Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 02

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 02

Seorang warga biasa yang tidak mengerti sebuah ilmu silat apapun. Mereka bukanlah orang berdarah biru, juga bukan keturunan pendekar. Lalu, mengapa anaknya bisa seajaib itu? Siapa bilang jika ksatria harus berdarah biru? Juga, siapa yang mengatakan bahwa seorang pendekar besar harus berasal dari keturunan keluarga pendekar kondang? Pada hakikatnya, manusia tetaplah manusia yang tercipta dari saripati tanah, kemudian beregenerasi melalui segumpal darah, lalu menjadi zigot dan hidup di alam kandungan selama sembilan bulan.

Kehendak ilahi memanglah tidak bisa diduga oleh seorang manusia. Jikalau harus mati, matilah ia, tapi jika ia berkehendak hidup, maka hiduplah ia. Seperti halnya yang terjadi dengan bayi itu. Bayi yang mungil dan menggemaskan, namun memancarkan hal yang gaib dari tubuhnya.

Kakek itu mengambil dan membuka kalung bayi itu, sehelai kertas terlipat rapi di dalamnya. Ketika dibuka, munculah beberapa bait tulisan indah, namun sedikit kacau, nampaknya surat itu dibuat dengan tergesa-gesa.

"Siapapun yang menemukanmu, jikalau engkau masih hidup, anakku, putra dari Rangga dan Dewi, seorang manusia lemah yang tak berdaya ini, anggaplah ia keluargamu. Engkau hidup di antara amukan langit dan bumi, kilat menyambar sembilan kali mengiringi kelahiranmu. Anakku, dalam mimpiku, aku melihatmu tertawa di antara belaian samudra, engkau pun dapat hidup di antara amukan ombak ganas yang menerjangmu, dalam mimpiku, aku juga melihat keluarga kita mati tersambar kilat kesepuluh. Tapi tampaknya engkau adalah sang pilihan, hingga engkau masih tertawa ketika kilat menyambarmu. Mintalah sebuah nama kepada orang yang menemukanmu, yang seharusnya kau panggil kakek. Samudra adalah Ibumu, Gunung adalah Ayahmu. Langit adalah Atap rumahmu, bumi adalah alas mu, jendelamu adalah cakrawala, gurumu adalah makhluk ciptaan Tuhan, dan Tuhanmu adalah Allah yang Maha Esa."

Sikakek tertegun, diulang-ulangnya surat itu, ya... ia akhirnya paham mengapa ia masih hidup meski menjelang usia uzur. Usianya hampir mencapai tiga ratus tahun, benar-benar usia yang sungguh luar biasa sebagai manusia, ia jelajahi dunia dan mengarungi samudra, mencari arti sebuah kehidupan. Ia ingin mati, tapi bukan mati bunuh diri layaknya seorang pengecut. Dulu ia adalah ksatria, ksatria yang sangat terkenal dengan kesaktian olah kanuragannya. Mungkin gara-gara mempelajari sebuah ilmu kejayaan, membuatnya susah mati.

TIDAK... Setangguh apapun manusia, akhirnya akan menemui ajalnya juga. Seorang gadis cantik berusia lima belas tahunan menggeliat rindu. Seluruh tubuhnya yang hanya dibalut oleh kulit kijang itu menggerak-gerakan tubuhnya, rambut dan bagian tubuhnya tampak basah, sepertinya ia sehabis mandi, wajah gadis itu lugu dan manis, matanya sayu seakan berharap bahwa ada orang yang akan menemaninya tidur, lesung pipit gadis itu terlihat ketika ia sedang tersenyum.

Siapakah gadis cantik itu? Dia tak lain dan tak bukan Astradewi. "Huh... Segarnya...! Lima tahun telah berlalu, hanya sepuluh jurus lagi yang belum ku kuasai, apakah aku memang tega menghancurkan perawanku ya?" Gumam gadis itu. "Akh... Sudahlah, lagipula aku pikir perawanku ini cukup setimpal dengan ilmu yang akan ku pelajari," gumamnya lagi.

Mendadak, "Kakang, lihat ada Goa!" terdengar suara lelaki berkata. "Benar, Adimas, kita istirahat disana saja. Aku pikir penduduk kampung takan berani bila mengejar kita kesini," kata yang satunya lagi. Astradewi coba mengintip, dilihatnya yang dipanggil kakang itu seorang lelaki dengan berewok yang memenuhi wajahnya, bajunya hanya jubah merah model terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang, kekar, dan berbulu lebat. Sedang yang satunya lagi adalah seorang lelaki berambut pelontos, bertolak belakang dengan kawannya itu, bajunya sama, yaitu jubah merah terbuka, hanya yang satu ini memiliki perut buncit.

Dada Astradewi bergemuruh, antara senang dan takut, senang ia akan segera dapat mangsa untuk mempelajari ilmunya, sedangkan ia takut sebab ia belum pernah melakukannya. Astradewi segera masuk ke dalam menunggu dengan harap-harap cemas, sedangkan kedua orang itu semakin dekat dengan goa. "Kretek" Saking gugupnya, Astradewi menginjak ranting tempat ia memasak, membuat dua orang yang akan masuk itu waspada segera.

"Sreng...!" Lelaki berambut pelontos mencabut pedangnya, "Ada orang, Kakang! Sebaiknya aku gunakan racun pemabuk saja, Kakang," "Tidak, Adimas, jangan dahulu, kita lihat dulu siapakah orangnya, kita dua maling macan, masakah takut menghadapi orang?" cegah lelaki berewok.

Ketika masuk, matanya melotot melihat gadis cantik yang lugu dan menggairahkan bersender di dinding goa. "Hei... seorang gadis, untung aku tak gunakan racun!" Lelaki berambut pelontos itu tertawa ketika melihat gadis cantik berkulit indah hanya memakai baju dari kulit kijang sehingga tak bisa menutupi tubuhnya yang mulai tumbuh.

"Cah ayu, siapakah dirimu, mengapa kau sendirian disini?" Tanya Lelaki berewok sambil nyengir memperlihatkan giginya yang kuning. "Anu... anu, Tuan!" Astradewi berlagak ketakutan, padahal hatinya berharap lelaki itu melakukan sesuatu.

"Haha... sungguh kebetulan, kita sedang ingin bersenang-senang. Cah ayu, ayo kita bersenang-senang... aku yakin aku akan membuatmu merasakan indahnya surga dunia, haha... aku yakin tubuhmu akan menyentak-nyentak seperti cacing kepanasan," Lelaki berewok itu berkata sambil mendekati Astradewi.

Astradewi diam di tempat, dia tak mundur ataupun melakukan apapun saking gugupnya. Bagaimanapun, ia belum berpengalaman. Lelaki berambut pelontos itu tak sabar, ditariknya baju kulit kujang Astradewi dengan kekerasan sampai lepas dari tubuhnya. "Brettt...!" Maka tak ampun lagi, dada mulus dan baru tumbuh itu menyembul keluar.

Secara reflek, Astradewi menyilangkan tangannya untuk menutupi bagian intimnya itu. "Tuan... anu... jangan!" Astradewi tergagap, sungguh malu ia telanjang di hadapan orang. Lelaki berambut pelontos itu tak peduli kesusahan orang, ia menubruk tubuh Astradewi hingga keduanya jatuh dan berguling-gulingan di lantai.

Menggumulinya hingga Astradewi menjerit karena sakit, tapi Astradewi tak melawan, ia biarkan lelaki berambut pelontos itu melakukan aksinya, setitik air bening keluar dari mata indahnya menahan sakit. Lelaki berambut pelontos itu lucuti pakaian yang dimilikinya, hingga terdengar nafas memburu yang bersahut-sahutan, lelaki berambut pelontos itu dengan buasnya menciumi tubuh Astradewi, Astradewi tiba-tiba merasakan sesuatu di tubuh bagian bawahnya, dan... "brettt...!" "Akhrrgghhh...!" Astradewi menjerit kesakitan mendapat perlakuan itu.

Tapi ia tak memberontak, sambil menahan sakit ia gigit bibir bawahnya. Setelah sekian lama, tubuh lelaki ambruk di tubuh di atas tubuh Astradewi, Astradewi dan lelaki berambut pelontos itu tampak terkulai lemah, nafas mereka masih ngos-ngosan.

Tampak Lelaki Berambut pelontos itu menggulingkan tubuhnya ke samping, dan posisinya digantikan dengan Sibrewok. Sibrewok pun segera melakukan hal yang sama seperti kawannya, sehingga Astradewi mendapat tugas tambahan, namun kali ini ia tak terlalu menderita, bahkan terlihat ia mulai menikmatinya.

Tanpa mengenal lelah, kedua lelaki itu mengerjai tubuh Astradewi, si gadis berusia lima belas tahunan itu. Menjelang tengah hari, ketiganya menghentikan aksi dan tertidur dalam posisi tak berubah, yakni Astradewi tidur telentang dengan diapit dua lelaki itu dalam keadaan tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.

Mungkin karena lelah atau apa, ketiganya tertidur, hingga sang mentari telah tiba di ufuk barat sana, sebab di antara mereka, tenaga dalam Astradewi yang paling tinggi, ia bangun untuk yang pertama kalinya, Astradewi celingukan... segera ia bangkit dan membersihkan diri di pemandian yang ia buat sendiri di goa itu.

Lalu memakai baju kulit kijangnya, ia tak menyalahkan kedua lelaki itu, ia juga tak merasa menyesal melakukan itu. Astradewi melesat pergi keluar, dan hanya butuh sepertiga nasi saja, ia sudah kembali menenteng kijang yang cukup besar.

Astradewi segera menguliti dan membersihkan kijang itu tanpa mempedulikan dua orang lelaki yang baru saja mengerjai tubuhnya. Tak begitu lama, segera tercium bau harum daging terbakar, rupanya Astradewi memanggang tubuh kijang itu.

Dan akibat wangi itu, kedua lelaki itu mendusin dari tidurnya, keduanya bangun dan saling berpandangan, dilihatnya gadis yang tadi mereka kerjain sibuk mengipasi api yang dipakai untuk memanggang hewan buruannya.

Tanpa kata, keduanya bangun dan mengambil baju masing-masing, namun suara merdu bak burung nuri itu mencegahnya. "Hihi... kalian bersihkan dulu tubuh kalian sana... tuh, di air itu!" Astradewi menegur sambil menunjuk di mana ia mandi tadi.

Kedua lelaki itu kembali berpandangan, keduanya sungguh tak mengerti akan kebaikan gadis berwajah lugu itu. Bila orang lain, mungkin mereka akan dibunuh ketika tidur tadi. Tapi gadis itu... malah menyuruh mereka mandi, adakah gadis seaneh itu? Ada... tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Bagai kerbau dicocok hidungnya, mereka bangun dan berjalan ke air, melihat itu, gadis itu malah tertawa cekikikan dan mengalihkan pandangannya. "Kakang!" Lelaki berambut pelontos itu berkata heran. "Gadis yang lemah lembut, lugu, namun aneh, bila gadis lain yang di perkosa seperti tadi, barangkali kita akan mati sekarang," ucap lelaki berewokan sambil geleng-geleng, tak lama kemudian terdengarlah suara gemericik air, sepertinya keduanya sedang mandi.

Setelah selesai, keduanya bergerak mendekati gadis cantik itu dan duduk berhadapan. "Maafkan kami, Nona...!" Ucap Lelaki berewokan lembut, namun selembutnya mereka tetap saja ucapannya begitu garang.

Astradewi tersenyum saja tanpa menjawab. Ia teruskan panggangan hewan buruannya. "Nona...!" Panggilnya lagi. "Ya, Tuan!" Astradewi menjawab. "Kau benci kepada kami?" tanyanya.

Astradewi menggeleng dan menjawab singkat, "Tidak." "Lalu apakah kau tak menerima permintaan maaf kami?" Lelaki Berewok tadi memelas, sehingga wajahnya yang garang terlihat lucu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment