ia tidak menyahut sama sekali ejekan sobat kentalnya tadi. Entah apa yang berada dalam benak pengemis tua tonggos tersebut.

"Lihat saja nanti!" Pek-tung Lo-kai menjawab lirih seperti orang bermimpi.

"Heh-heh-heh, bagaimana jawabmu, Sobat?" Soo Kian Kun mendesak kepada nelayan tua itu.

Sedangkan si nelayan hanya memandang ke arah murid perempuannya yang sedang berbincang dengan murid pelajar rendahan itu. "Ah, terserah anak itu sendiri. Aku orang tua hanya menurut saja apa maunya."

"Bagus kalau begitu. Ha-ha-ha..." Soo Kian Kun tertawa senang. Dalam benaknya telah terbayang mempunyai mantu perempuan cantik dan memiliki kepandaian luar biasa. Hati siapa yang tidak akan berbunga mendapatkan anak mantu seperti itu?

Pletakkk! Pletakkk! Pletakkk! Terdengar letupan tulang-tulang manusia yang terbakar itu. Letupan saling susul seperti suara rentengan mercon di kala menyambut musim semi. Namun, bau daging yang terbakar menyengat hidung mereka. Api pun semakin berkobar ketika menerima umpan kayu besar berupa balok-balok penyangga rumah kuil dari belakang dan samping ruangan itu.

Pek-tung Lo-kai dan Soo Kian Kun si Siucai Sinting masih saling adu ketajaman lidah. Sedangkan Nelayan Pantai Timur mengawasi api yang membakar mayat-mayat tersebut. Di dekat tembok yang masih tegak berdiri, tampak Thio Hwie Kian, pemuda tinggi besar berwajah tampan, sedang berbincang santai. Tampak asyik sekali kedua orang itu. Sedangkan pendekar kita, Li Cu Liong, memandang kosong ke arah kedua teruna yang sedang asyik berdua di dekat tembok itu. Sekali-kali Cu Liong menghela napas panjang.

Tanpa menoleh lagi, pemuda itu keluar pintu yang sudah tak berdaun. Begitu tiba di tengah pintu, ia menoleh ke belakang sekali lagi, lalu menjejak tanah dan tubuhnya berkelebat cepat menuruni puncak Bukit Iblis. Hanya tampak setitik kecil meluncur turun dan semakin lama semakin kecil sehingga lenyap dari pandang mata.

"Gin-moi, aku... aaaaakuuu...?" Hwie Kian tak dapat meneruskan ucapannya karena tenggorokannya seperti tersekat benda besar sehingga ia tak kuasa untuk mengutarakan isi hatinya pada gadis cantik yang telah merampas semua kasih sayangnya ini. Pandangan mata Hwie Kian menatap wajah yang terkena cahaya kobaran api itu dengan redup, penuh seribu satu macam perasaan.

"Ya, teruskan Twako! Kenapa...?"

"Ahhh, aku takut kalau engkau menjadi marah kepadaku."

"Kenapa harus marah? Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan itu. Tentu saja aku tidak tahu akan marah atau tidak."

Hwie Kian menelan ludah. Untuk beberapa saat ia hanya menatap gadis di sampingnya. Setelah memberanikan diri, akhirnya Hwie Kian mengeluarkan isi hatinya. "Aaaaaakkkuuu... aaa... kkuuu... menginginkan Gin-moi."

"Ya, menginginkan apa, Twako? Kalau memang aku dapat membantu, tentu tidak keberatan sama sekali." Gin Nio tersenyum melihat Hwie Kian kikuk seperti itu. Dalam hati gadis ini bertanya-tanya, apa maunya pemuda tinggi besar ini mendekati dirinya. Dara remaja ini tidak merasa sama sekali bahwa Hwie Kian menaruh hati kepadanya. Dia hanya mengagumi pemuda tinggi besar ini sebagai seorang sahabat baik belaka.

Hwie Kian menjadi nekat, apalagi melihat senyum manis tersungging ketika gadis murid Nelayan Pantai Timur itu memandangnya. "Gin-moi... Gin-moi menjadi... menjadi... menjadi teman hidupku." Akhirnya plong rasa dada Hwie Kian setelah apa yang menjadi isi hatinya terungkap. Pandangan mata Hwie Kian mencorong penuh kasih menatap sepasang mata bundar membeliak itu.

"Hahhhhh... Mmmeenn... menjadi... menjadi teman hiduppp...?" Gin Nio mengulang. Dara ini tidak menyadari bahwa jantung dalam dada Hwie Kian berjumpalitan. Tak kuat Hwie Kian melihat keindahan yang dimiliki Tan Gin Nio.

"Iiiiiyyaaaaa..." Hwie Kian mengangguk. Pipi Gin Nio yang makin kemerahan karena hawa panas dari api yang membakar mayat itu tidak kentara lagi kalau darah naik ke wajah ketika mendengar pernyataan cinta Hwie Kian tadi.

Setelah menguasai rasa kagetnya, Gin Nio menjawab lirih, "Terima kasih, Twako. Aku sangat menghargai keterusteranganmu ini. Tetapi... tetapi sayang..."

"Sayang bagaimana, Gin-moi?"

"Sayang sekali, Twako terlambat... Aku... aku..." Gin Nio merasa kasihan melihat pemuda tinggi besar di depannya itu tampak terpukul. "Maafkan aku, Twako. Aku telah menjatuhkan pilihan hatiku kepada seseorang semenjak pertemuanku pertama kali..."

Setelah dapat menguasai perasaan hatinya yang terpukul mendengar pernyataan cintanya ditolak, ia lalu menatap gadis itu penuh rasa kecewa. Akan tetapi, sebagai seorang laki-laki jantan, Hwie Kian menyadari keadaannya. Sesaat kemudian wajahnya berseri kembali sepertinya tidak terjadi apa pun dengan gadis cantik itu. Ia tersenyum ramah dan bertanya, "Bolehkah aku mengetahui dia...?"

"Tentu saja, Twako. Kita kan sahabat baik, masak aku harus berbohong segala. Dia... dia adalah..." Gin Nio tidak melanjutkan ucapannya ketika pandangan matanya melirik ke arah di mana Li Cu Liong tadi berdiri.

Hwie Kian mengikuti lirikan Gin Nio. "Sialan... Ternyata dia...!" Ia merasa lega juga ternyata pilihan Gin Nio tepat sekali. Memang serasi sekali kalau gadis cantik ini berjodoh dengan Pendekar Naga Terbang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment