Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 100

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 100

"Huh!" Terdengar dengusan dingin dari balik kerudung hijau itu. Dari balik jubah lebar yang menutupi sekujur tubuhnya, muncul sepasang telapak tangan putih pucat.

Dari telapak itu muncul segulung angin dahsyat berhawa dingin. Dewa Tangan Darah terkejut, sigap ia membalas serangan dengan jurus yang setara. "Duarr!" "Druk, druk!" Tempat di situ hancur berantakan, pohon-pohon tercabut dari akarnya, debu mengepul tinggi membentuk gumpalan raksasa.

Bagaimanakah nasib Sagara Angkara? Apakah ia ikut terhantam benturan angin tadi?

Tidak. Rupanya, sebelum kedua hawa raksasa itu beradu, Sagara Angkara telah siuman. Insting gerak refleksnya bekerja; setelah merangkul tubuh Jingga, ia melesat pergi.

Ia berlari seperti seekor tupai, melompat dari pohon ke pohon, hingga tiba di sebuah dataran sabana yang maha luas. Entah di manakah ujungnya, sejauh mata memandang hanya ada rumpun semak belukar.

Sagara Angkara meletakkan tubuh Jingga di pangkuannya. Hati-hati ia membersihkan darah di wajahnya dengan kain bajunya.

Sesosok hijau berkerudung bertengger di pucuk pohon menyaksikan adegan itu dengan haru. Rupanya pertarungan sudah berhenti, hanya saja hasil dari pertarungan itu masih menjadi tanda tanya.

"Tempat apakah ini?" Jingga rupanya masih hidup, hanya napasnya sudah kembang-kempis.

"Entahlah, hanya tempat ini cukup aman untuk kita berdua."

"Kakang!"

"Ya?"

"Kuburkanlah aku di sini!" Jingga semakin lemah, kerdipan matanya hampir menutup. "Apa maksudmu?"

"Aku... mencintaimu!" Sebelum ucapannya selesai, kepala Jingga terkulai lemah. Tampaknya kali ini ia benar-benar telah tiada.

"Tidak, tidak! Jangan tidur! Ayo, bangun... Bangun! Tidaaaaaakkk!" Sagara Angkara histeris, air matanya bercucuran. Saking keras teriakannya, burung elang yang terbang di atas langit terjatuh.

Teriakannya benar-benar dahsyat hingga burung-burung kehilangan kendali. Tidak salah, teriakan itu telah dilambari dengan aji Gelap Ngampar yang sakti; jangankan hewan, manusia berilmu pun bisa tuli dibuatnya.

Pedih hati tak terkira ketika dia pergi. Pergi yang tak akan kembali lagi. Semoga tenang kau di sisi-Nya. Kata yang belum terucap menumpuk bagai gunung. Tak disangka dan takkan pernah ada yang menyangka ajal itu akan tiba.

"Wusshh!" Angin bertiup semilir membawa kesedihan, mengantarkan sesosok berjubah hijau yang sedang berlalu.

"Aku telah melakukan hal yang baik, haha! Aku benar-benar telah melakukan hal yang baik. Yang sulit dipercaya adalah perasaan saat melakukan hal yang baik ternyata begitu menyenangkan dan menggembirakan, seperti dengan sekali gebrak membantai segerombolan anjing pengkhianat yang pantas mampus, huahaha!" Suaranya menggaung tinggi laksana ribuan orang yang berbicara serempak, perlahan mulai senyap hingga hilang sama sekali beriringan dengan sosok hijau itu yang berlalu pergi.

Pucuk ilalang melenting ditiup angin, bergoyang mengikuti alur alam semesta. Gunung Gede masih menyimpan misteri, kokoh angker seperti seorang maharaja yang enggan disentuh tangan-tangan kotor.

"Hiaaat!" "Hiaaat!" Pada pagi yang masih bertemankan embun dan kabut, terdengar lengkingan dan bentakan yang saling menyusul. Jelas bahwa ada dua insan manusia yang tengah bertempur dengan segala kehebatan dan kemampuan yang ada.

Di salah satu pojok, di atas sebatang ilalang yang berdiri tegak, seorang gadis jelita memasang kuda-kuda melayang. Ia menggunakan pakaian berwarna lembayung dengan pedang melintang di depan wajah. Siapakah gadis ini? Dialah Dyah Krusina. Rupanya ia sedang menggerakkan otot-otot kaku yang sudah lama tidak dilatih.

Siapa pula lawannya? Dialah Gita Jayasri. Kedua saudari perguruan ini sedang mengolah kanuragan mereka.

"Awas!" Dyah Krusina berteriak nyaring.

"Hup!" Gita Jayasri tak mau kalah.

"Trang!" Dua bilah pedang beradu. Keduanya berkutat satu sama lain, berusaha untuk memenangkan pertarungan. Jurus-jurus serta serangan yang mereka lancarkan benar-benar berbahaya, sehingga bila tidak hati-hati, dapat mencelakai diri. Debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon berguguran, semak belukar tersapu kian kemari oleh angin serangan.

"Ciaaat! Awas, Pedang Bayangan Arwah!" Bentakan setinggi langit keluar dari mulut Gita Jayasri. Tubuhnya lenyap menjadi bayang-bayang. Pedang di tangan kanannya menyapu kian kemari dalam kecepatan yang sukar ditangkap mata. Gerakannya luar biasa cepat dan ganas.

Dyah Krusina tenang saja. Karena mengenal jurus dan arah serangan, dengan mudah ia berkelit. Ia sedikit mundur menyamping menghindari tusukan tajam yang mengarah pada lehernya. Kaki depannya dijinjitkan, tangan kiri menekuk menangkap pergelangan tangan lawan yang sedang menusuk, dengan sebat ia memutar pedang dari arah bawah. Gita Jayasri tahu saudarinya menggunakan jurus "Menangkap Naga Menyabet Ekor". Pedangnya diputar sehingga mau tak mau Dyah Krusina melepaskan pegangan.

Serentak dengan itu, tubuh Gita masuk ke daerah mati serangan lawan; sikunya menghantam. Dyah Krusina tak pernah kehabisan akal, lututnya dinaikkan. "Duk!" Siku dan betis beradu. Keduanya mundur dan saling tersenyum.

"Hebat, hebat!" Harsanto datang menggendong bayi berusia dua belas purnama. Di sisinya, Meswari mengikuti, ia pun membawa seorang bayi kecil dan mungil. Gita Jayasri dan Dyah Krusina tersenyum dan mendekat, berebutan keduanya mengambil bayi itu. Dyah Krusina tersenyum lembut pada bayinya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.

"Mbakyu Dyah!" Meswari menatap Dyah Krusina.

"Ya?"

"Ayo kita makan."

"Ayo! Anakku, Nareswari Lituhayu, kau begitu cantik laksana bunga. Kaulah sang lotus; meski kau terlahir dan hidup dalam lumpur, kau tetap suci, sesuci kapas." Dyah Krusina mengelus putrinya, buah hati hasil percintaannya dengan Gardapati. Melihat bola matanya, sungguh Dyah Krusina merasa pilu.

"Siapa itu?" Dyah Krusina kaget mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

"Aku Nimas, seseorang ingin menemuimu." Entah dari mana datangnya, Harsanto mendadak muncul.

"Siapa?"

"Entahlah, mereka bilang hanya engkau yang boleh tahu siapa mereka."

"Akh!" Dyah Krusina mendesuh kecil, perlahan ia bangkit. "Mari, Kakang!"

Keduanya berjalan beriringan. Dyah Krusina mengerutkan kening melihat begitu banyak buah di depan pondoknya. Seakan paham apa yang ada dalam benak Dyah Krusina, Harsanto berkata, "Itu oleh-oleh yang dibawa mereka."

Dyah Krusina mengangguk-angguk. Ia masuk ke dalam pondok, dilihatnya empat orang gadis berpakaian serba hijau duduk di seberang Gita Jayasri. Para gadis itu bangkit dan membungkuk hormat.

"Tak usah sungkan, silakan duduk," Dyah Krusina mempersilakan dan ikut duduk. "Siapakah kalian?"

Para gadis itu saling berpandangan, lalu berkata, "Maaf, bukannya kami sok misterius, hanya saja identitas kami tidak boleh bocor keluar. Mungkin surat ini bisa membuat Tuan Putri memahami kami."

Dyah Krusina menerima surat itu dan perlahan membukanya. Sederet tulisan indah berbau harum menari-nari di matanya; jelas yang menulis adalah seorang perempuan. Wajah Dyah Krusina menegang dan perlahan kembali tenang.

Isi surat itu adalah:

*Untuk Mbakyu Dyah Krusina,*

*Pasti Mbakyu bertanya-tanya mengapa mendadak ada orang yang datang menemui Mbak. Sebelumnya, saya perkenalkan diri agar Mbakyu tak merasa curiga. Saya adalah Nawang Tresni, Putri Kerajaan Karangbolong.*

*Saya tahu, saat ini hati Mbakyu sedang sedih, bahkan Kakang memperkirakan bahwa Mbakyu sedang mengandung atau sudah memiliki buah hati. Pasti Mbakyu juga penasaran, siapakah Kakang yang saya maksud? Dialah ayah dari anak yang engkau kandung: Kakang Gardapati.*

*Datanglah ke Karangbolong bersama Mbakyu Astradewi. Kakang Gardapati masih hidup, dia masih ada di dunia ini. Pasti Mbakyu merasa sakit, bukan Kakang Gardapati yang menjemputmu? Sebelumnya, saya sudah menginstruksikan demikian, hanya saja Kakang mengirim surat agar Mbakyu sendiri yang datang kemari. Mengenai alasannya, sampai saat ini pun Kakang tak memberitahu.*

*Salam manis dari saya, Nawang Tresni.*

"Baiklah, aku ikut kalian, hanya..."

"Hanya apa?"

"Aku tak tahu itu di mana!"

"Kami akan menyertaimu."

"Hendak ke manakah engkau, Mbakyu?" Meswari bertanya sedih. Mulai tumbuh rasa simpati dan sayang kepada Dyah Krusina setelah bergaul sekian lama. Bahkan saat Dyah Krusina melahirkan pun, ia menunggu sampai tidak tidur.

"Karangbolong?"

"Karangbolong!?" Harsanto terkejut. "Engkau tahu itu tempat apa?"

"Ya."

"Tempat apa, Kakang?" Gita Jayasri bertanya.

"Tempat di mana aku akan menghabiskan masa tua!" Jawab Dyah Krusina tersenyum. Sembilan puluh persen ia menebak bahwa pengirim surat itu adalah istri dari kekasihnya.

"Jadi kita akan berpisah?" Tanya Gita Jayasri sedih.

"Haha, tidak ada penjamuan yang tak bubar, Mbakyu." Meski tertawa, Dyah Krusina bercucuran air mata. Setelah kumpul bersama mereka, Dyah Krusina sudah merasakan kenyamanan, tapi demi masa depan anak, apa daya.

"Janjiku takkan kuingkari. Di masa depan, Nareswari Lituhayu dan Wajendra Dimas akan bersatu dalam tali pernikahan." Nareswari Lituhayu yang berarti permaisuri cantik rupawan, dan Wajendra Dimas yang berarti raja yang terkasih—dari namanya saja sudah sangat setimpal, entah bagaimana kedepannya.

"Hik, hik!" Sebuah suara tangisan di pemakaman keluarga kerajaan terdengar melantun seperti suara kuntilanak. Siapa pun pasti akan merinding mendengarnya, hanya sosok berjubah hijau itu tidak demikian saat mendengar tangisan tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment