Chapter 05
Waktu terus berputar, tak kerasa lima purnama telah berlalu. Gardapati, yang mencari perempuan untuk menyempurnakan ilmunya, kini sedang duduk berhadapan dengan Iblis bermata hijau, gurunya sendiri.
"Tinggal berapa gadis yang kau butuhkan untuk menyempurnakan ilmumu, Muridku?" tanya Iblis bermata hijau.
"Tinggal satu lagi, Eyang Guru," jawab Gardapati. "Muridku, jangan sampai kau lelap kemalingan, tetap hati-hati, jangan melakukan hal yang sama dalam melakukan setiap tindakan!" Iblis bermata hijau memberi nasihat.
Maksud dari "lelap kemalingan" adalah bahwa jika tidak hati-hati dalam melakukan segala sesuatu, akan mendapat kesusahan.
"Jangan khawatir, Eyang Guru, muridmu selalu menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan akal, jadi muridmu yakin sampai saat ini belum pernah ada seorang pun yang curiga bahwa pelakunya adalah muridmu ini!" jawab Gardapati.
"Haha... kau memang muridku yang terbaik. Kapan kau akan melakukan tugas terakhirmu itu, Muridku?" tanya Iblis bermata hijau.
"Saat malam nanti, Eyang Guru," jawab Gardapati.
"Ingat, muridku, jangan sampai kau pilih-pilih ruas terpilih pada buku," nasihat Iblis bermata hijau.
"Jangan khawatirkan itu, Eyang Guru, selama ini muridmu tak pernah memilah-milah, jika ada kesempatan, muridmu selalu memanfaatkannya, meskipun itu harus mengambil dari kesempitan," jawab Gardapati.
"Haha... kau boleh berlatih sekarang, aku hendak bersemadi," perintah Iblis bermata hijau.
"Baik, Eyang Guru!" Gardapati segera berlutut menyembah dan beranjak keluar goa, ditatapnya langit di atas jurang, timbul niatnya untuk menaiki dan melihat ada apa yang ada di atasnya.
Gardapati kerahkan ilmu Ngambang Anginnya, yaitu ilmu peringan tubuh yang luar biasa dahsyatnya, yakni bisa melayang hingga beberapa puluh tombak seperti terbang.
"Hupp... Wuss..." Tubuh Gardapati melesat tinggi, dalam jarak empat puluh tombak dirinya melayang pada akar pohon yang menggantung dan kembali melesat ke atas.
Sebenarnya, ilmu Ngambang Angin adalah ilmu yang menekankan pada elemen api, seperti yang diketahui, Api merupakan gas yang memiliki suhu yang sangat tinggi.
Bentuk api cenderung untuk menguncup karena pengaruh dari gaya gravitasi bumi terhadap susunan ion-ion yang tereksitasi pada bagian bawah sangat besar.
Ion-ion yang tereksitasi ini memiliki panas yang sangat tinggi dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya, sehingga memiliki berat jenis yang lebih ringan dibandingkan dengan udara sekitar.
Akibatnya, ia akan cenderung untuk menuju ke atas udara, bergerak melawan gravitasi bumi.
Maka dari itu, dengan memanaskan bagian udara di dalam tubuh agar lebih panas dari udara di luarnya, sehingga tubuh akan mengembang dan dapat naik, terbang.
"Jlegggg...!" Secara luar biasa Gardapati dapat tiba di mulut jurang, wajahnya celingukan, rupanya dirinya berada di lapangan yang sangat luas, ia merasakan udara begitu sejuk merasuk ke dalam jiwanya, langit berubah menjadi orange kemerahan, awan-awan berubah menjadi kuning keemasan, menyaksikan itu, tak tahan Gardapati untuk menikmati keindahannya, ia duduk di salah satu batu, kakinya diselonjoran, hingga tak sadar ia ketiduran.
"Selamat tinggal, Kakang Danenra, selamat tinggal, Kakang Adi Praja, semoga dilain waktu kita dapat bersua kembali," seorang gadis cantik berbaju kulit kujang berkata dengan wajah yang sedih, matanya berkaca-kaca.
"Nimas Dewi, ingatlah, tidak ada penjamuan yang tak bubar, kau tak usah bersedih hati, apabila air surut, batu karang itu kelihatan, berjalanlah selangkah melihat surut!" ucap Danenra sambil merengkuh tubuh Astadewi.
"Baik, Kakang!" ucapnya lirih, bahkan hampir tak terdengar, seandainya itu terjadi ketika Danenra dan Adi Praja baru datang, mustahil akan mendengar itu.
Namun Adi Praja dan Danenra sekarang bukanlah yang dulu, kini tenaga dalam mereka berlipat ganda akibat persetubuhan dengan gadis lugu itu.
"Nimas Dewi!" Adi Praja kali ini yang memeluk tubuh Astadewi setelah lepas dari Danenra.
Bahkan Adi Praja nekat melumat bibir mungil Astadewi, membuat pemiliknya merah malu.
"Nimas Dewi, pakailah gelar Dewi Asmara berwajah lugu bila kau berkelana dalam dunia persilatan nanti, itu sangat cocok untukmu, selain itu, kami juga dapat mengetahui keberadaanmu hingga kita dapat bersua lagi!" ucap Adi Praja menasihati.
"Terima kasih, Kakang!" "Selamat tinggal kekasihku!" Adi Praja membalikan tubuh dan melesat dahulu.
Sedangkan Danenra menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang entah apa isinya.
"Nimas Dewi, ini adalah sebuah kitab yang entah apa namanya, otak kakang terlalu bebal hingga tidak bisa membacanya, semoga suatu saat nanti akan berguna untukmu!" Danenra lalu mengecup pipi Astadewi dan melangkah mengejar Adi Praja yang sudah pergi dahulu.
"Fyuhhh...!" Astadewi hembuskan nafas, bagaimanapun kebersamaan mereka bukan hanya hubungan yang biasa, sedikit-sedikit ia merasakan kesedihan pula ketika dua orang itu memutuskan untuk kembali berkelana di dunia persilatan.
"Emhhh.....!" Seorang pemuda tampan berbaju kelabu membuka matanya, sungguh kaget tak kepalang hatinya ketika ia menyaksikan seorang gadis mungil berusia lima belas tahunan sedang menari di tengah lapangan.
Gadis itu memakai baju dari kulit kujang berbentuk terusan, sehingga ketika gadis itu mengangkat kakinya, paha yang putih mulus beserta isinya akan terpampang dengan jelas, peluh sebesar jagung tampak menetes pelan dari dahinya, kewajahnya, dan terus turun ke lehernya yang jenjang, dan mengalir hingga menghilang di lekukan menonjol di bagian dada.
Ketika gadis itu mengangkat tangannya, maka gundukan yang mengintip tampak menyembul indah di sela-sela baju kulit kujangnya, terpesona bukan kepalang hati pemuda berbaju kelabu yang tak lain adalah Gardapati itu.
Diperhatikannya tarian gadis itu, dan sungguh kagumnya Gardapati melihatnya, sekilas saja ia dapat melihat tarian erotis itu bukan hanya tarian yang sangat indah dan merangsang gairah, namun berupa gerakan silat yang mematikan, sampai-sampai ia yang berada di dalam jarak tiga puluh tombak pun merasakan gelegak gairah yang menyesatkan aliran darahnya itu.
Seandainya Gardapati tidak mempelajari ilmu yang sealiran, barangkali ia akan gila diamuk berahinya sendiri, untunglah Gardapati mampu membendung hasratnya yang menggebu itu dengan ilmu yang disebut dengan Berahi Daun Keladi, yakni suatu ilmu yang dapat menangkal ilmu sejenis tarian gadis itu.
Ilmu Berahi Daun Keladi tidak menentang jurus itu, ilmu itu malah membiarkan ikut ke dalam dan membiarkannya terombang-ambing, namun seperti air yang menetes di daun keladi, maka berahi itu pun sama, hanya mampir dan lewat sebagaimana air itu sendiri.
Gadis itu, yang tak lain adalah Astadewi, tak sadar bahwa ada yang memperhatikan setiap gerakan tubuhnya, ia terus saja bergerak laksana air yang mengalir, jurus-jurus dalam Kitab Asmara Teratai Putih terus saja ia praktekan.
Kadang pinggulnya bergoyang, tubuhnya meliuk ke kanan ke kiri, tangannya terus saja melakukan tarian-tarian, namun tarian itu terlihat begitu jalang, genit, dan liar, tapi hebatnya wajah Astadewi tetaplah lugu dan polos seperti seorang anak kecil, seakan gerakannya itu adalah hanya tarian biasa.
Mengapa Astadewi berada di sana? Setelah berpisah dengan Danenra dan Adi Praja, Astadewi merasakan kesepian yang dalam, maka diputuskannya untuk berjalan-jalan, dan sampailah ia di lapangan rumput itu, merasa terpesona, sekelebat ide muncul dalam benaknya, tanpa melihat kondisi sekitar, Astadewi segera melatih Jurus-jurus dalam Kitab Asmara Teratai Putih yang dipelajarinya itu.
Dimulai dari Jurus pertama, yakni Gadis Cantik Jatuh Cinta, dilanjutkan dengan jurus kedua, Panah Asmara Memabukan Raga, dan seterusnya hingga dalam jurus ke dua belas, yakni Tarian Ranjang Bergoyang, Astadewi terpergok Gardapati tanpa ia sadari sebelumnya.
Perlu diketahui bahwa jurus Asmara Teratai Putih terdiri dari dua puluh lima jurus, berikut cara melatih tenaga dalam yang dinamakan Tenaga Sakti Berahi Gadis Liar.
Pada saat mencapai jurus ke dua puluh lima, yakni Puncak Surga Dunia, terlihat Astadewi menggeliat liar seperti cacing kepanasan, tangannya bergerak tak beraturan seperti orang yang gila, mulutnya mendesis lirih, kakinya menendang dengan kecepatan kilat, saking cepatnya, bahkan gerakan kakinya tak terlihat, jika bukan Gardapati, mustahil orang akan mengetahui bahwa kaki itu menendang ke mana-mana, rumput tersibak, dan angin berseliweran, tak lama kemudian semuanya kembali seperti semula.
Gardapati diam mematung terpesona ketika melihat mata sayu gadis itu, wajahnya yang lugu tanpa salah begitu memikat hatinya, setelah agak sadar, Gardapati segera bertepuk tangan.
"Plok... Plokk...!" Mendengar suara keplokan, meski ringan, tapi wajah Astadewi segera berubah.
Diliriknya sumber suara itu, wajahnya tiba-tiba pucat, lalu berubah kemerahan hingga akhirnya menunduk malu.
Tapi itu tak berlangsung lama, didekatinya pemuda berbaju kelabu yang menurutnya sangat tampan itu, wajar saja selama ini ia bergaul dengan Danenra dan Adi Praja yang jauh dari kata tampan itu.
"Siapa kau... mengapa kau mengintipku berlatih?" bentaknya garang, namun wajah lugunya yang cantik tak bisa mendukung kata-kata garangnya itu.
Bahkan di telinga Gardapati, suara itu bak burung nuri yang sedang berkicau, begitu memabukan telinganya.
"Maafkan kekhilapanku, Nona, maafkan aku yang rendah, Gardapati ini, bukan maksudku untuk mengintip silat nona yang begitu memabukan jiwa dan raga, namun nona lah yang tak memperhatikan keberadaanku sebelumnya, ketika aku datang dan tidur di sini, di lapangan ini tak ada siapa-siapa, dan ketika aku bangun dari lelapku itu, ku melihat seorang bidadari yang lugu menari dengan indahnya, sampai aku tak mampu untuk berdiri," goda Gardapati.
Meski menggoda, namun ucapan itu diucapkan sewajar-wajarnya tanpa ada nada rayuan gombal, sehingga ucapan itu seperti diucapkan setulustulusnya.
Mendengar ucapan seperti itu, hati kesal Astadewi mendadak mencair seperti salju yang terkena hangatnya sinar mentari.