Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 102

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 102

Begitu siuman, Garwita mendapati dirinya berada di sebuah pembaringan yang empuk. Pakaiannya sudah diganti dengan baju laki-laki. Ia kaget saat melihat Sagara Angkara sedang menatap jalanan dari jendela.

Dari perasaan jengah, ia berubah menjadi gusar. Secepat mungkin, ia bangun dan mendekati Sagara Angkara. Tangannya melayang dan menampar laki-laki itu.

"Plak!" Sagara Angkara bengong tak mengerti.

Melihat bekas merah di pipi Sagara Angkara, Garwita menyesal. Ia berjongkok dan menangis tersedu-sedu.

"Wita, mengapa engkau menangis? Mengapa engkau menamparku?"

"Kakang tega. Padahal Wita yakin Kakang orang yang baik, tapi mengapa?"

"Mengapa apanya?"

"Mengapa tega melihat tubuh Wita selagi tak sadarkan diri?"

Sagara Angkara bengong, lalu tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Giliran Garwita yang bingung dan heran. Tanpa sadar, tangisnya berhenti dan ia menatap Sagara Angkara dengan mulut terbuka.

"Haha, maaf, maaf. Ternyata masalah itu. Jangan khawatir, Kakang bukan orang semacam yang Nimas Wita pikirkan. Yang mengganti pakaianmu adalah pelayan gadis sebayamu. Jika tak percaya, kau boleh keluar dan bertanya padanya."

Garwita malu sekaligus menyesal sudah menuduh orang tanpa bukti. Ia menunduk dan meminta maaf.

"Maafkan Wita, Kakang. Wita sudah menampar dan menuduh Kakang yang tidak-tidak."

"Tidak apa-apa. Kau sudah baikan?" tanya Sagara Angkara mengalihkan perhatian.

Garwita tersentuh dengan kebaikan dan perhatian Sagara Angkara. Ia kembali menjawab dengan riang.

"Terima kasih, Kakang!"

***

Tiga orang gadis jelita berjalan lenggang kangkung dengan irama emosi yang berbeda. Yang paling kiri adalah Antari; tatapannya tajam menusuk bagaikan bara api, sesungging senyum angkuh menghiasi bibirnya. Di sebelahnya adalah Anudhari; ia tersenyum dingin sepanjang jalan, tatapannya berkesan meremehkan orang. Hanya yang di tengah yang berbeda, ialah Astadewi. Dengan senyuman lugu, ia berjalan seperti anak kecil, berputar-putar dengan rambut dan pakaian yang berkibar menambah kecantikannya.

Ketiganya melangkah menuju Cadas Ngelir. Sebenarnya Cadas Ngelir cukup berdekatan dengan Karangbolong. Bila Astadewi sedikit lambat, ada kemungkinan ia akan bertemu dengan Dyah Krusina, namun takdir berkata lain. Entah salah Astadewi yang berjalan cepat atau Dyah Krusina yang berjalan lambat, keduanya tidak berjumpa.

Gunung Sampora tegak menantang langit. Astadewi melewati Sungai Citumpeng dengan sigap dan lincah. Tak begitu lama, ketiganya tiba di Cadas Ngelir. Mata tajam ketiganya dapat melihat sekelebat bayangan merah muda menuju ke sebuah gua alam di sana.

Karena memiliki kemampuan lebih tinggi, Astadewi mampu menyandak dan berdiri di hadapan bayangan tersebut. Kemudian, Antari dan Anudhari menyusul dari belakang. Bayangan merah itu terkejut; tanpa memandang lebih lanjut, ia mencabut pedang dan menyerang. Pedang menggaris perak miring, sementara tangan kiri membentuk sebuah cakar.

Astadewi tenang saja. Ia mengenal jurus itu. Bukannya mundur, ia malah maju ke hadapan gadis tersebut dan membelakanginya. Karena tak menyangka, gadis itu terperanjat. Apalagi pedang sudah disabetkan ke depan, tak ada waktu lagi untuk menariknya kembali.

Kedua tangan Astadewi memegang pergelangan tangan lawan yang sudah berada di depan, lalu ditarik sehingga tubuh bagian depan gadis itu menempel di punggung Astadewi. Mudah saja bagi Astadewi untuk membungkuk. Tak sampai hitungan ketiga, dalam sekali gebrak, Astadewi sudah bisa membuat lawannya telentang pasrah menahan sakit.

"Ai, antarkan aku kepada yang lain," kata Astadewi riang.

Gadis yang terlentang itu terkejut serasa mengenal suara tersebut. Ia memperhatikan wajah Astadewi, buru-buru bangkit, dan memeluknya dengan gembira.

"Akh, Nimas Dewi, teganya dikau!" kata gadis yang sedikit lebih tua dari Astadewi. Wajahnya cantik dengan tahi lalat tepat di tengah kening.

"Haha, harusnya aku yang berkata demikian, Mbakyu Parnita. Masa datang-datang menyerang orang!"

"Habisnya, mengapa datang-datang mencegat orang!"

Astadewi hanya tertawa jenaka. "Ayo masuk!"

"Mari!"

Dengan dipandu Parnita, Astadewi, Anudhari, dan Antari masuk. Bulu kuduk Parnita merinding melihat keduanya; entah mengapa, ia merasa takut.

"Siapa yang sedang terluka itu?" tanya Astadewi.

"Kami belum tahu. Karena wajahnya rusak, ia siuman hanya sebentar-sebentar saja. Yang dikatakannya tetap sama."

"Apa?"

"Hati-hati, Barisan Dewa Iblis Darah, barisan pembunuh, Istana Dewa Iblis, sakti mandraguna, jangan lengah!"

Wajah Astadewi sedikit berubah, namun hanya sejenak. Hanya Antari dan Anudhari yang dapat melihat perubahan itu. Antari mendekat dan meraba wajah pasien tersebut. Wajahnya sedikit berubah, ia diam. Parnita merasa heran. "Ada apa, Nimas Dewi?"

Astadewi diam saja, begitu pula Antari dan Anudhari.

"Kalian bantu aku!"

Antari dan Anudhari menurut; keduanya berdiri di sisi pembaringan kanan dan kiri. Seperti paham apa yang harus dilakukan, keduanya mengambil pergelangan nadi dan mengerahkan tenaga dalam. Sementara itu, Astadewi memegang kedua kaki.

Pelan tapi pasti, udara di ruangan mulai bergolak. Parnita yang tenaga dalamnya masih rendah merasa keheranan. Tubuhnya serasa dipanggang di atas bara; peluh bercucuran deras, namun secara ajaib menjadi es. Namun di balik keanehan itu, terkadang ia merasakan angin semilir yang maha sejuk.

Pergolakan tiga hawa itu terus berlangsung. Dari ruangan lain, tampak berdatangan orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Pelan-pelan Parnita mundur ke belakang karena tak kuat menahan rasa panas. Wajahnya menyiratkan kasihan kepada pasien yang berbaring tak berdaya itu. Ia melihat baju bagian kiri pasien mulai mengepulkan asap seolah hendak terbakar, sementara bagian kanannya membeku, dan bagian celananya menggelembung seperti ditiup angin badai.

Gadis itu mengerang kesakitan dan berusaha melepas cekalan. Tubuhnya kejang-kejang; sungguh mengenaskan keadaannya. Tak terasa, tiga kentongan telah berlalu, ketiganya menarik ilmu masing-masing.

Secara ajaib, semua luka di tubuh pasien itu melepuh seperti hendak copot. Baru saja pasien itu menarik napas lega, ketiganya segera melakukan penyembuhan dengan tenaga yang dilipatgandakan. Bukan mengerang lagi, pasien itu menjerit pilu. Kali ini Parnita tak sanggup lagi berada di ruangan itu; ia mundur dan mengintip dari balik pintu. Miris hatinya melihat luka di gadis itu berjatuhan seperti borok yang dipaksa dikerik dengan senjata tajam.

Lima kentongan kemudian, seluruh luka di tubuhnya telah melorot, hanya tinggal bekas-bekas merah seperti bintik-bintik. Baju sebelah kiri telah hangus terbakar, celana bagian bawahnya hancur tercabik-cabik, hanya baju bagian atas kanan yang masih utuh meski sudah membeku. Wajah gadis itu separuh pias seperti mayat, separuh bibirnya ungu pucat, dan bagian kiri merah membara.

Setelah menarik kembali ilmu mereka dan bersemadi, wajah gadis itu perlahan-lahan normal kembali, lalu ia tidur dengan pulas. Mendadak Kama menerjang masuk membawa sekeranjang obat. Melihat pasiennya baik-baik saja, muncul rasa hormat kepada tiga orang itu. Namun, ia terperanjat melihat wajah Astadewi yang sedang mengulas senyuman manis.

"Kama, mengapa kau memandangku seperti itu?" tanya Astadewi.

Kama tergagap karena belangnya ketahuan. Ia menunduk dan menjawab, "Dewi manis sekali."

"Hihi, sisanya aku serahkan padamu. Akh, kau sudah siuman, Aryani?" Astadewi mengalihkan pembicaraan.

Kama terkejut mendengar nama Aryani. Ternyata setelah wajahnya bersih dari luka, meski masih dipenuhi bintik, ia bisa dikenali.

"Akh, Dewi. Tak kita sangka bakal berjumpa lagi!" Aryani melamun.

"Istirahatlah, biarkan Kama merawatmu."

"Terima kasih. Bagaimana kabar Kakang Gardapati?"

"Dia... akh, biar nanti kalau engkau sudah sembuh saja mendengarnya."

"Katakanlah Dewi, biar sekalian aku merasakan sakit atau bahagianya."

"Dia sudah meninggal, begitu pula Mbakyu Ratih dan Kakang Arya."

Sudah jatuh tertimpa tangga, wajah Aryani berubah sepucat mayat dan akhirnya pingsan. Astadewi menghela napas. Suasana sunyi, hanya suara tarikan napas yang kini terdengar.

Di tengah keasyikan mengobrol, Sagara Angkara dan Garwita masuk. Para Dhara yang berada di sana memberi hormat, hanya Aryani, Antari, Anudhari, dan Astadewi yang tidak.

"Siapakah Nimas bertiga?" Sagara Angkara bertanya.

"Kami adalah ya kami," jawab Anudhari dingin.

Sagara Angkara serasa diguyur es mendengar ucapan yang begitu dingin itu.

"Untuk apakah engkau tahu?" kata Antari sengit. Ucapannya membuat Sagara Angkara merasa panas seperti dipanggang, segera ia mengerahkan tenaga dalam untuk menguasai diri.

"Ahk, maafkan aku menyinggung kalian," kata Sagara Angkara dengan senyum pahit.

Antari dan Anudhari tersenyum, "Maaf, kami hanya mengujimu!"

Sementara itu, Astadewi terus menatap Garwita dengan pandangan kosong. Tentu saja yang ditatap merasa takut, dengan erat ia memeluk lengan Sagara Angkara.

"Apa hubunganmu dengan Kakang Gardapati?" tanya Astadewi.

"Dia... dia kakak kandungku!" jawab Garwita ketakutan.

Astadewi tersenyum penuh kegembiraan, lalu menghela napas panjang. "Pasti kamu adalah Nimas Garwita?"

"Ekh, mengapa Mbakyu tahu?" tanya Garwita polos.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment