Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 06

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 06

Astradewi berkata lebih lembut, "Kalau begitu, mengapa kau tak segera bangun dan kita mengobrol secara baik-baik?"

Gardapati berusaha menggombal, "Maafkan aku, wahai bidadari berwujud perempuan, kau terlalu indah untukku, sampai aku tak bisa menopang berat tubuhku ini, lututku goyah, hatiku berantakan... maafkan aku!" Meski tahu dirinya dibohongi, Astradewi percaya juga karena tak ada perempuan yang tidak suka dipuji. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.

Menyaksikan mangsanya terkena jerat, Gardapati segera berkata, "Oh... betapa merahnya wajahmu itu, tak sabarku ingin membelainya dalam angan, lihatlah tingkahmu yang menggemaskan ini ingin ku mendekapnya dalam rindu, duduklah wahai kasih, duduklah di antara belaian rumput yang lembut laksana sutera ini, itu pun jika kau berkenan aku takkan pernah memaksa orang seindah dirimu untuk mengikuti kehendakku, aku tahu aku hanyalah sebutir debu dalam hamparan kerikil." Suara itu menggetar-getar dan mendayu-dayu, tidak salah, ucapan itu dilembari dengan ilmu sabda Dewa, jadi tidak salah bila perasaan Astradewi melayang-layang seperti terbang ke awan.

"Akh...kakang....!" Desis Astradewi lirih, matanya sayu. Tanpa malu, ia duduk di hadapan Gardapati sehingga paha indahnya terpampang dengan jelas. Bila berdiri saja baju kulit kujangnya itu berada lima jari di atas lutut, bisa dibayangkan bila ia duduk bersila.

Mata Gardapati bersinar-sinar memancarkan gairah, tapi ia tak melakukan sesuatu. Ia memang merasakan sesuatu getaran dalam hatinya terhadap gadis satu ini, maka ia tak melakukan hal yang akan menyinggung perasaan gadis itu.

Bukan hanya Gardapati yang merasakan getaran aneh itu, Astradewi pun merasakan hal yang sama. Tak sepatah katapun keluar dari mulut mungilnya, jangankan bersuara, menatap mata pemuda itu saja ia tak berani.

"Adik Manis, siapakah gerangan namamu?" Gardapati memecah keheningan. "Astradewi... dan kangmas?" tanyanya malu-malu.

Kangmas, sebuah sebutan sederhana namun begitu manis di telinga Gardapati, meski ia sudah meniduri sembilan puluh sembilan perempuan, namun selama ini ia belum merasakan apa yang dinamakan dengan cinta. Dan anehnya, ia merasakan nya sekarang, dengan seorang gadis yang baru saja ia tahu namanya, cinta memang aneh, tak perlu mengenal lama, terkadang cinta pada pandangan pertama begitu indahnya, pikiran melayang anganpun melambung.

"Gardapati...!" Jawabnya lirih, tangan Gardapati bergerak dan memegang punggung telapak tangan Astradewi. Keduanya bertatapan, Astradewi sama sekali tak memindahkan ataupun berontak, seperti kena sihir saja ia membiarkan tangannya dipegang dan diremas-remas.

Mendapat angin, Gardapati segera menarik tangan itu sehingga tubuh gadis itu tertarik dan melekat di tubuhnya, ia peluk gadis itu dengan sejuta kasih dan sayang. Astradewi tersenyum malu di samping leher pemuda yang memeluknya, direbahkan tubuhnya dengan sejuta kehangatan, dilingkarkannya tangan mungil itu di leher Gardapati.

Sedangkan Gardapati melingkarkan tangannya di punggung gadis itu, keduanya saling diam merasakan semilir angin yang berhembus, rumput bergoyang dengan indahnya seakan menjadi saksi bisu cinta kedua insan itu.

"Benarkah kakang menerimaku yang sudah ternoda ini?" Tanya Astradewi ragu. "Wahai Nimas Dewi, seperti yang kakang katakan, cinta itu bermacam-macam cara untuk menikmatinya, Kakang juga sudah tak perjaka, seperti yang sudah kakang tuturkan kepadamu tadi, cinta kakang kepada Nimas Dewi tidak sama dengan cinta lainnya, cinta kakang murni dari hati, kakang tidak akan pernah mempermasalahkan masa lalumu itu, bahkan sekarangpun kakang takan melarang engkau bersetubuh dengan orang lain, siapapun itu orangnya... kakang tahu, cinta Nimas Dewi hanya untuk kakang! Kakang bukanlah orang egois yang menuntut macam-macam, kakang hanya minta perasaan Nimas Dewi, Perasaanmu ini." Gardapati menunjuk dada Astradewi.

"Masakah kakang rela aku di gerayangi orang lain?" Astradewi bertanya heran. "Tentu, tentu kakang tak rela, apakah kamu pikir kakang tidak cemburu melihat kamu dikerjai orang lain?" tidak Nimas Dewi tidak, tentu kakang cemburu, namun cemburu kakang tidak sama dengan orang lain. Bila orang lain melarang maka kakang ingin lebih, kakang ingin kamu lebih menikmatinya, kakang ingin melihat kepuasanmu, kakang ingin merasakan kebahagiaanmu... ingatlah Nimas Dewi, setiap orang memiliki cara pemuasan yang berbeda, kakang ingin kamu merasakan, merasakan kamu terpuaskan oleh orang lain, kakang cinta Nimas Dewi seperti ini... Kakang tahu, ilmu yang Nimas Dewi pelajari menuntut hubungan badan, maka dari itu kakang beri kebebasan kepada dewi untuk mencari dan menikmati."

"Cup..." Gardapati mengecup pipi gadis itu, membuat pemiliknya merah merona. "Terimakasih kakang, kakang benar-benar lelaki yang jarang ada di dunia ini, takan ada lagi orang seperti kakang, Dewi juga mencintai kakang." Astradewi memeluk tubuh kekar Gardapati.

"Nimas Dewi, bagaimana... apakah Nimas Dewi bersedia menjadi perempuan yang kakang maksudkan?" Gardapati memelas. "Tentu kakang... Dewi bersedia melayani kakang... Dewi bersedia menjadi perempuan yang seperti kakang inginkan!" Astradewi memperkencang pelukannya.

"Mari Dewi, kita temui guru... kakang tak sabar melihat engkau menjerit kepuasan, kakang sudah tak sabar melihat tubuh indahmu itu!" Dan tanpa diperintahkan untuk yang keseratus kalinya, Gardapati memeluk tubuh Astradewi dan meloncat ke dalam jurang Mulut Dewa Neraka.

Berkat Ilmu Peringan tubuh yang dinamai Ngambang angin, yang juga dipergunakan Iblis bermata hijau dulu ketika ia meloncat ke jurang itu, Gardapati dan Astradewi dapat turun dengan mulusnya. Dan berdiri di atas batu berlumut hijau di dasar jurang sana, Mata Astradewi celingukan melirik daerah sekitarnya, sudah tahunan ia berada di atas hutan di mana jurang ini berada, tak pernah selintas pikiranpun di bawah jurang ini akan ada kehidupan lainnya.

Dituntunnya tangan gadis itu untuk mengelilingi segenap tempat itu, pertama Gardapati mengajaknya ke ruang perpustakaan, seperti biasa dengan menekan tombol rahasianya maka terbukalah sebuah ruangan lain, lalu mereka masuk ke dalamnya.

"Nimas Dewi, disinilah semua ilmu yang kakang pelajari, milik kakang adalah milik dewi juga, bila dewi berkenan mempelajarinya!" "Terimakasih kakang!" "Mari kita pergi ke tempat lain!" Ajak Gardapati sambil memutar lukisan di dinding, "Drettt...drett....! Sebuah ruangan lain terbuka, Astradewi diam tak dapat bersuara, ia kaget ternyata di dalam jurang terdapat pesawat rahasia seperti di bekas Perguruannya teratai putih.

"Inilah Ruang Racun! Kau berminat mempelajarinya Nimas Dewi?" "Lain kali saja kakang!" tolak Astradewi halus, lalu Gardapati menginjak pedal di sudut ruangan hingga membukalah sebuah ruangan lainnya, "Inilah Ruangan senjata" begitulah keduanya terus berputar-putar, menjelajahi setiap sudut ruangan itu, ruangan Harta, ruangan obat dan lain sebagainya telah mereka kunjungi.

Sampai akhirnya Gardapati mengajak Astradewi ke kamarnya. Keduanya bertatapan mesra, lalu saling mendekatkan wajah, hingga tak sadar bahwa mereka telah melucutkan pakaian masing-masing hingga tak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuh, keduanya bergumul ria, seakan tidak hari esok lagi, desahan nafas seirama dengan gerakan tubuh mereka, mereka bergumul bukan sembarang bergumul, jika Astradewi menggunakan teknik melatih Jurus Asmara teratai putih, maka Gardapati menggunkan teknik Iblis Panah Asmara.

Entah mengapa kedua ilmu itu saling melengkapi, tak ada jurus yang tak ada pasangannya, hingga keduanya terkulai kelelahan. Gardapati menatap wajah lugu gadis di sampingnya dan berkata. "Ternyata ilmu yang kita pelajari serumpun Nimas Dewi." Astradewi tersenyum malu, wajahnya disusupkan di dada bidang Gardapati, kekasihnya itu.

Namun tiba-tiba Gardapati bangun berdiri, tentu saja Astradewi mengkernyit tak mengerti. "Ayo!" Gardapati menjulurkan tangannya pada gadis itu. Meski tak mengerti, Astradewi menurut juga, ia bangkit sambil bertanya keheranan. "Hendak kemanakah kita sekarang kakang?" "Kita akan menemui Eyang Guru..!" Gardapati memberikan bocoran.

"Baiklah kakang, Dewi hendak berpakaian dahulu." "Tidak usah kekasihku, kau cantik seperti ini!" Gardapati tiba-tiba mengangkat tubuh Astradewi dan memayangnya, dengan keadaan telanjang bulat keduanya berjalan menyusuri lorong di dasar jurang Mulut dewa Neraka itu.

Gardapati mendorong salah satu pintu ruangan dan masuk, di dalamnya ternyata ada seorang kakek tua beruban dengan mata hijau menyala, tak salah dia adalah Iblis bermata hijau adanya, "Eyang Guru... murid menemui guru!" Gardapati menurunkan tubuh telanjang Astradewi dan berlutut, kemudian Astradewi mengikuti kekasihnya itu berlutut.

"Diakah yang terakhir muridku?" tanya Iblis bermata Hijau. "Benar Eyang Guru." Iblis bermata Hijau tatapi tubuh Astradewi dan bergerak mendekati, lalu ia merengkuh tubuhnya untuk ia gumuli. Ciuman dibalas ciuman, rengkuhan dibalas rengkuhan... Ada ubi ada talas, ada budi ada balas, seperti kesetanan ketiganya bergumul menjadi satu.

Sejak saat itulah Astradewi tinggal bersama Gardapati sebagai perantara antara Gurunya Iblis bermata Hijau dan muridnya Gardapati. Astradewi tak menyesal menjadi kekasih Gardapati, di sana ia selalu mendapatkan kepuasan batin maupun tubuh dari Guru barunya dan tentunya kekasihnya itu, ilmu silat dan tenaga dalamnya meningkat pesat laksana busur panah yang di lepaskan untuk membidik.

Waktu bergulir laksana air mengalir, tak kerasa satu tahun telah berlalu, saat ini Gardapati berusia dua puluh tahunan sedangkan Astradewi enam belas tahunan, kini keduanya sedang berlatih tanding, tubuh gadis berbaju kulit kijang itu melayang-layang di udara menyerang lawannya yang pemuda berbaju kelabu.

"Hiat...." "Blegaarrr!" dentuman nyaring ketika kedua tangan mereka beradu, Astradewi meloncat ke belakang dan mencabut sebuah pedang beronce merah, pedang itu berwarna putih kemerahan serasi dengan wajahnya yang selalu merah merona.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment