Chapter 04
Seorang bocah berusia lima tahun duduk bersila di atas langit-langit gua, layaknya langit-langit itu adalah lantainya. Setelah membuka matanya, bukannya takut, bocah itu malah bernyanyi-nyanyi kecil. "Aku adalah kelelawar, bagiku dunia ini terbalik, kaki di kepala, kepala di kaki, bumi langitku, langit bumiku, mataku layaknya orang buta, tapi Tuhan sayang padaku, telingaku layaknya mataku. Aku hidup dalam kegelapan, tapi hatiku secerah mentari..."
Nyanyian itu adalah syair seorang Pujangga Silat bernama Aram Widiawan, yang tercipta ketika dia melihat seekor kelelawar yang asyik bergelantungan mencari mangsa di tengah malam. Eyang Begawan Sutrasno mendapatkan syair berusia ratusan tahun lalu itu di sebuah lembah bernama Lembah Langit Darah, tempat Aram Widiawan dan keluarganya mengasingkan diri.
Eyang Begawan Sutrasno tahu bahwa murid sekaligus cucu angkatnya, Sagara Angkara, menyukai syair, maka dari itu, selain mengajarkan hakikat ilmu Silat, ia juga mengajarnya dengan ilmu kesusteraan. Dalam tangan Sagara Angkara, syair apapun akan berubah menjadi sesuatu ilmu silat yang dahsyat, apalagi syair mendiang Aram Widiawan yang sudah mengandung silat.
Sagara Angkara jatuh telentang menimpa cadas, tubuhnya tergores luka, ia tergolek pingsan. Eyang Begawan Sutrasno memangku bocah itu dan beranjak ke sebuah pembaringan dari batu. Ia menempelkan telapak tangannya di punggung Sagara Angkara, meramkan mata sambil mengerahkan tenaga murninya.
Setelah beberapa saat, dari ubun-ubun keduanya muncul uap putih, tampaknya keduanya sedang mencapai puncak penyembuhan. Tak lama kemudian, Sagara Angkara membuka matanya, lalu Eyang Begawan Sutrasno cepat menarik tangannya. Sagara Angkara berbalik dan tersenyum.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Gara?" Eyang Begawan Sutrasno mengerti akan kebiasaan cucu sekaligus muridnya itu. "Bagaimana caranya Eyang mengobati saya?" Eyang Begawan Sutrasno tersenyum. "Dengan penyaluran tenaga dalam melalui telapak tangan."
"Bagaimana teknik penyembuhan melalui tenaga dalam bekerja?" Eyang Begawan Sutrasno menjelaskan bahwa teknik penyembuhan tenaga dalam melibatkan medan energi yang terdapat di sekitar kita masing-masing. Setiap orang memiliki suatu medan energi atau suatu aura yang mengitari dan menembusi tubuh fisikal.
Medan ini sangat erat berhubungan dengan kesehatan manusia. Eyang Begawan Sutrasno menggunakan analogi air terjun untuk menjelaskan bahwa bila sebuah air terjun disalurkan dengan cara yang tepat, maka kekuatannya dapat digunakan untuk menghasilkan energi dan memberikan penerangan.
Demikian pula, bila aliran darah disalurkan dengan tepat melalui sistem yang seimbang, maka kekuatan penggerak dari energi tersebut akan menguatkan energi dari organ-organ yang lemah. Dalam organ-organ yang kekuatan hidupnya telah melemah dan berkurang, penyembuhan menggunakan tenaga dalam akan menambah dan mengaktifkan kekuatan-kekuatan vital ini.
Eyang Begawan Sutrasno menjelaskan bahwa penyembuhan menggunakan tenaga dalam memiliki tiga fasa, yaitu Gaya Universal, yang meliputi energi-energi dari planet-planet, bintang-bintang, serta galaksi-galaksi, dan apapun yang berada di sekitar kita yang membangkitkan medan energi.
Fasa kedua adalah penyaluran energi ke jantung, dan fasa ketiga adalah penyebaran energi ke seluruh tubuh melalui sistem vascular. Eyang Begawan Sutrasno berhenti bertutur karena batuknya yang mulai menyerang, memang untuk saat ini usia Eyang Begawan Sutrasno terlalu uzur untuk memiliki seorang murid.
Melihat Eyangnya tampak menderita, Sagara Angkara mengerti Eyangnya sudah mencapai usia yang sangat tinggi untuk ukuran seorang manusia. Apalagi Eyangnya barusan membantunya mengobati tenaga dalam yang meliar.
"Sebaiknya kita hentikan saja, Eyang," kata Sagara Angkara. Eyang Begawan Sutrasno tersenyum dan berkata, "Kau mengkhawatirkan keadaan fisiku, Gara, jangan khawatir, setidaknya aku masih bisa hidup sepuluh dua puluh tahunan lagi."
Eyang Begawan Sutrasno melanjutkan penjelasannya tentang penyembuhan menggunakan tenaga dalam, bahwa fokus utama dari fasa ketiga adalah aorta, yang merupakan saluran bagi gelombang energi yang menyembuhkan yang dibawa oleh darah.
Seiring dengan mengalirnya darah dari jantung, mula-mula dia dialirkan balik ke jantung melalui pembuluh-pembuluh arteri koroner dalam suatu reaksi rantai yang berkesinambungan dan meningkatkan energi di dalam jantung itu sendiri, dengan cara yang mirip dengan matahari meningkatkan cahayanya melalui reaksi intinya sendiri.
Siklus ini menghasilkan energi lebih dan lebih banyak lagi, yang dituangkan keluar sistem vaskular dengan titik-titik fokus pada arteri-arteri utama, membekali otak melalui arteri karotid. Ia juga berjalan melewati arteri-arteri subclavian menuju ujung-ujung bagian atas, sirkulasi splanchnic menuju perut, melewati arteri-arteri renal menuju ginjal, dan melalui pembuluh-pembuluh panggul menuju ke ujung-ujung bagian bawah.
Eyang Begawan Sutrasno berkata bahwa sebuah jantung yang sehat akan menguatkan tubuh yang lemah, namun bila jantungnya lemah dan berpenyakit, tubuh tidak akan sehat dan berusia panjang. "Kerana itu, memelihara jantung kita menjadi prioritas pertama bagi kita. Lebih jauh lagi, memelihara otak juga merupakan prioritas penting lainnya untuk menjaga aliran arahan dari otak agar berfungsi dengan semestinya."
Sagara Angkara mengerti penjelasan Eyang Begawan Sutrasno dan berkata, "Ya, Eyang, Gara mengerti." Eyang Begawan Sutrasno kemudian berkata, "Tidurlah sana, Gara."