Chapter 57
Ternyata gadis ini malah sudah lama saling mengenal dengan jagoan kita. Ah, percuma saja dia tadi mengutarakan isi hati. Akan tetapi, lebih baik ditolak daripada ia terlanjur tergila-gila dan akhirnya hanya menubruk bayangan kosong nantinya!
"Heh-heh-heh, kalian ke sinilah!" Siucai Sinting memanggil kedua teruna itu. Begitu kedua anak muda tersebut mendekat, Soo Kian Kun lalu bertanya, "Kalian melihat Cu Liong?"
"Dia berdiri di sana, Suhu." Hwie Kian memalingkan telunjuknya ke arah tempat Cu Liong tadi berdiri.
"Ehhh... mana dia? Kok tidak nampak bayangannya sama sekali."
"Tidak mungkin. Teecu tadi melihat Cu Liong berdiri sendirian melihat ke arah api. Betul tidak, Gin-moi?" tanyanya kemudian kepada murid Nelayan Pantai Timur itu. Yang ditanya hanya mengangguk sedikit.
Siucai Sinting menggerundel. Lalu, sekali berkelebat, kakek pelajar itu melesat ke sana kemari, bertanya kepada orang-orang di dekat api itu kalau-kalau mereka melihat anak muda yang mendapat pujian Pendekar Naga Terbang tersebut.
"Sepertinya saya tadi melihat dia keluar pintu, Locianpwe," jawab salah seorang murid Kera Sakti yang berseragam hijau-hijau.
"Ehhh, kenapa tidak berpamit?"
"Buat apa berpamit? Kan kau bukan tuannya, ha-ha-ha." Pek-tung Lo-kai mengejek dan mengeloyor menuju pintu keluar kuil. "Sampai jumpa sahabat, aku akan mencari muridku dulu, haha..."
Hanya suara tawa kakek pengemis tonggos itu yang terdengar mengalun panjang ketika ia menuruni gunung. Sebentar saja bayangannya lenyap di balik batu-batu besar!
"Tunggu! Kapan kita bertemu lagi, pengemis bau? Aku ingin menghadiahkan beberapa gebukan di pinggulmu yang keropos itu!" Soo Kian Kun berteriak mengerahkan tenaga saktinya.
"Kapan-kapan..." terdengar jawaban sayup-sayup dari bawah bukit.
"Suhu..." Hwie Kian mendekati gurunya. Mendengar panggilan itu, Si Pelajar Sinting menoleh. "Kenapa kau tidak mendekati mertuamu? Aku tadi sudah melamarkan dia untuk menjadi jodohmu."
"Ahhhhh..." Hwie Kian kaget mendengar ucapan suhunya.
"Kenapa? Mau kan kau menjadi jodohnya?" tanya Pelajar Sinting, lalu bergegas menuju pintu keluar dan terus menuruni bukit.
"Ahh, tidak bisa, harapan Suhu tidak mungkin teecu laksanakan. Dia... dia telah ada yang punya..."
"Hahhhhh!!" Kakek pelajar itu berhenti dan memandang muridnya dengan sepasang mata membeliak dan mulut melongo.
"Saya telah diberitahu Gin-moi sendiri, Suhu."
"Celaka! Malu aku! Cepat kita turun dari bukit ini." Soo Kian Kun, Si Siucai Sinting itu, pun melesat seperti dikejar setan, lupa bahwa muridnya masih berdiri terpaku. Setelah jauh, baru Pelajar Sinting itu menoleh dan begitu melihat muridnya masih bengong, ia memanggil, "Hwie Kian, turun!"
Thio Hwie Kian melesat mendengar panggilan itu. Sebentar saja keduanya telah tidak nampak lagi, pulang menuju tempat pertapaan mereka.
Nelayan Pantai Timur pun nampak berjalan beriringan dengan murid perempuannya meninggalkan Bukit Iblis. Setelah kakek pengemis rewel Pek-tung Lo-kai pergi dan pemuda yang diidamkan itu tidak nampak lagi, Gin Nio mengajak gurunya untuk kembali. Dara ini merasa nelangsa akan kepergian Li Cu Liong secara mendadak tanpa memberi tahu dia sama sekali. Ia merasa heran, ada apa dengan pemuda itu? Tiba-tiba sepasang matanya basah. Tanpa terasa, ia teringat akan keadaannya tadi; asyik berdua setelah pembasmian itu dengan Thio Hwie Kian dan lupa sama sekali kepada Cu Liong. Sebetulnya ia merasa malu bertemu dengan Cu Liong, entah mengapa ia sendiri pun tidak tahu.
"Bocah aneh murid Liok Ing Gie itu, kenapa pergi diam-diam?" bisik Nelayan Pantai Timur seperti kepada diri sendiri.
"Entahlah, Suhu."
"Tadi Pelajar Gendeng itu melamarmu." Tanpa menoleh, nelayan tua itu memberi tahu muridnya.
"Saya tahu."
"Ehhhhh, dari siapa?"
"Muridnya."
"Kau bersedia?"
"Tidak! Aku telah mempunyai pilihan sendiri."
"Siapa?"
"Ada deh! Suhu tidak usah khawatir. Teecu akan mengejarnya!" Gin Nio melesat meninggalkan gurunya turun gunung.
Nelayan Pantai Timur kaget. Begitu muridnya telah jauh, ia segera mengerahkan gin-kang mengejar. Guru dan murid itu melayang-layang turun seperti dua ekor kumbang. Sebentar saja mereka hilang dari pandangan mata. Sementara itu, di atas Bukit Iblis, asap nampak semakin tipis seiring dengan habisnya kayu bakar. Keadaan menjadi sunyi.