Chapter 101
Ia malah tertarik. Lesatannya cepat laksana anak panah. Sekejap saja, bayangan itu sudah ada di belakang gadis berbaju putih yang sedang menangis tersebut.
Sosok berjubah hijau itu membuka kerudungnya, seraut wajah tampan pun terpampang begitu saja. Rupanya, dialah Gardapati.
Gardapati membaca nama di papan nisan dengan tatapan sedih. Ia ikut berjongkok di sisi gadis itu sambil mengucurkan air mata. Gadis itu sadar bahwa seseorang telah berada di sampingnya, lalu ia berpaling.
Hampir saja ia pingsan melihat wajah itu karena percampuran rasa sedih, haru, dan gembira; wajah yang hampir mirip dengannya.
"Kakang!" *Brukk!* Gadis itu memeluk Gardapati.
Kali ini Gardapati membiarkan adik satu-satunya itu memeluknya. Ia bahkan membalas membelai rambut dan punggung adiknya, tidak seperti perjumpaan mereka ketika berada di keputren dulu. Gardapati membiarkan Garwita menangis sepuasnya, sementara ia sendiri juga menangis sedih. Ia menatap pusara ibunya dengan tatapan sayu.
"Kakang, aku... aku ingin pergi dari sini," ucap Garwita di sela tangisnya.
"Baiklah, mari Kakang antarkan ke keputren."
"Tidak! Wita ingin pergi dari keraton!"
"Hah? Mengapa?" tanya Gardapati heran.
"Besok... besok adalah hari pernikahanku."
"Jikalau begitu, justru tidak boleh. Masa engkau akan pergi saat pernikahan tiba? Apakah orang yang kaucinta itu mengecewakanmu?"
"Kakang kira aku mencintainya?"
"Heh, lalu mengapa kalian hendak menikah?" Gardapati semakin heran.
"Paman memaksaku menikah dengan orang itu. Aku tak suka dia!" Mendengar itu, wajah Gardapati mengeras. Hawa pembunuhan menyeruak dari sekujur tubuhnya.
"Kakang, jangan membunuh Paman. Biarlah kita pergi dari sini saja dan mengembara di dunia persilatan."
"Ai, lalu engkau hendak tinggal dengan siapa? Dunia persilatan sangat ganas, bagaimana kau bisa berpikiran demikian?"
"Aku tahu itu. Aku tahu karena aku pernah terjun ke dunia persilatan mencari Kakang. Akh, apakah Kakang kemari karena Sagara Angkara yang memberi kabar itu?" Wajah Garwita bersemu merah dan malu-malu kucing ketika mengucapkan nama Sagara Angkara.
Mendengar penuturan itu, Gardapati terkejut. Helaan napas berat diembuskannya. "Maafkan Kakang. Jika Kakang tahu kau berkelana mencari Kakang, pasti Kakang akan mencarimu sampai ke ujung langit sekalipun. Ai, apakah Sagara Angkara yang kau maksud memiliki ciri-ciri tertentu?" Gardapati menjelaskan struktur rupa dan ciri-ciri Sagara Angkara yang menjadi sahabat musuhnya.
Tanpa rasa curiga dan dengan polosnya, Garwita membenarkan. "Benar, Kakang. Dia sangat baik. Dia mengajakku makan di kedai, lalu mengantarkanku kembali pada rombongan." Ketika berpisah dengan mereka, Garwita menjelaskan pengalaman pertamanya di dunia persilatan. Sikapnya berubah seperti orang yang sedang jatuh cinta, bahkan kesedihannya sirna entah ke mana.
Gardapati tahu hal itu. Untuk memastikan, ia bertanya, "Apa kau mencintainya?"
Jawabannya sesuai dengan apa yang ia duga. Garwita menunduk malu-malu dan menyembunyikan wajahnya yang merah jengah di dada Gardapati.
"Akh..." sebuah helaan napas berat dikeluarkan Gardapati.
"Kakang tak menyetujuinya?" tanya Garwita heran karena kakaknya menghela napas panjang.
"Tentu demi kebaikan dan kebahagiaanmu, Kakang pasti akan menyetujuinya, meski Kakang harus berlutut di hadapannya," kata Gardapati. Saat mengatakan kalimat terakhir, Gardapati memelankan suaranya sehingga hanya ia sendiri yang dapat mendengar.
"Terima kasih, Kakang."
"Sebaiknya kita lekas pergi, Kakang mendengar langkah kaki yang menuju ke sini." Gardapati sedikit mendorong Garwita. "Ayo!" Gardapati memasangkan kerudung kepalanya, ia menatap adik satu-satunya dengan perasaan sayang. Tangannya bergerak cepat, ia melucuti perhiasan adiknya dan melemparkannya ke bawah. Sigap, Gardapati menggendong Garwita dan melesat pergi.
Ternyata apa yang dikatakan Gardapati benar adanya. Sebarisan pengawal masuk ke kompleks pekuburan itu. Wajah mereka pucat melihat perhiasan Garwita berserakan, mereka pun sigap memungutnya. Seseorang dari mereka berteriak panik, "Tuan Putri Garwita Darapuspita Wijoyo diculik! Tuan Putri Garwita Darapuspita Wijoyo diculik!" Istana gempar, kabar penculikan Putri Garwita menyebar ke seantero istana. Padahal kenyataannya, Garwita malah tersenyum bahagia dan memeluk punggung Gardapati; matanya terpejam, jelas ia sudah tertidur dengan lelap.
Kecepatan gerak Gardapati seperti air mengalir, sangat hebat. Meski berkelak-kelok dan naik-turun, ia tetap tenang. Garwita sama sekali tidak terguncang. Ketika kesempurnaan tenaga dalam seseorang menanjak, tidak ada hal yang tidak bisa dilakukannya.
Desa Nagasari masih seramai dahulu, hanya kali ini tidak ada para kaum kelana yang keluar dari perguruan masing-masing. Kedainya masih ramai. Di dalamnya, seorang pemuda berpenampilan lusuh sedang melamun sambil makan. Sesuap demi sesuap makanan begitu susah masuk ke dalam perutnya. Ia mengunyah dengan perlahan.
Di pintu masuk, Gardapati dan Garwita yang memakai pakaian kaum jelata masuk perlahan. Gardapati memakai caping lebar untuk menutupi wajahnya. Setelah melirik ke sana kemari, Gardapati sedikit kaget melihat sosok pemuda berpenampilan lusuh itu; dari kain pakaiannya, Gardapati tahu bahwa pemuda itu adalah Sagara Angkara. Pakaian pelajarnya robek sana-sini, wajahnya berlumuran darah dan tertutup rambut yang dipenuhi debu. Penampilannya benar-benar mengenaskan.
Dalam mimpinya pun, Garwita tak akan menyangka pemuda itu adalah sosok yang selama ini dirindukannya. Gardapati menggandeng tangan Garwita dan mendekati meja tersebut.
"Boleh kami bergabung?"
Pemuda itu diam saja. Gardapati berpendapat bahwa diam berarti mengiyakan, maka ia memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Kakang, di tempat lain masih penuh, mengapa kita malah mengganggu orang?" tanya Garwita tidak tahan.
"Aku hanya ingin menyaksikan wajah orang yang merasa sedih karena belum mengatakan apa yang diminta oleh sahabat perempuannya!"
Tangan Sagara Angkara terkepal erat, entah apa maksudnya.
"Kata apa?"
"Kata cinta," jawab Gardapati sambil meneguk segelas air. Kepalan Sagara Angkara semakin erat hingga urat-uratnya menegang.
"Akh, Kakang jangan menyalahkan orang yang tak mengatakannya, dong!" Garwita memberengut marah.
"Mengapa?"
"Mungkin ia sudah punya orang yang dicintai, atau ia tak memiliki perasaan cinta kepada sahabatnya. Daripada membohongi diri, lebih baik ia tak berkata apa-apa!"
"Akh, hatimu lembut sekali, Nimas." Gardapati mengacak-acak rambut Garwita. Kepalan tangan Sagara Angkara mengendur, ia memalingkan wajah menatap kedua tamu yang tak diundangnya.
Memang benar apa yang dikatakan gadis itu, tempat ini hanya ada tujuh pengunjung. Lelaki yang makan tanpa melepas caping itu memiliki tato seekor burung cendrawasih di atas daun teratai, sedangkan gadis yang bersamanya memiliki wajah penuh debu dan kotor—rupanya Gardapati sudah memoles wajah Garwita sedemikian rupa. Meski awalnya Garwita menolak, namun berkat bujukan sang kakak, ia menurut juga. Dengan begitu, Sagara Angkara sama sekali tidak mengenalnya.
"Siapakah kalian berdua?" tanya Sagara ramah.
Gardapati diam saja, namun Garwita menjawab, "Saya... ah, maaf, aku lupa Kakang menyuruhku untuk tak mengatakan nama asli. Namaku Kedasih." Gardapati menggelengkan kepala dan menepuk jidatnya, sementara Sagara Angkara tersenyum geli.
"Nimas?"
"Ya, Kakang." Garwita takut Gardapati marah.
"Bila kau bertemu pujaan hatimu nanti, maukah engkau ikut dalam perlindungannya barang beberapa waktu sampai Kakang menjemputmu?"
"Kakang hendak pergi lagi?" Garwita sedih.
"Jawablah pertanyaanku."
"Emm... kalau itu perintah Kakang, aku mau saja, asal Kakang nanti menemuiku lagi."
Mendengar percakapan itu, Sagara Angkara tersenyum, sejenak kesedihannya terlupakan. *Gadis ini sungguh lugu, mengingatkanku pada Nimas Garwita,* pikirnya. Padahal si lelaki sudah mengatakan akan menjemput, tapi gadis ini malah bertanya dengan pertanyaan polos. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang dimaksud memang berada di hadapannya.
"Kan Kakang sudah mengatakannya padamu, Kakang akan menjemputmu."
"Aku bodoh, ya?" tanya Garwita penuh keluguan.
"Tidak, kau putih bersih dan suci. Terima kasih sudah menjadi yang Kakang harapkan!"
Mendengar kata itu, Sagara Angkara seperti tersambar petir. Dalam benaknya, ia sudah menebak siapa kedua orang di hadapannya.
"Nah, sahabatku Sagara Angkara, tolong jagalah adikku untukku!" Gardapati bangkit dan membuka capingnya. Sagara Angkara bergetar, Garwita kaget. Gardapati membungkuk dan berlalu tanpa sepatah kata lagi. Inilah ciri khasnya.
"Ka... Kakang Sagara!" Garwita bergetar mengucapkan kata itu.
"Ni... Nimas Wita, kau kah itu?" Sagara Angkara bergetar antara bahagia, haru, dan perasaan lainnya. Keduanya saling bertatapan mesra, mencurahkan segenap perasaan. Tak perlu kata berbelit, tak perlu tindakan berlebihan; hanya saling menatap mata sudah mencurahkan segalanya.
"Kakang!" Garwita mengejar Gardapati. Sagara Angkara menyusul, namun begitu sampai di luar, bayangan maupun sosok Gardapati telah hilang. Garwita merasakan sebagian jiwanya hilang, pandangannya buram lalu gelap. Kaget tak kepalang, Sagara Angkara buru-buru menahannya.
Sambil menyandarkan tubuh mungil itu di pundak dalam pelukannya, ia menatap langit yang berarak, lalu menghela napas dan berbalik hendak membayar makanan.
Dari kejauhan, di balik keramaian, Gardapati melihat semua itu dengan berkaca-kaca. Setetes air matanya jatuh di jalanan. "Semoga engkau bahagia, Adikku. Aku percaya ia akan selalu menjagamu!" kata Gardapati lirih, lalu mengibaskan jubahnya dan berlalu pergi.