Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 03

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 03

Astadewi tertawa cekikikan. "Baik, saya terima asal kalian membantuku. Bagaimana?" "Membantu apa, nona?" Dengan demikian membalas kebaikan nona, mati pun aku siap! Lelaki berambut pelontos menyerobot bicara. "Benarkah?" Mata Astadewi berbinar. "Tentu, nona," jawab lelaki berambut pelontos. "Tapi, saya masih berusia lima belas tahun, apakah saya pantas memerintah kalian?" tanya Astadewi. "Nona, ingatlah pepatah mengatakan 'kecil tak boleh disangka anak, besar tak boleh disangka bapak', jadi katakanlah apa yang harus kami bantu," ucap lelaki berewok bijak.

Maksudnya adalah pengetahuan dan pengalaman tidak memandang segi usia, adakalanya orang muda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dibandingkan dengan orang yang usianya lebih tua darinya. Astadewi manggut-manggut, lalu berkata malu-malu. "Saya hanya meminta kita dapat mengulangi yang tadi, hanya dengan posisi yang saya minta." Kedua lelaki tadi melongo mendengar ucapan itu, sungguh mereka tak mengira bahwa akan mendengar ucapan itu dari seorang gadis cantik dan lugu itu.

Namun, sepertinya pengalaman lelaki berewok itu cukup banyak, ia berpikir bahwa gadis itu mustahil akan melakukan sesuatu tanpa ada maksudnya. Ia ingat kata pepatah "Dijual dahulu maka dibeli", maksudnya adalah memikirkan dengan matang sebelum melakukan pekerjaan. "Apakah nona sedang mempelajari suatu ilmu?" tanyanya. Astadewi tersenyum malu, wajahnya memerah, ia mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata. "Tapi jangan khawatir, itu tidak akan mencelakai kita bertiga, saya rasa tidak akan ada yang dirugikan, malah ada harapan tenaga dalam kalian akan bertambah!" "Kau jangan khawatir, nona, meski kami seorang maling, namun ucapan kami adalah ucapan seorang lelaki sejati, kami tidak akan menelan ludah kami sendiri." "Terimakasih," ucap Astadewi lirih.

"Nona, pepatah mengatakan 'Tak kenal maka tak sayang', maka dari itu, bolehkah aku mengetahui namamu?" Astadewi tersenyum manis, lalu menjawab "Astadewi, dan siapakah kalian berdua?" "Aku Danenra, dan ini adik angkatku Adi Praja," lelaki berewok memperkenalkan dirinya sekaligus memperkenalkan orang yang berada di sampingnya. "Akh, sudah matang... mari makan!" Astadewi alihkan pembicaraan. Lalu bangkit dan berjalan tertatih, sebab ia merasakan organ intimnya cukup perih.

Melihat itu, Danenra segera membantu. "Biar aku saja yang membawakan," ucapnya. Astadewi tersenyum dan mengecup pipi Danenra, namun wajah lugunya sama sekali tak hilang, tak ada kesan jalang dari sikapnya, semua serba lugu dan polos, bahkan berkesan anggun. Oleh sebab itu, suatu saat nanti ia akan memiliki gelar Dewi Asmara berwajah lugu. "Mari makan!" ucap Astadewi sambil memotong paha kijang itu dan dimakannya sendiri. Kedua lelaki itu tertawa terbahak-bahak. "Kau mau dada kijang ini, Dewi," Danenra menawarkan.

Tak ada kata sungkan lagi dalam kata-katanya, bahkan kali ini mereka bercakap-cakap seperti orang yang sudah kenal puluhan tahun. "Hihi, Kakang Danenra, melihat wajahmu itu aku ingat kata pepatah," Astadewi tertawa. "Apa itu?" tanya Adi Praja penasaran. "Bukan tanahnya menjadi padi... hihi," "Hahaha... kakang benar sekali apa yang dikatakan Nima Dewi, kau sama sekali tak memiliki tampang seperti orang yang baik hati, haha!" Adi Praja tertawa berkakakan, sementara Danenra tersenyum saja. Semenjak itu, Astadewi mempelajari kesepuluh jurus dari apa yang belum dikuasainya itu bersama dua orang yang awalnya memperkosa dirinya, seperti orang yang mengantuk disorongkan bantal saja, Astadewi memanfaatkan kesemuanya menjadi sebuah hal yang bermanfaat, seperti kata orang, "Siapa melejang siapa patah."

Uap mengepul dari sebuah lautan lepas, adakah mungkin bila sebuah lautan mengepulkan uap? Mungkin itu adalah suatu kejadian yang sangat langka... tapi, kini telah terjadi. Jika hanya uap biasa, itulah biasa... tapi kini, sebuah uap yang muncul dari dalam air, uap itu ketika berada di dalam air bukanlah sesuatu uap yang seperti muncul dari permukaan, uap itu berbentuk bulat menggumpal seperti es, ketika sampai di permukaan uap itu berubah menjadi sebuah asap... benar-benar fenomena yang begitu luar biasa.

Jika ditelusuri kejadian awalnya, mengikuti gumpalan-gumpalan uap yang mengepul ke langit, maka kita akan menjumpai uap-uap dalam bentuk gumpalan, semakin dalam... dan semakin dalam... sesampainya di dasar samudra terdapat tonjolan besar layaknya sebuah gunung. Seperti halnya yang kita ketahui, jika gunung maupun hal lainnya juga terdapat di dalam lautan... begitulah yang terjadi sekarang, ternyata uap itu berasal dari sebuah gua di sekitar kaki gunung itu.

Dalam Gua itu cukuplah terang, lorong-lorongnya berkelok-kelok hingga kita bisa menjumpai sebuah ruangan yang begitu megah dan indah. Entah mengapa, dalam Gua itu air tidaklah dapat masuk. Seorang kakek duduk terpejam mengheningkan cipta... adakah di dalam Gua dalam Lautan terdapat oksigen (udara)? Mungkin jawabannya adalah ya... atau juga bisa tidak... tapi sang maha Pencipta sangatlah begitu berkuasa, jika ia berkehendak membuat saluran udara dalam gua di dasar samudra, maka terjadilah.

"Gara... hari ini cukuplah..." Kakek itu membangunkan semadi seorang bocah berusia lima tahun yang asyik bermeditasi di dalam sebuah kolam sebesar kubangan kerbau. Air itu begitu jernih, saking jernihnya sampai-sampai seperti tak berair, air itu rasanya tawar tak berasa, bagaimanakah di dalam dasar sebuah samudra ada air tawar? Entahlah, segalanya serba mustahil tapi itulah kenyataannya.

Kakek yang biasa dipanggil dengan Eyang Begawan Sutrasno oleh pemuda yang dipanggil Gara atau Sagara Angkara itu berkata bahwa air itu bernama AIR MURNI DASAR BUMI. Air itu tercipta hasil dari penyubliman dari air laut, air laut itu berasal dari samping kanan kolam air dengan jarak sepuluh tombak. Karena panas bumi dan gunung berapi, air laut itu menguap dan menjadi tetesan-tetesan air seperti embun, kemudian lambat laun menjadi semakin banyak, lalu akhirnya berkumpul dalam sebuah kubangan batu, sehingga jadilah sebuah kolam sebesar kubangan kerbau.

Bocah laki-laki itu bangkit, lalu memakai pakaiannya. Setelah semua selesai, bergegas ia duduk di hadapan si kakek. "Eyang, sebenarnya kekuatan apakah yang membuat kita bisa bergerak?" Adakah mungkin bila bocah berusia lima tahun berkata layaknya seorang dewasa. Tapi, ini nyata, jika bukan Sagara Angkara, siapakah lagi yang akan bertindak seperti itu.

"Energi... atau Ki dalam kebudayaan Jepun. Chi dalam kebudayaan Cina, Prana dalam kebudayaan Hindu, Qudra dalam kebudayaan Arab," "Apakah Energi atau Ki, Chi, Prana, dan Qudra itu, Eyang?" "Energi atau Ki, Chi, Prana, dan Qudra adalah nafas kehidupan yang dipancarkan kepada kita dari Yang Wujud, Yang Maha Perkasa dan Baqa, yang memelihara seluruh manusia beserta seluruh ciptaan-Nya. Energi yang mengatur pola pikir dan emosi kita adalah sumber dari kekuatan hidup kita dan merupakan faktor yang menggerakkan dalam seluruh makhluk hidup.

Ia berputar melalui tubuh kita dan dapat pula digunakan sebagai kekuatan maupun untuk penyembuhan. Itulah yang merupakan sumber dari seluruh pergerakan di dunia ini. Bila tubuh manusia kehilangan nafas kehidupan ini, maka energi asal (atau kekuatan hidup) akan meninggalkannya, membiarkan tubuhnya untuk membusuk. Tubuhnya kembali ke asalnya yang bersifat bumi, dan rohnya kembali ke asal dari energi rohaniah yang bersifat malaikat.

Energi ini tak pernah hilang dan tetap ada, tanpa rahasia dari sifat alamiahnya dimengerti oleh ilmu pengetahuan dan alopati. "Dimanakah adanya Energi Rohaniah itu, Eyang?" "Energi rohaniah yang tak diketahui ini berada di belakang kehidupan setiap titis darah dari makhluk yang bergerak, pergerakan di balik setiap sel hidup, dan kekuatan penggerak dari gugusan-gugusan bintang dan galaksi-galaksi. Ia membawa kekuatan yang lengkap dan sempurna yang nyata, aktif, dan berkesinambungan.

Gerakan dari kekuatan ini adalah asli karena tak sesuatupun dapat tumbuh atau hidup di seluruh dunia ini tanpa luput dari pengaruhnya." Eyang Begawan Sutrasno menghentikan penuturannya sebentar, lalu melanjutkan... "Hal ini terutama dapat diterapkan di bumi, di tempat-tempat yang tidak ada pepohonan, rumput, sayuran, dan benar-benar tak ada kehidupan yang dapat terwujud tanpa halangan dari energi yang tak nampak dan tak diketahui ini. Dengan energi inilah sebuah tanaman kecil dapat menyeruak di tengah gurun pasir yang demikian luasnya.

Kekuatan hidup rohaniah yang energetik ini memegang organ-organ pembuluh darah, dan seluruh bagian tubuh berada di tempatnya. Bila daya hidup tubuh menghilang, maka hubungan antara organ tubuh menjadi berubah dan terganggu, yang akan mengarah kepada kesakitan, disfungsi organ, dan gangguan kesehatan secara menyeluruh." "Bagaimana cara kerja Energi asal (Kekuatan Hidup) itu, Eyang?" "Energi Asal atau Kekuatan hidup yang bersifat energi rohaniah tersebut menciptakan medan energi di sekitarnya seperti magnet yang di-charger dengan kuat atau elektrod.

Kekuatan ini merefleksikan energinya melalui sekujur tubuh manusia dan menjadi kekuatan penggerak hidup di belakang seluruh aktiviti dan prosesnya. Kekuatan hidup tersebut tidak hanya memberikan energi kepada tubuh namun juga memberinya identiti. Seperti sebuah atom yang diberi ciri oleh susunan elektron-elektron, proton, dan neutronnya... yang sekaligus merupakan komponen energinya - demikian pula kekuatan hidup rohaniah memberikan energi dan identiti pada jasadnya."

Begitulah keseharian mereka, Eyang Begawan Sutrasno selalu memberikan metode pembelajaran seperti itu, ia tak pernah memberinya pembelajaran ilmu silat, tapi, ia membukakan apa Hakikat Ilmu silat itu. Seperti halnya pembicaraan barusan, yang menyaksud sebuah energi, atau penunjang Tenaga dalam. Siang berganti malam, malam berganti siang, sehari telah berlalu...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment