Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 103

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 103

Astadewi bangkit dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil, berputar ke sana kemari, tanpa sungkan memeluk Garwita dan semua orang yang ada di sana, lalu berhenti di hadapan Sagara Angkara.

Garwita keheranan dengan sikapnya itu. Ia tertawa teringat masa kecilnya dahulu; ia pun dulu suka melakukan hal itu ketika sedang dilanda kegembiraan.

"Sagara Angkara, Dewa Dunia Persilatan, aku... aku ingin berbicara denganmu! Hanya kita berdua, empat mata dan empat telinga." Sagara Angkara tersenyum melihat mimik wajah kekanak-kanakan orang di hadapannya, namun ia tahu kemampuan orang tersebut tidaklah di bawah dirinya.

"Baiklah, di mana?"

"Di kamarmu!"

"Tapi, itu kurang leluasa bagi lelaki dan perempuan."

"Kita bukan hendak melakukan hubungan badan atau sejenisnya, hanya berbicara sepatah dua patah kata saja," potong Astadewi lugas.

Orang-orang yang ada di sana tampak biasa saja mendengar ucapan Astadewi yang terkesan ceplas-ceplos, hanya Garwita dan Sagara Angkara saja yang wajahnya semburat merah karena malu.

Tak ada pilihan lain, Sagara Angkara mengikuti Astadewi yang sudah melangkah pergi setelah berpesan kepada Garwita untuk menunggu.

"Sebenarnya ada pembicaraan apa?"

"Aku ingin menyampaikan permintaan maaf dari Kakang Gardapati, sang Iblis Dunia Persilatan."

"Hah!" Sagara Angkara melotot.

"Bukankah Gardapati itu bergelar pelajar?"

"Bukan, itu hanya untuk menutupi identitasnya dari umum."

"Aku... aku tak paham." Sagara Angkara duduk di pembaringan, sementara Astadewi membelakanginya.

"Kau pasti tak percaya dengan omonganku. Sesungguhnya, orang yang bertarung denganmu di panggung sayembara itu adalah Arya si Pemetik Mawar Merah, sahabat kami. Dan wajah sesungguhnya dari Iblis Dunia Persilatan adalah Kakang Gardapati." Sagara Angkara tertegun; ia tak mengerti dengan keadaannya saat ini. Berita itu membuatnya terpukul.

"Kakang Gardapati dan Kakang Arya memiliki topeng yang sama. Secara bergantian, mereka menjadi Iblis Dunia Persilatan. Kau pasti heran mengapa aku bisa tahu semuanya?"

"Ya," jawab Sagara Angkara lemah.

"Aku Astadewi, digelari Dewi Asmara berwajah lugu, putri dari Setan Purnama." Sagara Angkara tergetar lagi, hatinya guncang.

"Aku berterima kasih, kau sudah menjadikan Dhara Sesat kembali ke jalan yang benar, meski beberapa bagian dari mereka tak bisa meninggalkan kebiasaan lama. Meskipun sesungguhnya niatmu hanyalah memperalat mereka untuk menghancurkan Istana Dewa Iblis, aku juga berterima kasih kau sudah menyelamatkan Aryani, wakil ketua Dhara Sesat itu sendiri."

"Aku?" Sagara Angkara hendak menyela, namun Astadewi kembali memotong.

"Aku tahu sangkalanmu. Dendam membutakan kami, kini aku tahu segalanya. Ayah kami dan kami adalah korban dari si pengkhianat Iblis Kembar Bumi dan si Gila dari Neraka Hitam yang meminjam golok untuk membunuh orang. Dengan hasutan dan sandiwara juga kata-kata yang masuk akal serta mimpi yang indah, setebal apa pun iman, lama-kelamaan akan terhasut jua. Di balik kata sahabat, mereka menyembunyikan ranjau. Kasihan Kakang Gardapati, akibat surat wasiat yang dibuat oleh mereka berdua atas nama ayahnya, ia harus menanggung derita sampai akhir hayatnya, dan ia tak tahu apa-apa." Astadewi menangis sedih.

Sagara Angkara tahu maksud "sampai akhir hayatnya" itu. Memang tersiar kabar bahwa Iblis Dunia Persilatan telah mati, dan gadis ini belum tahu apa sebenarnya yang terjadi. Meski ia sangat membenci Iblis Dunia Persilatan hingga ke tulang sumsum, menyadari bahwa orang sebenarnya adalah Gardapati dan melihat tindakan yang dilakukannya sekarang, mau tak mau Sagara Angkara melapangkan dada. Ia teringat percakapannya dengan Garwita ketika sedang di perjalanan.

"Aneh," Sagara Angkara bergumam ketika sedang memasuki kawasan hutan.

"Apanya yang aneh, Kakang?"

"Mengapa ketika di kedai, kakakmu bisa mengetahui apa yang kulakukan di bangunan itu? Ah, aku ingat, waktu itu ada sosok berjubah hijau dan berkerudung menyelamatkan kami."

"Sosok berjubah dan kerudung hijau?"

"Benar, Nimas Wita, kemampuannya benar-benar mengerikan."

"Sungguhkah?"

"Sungguh. Ketika pertama kali bertemu Kakang, Kakang Gardapati juga memakai jubah besar berwarna hijau. Jubah itu memiliki kerudung. Ketika ia menudungkan kerudungnya, penampilannya sungguh menyeramkan. Untung saja sebelumnya ia melepaskan tudungnya, mungkin jika tidak, aku akan pingsan melihatnya."

"Ah, yang benar?"

"Sumpah!" kata Garwita mengacungkan dua jarinya.

Sagara Angkara tersentak kembali ke alam nyata. Ia melihat Astadewi bersujud di hadapannya sambil menangis meminta maaf. Cepat-cepat Sagara Angkara membangunkannya. Astadewi bersikeras dan berkata, "Jika kau belum memaafkannya, aku akan terus bersujud meski sampai akhir hayat pun."

Sagara Angkara tersentuh akan tekadnya itu. Ia juga tahu sekarang bahwa Gardapati sudah berubah; ia pernah menolongnya. Jika gadis ini sudah tahu apa yang sebenarnya, pasti Gardapati tidak akan menolongnya jika tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku memaafkannya, hanya..."

"Hanya apa?" Astadewi bergetar.

"Dia, Gardapati, masih hidup."

"Apa!" Astadewi bangkit berdiri.

"Dia pernah menolongku, juga mengantarkan adiknya dan menitipkannya padaku."

"Jadi dia masih hidup?" tanya Astadewi dengan mata berkaca-kaca antara sedih dan bahagia.

"Haha, dia masih hidup."

Astadewi menjebol pintu kamar sambil berteriak, "Dia masih hidup!" Sagara Angkara tertegun melihat kejadian itu dan berjalan mengikuti jejaknya. Ternyata Astadewi sudah memeluk Antari dengan erat sambil bergumam bahwa Gardapati masih hidup. Tentu saja ulahnya disaksikan dengan heran oleh setiap orang.

"Kakang, apa yang terjadi padanya?" Garwita mendekati Sagara Angkara.

"Dia terserang demam yang membahagiakan."

"Demam yang membahagiakan, apa itu?"

"Dia masih hidup," jawab Sagara Angkara disertai senyuman ringan.

Pembicaraan itu juga tak luput dari pendengaran orang yang berada di sana. Semua mata memandang antara Sagara Angkara dan Astadewi dengan diselimuti tanya.

"Hiburlah dia, dia adalah kekasih dari kakakmu!" bisik Sagara Angkara di telinga Garwita. Garwita menurut dan menghibur Astadewi. Setelah satu kentungan kemudian, Astadewi mengatakan hal yang sangat mengejutkan orang yang ada di sana dan membuat Garwita keheranan.

"Anudhari, susullah Mbakyu Dyah, katakan padanya bahwa Kakang Gardapati masih hidup."

"Hah?"

"Heh?"

"Ikhh?"

"Apa?"

"Masa?"

"Ada apa? Kakang Gardapati memang masih hidup, kenapa diributkan? Dua hari yang lalu, aku malah dibawa dan dititipkan pada Kakang Sagara," ujar Garwita.

Semua orang terkejut mendengar kabar bahwa Gardapati masih hidup, apalagi disusul penegasan dari Garwita, adiknya. Hanya Garwita yang keheranan dan tak mengerti keadaan, karena memang ia tak tahu apa-apa tentang dunia persilatan. Sagara Angkara hanya tertawa terbahak-bahak melihat keheranan Garwita, kekasih pujaan hatinya.

Dusun Kalawisa adalah sebuah dusun di perbatasan Jawa bagian tengah dan Jawa bagian barat. Karena letaknya, dusun ini ramai dengan aktivitas para pedagang. Jalan besar di Dusun Kalawisa merupakan jalan utama penghubung antarperbatasan. Saat lentera dan lampu dinyalakan, di sebuah kedai di tempat keramaian itu, ada dua orang yang sedang mengadakan pertemuan rahasia. Mata-mata Istana Dewa Iblis tersebar di seluruh penjuru negeri agar rencana melawan Istana Dewa Iblis tidak bocor, maka kali ini mereka tak hanya memakai pakaian yang umum di kalangan rakyat jelata. Tempatnya pun tempat yang biasa dikunjungi, bahkan ucapan mereka disampaikan dengan tenaga dalam agar tidak bocor.

"Penjaja bambu, tahukah maksudku mengajakmu mengadakan pertemuan ini?" terdengar seorang pemuda berjubah hijau berkata.

"Jika tak diucapkan, bagaimanakah caranya aku bisa tahu?"

"Berapa anggota keluarga keturunan Ksatria Satwa yang bisa diandalkan?"

"Untuk apa kau mengetahui?"

"Hmm!" Gardapati mendengus dingin.

Sret! Si penjaja bambu melemparkan senjata rahasianya dengan kecepatan tinggi. Gerakannya secepat kilat, hingga tak terlihat seperti mengambil lap, namun itu adalah sebuah permainan yang membuat siapa pun terbelalak.

"Akh!" orang yang di sebelah tiba-tiba kehilangan sebuah pisang yang dipegangnya dengan kedua jari. Dia celingukan dengan heran.

"Kecepatan melempar senjata si penjaja bambu ternyata lebih cepat daripada yang kudengar. Sungguh, nama Haur Kuning Perengut Nyawa bukanlah nama kosong!"

"Cepat terus kenapa? Meski aku menggunakan jurus terhebat dan menggunakan tenaga dalam pun tak bisa menjatuhkan si Iblis, apalagi si penguasa sekarang! Ilmunya pasti luar biasa hebatnya."

"Perkataanmu terlalu menyanjung tinggi kemampuan lawan dan memandang rendah diri sendiri."

Wutt. Gardapati menyentilkan jarinya; lagi-lagi yang menjadi korban adalah si pendatang tadi. Kali ini pisangnya tercacah menjadi beribu bagian.

Brak! Si tamu itu menggebrak meja dengan gusar dan berteriak, "Hari ini aku ketemu setan apa sih! Aku tak mau makan lagi!" Setelah itu, si tamu keluar diiringi tatapan kebingungan tamu lain.

"Sentilan jarinya menggantikan senjata semacam cakra berlapis dengan menyalurkan tenaga dalam di udara. Yang paling hebat lagi, dia dapat mengendalikan hawa murni yang kasat mata itu dengan tepat. Dia memang bukan orang sembarangan. Siapakah dia sebenarnya?" pikir si penjaja bambu.

"Di atas langit masih ada langit. Di atas orang pintar masih ada yang lebih pintar. Siapa yang menang, masih terlalu cepat untuk dibicarakan," kata Gardapati kalem.

"Siapa kau sebenarnya?"

"Orang yang kau lawan beberapa purnama lalu!"

"Ib... Iblis?"

"Ya! Itulah aku," potong Gardapati sambil menyuapkan makanan.

"Aku tak sudi menuruti permintaanmu itu!" si penjaja bambu marah.

Gardapati bangkit berdiri, lalu berkata, "Saat itu, demi kalian, istriku terluka parah. Dia mengatakan kalian akan menjadi orang yang tepat untuk diminta bantuan menghancurkan mereka. Ternyata harapan istriku salah." Selesai berkata, ia berlalu. Mendengar ucapan itu, si penjaja bambu tertegun. Dari kejauhan, Gardapati kembali mengirimkan suara susupan, "Istriku melarang memaksa kalian, bila kalian berubah pikiran."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment