Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 105

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 105

Cukup dia memeriksamu dengan mengalirkan tenaga dalam di nadimu.

Sekarang pergilah. "Baiklah." Bagaimanapun Dewa Tangan Darah adalah golongan hitam yang takut mati. Meski di luar menampilkan sikap garang, sebenarnya hatinya bergolak ketakutan.

Dewa Tangan Darah segera berlalu.

Gardapati berpaling. Dilihatnya para keluarga keturunan satwa juga sudah bangkit; mereka menatap Gardapati dengan tatapan kagum.

"Apa kau bilang? Jagoan tangguh itu hanya dengan menggunakan dua jurus sudah membantai habis Barisan Dewa Iblis Darah? Bahkan kemarin dulu tanganmu hingga hanya dengan sebuah jurus? Kau seharusnya mengerti, alasan ini sungguh tak masuk akal. Siapakah yang akan percaya? Menurutmu jagoan misterius itu hanya karanganmu belaka, begitu bukan?" Si Gila dari Neraka Hitam membentak.

"Tidak, orang itu benar adanya, hamba bersumpah mati!" Dewa Tangan Darah membela diri.

"Jika begitu, bagaimana wajahnya?"

"Maafkan hamba, hamba sama sekali tak mengetahui bagaimana tampangnya. Ia memakai kerudung hijau untuk menutupi mukanya. Yang jelas, ia memiliki tenaga dalam yang dahsyat, serangannya benar-benar cepat."

"Apa? Tak masuk akal! Bagaimana seorang Dewa Tangan Darah pun sampai tak mengetahui siapa lawannya? Siapakah dia? Tak kuduga setelah kematian Dewa dan Iblis Dunia Persilatan, muncul lagi jagoan hebat. Bahkan Dhara Sesat pun berubah semakin kuat. Siapakah dalangnya?" gumam Iblis Kembar Bumi.

"Dia... dia memberi hamba pesan untuk yang mulia."

"Di mana pesan itu?"

"Di tubuh hamba."

"Apa maksudmu?"

"Dia bilang, cukup menyalurkan tenaga dalam di nadi hamba, maka pesan itu akan muncul."

Si Gila dari Neraka Hitam bangun berdiri. Dia meraih tangan Dewa Tangan Darah dan menyalurkan tenaga dalamnya.

"Tak?"

"Serr!"

"Serrr! Duaarrrr... Cratttt... crat!" Tubuh Dewa Tangan Darah meledak menjadi percikan daging, memercik ke seluruh penjuru ruangan. Tubuh Si Gila dari Neraka Hitam dipenuhi dengan darah merah.

"Hemmm. Menyimpan tenaga ledakan dalam tubuh lawan, sungguh luar biasa. Yang lebih hebat lagi adalah perhitungan waktu dan jaraknya, seolah ia tahu di mana letak tempat ini. Benar-benar lawan yang patut diperhitungkan. Bagaimana menurutmu?" tanya Iblis Kembar Bumi.

"Siapapun orangnya, kita selalu siap. Bukankah seperti itu?"

"Huahahah... hahahaha."

Gardapati berdiri di depan gerbang kerajaan dengan wajah garang. Beberapa prajurit menudingkan tombak padanya. Tapi apalah daya para prajurit itu melawan Gardapati. Dengan tenang, Gardapati melangkahkan kakinya dengan santai; bentakan dan cacian mereka seperti angin lalu saja.

Marah melihat kenekatan Gardapati, beberapa prajurit menyerangnya. Satu tombak datang menusuk.

"Prakkk! Arrgghhh!"

Bukan Gardapati yang menjerit, melainkan prajurit itu. Begitu mata tombak mengenai tubuh Gardapati, tombak itu patah menjadi dua. Ia terpental karena tenaga getaran yang membalik. Kawan-kawannya menjadi gusar. Mereka meniru prajurit tadi, namun nasib mereka pun sama. Jangankan menghentikan Gardapati, memukulkan senjatanya saja tak berani.

"Ada keributan apa ini?" seseorang membentak lantang.

Gardapati berpaling. Dilihatnya Kepala Bhayangkara, Perwira Anggabaya, datang bersama Bhayangkara Bhadrika, Bhayangkara Mahasura, Perwira Saktika, Perwira Tibra, dan perwira lainnya.

"Para paman, aku hendak menemui Paman Jagabaya!" kata Gardapati.

Mendengar bahwa orang berkerudung hijau itu memanggil nama sang Raja dengan nama asli, tak urung membuat mereka terkejut. Adalah sang Anggabaya yang lebih cerdik mengetahui siapa orang di hadapannya, ia langsung turun dari kuda.

"Pangeran!" katanya sambil memberi sembah.

"Tak usah banyak peradatan."

"Baiklah, mari."

Keduanya segera berjalan menyusuri setiap lorong dan bangunan di bawah tatapan heran dari segenap penjuru. Keduanya langsung masuk ke taman istana. Karena tak berhak, Sang Anggabaya segera mundur meninggalkan Gardapati.

Gardapati masuk ke dalam. Tanpa menegur, ia memperhatikan ikan yang sedang berseliweran di kolam. Begitu sang Raja berbalik, sejenak wajahnya berubah, setelah sekian lama ia mulai tenang.

"Siapa kau?" tanyanya.

"Hemmm?" jawab Gardapati.

"Paman, aku tak suka kau ikut campur dengan pernikahan Nimas Garwita," kata Gardapati tanpa basa-basi.

Sang Raja tertegun, juga tersinggung. Ia membentak, "Dengan alasan apa? Aku ini pamannya!"

"Dan aku kakaknya, kebahagiaannya adalah nyawaku. Jika Paman terus bersikeras, aku tak bertanggung jawab bila mengerahkan pasukanku meratakan kerajaan ini."

"Apa maksudmu? Kau mengancamku?"

"Bukan mengancam, hanya memberi peringatan. Tarik mundur pasukan yang mencari adikku. Nikahkanlah putrimu sendiri!"

"Tidak mungkin, Pangeran itu hanya mencintai adikmu!"

"Tapi adikku sama sekali tak mencintainya!" potong Gardapati.

Gardapati berbalik dan pergi, mendadak ia berhenti. Tanpa berpaling, ia berkata, "Aku memberimu waktu dua pekan. Bila aku memergoki satu orang pun yang mencarinya, jangan salahkan aku menjual putrimu ke rumah bunga juga menjadikan istrimu mainan lelaki hidung belang... hahaha!"

Lalu ia berkelebat pergi tanpa ketahuan kapan ia menjejakkan kakinya. Wajah Sang Raja berubah merah padam. Ini adalah suatu penghinaan terbesar dalam hidupnya, namun ia tak berani ambil risiko. Yang diancam bukan dia, melainkan anak dan istrinya.

"Huaaaaa!" ia berteriak lantang.

Bhayangkara Anggabaya masuk menghunus senjata. "Paduka yang mulia, Anda tidak apa-apa?" tanyanya.

"Anggabaya, tarik pasukan pencari Tuan Putri Garwita, tarik semuanya! Jika ada seorang pun yang terlambat dalam sepekan, penggal kepalanya." Wajah Bhayangkara Anggabaya berubah mendengar perintah yang berisi ancaman itu. Jelas ini bukan lagi tentang masalah kecil; sedikitnya ia meraba bahwa itu adalah ulah dari sang Pangeran berjubah hijau tersebut.

"Baik Paduka yang mulia. Hamba akan melaksanakan!"

"Berapa orang yang bisa diandalkanmu, Dewi?" Sagara Angkara bertanya.

"Sedikitnya ada seribu orang, bukankah begitu Mbakyu Dwi Garani?"

"Haha, mengapa engkau mengalihkannya padaku? Memang benar, tapi jika dibutuhkan mungkin sekitar dua ratus lagi ada," Dwi Garani menjawab sambil tertawa.

"Akh, tak dinyana kekuatan yang dihimpun kalian ini sungguh besar sekali. Jadi setidaknya kita punya seribu lima ratus pasukan. Jadi, bagaimana rencananya?"

"Seandainya ada Kakang Gardapati, mungkin ia bisa menggunakan siasat militer, hanya itu harapan kita. Saat ini beberapa perkampungan dihancurkan oleh mereka. Berhubung masih bisa dibendung, kita harus segera bertindak, semakin cepat semakin baik," Astadewi mengeluh.

"Ai, mungkin aku bisa membantu sedikit-sedikit. Di istana aku pernah diajarkan siasat dan barisan militer kerajaan," Garwita mengajukan diri.

"Benarkah itu?" Sagara Angkara merasa gembira.

"Jadi menurutmu bagaimana?" Aryani mulai buka suara.

"Dalam militer kami ada sebuah siasat yang dinamakan dengan menabur debu di padang pasir."

"Gak kelihatan dong?" potong Astadewi.

"Benar, bila kita ibaratkan, debu itu adalah para anggota kita, dan padang pasir itu adalah daerah di mana terdapat orang biasa yang berlokasi dekat dengan tempat tujuan."

"Jadi maksudmu secara perlahan anggota kita masukkan ke berbagai tempat strategis tanpa diketahui lawan?"

"Ya, kemudian kita gunakan siasat menggebuk ular pada kepalanya. Nah, yang jadi masalah adalah siapa yang berani menghadapi kepala ular itu?"

"Emmm..."

"Permisi!" mendadak suara dingin seperti es menghentikan setiap obrolan. Tampak Anudhari sudah datang dari tempat yang ditujunya.

"Mana Mbakyu Diah-nya?" Astadewi bertanya.

"Mbakyu Dyah pergi ke Karang Bolong, seseorang telah menjemputnya. Dewi, aku menemukan ini. Entah berguna atau tidak." Anudhari menyerahkan lempengan kulit pohon. Kulit pohon itu tampak digaris-garis dengan jari membentuk sebuah tulisan absurd. Tanpa tahu kuncinya, jangan harap dapat membacanya.

"Aku tak bisa membacanya!" Astadewi meletakkan kulit itu di meja.

Adalah Garwita yang berubah menjadi berbinar. "Kita mendapat pemecahannya yang terbaik," Garwita berseru nyaring.

"Apa maksudmu, Nimas?" Sagara Angkara bertanya padanya.

"Ini adalah kata sandi yang dibuat Kakang Gardapati."

"Hey, apa tidak keliru? Mungkin saja musuh sengaja yang membuatnya."

"Itu mustahil, kata sandi ini dibuat oleh Kakang Gardapati. Jika tak tahu kata kuncinya, jangan harap dapat menerjemahkan."

"Kalau begitu?"

"Aku pernah mempelajarinya dari coretan-coretan Kakang Gardapati yang diberikannya padaku."

"Baiklah, apa pesannya!"

"Bulan gelap, waktu yang tepat. Salam Lautan Dendam. Orang yang kehilangan waras memiliki kelemahan api. Bumi dipinang dua adalah bagianku. Tangan melawan tangan, kaki melawan kaki. Berjayalah dalam hitungan satu. Jangan perdulikan gelas yang menjadi bubuk, buang yang utuhnya saja."

"Apa artinya?" Astadewi bertanya tak mengerti.

"Ada yang paham?" tanya Garwita sambil celingukan, mulutnya terbuka heran.

"Padahal jelas sekali lo maksudnya!" gumam Garwita.

"Sudahlah, hanya adikku yang cantik saja yang paham apa maksudnya, jadi sekarang beritahukan pada kami," Aryani memuji sambil mengelus kepalanya.

Garwita senang diperlakukan demikian, sekejap saja ia berbinar. Lalu berkata, "Penyerbuan dilakukan selepas purnama, yaitu ketika bulan tak bersinar dan bintang-bintang tidak menggantung, seperti yang kukatakan sebelumnya, kepala melawan kepala. Jadi sesuai pesan Kakang Gardapati, Kakang Sagara Angkara melawan orang gila karena kelemahan orang gila itu adalah segala apa yang bersifat api. Bumi kembar diurus olehnya sendiri, sedangkan kita melawan antek-antek lainnya. Itu dilakukan ketika tepat pada kentongan satu. Satu lagi, serangan hanya difokuskan ke markas, jadi urusan lainnya dibiarkan sajalah."

"Mengapa? Padahal mereka bisa menjadi duri baru, lo?" Dwi Garani bertanya.

"Semua makhluk berhak hidup, mungkin itu maksud Kakang Gardapati," Garwita memberikan alasan yang dipikirkannya sendiri.

"Akhaha, kau memang adikku yang hebat," Astadewi memuji.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment