Chapter 01
Tubuh Gardapati terombang-ambing di antara derasnya air sungai, hingga akhirnya sampai di sebuah air terjun yang tinggi dan curam. Dapat dipastikan bahwa tubuhnya akan jatuh di antara air terjun yang tinggi itu.
Untunglah, tubuhnya terbawa oleh pohon kayu besar yang kebetulan hanyut, sehingga tidak terlalu membahayakan nyawanya. "Wungg..." Tubuh Gardapati melayang jatuh. "Byurrshhh!" Gardapati tampak berputaran di udara. Ketika hendak tiba di permukaan air, kebetulan posisi Gardapati adalah berdiri.
Seandainya yang jatuh adalah kepala dahulu, niscaya jika tidak mati, pasti akan hilang ingatan.
Tubuhnya tenggelam tertelan air diiringi sebuah pancuran air yang meloncat ke langit.
Ketika tenggelam, secara beruntung tubuhnya masuk ke dalam gua air.
Tubuhnya terus terseret arus hingga menggelinding di batu berlumut.
Aneh. Ternyata di dalam sana air tidak masuk, bahkan udara tampak mengalir dengan lancar. Gardapati tampak tergolek di hadapan seorang tua berjenggot putih berlumuran darah.
Bajunya putih dengan bercak-bercak merah, rambutnya awut-awutan, matanya hijau membara. Tak salah, dia adalah Iblis Bermata Hijau adanya. Ternyata lorong gua dalam air itu terhubung dengan Jurang Mulut Dewa Neraka.
"Bwahaha... Ternyata Tuhan telah mengabulkan keinginanku. Dalam beberapa tahun ke depan, dunia persilatan akan banjir darah. Huaahhhaaaa...!" Kakek itu tertawa terbahak-bahak.
Diperhatikannya tubuh bocah itu: susunan tulang, hawa pembunuhan, maupun dendam telah menjadi satu di wajahnya. Rahangnya tampak keras, pertanda bahwa ia adalah seorang yang keras pendiriannya. Semakin diperhatikan, semakin kagum kakek itu. Seraut wajahnya yang sudah lesu memancarkan gairah yang menggelegak bak lahar yang siap meletus.
Tiba-tiba, mata kakek itu menangkap suatu kulit binatang yang terpegang erat oleh bocah itu. Merasa penasaran, kakek itu segera mengambil gulungan kulit itu dan membukanya. "Kitab Dewa Dunia Persilatan," baca kakek itu. Seketika itu juga wajahnya berubah sumringah, lalu tergelak-gelak dan berkata lantang, "Terpujilah kau Anak Iblis! Haha." Diambilnya tubuh Gardapati dan diberikan saluran tenaga dalam demi mencari kesembuhan.
Seperminum kopi kemudian, tampak tubuh Gardapati menggelepar-gelepar. Dari ubun-ubun Iblis Bermata Hijau mengepul asap hijau keputihan. Kondisi mereka semakin memuncak hingga akhirnya Iblis Bermata Hijau merentangkan kedua tangannya dengan telapak terbuka, kemudian ditarik ke atas kepala hingga menyatu, dan ditarik sejajar dengan dada seperti menyembah. Perlahan dilepaskan dan diletakkan di paha.
Sementara itu, Gardapati muntah-muntah. Dari mulutnya menyembur air yang demikian deras, terus berulang-ulang hingga Gardapati telentang tak kuat menahan beban tubuhnya. Iblis Bermata Hijau membiarkan saja Gardapati telentang; malahan ia lebih memilih untuk bersemedi.
Setelah sekian lama, Gardapati mulai sadar pikirannya. Ia celingukan melihat tempat di sekelilingnya, lalu ia bangkit dan terkejut melihat seorang kakek-kakek di hadapannya yang berlumuran darah dan mengepul asap hijau. Gardapati berpikir sejenak. Ia tahu kakek itu yang telah menyelamatkan hidupnya. Dengan tekad yang membaja, Gardapati bersujud di hadapan kakek itu.
Empat kentongan kemudian, Iblis Bermata Hijau tersadar dari semadinya. Ia sedikit kaget melihat ada seorang yang bersujud di hadapannya, namun wajahnya tetap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Malahan ia bangkit dan meninggalkan Gardapati yang bersujud. Ia masuk ke salah satu ruangan di bawah jurang itu, dan sungguh luar biasa, di dalamnya terdapat ratusan mayat yang menggeletak, namun bukan mayat, melainkan tengkorak-tengkorak yang berserakan. Dan anehnya, semua tengkorak itu berubah menjadi warna hitam.
Iblis Bermata Hijau melangkahkan kakinya menuju sudut ruangan. Kakinya melangkah ke kanan dua kali dan ke kiri satu kali, lalu maju dua langkah ke depan. "Drekk... dreekk...!" Rak yang dipenuhi puluhan kitab yang berjejer itu bergerak membuka, dan terbukalah sebuah gua lain.
Iblis Bermata Hijau masuk ke dalam gua itu dan memperhatikan kitab-kitab yang berjejer di sana. Wajahnya tersenyum bangga. Diambilnya dua buah kitab yang terbuat dari kulit kambing. Adapun kitab itu bertuliskan "Iblis Panah Asmara". Sementara tangannya yang lain mengambil sebuah kitab yang terbuat dari kain. Adapun tulisannya adalah "Lipat Hawa Murni". Setelah dibolak-balik, kitab itu segera dikembalikan ke tempatnya dan ia pergi ke sudut ruangan. Diambilnya kitab lain dan dibacanya judul kitab itu: "Sabda Dewa dan Iblis".
Dibukanya kitab itu. Di halaman pertama terdapat sederetan tulisan. Adapun tulisan itu, yaitu: "Dilarang mempelajari ilmu ini kecuali jika orang yang mempelajarinya memiliki dua sifat. Bila mempelajari tanpa mengindahkan ilmu ini, maka ia akan mati gila." Iblis Bermata Hijau tertawa bangga, lalu ia kembali ke tempat Gardapati bersujud tadi. Kekagumannya bertambah ketika menyaksikan Gardapati tetap bersujud di tempatnya.
Waktu terus bergulir bagaikan roda. Roda kehidupan yang semakin melaju tetap, tanpa seorang pun yang dapat menghentikannya. Sudah lima hari lima malam Gardapati bersujud. Lututnya sudah nyeri, perutnya terasa melilit menahan lapar, tetapi ia keraskan hati dan terus berdiam.
"Muridku, bangunlah! Sudah lima hari kau bersujud di sana...!" Iblis Bermata Hijau menegur. Mendengar kata "murid", Gardapati sungguh merasa bahagia. Segera ia bangkit dan... dunia berputar... berputar laksana gasing. Lututnya goyah... blukk... ia pingsan.
"Hahaha....." Iblis Bermata Hijau tertawa terbahak-bahak dan membawa tubuh Gardapati ke sebuah pembaringan dari batu.
Malam semakin larut. Hewan malam bersahut-sahutan, menambah kengerian di malam itu. Seorang gadis cilik berlari ngos-ngosan. Wajahnya tampak menyiratkan ketakutan yang dalam. Ia terus berlari tanpa menghiraukan keadaannya yang sudah bermandi keringat. Siapakah dia? Dari bajunya yang kuning langsat bisa ditebak bahwa dia adalah Astadewi adanya. Rupanya, setelah membunuh Mayasari, ia segera kabur melarikan diri. Dari pikirannya saja ia bisa menebak bahwa dirinya bisa celaka. Tanpa pikir panjang, itulah ia kabur terbirit-birit. Setelah berlari selama tiga hari tiga malam, sampailah ia di hutan yang dikeramatkan oleh segenap umat persilatan, sebab hutan itu tak lain adalah tempat di mana Jurang Mulut Dewa Neraka berada. Tentu saja Astadewi tak mengetahui hal itu. Segera ia mencari sebuah gua di mana dirinya akan tinggal. Setelah kutatang-kutiting mencari ke mana-mana, akhirnya ia menemukan gua yang cukup nyaman. Gua itu lumayan dalam. Astadewi masuk dan membersihkannya, maka terciptalah sebuah gua istana yang baru.
Malam itu, ia tak ingin berbuat apa-apa. Yang ingin dilakukannya hanyalah tidur untuk menebus kelelahannya. Tak menunggu waktu yang lama, Astadewi telah dibuai oleh sang dewi tidur. Mulutnya yang mungil tampak menyunggingkan senyuman kepolosan sebagaimana wajah yang dimiliki anak seusianya. Wajahnya yang cantik itu begitu lugu ketika cahaya dewi malam menyinari wajahnya di malam yang gelap dan dingin itu. Perlu diketahui bahwa Astradewi tidur menjelang kentongan tiga, jadi tak salah bila tak begitu lama fajar telah menyingsing.
Matahari pagi bersinar kekuningan, suara burung pagi bersahut-sahutan mengusik kesadaran seorang gadis cilik berusia sepuluh tahunan itu. Gadis itu celingukan dan segera bangkit. Dilihatnya di sisi gua ada air sungai yang mengalir. Astadewi segera melepaskan bajunya dan mandi di sana. Setelah selesai, gadis cilik itu segera memakai bajunya sendiri lalu duduk bersila. Perlahan dibukanya kitab yang ia curi di perguruan Teratai Putih itu. "Kitab Asmara Teratai Putih... diciptakan oleh Dewi Iblis Perajah Sukma," desis Astadewi sambil membuka lembaran pertama. Wajahnya merah seketika. Ternyata cara mempelajari ilmu itu harus dalam keadaan telanjang. Semakin dibuka, semakin Astadewi gelisah. Ternyata selain harus telanjang, ilmu itu juga menuntut hubungan badan. Astadewi yang berumur masih belia tentu saja tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tanpa beban ia pelajari ilmu yang menurut ia mudah dan tak memerlukan lelaki. Astadewi terus berlatih hingga waktu terus bergulir tak terasa waktu semakin merambat.
"Kuarungi jagat raya yang disaksikan mega bisu. Laut masih biru, langit pun masih kelabu. Kubernyanyi di antara kesetiaan samudra, kubersenandung di bawah payung langit. Ombak beriak menggulung keangkara murkaan. Sang raja siang tetap berjalan belenggang kangkung. Pagi di timur, sore di barat. Ayunan dayungku tetap mantap, meski raga ini tak lagi kuat..."
"Hidup ini titipan... titipan Sang Pencipta yang suci..." Terdengar nyanyian merdu yang serak-serak basah dari seorang kakek-kakek yang asyik mendayung sebuah rakit dari bambu. Caping lebar menutupi sebagian wajahnya; hanya jenggot putihnya saja yang menjuntai menyentuh dadanya.
"Srettt..." Seekor anak ikan gajah menghampiri kakek itu, membuat kakek itu tertegun. Jika seandainya saat itu ada burung yang terbang di depan mulut kakek itu, pasti akan masuk tertelan. Caping lebarnya segera dibuka demi melihat apa yang ada di depannya. Wajahnya yang sudah berkeriput menampakkan usianya yang sudah uzur tampak terkejut. "Apakah aku sudah gila dimakan usia?" pikir kakek itu.
"Apa yang Anda lakukan jika Anda melihat seorang bayi sedang tiduran di atas seekor ikan gajah dan mengunyah seekor ikan mentah yang merupakan ikan paling langka di muka bumi?" Mimpipun tidak. Kakek belum pernah melihat seorang bayi seperti yang dilihatnya sekarang. Bayi yang belum berumur seminggu menurut taksirannya sedang asyik memakan ikan mentah dan hidup di antara samudera yang ganas tak berujung di atas ikan gajah.
Setelah sembuh dari terkejutnya, kakek itu mengambil bayi itu dari punggung seekor ikan gajah yang diam dalam belaian samudra. Diperhatikannya bayi itu. Ternyata di lehernya menjuntai sebuah kalung berbentuk kujang yang sepertinya bisa dibuka tutup. Nyatalah bayi itu ternyata anak dari pasangan Rangga dan Dewi.