Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 09

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 09

Jangan marah-marah lantas menghancurkan peranti orang lain, jika tersinggung minumlah ini dan tenangkan diri, anggap saja ini permintaan maafku! Gardapati mengangkat gelas berisi tuak dan menjentikkannya dengan ibu jarinya.

Gelas itu memutar dan segera menuju ke arah Kakek berbaju hijau pupus itu. Benar-benar pameran tenaga dalam tingkat tinggi, apalagi Gardapati sama sekali tak memandang kakek itu. Kakek berbaju hijau pupus tahu maksud lawan, ia kerahkan tenaga dalamnya pada telapak tangan dan menangkap gelas itu.

"Sial, mengapa meski tergenggam gelas ini tak berhenti jua" batinnya menggerutu. Betapa terkejutnya hati Kakek berbaju ungu muda melihat gelas itu tak berhenti meski ditangkap adiknya, malahan gelas itu jatuh menghantam lantai.

Padahal ia tahu sampai taraf mana kemampuan tenaga dalam adiknya itu, sungguh ia tak menyangka bahwa ia akan melihat adiknya dipecundangi orang, apalagi orang yang mempercundanginya adalah seorang bocah muda yang sama sekali tak terkenal namanya. "Ck..ck..ck... Minuman untuk minta maaf pun tak diterima, menyebalkan... apa ini yang dinamakan sopan santun!" Dengus Gardapati dingin.

"Brengsek, lancang sekali kau menghinaku bocah... cepat turun dari kursimu!" Bentak kakek berbaju hijau pupus marah. "Kau saja yang duduk di kursi kakek" Astradewi mewakili. "Apa" dua bocah brengsek, terima ini Jurus golok Pembelah bumi" "Syattt... Blaarrrr... drak... drakk" Meja tempat Gardapati dan Astradewi hancur berantakan terkena sabetan itu, makanan berserakan kemana-mana.

Astradewi mendelong wajah lugunya terlihat begitu sedih, ia segera bergumam lirih "mengapa kau menghancurkan makanan ini, kan sayang untuk dibuang" Melihat itu, Tuan Muda Adhigana kaget sekaligus kagum, jika gadis biasa barangkali akan mengkeret melihat tebasan itu, tapi gadis itu malah menyayangkan makanan, sungguh dua orang yang sangat aneh, Tuan Muda Adhigana mundur ke belakang, ia tahu pertarungan bakal terjadi.

Gardapati mendengus "Untung aku sudah kenyang, kau kurang ajar sekali orang tua, apa golokmu itu hanya kau ciptakan untuk menebas meja makan, sungguh patut disayangkan, golok setajam itu pemakainya sama sekali tak becus menggunakannya benar-benar suatu perbuatan memegang ikan dan tangan itu menjadi amis" Merah sekali wajah kakek itu, sebenarnya maksudnya adalah untuk memperingati mereka namun ia sama sekali tak menyangka jika peringatan itu dijadikan lawan untuk memojokan dirinya, dia tahu secara halus lawan telah mengatakan bahwa ia sudah mencemarkan dirinya sendiri.

Saking marahnya ia menjadi kalap, dan tanpa peringatan apa-apa ia menyerang Gardapati, dalam pikirannya ia berpendapat melawan perempuan hanyalah perbuatan orang hina saja, maka ia menyerang Gardapati. "Benar-benar kakek gila-gila bahasa!" Ucap Gardapti pedas sambil menghindar tebasan yang berupa hawa itu, "huh..tap" "Aku berada di kepala temanmu, apa yang kau tebas barusan hanyalah angin belaka, sehebat-hebatnya sebuah jurus bila tak kena apalah gunanya" "Kurang Ajar" Kakek berbaju ungu muda mencabut trisulanya dan menusukan trisulanya ke atas kepala, tubuhnya melenting sejajar dengan lutut, "Apa....! hilang!" batin Kakek berbaju ungu itu, namun dia melihat adiknya sedang menatap ke atas langit-langit, ternyata Gardapati sedang ongkang-ongkang kaki di sana.

"kukira kalian seorang kosen, tak kusangka hanya pandai memutar dan menyabet pedang belaka, orang kelas tiga juga dapat melakukan hal itu. Apa kalian dari golongan putih". Membokong orang apakah itu yang disebut terhormat" apakah itu yang disebut aliran putih" aku yang berada di dalam golongan hitam saja merasa malu untuk kalian haha....!" "hup... Teps...! tubuhnya mendarat dengan ringan di lantai rumah makan itu, kebetulan ia turun di hadapan pelayan yang tadi ia suruh mencari penginapan untuknya.

"Nimas Dewi, mari kita pergi... kakang lelah ingin tidur" "Baik kakang" Suaranya bergema tubuhnya sudah berada di hadapan Gardapati, lalu tanpa kata mereka pergi meninggalkan rumah makan itu. "Kakang...!" Kakek berbaju hijau pupus berpaling kepada kakek berbaju ungu muda. "Sudahlah adik, kita bukan tandingan mereka, menantang mereka sama saja dengan menghancurkan nama baik yang sudah kita pupuk, sungguh disayangkan jika mereka berada di golongan hitam" keluh Kakek berbaju ungu muda sambil duduk melamun di kursi.

Wajahnya keruh seakan menderita sesuatu, hari ini mereka benar-benar dipecundangi secara besar-besaran. Keesokan harinya di desa di mana Astadewi dan Gardapati yang pertama kalinya berkelana... Angin gunung berseliweran lembut, cuaca begitu hangat, di jalan desa tampak orang berlalu lalang dengan ramai.

"Cklang... cklangg.. tep.. tep" Suara orang berjalan terdengar sangat ringan di telinga, meski di tempat itu berseliweran orang lalu lalang, namun terdapat lima orang yang paling mencolok di antara mereka. Dari dandanannya yang menggendol pedang bisa ditebak bahwa mereka adalah kaum persilatan.

Ter Dengar seorang Perempuan berbicara, "Meski terpencil, desa ini bisa dikatakan cukup ramai juga. Penduduknya tampak begitu bergairah" "Hem... ini daerah perbatasan antara jawa bagian barat dengan Jawa Bagian tengah, jadi tidak salah bahwa banyak sekali orang berseliweran di mari." seorang lainnya yang memakai pakaian biru bersulam kepala harimau dengan golok bersilang menjawab.

"Apa benar bahwa di desa ini telah muncul pendatang baru yang memiliki kemampuan hebat?" lelaki setengah baya berpakaian serba emas dengan gambar Rajawali berkata. "Selinting kabar bahwa pendatang itu dapat menggunakan hawa telapak dewa, aku takut jika dia orang yang dikatakan oleh Iblis bermata hijau, apalagi menurut kabar yang kudengar pemuda itu juga telah mempercundangi Sepasang tetua dari gunung sapto Argo." kali ini yang berkata adalah pemuda berusia tiga puluh tahunan dengan baju bergambar sulaman pedang bersinar perak.

Mendengar itu, Pemuda lainnya yang memakai pakaian putih bersulam bintang jatuh berkomentar. "Hoam.... aku takut jika kabar terlalu diberi garam dan merica, kekhawatiran saudara terlalu dibesarbesarkan! hanya gara-gara ucapan Iblis bermata hijau semua jagoan dunia persilatan dibuat resah" "Baik itu benar atau tidak, untuk keamanan dunia persilatan keberadaan kita disini cukup berarti, jangan sampai tuan-tuan merasa kecil hati" Perempuan berbaju putih bergambar teratai berwarna putih berkata.

"Benar, ada baiknya jika kita lima perguruan aliran putih bersatu. meski orang yang dikatakan oleh Iblis bermata hijau itu sangat hebat, tapi dengan kekuatan gabungan kita masakah harus kalah telak?" Semua terdiam mendengar ucapan lelaki berbaju keemasan bersulam rajawali itu. Dalam hatinya mereka berpikir.

"Benar juga, meski Pendatang baru itu sangat hebat, tapi berlebihan jika semua jago dikumpulkan," Siapakah sebenarnya mereka" Tak lain dan tak bukan mereka adalah wakil dari lima perguruan partai Aliran putih, adapun mereka adalah: Dihyanti, dari perguruan Teratai putih, seorang yang ahli dalam senjata rahasia. Jiwatrisna dari partai Bintang kemukus seorang juru pikir dalam partainya, Rangga dari Partai Golok Harimau yang ahli dalam senjata golok dan terkenal akan kecerdikannya.

Ki Aswa dari Perguruan rajawali emas yang terkenal akan kematangannya dalam berpikir, bahkan dia diberi julukan sebagai rajawali berotak kancil. Dan yang terakhir adalah Graha sewatama, meski masih muda namun dia adalah pewaris dari perguruan Pedang bumi, jadi bisa dibayangkan kemampuannya dalam olah kanuragan.

Mereka berjalan dalam keramaian lalu lintas jalan dan berdiri di hadapan sebuah rumah makan dimana telapak tangan yang terkenal itu berada. "Akh... itu bukan Jurus yang ada dalam Kitab Dewa iblis dan Iblis Dewa, itu jurus telapak merah darah dari kitab Dewa dunia persilatan, bocah itu....." Desis Ki Aswa.

"Apa ki" apa aki mengenal siapa pendatang baru itu?" Tanya Graha Sewatama. "sebenarnya aku malu untuk mengatakannya, Jikalau tak salah, dia adalah murid murtad dari perguruan kami, dia kabur membawa Kitab Dewa Dunia persilatan yang merupakan titipan dari Maharaja ketika seluruh jagoan dunia persilatan berkumpul di Jurang Mulut dewa Neraka" "benar-benar jurus yang hebat, lihatlah... ini adalah potongan tulang manusia" Jiwatrisna bergumam sambil mengendus sebuah tulang putih yang tertutup oleh batu hancuran dinding rumah makan.

"Sadis.......!" Dihyanti bergumam. Sementara itu, di pintu gerbang penginapan.... Gardapati dan Astradewi tampak keluar dengan pakaian barunya, wajah Astradewi yang lugu tampak indah dipadukan dengan baju berwarna nila seakan menjadikan daya tarik tersendiri bagi yang memandang, Sedang Gardapati berwajah tampan dengan mata bersinar kehijau-hijauan, gayanya santai namun gagah, dan itu semua ditunjang dengan badan yang kekar dan kokoh menjadikannya pemuda yang dapat mengikat lawan sejenisnya dengan mudah.

Keduanya berjalan santai di koridor halaman rumah penduduk orang terdengar mereka mengobrol ringan mengenai tujuan mereka. "Nimas Dewi, benarkah kau hendak membalas dendam kepada kakak seperguruanmu Dewani, sekalian kepada Perguruan teratai putih atas segala perlakuan mereka?" "ia kakang, rasanya sungguh penasaran bila tidak dibalaskan, ketika aku berada disana, aku sama sekali tak diperlakukan dengan adil, oleh karenanyalah aku nekat mencuri kitab itu. dan yang terpenting aku hendak bertemu dengan mbakyuku. Apa kakang searah denganku?" "Tentu Nimas Dewi, aku searah denganmu, aku juga hendak membalas dendam kepada Perguruan Rajawali Emas juga musuhku yang lain.....! Ada ubi ada talas, Ada budi ada balas, berat memang bila kita memusuhi Suatu perguruan yang besar namun bila tidak kita lakukan kemanakah harga yang kita terapkan untuk kita sendiri " "Berarti keadaan kita sama kakang... Ayo kita cari makan dahulu aku sudah lapar...!" Gardapati tersenyum, lalu mengamit lengan Astradewi dan bergerak menuju rumah makan yang tak kalah mewahnya dengan yang kemarin.

Begitu masuk, keduanya segera dihadapkan dengan sebuah situasi yang cukup rumit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment