Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 10

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 10

Setiap mata memandang ke arah mereka.

Bahkan Utusan Lima Perguruan juga berada di dalam kedai itu.

"Itu dia, dia yang telah menggemparkan dunia persilatan itu..." "Jika kita bisa mengalahkan dia, maka kita akan terkenal di seluruh dunia!" "Jangan lewatkan kesempatan ini!" Terdengar dengungan macam tawon pindah rumah di dalam kedai itu.

Astradewi dan Gardapati tentu bukan orang bodoh, mereka tahu kini mereka telah menjadi sasaran lawan. Tenaga disiapkan, kewaspadaan ditingkatkan.

Di balik kebahagiaan para pendekar itu, ternyata ada yang merasa dirugikan, yaitu pemilik rumah makan itu.

Ia tampak ketakutan bila rumah makan yang merupakan tempat usahanya akan hancur, wajahnya kusut masai, tak ada yang bisa dilakukan, hanya memegang kepala sedikit meringankan beban.

"Hancurlah usahaku..." batinnya sedih.

"Tak kita sangka urusan bakal panjang seperti ini, seperti anjing hutan yang lapar, dan kita menjadi mangsanya.

Sepertinya bakal ada darah yang akan mengalir lagi, Kakang!" Astradewi bergumam sambil menyelipkan tangannya ke balik baju, memegang pedang beronce.

Dari roncenya yang kemerah-merahan, jelas bahwa Astradewi siap bertarung.

"Nimas Dewi."

"Ya, Kakang?" Astradewi tersenyum semangat.

"Hati-hati."

"Ya, tentu saja, Kakang," jawabnya berseri-seri.

"Jangan sampai kau menjadi sandera," ucap Gardapati sambil berguyon, tangan kanannya ditarik di pinggang, sementara tangan kirinya memegang serangka pedang.

"Jangan khawatir, Kakang, aku masih sanggup menjaga diri.

Sekalian aku ingin menguji kemampuanku ini." Suasana mendadak hening, setombak dari tubuh Gardapati tercium hawa panas menyengat, hawa pembunuhan menebal ke mana-mana.

Semua orang bersiap dengan senjata masing-masing.

Perlu diketahui bahwa kemunculan Gardapati telah menyebar ke mana-mana, bila mereka dapat mengalahkannya, pasti itu dijadikan batu loncatan untuk terkenal, maka tak heran semua orang berduyun-duyun mengeroyoknya.

"Srat... Srat..." Terdengar desiran nyaring ketika orang-orang itu bergerak, mata Gardapati mencorong tajam, ia biarkan lawan terdepan dekat dengannya, dan begitu dekat...

"Srattt...

Arghhh.....!

Serang!" Satu per satu nyawa berlayangan, mayat bertumpuk, kecepatan Gardapati bagai lesus sebuah cahaya, sekali bergerak nyawa melayang, sehingga terdengar bunyi...

"Srat...

Cress... Cress... Urghh." Astradewi tak kalah garangnya, meski wajahnya lugu dan kekanak-kanakan, namun serangannya bertolak belakang dengan wajahnya itu, serangannya begitu ganas bagai iblis gentayangan, tak salah itu memang jurus-jurus pedang dalam Kitab Iblis Dewa dan Dewa Iblis.

Meski terdiri dari tiga jurus, namun begitu mematikan dan mengerikan, sekali gerak maka darah selalu muncrat....

Trangg....

Terdengar benturan nyaring antara pedang Astradewi dengan lawan, Astradewi gusar lawan membokong dirinya dari belakang, ia sisipkan pedangnya di punggung, tubuhnya berputar sekaligus menebas...

"Crassshh...!" Tubuh lawannya terpotong dua, tak ada seorang pun yang dapat melihat teknik pedang keduanya, bertahan sekaligus menyerang, semuanya kebagian vital, benar-benar jurus pedang yang maha dahsyat.

Menyaksikan itu, Utusan Lima Perguruan terbenam dalam pikiran masing-masing, meski dua ekor harimau, namun bila dikepung anjing hutan tak urung akan gugup juga, namun itu semua tak berlaku bagi Gardapati dan Astradewi, sungguh mencengangkan...

Ini bukan pertarungan lagi...

Namun lebih tepatnya dikatakan pembantaian.

"Crass....!" Bruak... Drakkk...!" Gardapati tersenyum dingin, wajahnya gelap akan pembunuhan....

Mayat bergelimpangan di sekitarnya...

"Siapa lagi yang akan maju!" ucapnya menggelegar, tantangan itu terdengar bagai halilintar di setiap telinga yang mendengarnya, buruan menantang pemburu...

Ini mungkin yang dinamakan lawan yang ingin ditantang...

Siapakah yang tak akan tercengang...

Semua tak ada yang bergerak, diam di tempat bagai mesin yang dinyalakan seketika dengan ribuan daya yang menanggungnya...

Sampai suatu ketika terdengar bentakan yang entah dari mana datangnya.

"Jangan menyerah...

Nanti juga dia akan kehabisan napas, saat itu tiba maka kita akan berbangga!" Seketika orang-orang yang seperti anjing hutan lapar itu maju ke muka dan...

"Set...!" Ki Aswa lintangkan pedang menahan pergerakan orang-orang itu...

"Kalau tidak mau mati lekas mundur...

Siapa pun yang membangkang harap lawan kami dulu!" bentaknya garang.

Siapakah yang tak kenal lima orang itu? Siapa yang tak mengenal pamor lima perguruan golongan putih?

Meski bersungut-sungut semua menaati perintah lalu mundur.

"Gardapati...

Benarkah itu kau?" Ki Aswa menegur Gardapati yang diam di tempat membentuk kuda-kuda.

"Hemmm..." Gardapati tersenyum lalu menjawab.

"Kakang...

Sudah lama kita tak bersua, sepertinya gaya yang mengatasnamakan perguruan dari dalam dirimu tak pernah surut juga!" Ki Aswa merah padam mendengar sindiran halus itu, belum ia menjawab terdengar Astadewi juga berkomentar.

"Berpura-pura sebagai utusan golongan tuhan dan melakukan tindakan sewenang-wenang tanpa memikirkan perasaan orang lain memang tak akan pernah hilang dari benak mereka, Kakang...

Dengan mengatasnamakan Golongan Putih lantas membantai orang.

Tanpa tahu kesulitan orang, benarkah gagak jahat karena hitam? Benarkah bangau suci karena putih? Benar-benar suatu hukum yang kejam!" Merah wajah kelima orang itu, dalam dunia persilatan mungkin baru kali pertamanyalah mereka disindir setajam itu.

"Kurang ajar!" Rangga dari Partai Golok Harimau marah bukan kepalang, goloknya dicabut dan diputar dahsyat.

Whoss... whoss... whosss...!

Suaranya benar-benar mengiriskan, hawa golok berseliweran laksana ular yang membelit-belit.

"Rasakan jurus Harimau Menggeleng ini..."

"Tap...!" Rangga jejakan kaki sambil meloncat ke udara dalam keadaan golok masih diputar, "Heaaaa...!" Dengan kekuatan yang mahadahsyat golok itu dibacokan kepada Astradewi.

Mencorong mata Gardapati melihat itu, laksana angin dia bergerak dan menangkis golok itu dengan pedangnya...

"Trangg...!" Dua benda logam beradu di udara.

"Trak... Trakk...!" Dua benda logam tajam itu bergesekan, keduanya tak ada yang mengalah...

Keduanya saling dorong mendorong untuk mencapai sebuah kemenangan.

"Apakah ini yang dinamakan dengan Golongan Putih? Mengapa hanya menyerang seorang gadis?

Biarlah kuwakili rasa malu untukmu!" Gardapati berkata marah.

"Huh...!" Kepalang marah menjadi kalap...

Rangga gesekan kedua tangan yang memegang pedangnya hingga golok itu berputar dahsyat mengirimkan suatu hawa panas menyengat dan suara yang mendengung akibat gesekannya dengan udara.

"Wukk... wuk...!"

"Ukh!" Gardapati terdorong mundur dua langkah, serangan lawan itu jauh di luar dugaannya, bagaimanapun pengalaman Gardapati tidaklah memadai.

Sungguh jauh bila dibandingkan lawan yang sudah malang melintang bertahun-tahun.

"Lumayan juga dia bisa menangkisnya," batin Rangga.

Sementara mulutnya berkata, "Coba tangkis seranganku kali ini."

"Wirrr..." Jurus Belitan Ekor Harimau..." Pekik Rangga mengguntur.

Wusss...

Dari goloknya itu keluar sinar kekuningan yang menggulung-gulung bagai ular yang berputar.

Tak salah itulah jurus Belitan Ekor Harimau, sebuah jurus rahasia Perguruan Golok Harimau yang mengandalkan tenaga dalam di atas rata-rata.

"Hiaattt...

Wusss...!"

Sinar itu menyabet ke arah lawan.

Gardapati papaki dengan pedang melintang...

"Tranggg...!"

"Apa...

Kuat sekali...!" Batin Gardapati terperanjat.

"Srakk...!" Kembali tubuh Gardapati terdorong mundur...

Trang... Trang...

Rangga tak membiarkan Gardapati mendapatkan posisi menguntungkan, dengan goloknya yang besar ia terus cecar Gardapati hingga puluhan jurus...

Namun, Gardapati entah mengapa hanya keluarkan jurus-jurus itu saja, entah sebenarnya ia mempunyai rencana apa...

Tak ada yang tahu...

"Wusss...

Trang... Trak... Srekkk!?" Dengan dahsyat Rangga adukan kekerasan dengan pedang Gardapati.

Pedang dan golok itu sungguh luar biasa, akibat pertarungan keduanya rumah makan itu berguncang...

Suatu ketika keadaan Gardapati tampak terdesak hebat hingga ia mepet dengan dinding...

Dengan cekatan ia meloncat ke atas dan membabatkan pedangnya ke punggung lawan...

"Trangg..."

"Serangan sia-sia," dengus Rangga.

Gardapati diam saja, ia meloncat balik dengan memanfaatkan serangannya, namun Rangga sabetkan pedangnya itu hingga menembus dinding...

"Teppp...!" Gardapati berdiri gagah, pedangnya disarungkan ke serangkanya, sedangkan golok Rangga tertahan oleh sebuah dinding kayu yang cukup besar, sehingga goloknya itu tak bisa digerakan dan tepat di antara leher Gardapati.

"Apa dia bodoh? Mengapa ia malah menyarungkan pedangnya!

Golok Si Harimau Haus Darah sudah jelas tertahan di dinding kayu itu, mengapa ia tak menggunakan kesempatan itu untuk melukainya," gumam Dahyanti heran.

Ternyata gelar dari Rangga dari Perguruan Golok Harimau adalah Harimau Haus Darah.

"Dia pintar, dengan itu saja sudah membuktikan bahwa pemuda itu dapat membunuh Si Harimau Haus Darah jika ia ingin.

Namun ia enggan melakukannya," Jiwatrisna menjelaskan membuat Dahyanti dan yang lain manggut-manggut paham.

Sebagai orang yang terkenal cerdik, Rangga tahu maksud lawan, gusarnya tak dapat ia tahan lagi, segera ia membentak, "Kurang ajar...

Kau menghinaku!"

Drakk... Drakk...

Rangga tambahi tenaga dalamnya ke golok, hingga goloknya menembusi tiang dan hendak memenggal kepala Gardapati.

Gardapati merunduk menghindari tebasan golok.

Golok lewat di atas kepalanya, pedangnya dicabut dan diletakkan di leher Rangga hingga meneteskan darah...

"Settt...!"

Rangga yang mengerahkan tenaga dalamnya sama sekali tak menyangka akan kejadian itu, tubuhnya yang terbawa gaya pedang membalik memunggungi lawan, keringat dingin mengucur deras dari tengkuknya.

"Salahmu sendiri...

Ketahuilah meski aku tidak mengetahui pedas di lada, namun kesombonganmu itu lah yang membuatmu kalah," Gardapati berkata dingin.

"Sungguh beda...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment