Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 08

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 08

"Terimalah ini!" Si Bangsawan Sepuluh Nyawa gusar dan membacokan pedangnya. Terdengar bunyi mengerikan ketika pedang itu disabetkan. Jarak Gardapati dan Si Bangsawan Sepuluh Nyawa adalah sepuluh tombak, tanpa mendekatipun pedang itu mengeluarkan hawa kuning panas menerjang Gardapati.

"Wusss... Crakkk...!" Gardapati mengelak ke kiri dan melihat tanah yang merekah akibat serangan itu. "Seranganmu lumayan juga!" gumam Gardapati. Lalu ia mulai menyerang, tak sekerdipan mata saja tubuhnya sudah berada di depan Si Bangsawan Sepuluh Nyawa.

"Tapi, seranganmu terlalu biasa!" "Duaaakkkk!" Kaki kanan Gardapati menghajar tubuh lawan dan ditahan dengan sikut, belum hilang kagetnya tiba-tiba Gardapati sudah ada di belakang dan menghantamkan kakinya ke sambungan lutut. "Ekh, dibelakang... ukghhh" Si Bangsawan Sepuluh Nyawa kaget, tapi lututnya terlanjur dihajar lawan. Tubuhnya tanpa ampun jatuh tersuruk.

Gardapati tak lanjutkan serangan, ia kembali ke tempatnya tadi sebelum ia bertarung dengan kecepatan angin. "Hebat... anak itu hebat sekali!" terdengar gumaman para penduduk yang melihat pertarungan itu. "Ukh, ketua terdesak, ayo kita bantu!" Seorang lelaki berkumis tipis berkata kepada kawannya, bajunya seperti pelajar pada jaman itu. Sepertinya ia sekomplotan dengan Si Bangsawan Sepuluh Nyawa.

"Tunggu dulu, Ketua belum mulai, tunggu dan lihat saja!" seru kawannya yang memakai baju pelajar berwarna hijau tua. "Anak ingusan, sudah selesai, kesabaranku telah habis... Sekarang Giliranku!" bentak Si Bangsawan Sepuluh Nyawa. "Set... Srakkk" Si Bangsawan Sepuluh Nyawa tarik kaki kirinya ke belakang, tubuhnya merendah sedikit, tenaga dalamnya dilipat gandakan.

Luar biasa akibatnya, pasir dan debu berterbangan, "Trakkkk.....!" Tiba-tiba batang pedang itu berubah menjadi tiga bagian, rupanya pedang itu telah dipasangi pesawat rahasia. Dengan kekuatan tenaga dalamnya pedang itu diputar di kedua sisi badan, "Wungg,....!" "Jurus Badai Hawa... Anak ingusan terimalah ini" "Patttzz" Sekelebatan hawa pedang bergulung-gulung menyerang Gardapati, dengan kemampuan yang dimilikinya Gardapati berkelebatan menghindar, "Gayamu saja selangit, kemampuanmu hanya kelas tiga! Terima ini jurus kedua" dengus Gardapati, kaki kanannya dikembangkan kesamping, "Dukkk..!" Dengan telak, tendangan itu mampir di leher Si Bangsawan Sepuluh Nyawa.

Tanpa ampun tubuhnya itu sempoyongan mengikuti arah tendangan keras itu. "Pukulan terakhir.......!" Gardapati merendah sehingga tangan kirinya sejajar dengan lutut, sementara tangan kanan yang diselipkan dipinggang dihantamkan kemuka, dipertengahan jarak telapaknya membuka. "Duaaarrrr.........!" Sekelebatan hawa kemerahan berbentuk telapak tangan menghantam tubuh Si Bangsawan Sepuluh Nyawa.

Bukan hanya itu, tubuh itu juga terseret hingga membentur dinding Rumah makan yang melarang Gardapati masuk, Seketika itu juga, Rumah makan itu ambrol dengan dinding hancur berbentuk telapak tangan raksasa. Hancuran debu mengepul di udara, jeritan ketakutan terdengar dimana-mana. Namun mana mungkin Gardapati perduli dengan semua itu.

Ia ajak Astradewi masuk ke rumah makan yang hancur berantakan itu, dibawah tatapan kagum, gusar dan macam-macam mengiringi langkah mereka. Bagaimana dengan Si Bangsawan Sepuluh Nyawa? Bila rumah makan saja hancur, apalagi tubuh manusia yang terkena langsung, yang hanya terbuat dari darah dan daging? "Kakang kau memang seperti lebah, mulut membawa madu, pantat membawa sengat hihi" Astradewi cekikikan.

Maksudnya adalah berwajah tampan namun bersikap atau berhati jahat, itu memang bisa dilihat dari wajah Gardapati yang tanpa emosi setelah membunuh. Sekilas saja orang sudah yakin bahwa Pemuda ini bukan pemuda baik-baik. Gardapati hanya tersenyum menanggapi ucapan Astradewi. Ia keluarkan sekepal permata dari sakunya dan berkata, "Siapkan makanan yang terbaik untuk kami, dan belikan dua stel pakaian dalam untukku dan kekasihku ini, lengkap dengan dua stel jubah luar berwarna Kelabu, mengenai warna jubah kekasihku ini silahkan kau tanyakan sendiri."

Pelayan yang tadi melarangnya untuk masuk berdiri menjublak, matanya mendelong seperti orang tidak percaya, ia tak berani melarang lagi, jika pemimpin desa itu saja dapat dibunuh apalagi dirinya? Seraya menelan air liur lehernya yang terputus putus ia berkata: "Baik... baik... tuan, nona... hamba akan menyiapkan." Tanpa di tanya, Astradewi berkata, "Aku minta yang serba Nila saja." "Segini cukup" sekalian ganti rugi atas rumah makanmu yang hancur! ucap Gardapati.

"Cukup... cukup... bahkan masih ada sisanya." Meski tidak cukup, apalah daya pelayan itu? Tak cukuppun ia akan berkata cukup. Sebab ia masih sayang akan nyawanya, masih untung bila orang yang menghancurkan rumahnya itu mengganti rugi, jika tidak. "Bagus, segera lakukan perintahku dan sisanya boleh kauterima sebagai persenan, ayoh cepat pergi, tak usah berterima kasih lagi."

Betapa bingungnya hati sipelayan itu, dengan wajah berseri dan ketakutan ia ambil permata indah itu tadi dan segera ia menyuruh yang lain untuk persiapkan makanan serta barang keperluan dari Pemuda edan itu. Meski rumah makan itu hancur, namun bagian dapur tidaklah kenapa-napa. Bahkan lantai dua masih bisa dikatakan utuh. Sebab telapak raksasa itu hanya menjebol dan membentuk telapak tangan dibagian lantai dasar saja. Dan kebetulan dibagian bawah tidak ada seorangpun.

Hanya dilantai dua saja terdapat tiga orang manusia. Mungkin mereka adalah kawan dari Tuan muda Adhigana seperti yang dikatakan pelayan tadi dimuka. Orang yang tadi berkata hendak membantu diam mematung, ia tak berani berulah, ia sadar kemampuan diri tidak mencukupi, untuk apa menyorongkan daging dimulut singa. Sebentar saja, kabar pertarungan itu menyebar kemana-mana, orang persilatan yang penasaran berbondong-bondong mendatangi, bagaimanapun kabar angin selalu dilebih-lebihkan.

Yang tadi sebesar kepalan kini sebesar bola, yang sebesar bola menjadi sebesar roda, dan begitu seterusnya. Langit cerah, semilir angin mengibarkan rambut dua orang pemuda pemudi yang bagaikan dewa dewi sedang bersantap, diluar orang melongok mengintip, tak ada yang berani mengganggu. Mengapa? Entahlah... mungkin takut, atau bisa juga segan, kepada siapa mereka segan? Kepada Tuan Adhigana yang menjublek dipojok ruangan atau kepada Gardapati dan Astradewi. Tak ada yang tahu...

"Nimas Dewi, bagaimana enak?" tanya Astradewi. "Enak kakang...! Kakang rasa-rasanya bakal ada kejadian menarik" Astradewi berkata sambil menyuapkan daging ayam kemulut manisnya. "Musuh jangan dicari-cari, bersua jangan dielakan adiku!" Gardapati acuh.

Jelas sekali maksudnya adalah, jangan mencari permusuhan, tetapi jika permusuhan itu datang jangan pula berasa takut. "Tuan, nyonya ini pakaian kalian!" tiba-tiba pelayan itu datang memberikan seperangkat pakaian kepada Gardapati. "Silahkan undurkan diri" "Baik tuan," Namun tiba-tiba Gardapati ingat waktu sudah senja, tak ada salahnya bila mereka menginap di desa itu, segera saja ia mencegah kepergian pelayan itu "Tunggu, tolong siapkan ruang ganti untuk kami dan sekalian carikan penginapan yang nyaman" "B...baik satu kamar atau dua" "Satu saja."

Tanpa berpaling lagi, pelayan itu undurkan diri dari tempat itu, Gardapati dan Astradewi tak hiraukan keadaan, keduanya tetap makan dengan santainya. "Kau hebat sobat, sungguh aku merasa kagum padamu!" sebuah suara lelaki terdengar menegur mereka. Astradewi berpaling dan tersenyum kekanakkanakan. Sedangkan Gardapati hanya mengangkat bahunya saja lalu kembali makan, tingkahnya yang tak memandang sebelah matapun tentu saja membuat Tuan Muda Adhigana merasa tersinggung juga.

Tapi ia sembunyikan kedongkolannya itu dalam senyuman kecut. "Boleh aku ikut bergabung dengan kalian?" Sapanya lagi. "Boleh, asal kau bersujud dan memanggilku tuan tiga kali?" Gardapati bergumam lirih, namun suaranya cukup terdengar ditelinga Tuan Muda Adhigana. Seketika wajahnya memerah. Jika selama ini dia yang harus disembah masakah sekarang dia harus yang menyembah.

Dua kakek yang bersama Tuan Muda Adhigana gusar bukan kepalang melihat tuannya dipermalukan, mereka maju dan berdiri dihadapan Meja Gardapati. "Anak muda, apakah engkau tidak pernah diajari sopan santun oleh gurumu!" Sapa seorang kakek berambut panjang, rambutnya itu sudah memutih keperak-perakan, bajunya ungu muda serasi dengan kulitnya yang hitam. Sepasang trisula tampak menggantung dipinggangnya.

Sementara satunya lagi seorang kakek dengan baju hijau pupus yang kedodoran, kakek yang satu ini hanya sebagian saja yang memutih, sementara yang lainnya masih hitam. Jenggotnya sedagu menggantung di dagunya. Sebilah golok panjang terselip dipinggangnya dibungkus kain hijau daun. Dalam dunia persilatan mereka biasa dipanggil dengan Sepasang Tetua dari Gunung Sapto Argo. Dinamakan dari gunung sapto Argo dikarenakan mereka tinggal disana, entah mengapa kali ini mereka datang ke desa itu. Desa yang dikenal dengan Desa Cadas Ngelir. Desa terdekat pada Jurang Mulut Dewa Neraka.

Dan diluar dugaan, mereka yang dihormati didunia persilatan dengan kebijaksanaan akan mendapat sebuah jawaban yang tak pernah mereka dengar sebelumnya, mimpipun mereka tak menyangka akan mendapat jawaban itu dari Gardapati itu. "Sopan santun hanya membuat suasana menjadi kaku. Adat istiadat hanya sebuah alat untuk mengekang saja, aku sama sekali tak pernah mengerti dan tak pernah mau mengerti apa yang kau maksudkan itu" Jawab Gardapati kalem, "Akh kakang garda, menurutku Sopan santun hanya sebuah teori saja, buktinya banyak sekali orang yang mengabaikannya, contohnya kakang!" Sela Astradewi.

"Haha... ya, kau benar sekali adiku yang manis!" "Brakk....!" sebuah meja hancur terkena sebuah hajaran. Kakek berbaju pupus marah, wajahnya merah membara, ingin sekali ia menghajar pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment