Chapter 07
Astradewi menghadang pedangnya di depan wajah, sementara tubuhnya melayang terbalik. Kakinya menyilang, menekuk di atas kaki kanan, lalu menjejak dinding jurang. Jurang Mulut Dewa berbentuk elips, memungkinkan mereka berloncatan dengan berlandaskan dindingnya.
"Hiahhh... Awas Pedang Dewa Neraka memenggal kepala!" teriak Astradewi sambil memutar pedangnya setengah lingkaran dan menyabetkannya kepada lawan. Kecepatannya laksana kilat; sekali gebrak ia melancarkan sembilan belas tusukan, tujuh sabetan, dan enam belas putaran.
Gardapati juga tidak kalah gesitnya. Ketika Astradewi menyerbu, ia mencabut pedangnya dari sarungnya. Bentuk pedangnya sama dengan Astradewi, hanya saja warna ronce pedang Gardapati berwarna kelabu.
Tubuh Gardapati meloncat dengan memutar tubuhnya laksana gasing. Ia menangkis setiap serangan Astradewi sehingga terdengar dentingan nyaring.
"Trang...! Trang...! Trang...!"
"Kau hebat, Kakang. Awas, kali ini aku akan menggunakan jurus Pedang Neraka Iblis," teriak Astradewi.
"Baik, Nimas Dewi. Aku akan menangkisnya dengan jurus Pedang Surga Dewa. Hati-hati!" "Hiaaatttt...!" Keduanya berteriak mengguntur. Desingan nyaring suara benda tajam menggores udara terdengar menggiriskan, seakan benda logam digoreskan pada kaca.
Tampak pedang keduanya, yang bersinar perak milik Gardapati dan oranye kemerahan milik Astradewi, hendak beradu di udara. Sebelum pedang itu beradu, terdengar suara bentakan nyaring...
"Hentikaannnn!"
Keduanya terkejut. Gardapati mengurangi tenaga dalamnya, begitu pula Astradewi. Pedang yang terlanjur disabetkan tidak bisa dihentikan; kaki sudah terlangkahkan, tangan terjulur. Namun, mereka sudah mencapai tahap dapat mengendalikan tenaga sesuka hati. Tak hanya panas punggung, mereka dapat melakukan bulat segiling, pecah setepik.
Pedang itu tidak beradu, melainkan bergesekan. Gardapati menyodorkan gagang pedangnya, begitu pula Astradewi.
"Sleppp... Sleppp!"
Sungguh indah dipandang mata. Lambat bila dikata, cepat dalam fakta.
"Apa kalian hendak meruntuhkan jurang ini?" bentak Iblis Bermata Hijau marah.
"Maaf, Eyang Guru. Kami keasyikan," ujar Astradewi mewakili.
"Haha... Dasar murid-murid edan! Pergilah kalian lihat dunia, kacaukan, hancurkan, haha!"
"Maksud Eyang Guru?" Gardapati terkejut seakan mendapatkan firasat tertentu. Ia ingat ucapan gurunya semalam yang menyuruh mereka untuk berkelana dalam dunia persilatan.
"Keputusanku sudah bulat. Aku sudah memegang erat, menggenggam teguh, aku sudah menuturkan apa yang menjadi keinginanku. Muridku, lakukan apa yang menjadi harapanku, maka aku akan bahagia!"
"Eyang!" teriak Gardapati kaget ketika melihat tangan hijau Iblis Bermata Hijau mengepruk kepalanya.
"Prakkkk..."
Belum sempat Gardapati menyelesaikan ucapannya, Iblis Bermata Hijau telah mengepruk kepalanya sendiri hingga ambrol. Gardapati dan Astradewi berpandangan. Pedih benar hati mereka, namun sepedih-pedihnya mata memandang, pedih juga kulit merasai. Maksudnya adalah betapapun pedihnya orang yang melihat, lebih pedih lagi orang yang mengalami penderitaan tersebut.
Gardapati tahu penderitaan gurunya, dari sejak kecil hingga ia berusia dua puluh tahun. Ia mendekati mayat gurunya. Ia tak menangis, hanya tampak berkomat-kamit sebentar. Tanpa kata, keduanya segera menguburkan mayat guru mereka. Meski baru setahun, Astradewi juga merasakan kehilangan, apalagi Gardapati yang sudah lama berkumpul.
Bau lembab dalam jurang berhembus lewat. Gardapati memandangi wajah lugu nan cantik milik Astradewi. Dipegangnya wajah Astradewi dengan kedua tangannya, perlahan wajahnya mendekat... Dan terjadilah sebuah pergulatan lidah yang tajam. Keduanya enggan melepaskan kenangan indah itu. Tangan mereka bergerilya, satu per satu pakaian mereka lepas hingga tak sehelai benang pun melekat. Di atas pusara Iblis Bermata Hijau, keduanya bergumul seru. Desahan napas memburu berdentang seirama dengan bunyi lainnya. Mereka tak peduli burung yang menyaksikan mereka. Mereka tak pedulikan apa pun. Yang mereka pedulikan adalah kenikmatan yang sesaat. Gilakah mereka? Pasti orang lain yang melihat akan menganggap gila. Namun, itulah wasiat Iblis Bermata Hijau. Lalu, siapakah yang gila? Apakah Iblis Bermata Hijau? Apakah mereka? Atau apakah zaman? Zaman gila? Entahlah... semua serba semu....
***
Di Goa bawah dasar samudera.
Sagara Angkara berjalan-jalan di sudut gua tempat ia tinggal. Melihat air laut yang begitu jernih, ia berniat bermain-main air. Segera ia turun. "Gjeburr..." Airnya begitu sejuk, membuat Sagara Angkara terlena. Yang begitu indah belum tentu tidak berbahaya. Mendadak, air berputar kencang membentuk lingkaran di tempat Sagara Angkara bermain-main. Tentu saja itu membuat Sagara Angkara panik. Ia ingin berteriak, tetapi mulutnya terkunci. Mana saja Sagara Angkara ketakutan setengah mati. Mendadak, penglihatannya semakin semu, dunia berubah gelap dan gelap... Sagara Angkara segera tak sadarkan diri. Ombak masih menggulung, lambat laun semakin tenang dan tenang..... Matikah Sagara Angkara?
***
Kubuka mata perlahan, kupejamkan kembali. Kukumpulkan ingatanku, mengingat semua yang telah terjadi. Kubuka lagi dengan perlahan. Dunia masih semu, pikiranku melayang. Apa yang telah terjadi, tanyaku dalam hati. Namun, raga ini belum juga mengerti. Pikiranku mulai terkumpul. Ya, aku masih mengingat, namun aku tak dapat merasakannya. Kubuka mataku lagi. Ternyata aku sedang menatap payung biru yang maha luas.
"Kau sudah bangun, anakku?" Sebuah suara berat penuh kasih sayang menegur di dekat telinganya.
Sagara Angkara terhenyak. Ditatapnya langit-langit tampak batu karang bertonjolan. Pikirannya melayang. Ia segera bangkit duduk dan menampar pipinya.
"Plakkk!?"
Kontan saja pemilik suara tadi, yang tak lain dan tak bukan adalah Eyang Begawan Sutrasno, terkejut.
"Ada apa, Gara? Mengapa kau tampar pipimu sendiri?"
"Eyang, Gara serasa bermimpi. Mengapa Gara berada di sini?"
"Kau terseret air laut di sana dan pingsan. Maka dari itu, Eyang membawamu kemari. Mungkin kau pingsan selama empat hari. Eyang sempat khawatir akan keadaanmu itu."
"Bwahahahaha...!" Sagara Angkara memegangi perutnya karena geli.
"Mengapa kau malah tertawa, hah?" bentak Eyang Begawan Sutrasno pura-pura marah.
"Maaf, Eyang."
"Sudahlah, kau ini mengganggu saja. Istirahat sana. Lihat matamu begitu merah. Esok hari kita akan meninggalkan tempat ini."
"Apa! Hendak kemanakah kita, Eyang?" Sagara Angkara terperanjat.
"Kita akan berkelana, mengarungi lautan, mendaki gunung, menyeberangi sungai."
"Hore.... Berarti kita akan melihat dunia luar, Eyang!"
"Sudah, tidur sana!" Perintah Eyang Begawan Sutrasno lagi.
***
"Kakang Garda, apa kau sering bermain kemari? Lihatlah, banyak sekali orang berkeliaran. Wah, yang itu mukanya kayak babi, yang itu... yang itu!" Astradewi tertawa sambil menunjuk orang yang berlalu lalang. Wajahnya yang lugu dan kekanakan rupanya tidak terlalu menyinggung perasaan orang. Malah tingkahnya itu mendapat sambutan hangat dari sekelilingnya. Bajunya yang hanya terbuat dari kulit kijang sangat minim di tubuhnya, membuat orang betah memandang.
"Gadis itu kayaknya baru keluar gunung!" ucap salah satu penduduk desa yang kebetulan melihatnya. Kawannya menyetujui, "Kakang, gadis itu laksana janda baru bangun tidur saja! Haha!" "Kau benar, Dimas. Ingin sekali aku mendekapnya! Haha...!"
Berbagai ucapan keluar dari mulut orang, namun dengan wajah lugunya Astradewi melayani mereka dengan senyuman. Kadang dirinya meloncat-loncat seperti anak kecil, merengek manja, ataupun tindakan lainnya.
"Kakang, aku lapar!" Astradewi menggelayut manja.
"Kau ingin makan apa, Nimas Dewi?" tanya Gardapati lirih.
"Emch,, Kijang bakar," jawab Astradewi.
"Mana ada, kamu pikir ini di hutan? Bagaimana kalau ayam bakar saja?"
"Terserah Kakang saja..!"
Gardapati segera mengamit lengan Astradewi dan berjalan menuju salah satu rumah makan yang cukup mewah. Namun, ketika hendak masuk, pelayan rumah makan itu malah menghentikannya. Alis Gardapati menjungkit laksana golok lengkung. "Mengapa kau mencegat kami, pelayan edan?" Gardapati mendengus marah.
"Heu, mau apa kau datang kemari? Apakah kau tak tahu Tuan Muda Adhigana sedang berkunjung?"
"Memang dia itu siapa sampai melarangku untuk masuk? Apakah dia sudah makan besi dan emas sehingga berani segitu jumawanya?" Gardapati membentak.
Sebelum pelayan itu menjawab, seorang lelaki gemuk berpakaian perlente warna perak menyela, tak senang dengan ucapan Gardapati barusan. "Anak muda, siapakah kau? Tahukah kau bahwa segala penyakit itu berasal dari mulut?"
"Huh, untuk apa kau tahu siapakah aku? Tampangmu sama sekali tak cukup pantas untuk mengetahui siapakah namaku!" Dengus Gardapati dingin.
"Kurang ajar, bocah ingusan tak punya mata." Kontan lelaki itu naik pitam. Telapaknya menghajar tiang hingga berbekas sebuah telapak tangan sedalam tiga inci. "Pentang mata ingusanmu itu! Coba tengok siapakah aku! Ketahuilah, bocah ingusan yang baru turun gunung, Aku Si Bangsawan Sepuluh Nyawa, pemimpin dari sepuluh desa di wilayah ini."
Menyaksikan keadaan itu, pelayan itu jadi kaget dan ketakutan. Sambil menahan badan yang gemetar keras, ia mundur ke belakang, sadar bahwa dua orang itu bakal adu kepalan.
Gardapati mendengus dingin. Ia membisiki Astradewi untuk mundur sejenak, dan dituruti dengan patuh. Tak ada kekhawatiran sedikit pun di matanya. Ia tahu bahwa kekasihnya itu adalah seorang yang cukup mampu untuk menghadapi lawan.
"Baiklah, bila kau menjual maka aku akan membeli. Cabut senjatamu sebab aku hanya akan memberimu kesempatan sebanyak tiga kali. Selebihnya aku yang akan memimpin di desa ini mulai sekarang. Ayo, kita lihat kemampuanmu!" Gardapati berkata tak kalah jumawanya.
"Anak ingusan cari mati ya!" Si Bangsawan Sepuluh Nyawa berkata gusar sambil mencabut pedang besarnya dan memutar-mutarnya sehingga terdengar dengungan nyaring. "Jaga saja kepalamu!"
"Kretek..." Gardapati menyatukan kedua jarinya, berusaha untuk pemanasan.