Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 104

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 104

"Temui aku esok di Hutan Maut." Si Penjaja Bambu buru-buru mengejar, namun sosok Gardapati telah menghilang.

Keesokan harinya, di atas pucuk pohon tertinggi di Hutan Maut, Gardapati memandang ke bawah. Sudah hampir satu kentongan dia berdiri di situ, diam tak bergerak. Jubah hijaunya berkibar-kibar tertiup angin. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

Beberapa saat kemudian, tampak ada gerakan dari bawah. Mereka datang berombongan; Gardapati hanya mengenal beberapa saja dari mereka.

Si Penjaja Bambu berkata, "Gardapati, kami sudah berunding dan mengambil keputusan. Engkau harus membuktikan bahwa engkau layak menjadi pemimpin barisan kami. Jika seandainya kau dapat mengalahkan kami masing-masing sepuluh jurus, kami akan takluk sepenuhnya. Beranikah kau?"

"Hahaha!" Gardapati tertawa. Belum sirna suaranya, tubuhnya sudah ada di hadapan rombongan yang terdiri dari dua puluh orang itu. "Begitu pun baik, hanya aku pun ingin membatasi pertarungan, yakni hanya saling menempel. Aku tak mau pasukanku terluka sebelum bertarung."

"Hemm, sepertinya kau sudah yakin kemenangan ada di pihakmu. Baiklah, di sini ada beberapa orang putra terbaik keturunan dari para keluarga kami."

"Silakan maju serempak!"

Kata ini jelas membuat semua orang melengak kaget. Jelas bahwa lawan meminta dikeroyok. Ini baru dalam sejarah, padahal di dunia ini kepandaian silat mereka jelas merupakan kalangan tingkat tinggi.

"Jangan salahkan kami jika kau salah." Belum habis ucapannya, dalam sekejap di hadapan Gardapati telah berdiri empat pemuda berusia tiga puluhan dengan tampang yang berbeda. Dari gerakan mereka, Gardapati cukup mengagumi kemampuan mereka. Keempat orang ini rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Sejenak dia mengamati keempatnya satu per satu.

"Silakan mulai!"

Dengan suatu bentakan nyaring, keempatnya menerjang maju. Gardapati mendengus dingin, tangannya dikibaskan ke arah empat orang itu hampir bersamaan. Dia telah memukul dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat hebat; kesiuran anginnya sangat menyentak nyali. Nampak sederhana saja serangannya, tapi hasilnya sungguh hebat. Keempat orang itu bergerak hampir bersamaan menangkis serangan tersebut sehingga menimbulkan empat ledakan dahsyat yang menggetarkan dalam dentuman yang bersamaan dan panjang.

"Duaarr! Krekk... krekkk..."

Perlahan suasana berubah senyap. Gardapati terdiam dalam ketenangan, sementara keempat pemuda itu semuanya tersurut mundur sejauh sepuluh langkah. Meski terjadi ledakan dahsyat, entah mengapa mereka sama sekali tak merasakan sakit, hanya tangan mereka terasa seperti kena setrum untuk sejenak.

"Kau menang, kami akan membantu!" Si Penjaja Bambu berkata.

Gardapati tersenyum. Kemudian Si Penjaja Bambu menimpali, "Kita tidak punya banyak waktu, ada banyak hal yang musti diselesaikan. Sebaiknya kita bergegas pergi ke tempat yang aman sebelum terendus oleh hidung tajam Istana Dewa Iblis."

"Aku tak mau pergi dari sini sebelum keraguan di hati sebagian orang masih ada."

Wajah Si Penjaja Bambu memerah. Ketika berpaling, memang benar ada beberapa orang yang tak puas, termasuk Si Jelita Berbau Harum. Gardapati tenang saja, sepertinya hal itu sudah ada dalam perhitungannya.

"Jadi apa maumu?" tanya Si Penjaja Bambu.

"Jangan bertanya padaku, tanyalah pada kawan-kawanmu."

Si Penjaja Bambu gegetun atas jawaban itu. Ia mundur dan berkata, "Yang tidak puas dengan keputusanku, silakan maju dan berdamailah dengannya barang satu dua jurus."

Mendengar ucapan tegas Si Penjaja Bambu, sebagian lain mengkeret, sedang Si Jelita Berbau Harum dan Si Pertapa Berjari Empat maju ke depan. Keduanya memberi hormat, tanpa berkata lagi menerjang menggunakan jurus andalan masing-masing. Gardapati, yang sudah memiliki beberapa ilmu gaib dari Karang Bolong, tetap kalem. Ia biarkan kedua telapak lawan menghantam dadanya.

"Bukkk!"

Pertapa Berjari Empat tersentak mundur, begitu halnya dengan Si Jelita Berbau Harum. Tangan mereka bergetar, pertanda bahwa mereka kalah tenaga, sedangkan Gardapati tak sedikit pun bergeming.

"Apakah perlu dilanjutkan?" tanyanya. Kedua orang itu saling pandang, akhirnya menggeleng bersamaan.

"Degg!" Gardapati berubah wajahnya. Si Penjaja Bambu merasa keheranan dengan hal itu dan bertanya dengan nada heran, "Ada masalah apa?"

"Kalian semua rebahlah, seolah kalian sudah terluka parah!" perintah Gardapati tanpa ujung pangkal.

Si Penjaja Bambu tahu bahwa orang di hadapannya bermaksud baik, segera ia memerintahkan rombongan untuk melakukan apa yang diminta. Baru saja semua orang rebah, terdengar langkah kaki dari kejauhan. Sekejap saja seseorang sudah berada di tempat itu.

Gardapati berpaling, kembali ia memakai kerudungnya. Dengan nada menyeramkan ia mendengus dingin, "Rupanya kau. Apa sebelah tanganmu pun belum cukup mengerti akan kemampuanmu?"

Si Penjaja Bambu dan keluarga lain diam-diam merasa bersyukur. Untung mereka menuruti, entah bagaimana ceritanya bila mereka membangkang. Dewa Tangan Darah melirik pada sekumpulan orang yang sudah berserakan di tanah, dingin ia berkata, "Apa maksudmu membunuh mereka?"

"Membunuh atau mengampuni itu urusanku. Apa yang bisa kau dan pemimpin busukmu itu lakukan bila aku ingin melakukan!"

"Takabur kau. Karena hanya dapat menguntungi sebelah tanganku, Dewa Tangan Darah, lantas kau berbuat seenak perutmu."

"Bukan hanya seenak perutku, tapi akan seenak tubuhku. Bahkan kedua pemimpin busukmu, Si Gila Dari Neraka Hitam dan Si Iblis Kembar Bumi pun, bukanlah tandinganku. Sampaikan padanya, beberapa hari lagi aku akan datang berkunjung dengan beberapa teman untuk memandikannya di air cucian kakiku."

"Gerrr!" Si Dewa Tangan Darah menggeram marah; benar-benar sebuah hinaan yang sudah melewati batas. "Kau tahu takaran kesabaranku?"

"Haha! Tentu saja tahu, kesabaranmu tidaklah lebih besar dari sebutir debu padang pasir!"

"Bagus, bagus jika kau tahu. Anak-anak, bunuh lelaki tak tahu adat ini!"

"Bagi para pendekar yang tak mengetahui kelemahan mereka, jangankan membunuh, menyelamatkan diri saja belum pasti bisa. Hanya saja di depanku, mereka tidak lebih dari boneka kayu. Kau majulah sendiri!" Gardapati berkata enteng.

Para Barisan Dewa Iblis Darah yang saat ini berjumlah lebih dari dua puluh orang maju serempak. Bagi orang biasa, jangankan segitu banyak, satu saja pasti akan kewalahan. Pedang berhawa dingin menyabet dari segala penjuru, sedang Gardapati malah memejamkan mata seolah ia pasrah menerima kematian. Bayangan pedang mengaburkan pandangan, hanya suara dengungan dan kiblatan perak yang dapat dirasa dan dilihat.

Hawa pembunuhan yang disatukan dengan pedang tajam menusuk indra, cuping Gardapati bergerak-gerak. Kecepatan pedang yang laksana kilat itu dirasa seperti seekor siput. Tubuhnya bergerak, namun tidak bergerak—bergerak memang bergerak, sebab jika tidak bergerak mustahil bila pedang itu terlihat menembus bayangan; tidak bergerak memang dilihat kasat mata tubuh Gardapati diam tak bergerak.

Di dalam indra, Gardapati merasa sebuah pedang menusuk dari belakang. Tubuhnya sedikit bergeser, totokannya nyelonong pada dagu lawan, bergerak menyampok pedang, mengarahkan pada lawan lain; lincah berkelit, totokan dan gerakan menyampok menggiring dan menusuk. Dalam hitungan dua, dua puluh lebih orang yang menyerang mencelat ke berbagai penjuru tak bernyawa lagi. Ada yang mengucurkan darah dari dagu, ada juga yang tidak. Yang tidak jelas terkena totokan, sedang yang berdarah sudah tentu oleh pedang kawannya sendiri.

Setiap hadirin yang menyaksikan itu menatap dengan kagum; sungguh permainan silat yang sangat mengagumkan. Tersisa dua orang dari Barisan Dewa Iblis yang tadi jauh tidak kebagian menyerang. Lantang Gardapati berkata, "Dengan kecepatan melawan kecepatan, kosongkan isi, rasakan gejala alam, biarkan tubuh menyatu dengan alam, kendorkan saraf, gunakan pernapasan dalam, tutup pernapasan luar, ambil duri menusuk darah kematian, itulah jurus pertama dari Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas."

Dewa Tangan Darah melengak; jelas itu adalah teori dari jurus itu sendiri. Sederhana memang, tapi jika dijabarkan sungguh sangatlah dalam. Tak dimengertinya lawan memberitahu jurusnya sendiri.

Keputusan adalah mutlak, perintah adalah landasan. Barisan Dewa Iblis Darah yang sudah diperintahkan menyerang takkan mundur meski jiwa melayang. Sisa dua orang itu menyerang Gardapati dari arah samping kiri dan kanan. Jika tadi kecepatan yang digunakan, kini dua orang itu menggunakan tenaga dalam besar, sehingga gerakannya ringan dan lambat.

Gardapati merangkapkan tangan di dada, dengan lantang lagi ia berkata, "Berikan sembah kepada alam semesta, biarkan semesta dalam diri selaras dengan semesta luar. Jika terasa berat anggaplah berat, jika ringan anggap saja ringan. Ringan dan berat sama saja. Pasrahkan kepada Sang Pertiwi agar membantu. Tarik napas dari hidung dan tahan di dada, salurkan pada telapak tangan, maka bayangkanlah bahwa sang semesta dalam menghembuskan napasnya dari kedua telapak tangan. Itu adalah jurus kedua!"

"Wuussshhh!"

Segulung angin maharebut keluar dari tangan Gardapati. Tanpa bisa berbuat apa-apa, barisan tersisa mencelat dan menabrak pohon hingga tumbang berantakan. Mereka ikut menyusul kawan-kawannya yang lain.

Dewa Tangan Darah melengak, kegusarannya memuncak. Dia berniat mengadu jiwa dengan Gardapati. Setengah berlari sambil mengembangkan sebelah tangan, dia datang menyerang. Santai saja Gardapati berjalan ke depan. Telunjuknya menuding, "Gusraakkk!"

Mendadak Dewa Tangan Darah tersungkur, kepalanya berdarah terantuk batu. Gardapati mendekat, lalu berjongkok. Ia memegang nadi lawan. "Dalam tubuh manusia terdapat semesta yang maha luas, semesta itu sangatlah seimbang. Berikan semestamu pada lawan, maka semesta lawan akan bertumbuh subur dengan cepat, secepat kilat."

Dewa Tangan Darah tak mampu berbuat apa. Dia hanya berdiam. Setelah Gardapati bangkit, dia mulai bisa menggerakkan tubuhnya.

"Suruhlah ketuamu membaca surat dariku, suratku telah kuberikan pada tubuhmu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment