Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 106

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 106

"Nimas, mengapa kau mengatakan bahwa namaku ada di pesan?"

"Lautan dendam!"

"Lautan dendam?"

"Haha, nama lain dari lautan adalah sagara, dan nama lain dari angkara adalah amarah, murka, dan sejenisnya, jadi kata dendam juga termasuk."

"Orang gila yang dimaksud itu, apakah Kakang kenal?"

"Dia adalah Si Gila dari Neraka Hitam!" Astadewi menyela.

"Dan Bumi Kembar?"

"Iblis Kembar Bumi."

"Oh, emm, apakah Mbakyu itu benar-benar kekasihnya?"

"Bukan hanya aku, tapi rata-rata gadis yang berada di sini adalah kekasihnya," Astadewi tertawa.

"Hah!" Garwita melongo.

"Apa kau yakin pesanmu dapat sampai kepada adikmu?" Si Penjaja Bambu bertanya penuh keraguan.

"Tentu saja, apa yang dikatakan oleh istriku pasti jadi kenyataan," Gardapati yakin.

"Apa perlu untuk memanggil masing-masing perguruan besar?"

"Tidak, mereka hanya menyusahkanku saja!" dengus Gardapati.

"Ahaha!" Si Pertapa Berjari Empat terbahak-bahak, ia paham maksud menyusahkan itu.

"Mengapa kau tertawa?" Si Jelita Berbau Harum tak senang.

"Maksud menyusahkannya itu, bukannya menghancurkan musuh, paling banter justru menghancurkan kita."

"Mengapa bisa begitu? Bukankah semakin banyak orang semakin baik?" Amurti menyela.

Dalam dunia persilatan, dulu dia dipanggil dengan Nelayan Pancing Naga.

"Apa kau bodoh? Masa tak ingat dengan apa yang dilakukannya tempo dulu? Kita bisa memaafkan, tapi apakah mereka bisa?" Pertapa Berjari Empat membentak.

Lelaki dengan kalajengking di kepalanya berkata dingin, "Benar begitu maksudmu, Gardapati?"

"Benar, Kalajengking Perajut Asa. Siapapun yang sudah masuk ke dalam lumpur, meski dicuci pasti meninggalkan bekas," Gardapati berkata tegas dan mengakui kebenarannya.

"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Memang ada baiknya dan kalanya bila semakin sedikit semakin baik," Si Penjaja Bambu menenangkan.

"Sama sekali aku tak paham! Maksudmu itu apa, Argono?" Lelaki berompi biru bertanya.

"Itu...?"

"Biar aku yang menjelaskan!" sela Gardapati. Si Penjaja Bambu menelan kembali ucapannya.

"Nah, aku bertanya padamu, bolehkah?" Gardapati menatap lelaki itu. Lelaki itu menkeret dan mengangguk. "Bila kau mempunyai rahasia, lebih baik didengar oleh orang banyak ataukah sedikit?"

"Se... sedikit."

"Mudah mengatur mana bila dalam pertarungan?"

"Sedikit."

"Apakah sepuluh orang setara denganmu lebih baik dari seratus orang awam?"

"Tentu saja!"

"Itu kau paham. Dengan keterbatasan jumlah, mudah bagiku memantau dan mempersiapkan kalian tanpa takut ada pengkhianat busuk. Ada lagi yang tidak kalian pahami?" tanya Gardapati.

"Mengapa kau membandingkan para ketua perguruan besar dengan orang awam?" Si Jelita Berbau Harum bertanya heran.

"Emm, jujur saja. Jurus yang digunakan Si Penjaja Bambu bila dilatih dengan maksimal, mudah saja mengalahkan jurus Telapak Iblis Dunia Persilatanku! Sayang, jurus hebat itu tak dipelajarinya dengan benar. Makanya ia bisa kalah. Aku berani berspekulasi, hanya dengan menurunkan Si Penjaja Bambu saja cukup membunuh kelima ketua perguruan." Mendengar dirinya dipuji, Si Penjaja Bambu tak urung merasa bangga meski sedikit.

Semua orang di ruangan itu terdiam. Benar apa yang dikatakan Si Penjaja Bambu tempo dulu.

"Bicara saja tak akan membuahkan hasil, ayo kita pergi ke lapangan."

"Untuk apa?" Si Jelita Berbau Harum bertanya heran.

"Kita berlatih!"

"Hah, apa kau gila?" Kalajengking Perajut Asa bangkit berdiri.

"Kenapa kau takut? Jika takut, berdiamlah di sini seperti kura-kura busuk."

"Ayo kita latihan!" Si Pertapa Berjari Empat bergelak tertawa. Sudah lama ia merasa bosan berdiam dan sembunyi, dan kali ini ada orang yang sehati dengannya. Tanpa berpikir lagi, ia bangkit. Gardapati dan si pertapa beranjak bangkit dan berjalan ke arah pintu.

"Pertapa edan, apa kau mau memberikan daging pada mulut harimau?" Si Jelita Berbau Harum membentak.

"Aku sudah bosan menjadi kura-kura, aku adalah seorang yang jantan. Aku mempercayai bahwa apa yang dikatakannya adalah yang terbaik. Ayo pergi."

"Terima kasih!" Gardapati tersenyum, matanya berkaca-kaca. Tak nyana masih ada yang mempercayainya.

"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, karena itu masa lalu, berarti sudah lalu," Si Pertapa Berjari Empat menepuk pundak Gardapati.

"Akkhhhh!" Astadewi menjerit, tubuh mungilnya yang tanpa sehelai benang pun masih mengkilap dengan air. Ia memang baru selesai mandi. Setelah naik dari sungai, ia menyadari bahwa pakaiannya telah raib entah ke mana. Pikirannya bekerja.

"Sudahlah, aku pulang saja!" putusnya.

Jika gadis normal, jelas tak akan melakukan tindakan gila seperti itu. Jangankan untuk berlenggang kangkung pergi, naik ke darat saja tak akan berani. Untunglah Astadewi bukan gadis normal; dengan bernyanyi kecil dan berjalan setengah berloncatan, Astadewi kembali ke Cadas Ngelir. Sungai Citumpeung begitu indahnya, sempat-sempatnya Astadewi menikmati keindahannya. Padahal gadis biasa pasti akan malu luar biasa, tidak dengan Astadewi.

Ketika ia hendak masuk ke goa alam Cadas Ngelir, ia berpapasan dengan Kama, Aryani, Sagara Angkara, dan Garwita.

"Akhhh!" Garwita menjerit.

Sagara Angkara menutupi matanya, wajahnya semburat malu, sementara yang lain biasa saja; mereka hanya memandang dengan heran.

"Mbakyu, kenapa telanjang seperti itu?" Garwita bertanya tergagap.

"Bajuku ada yang mencuri. Ketika habis mandi, bajuku raib ke mana. Daripada pusing mencari, aku pikir lebih baik aku pulang saja!" jawab Astadewi dengan wajah tanpa dosa, atau lebih tepatnya wajah seorang anak kecil yang belum paham duniawi.

"Hihi, kau memang sedikit agak kurang, Nimas Dewi. Siapa yang berani bertingkah sepertimu? Meski ada, pasti akan berwajah jalang, bukan seperti wajahmu yang tampak tanpa dosa itu."

Astadewi dan yang lain berpaling. Sesosok ramping berjubah dan berkerudung hijau berdiri tidak jauh dari mereka.

"Siapa kau? Mengapa mencuri bajuku?" tanya Astadewi melihat di tangan orang itu terkepal pakaian miliknya.

Sagara Angkara menggunakan telinga dan mata batinnya saja. Ia tak berani membuka mata.

"Haha, hihi, hanya bermain-main saja." Sosok itu cekikikan dan membuka kerudungnya.

"Mbakyu Dyah!" pekik Astadewi seraya memeluknya.

"Haha, sudahlah, lekaslah berpakaian," kata Dyah Krusina menyodorkan pakaian miliknya. Astadewi menurut, ia mengambil pakaiannya dan tak lama kemudian ia sudah selesai. Sikapnya santai, berkesan sembarangan.

"Kau boleh membuka mata, Kakang," bisik Garwita.

Sagara Angkara menarik napas pendek. Dilihatnya seorang gadis jelita berada di depan mereka. Dia kenal gadis itu. "Kau..." desisnya.

"Kita berjumpa lagi, Kakang Sagara. Aku turut berduka atas nasib Nimas Jingga. Oh ya, Mbakyu Gita Jayasri dan Meswari juga Kakang Harsanto menitip salam padaku jika bertemu denganmu. Kini mereka sudah membangun rumah tangga, bahkan Mbakyu Gita sudah memiliki seorang putra."

"Akh, benarkah itu? Di manakah mereka sekarang? Kau mengenal mereka?"

"Heem, di Puncak Gunung Gede. Tentu, Mbakyu Gita adalah saudari seperguruan. Bahkan kami sudah tinggal bersama selama beberapa tahun."

"Akh, syukurlah jika demikian."

"Kau tidak merasa kehilangan, bukan? Bagaimanapun, dua orang itu adalah dua orang yang pertama kali hidup di kehidupanmu?"

"Hehe. Jika aku belum menemukan dia, aku pasti akan merasa kehilangan," kata Sagara Angkara melirik Garwita.

"Akh, Nimas Garwita, sungguh wajahmu sangat mirip dengan Kakang Gardapati. Cantik sekali," puji Dyah Krusina.

Garwita tersenyum malu. Ia belum mengenal siapakah gadis di depannya, tapi gadis itu mengenalnya seperti melihat jari tangan sendiri.

"Aryani?"

"Mbakyu?"

Keduanya berpelukan erat, Aryani menangis pilu. Dyah Krusina juga ikut menangis, ia mengusap punggung Aryani.

"Syukurlah engkau selamat. Meski siksaan itu sangat hebat, aku merasa kagum padamu. Semoga ke depannya kau bisa menjalankan kehidupan dengan selayaknya."

"Terima kasih, Mbakyu."

"Dwi, terima kasih engkau sudah membantu!" kata Dyah Krusina kepada Dwi Garani.

"Ekh, Mbak mengenalku?"

"Haha, tak ada yang lepas dari mata tajam Nimas Tresni. Apa yang akan dan apa yang terjadi sudah berada dalam perhitungannya."

"Siapakah itu, Mbakyu?" tanya Astadewi.

"Kau akan segera mengetahuinya, Nimas," kata Dyah Krusina misterius.

"Tahu, ah!" Astadewi cemberut.

"Akh, kau memang manja. Dia adalah istri Kakang Gardapati."

"Hah, kapan Kakang menikah?"

"Si setan perempuan itu menikah selagi menghilang. Hampir mati aku memikirkannya, dia malah enak-enakan. Aku bersumpah akan mengetuk kepalanya dengan lidi," kata Dyah Krusina jengkel.

"Tapi Mbakyu mengenalnya?"

"Tentu, kau akan menyukainya, Nimas, karena sifatnya tidak begitu jauh darimu, hanya saja ia lebih berkesan misterius."

"Terserah Mbakyu sajalah."

Dyah Krusina merogoh sakunya. Mendadak Kama datang, melihat Dyah Krusina, ia langsung berlutut. "Ketua?"

Dyah Krusina memandang Sagara Angkara dengan senyum penuh arti, buru-buru ia membangunkan Kama.

"Ini adalah Lencana Dhara Sesat. Kau ambillah."

"Tapi... itu..." Sagara Angkara tergagap.

"Ambillah, kau akan membutuhkannya. Sesungguhnya banyak anggota kita yang membaur di kalangan masyarakat awam. Bila kau mengetahui salah satu dan menunjukkan lencana ini, mereka akan mematuhi setiap perintahmu."

Ragu-ragu, Sagara Angkara mengambilnya. Lalu, Dyah Krusina memegang pundak Garwita. Jemarinya yang lentik memegang telinganya dan memasukkan sesuatu.

"Apa ini?" Garwita heran.

"Tenaga dalam penyerap yang diendapkan! Dengan menggunakan tenaga sakti ini, engkau bisa mengirimkan pesan kepada orang yang ingin kau tuju dengan pengerahan konsentrasi. Sebenarnya tenaga endapan ini tak perlu jika kau menguasai ilmu silat. Tenaga endapan ini hanya bertahan selama empat hari."

"Terima kasih."

"Kau jangan ragu. Kami akan memandumu. Nah, Antari, Anudhari..."

"Ya, Mbakyu."

"Tunaikanlah apa yang diperintahkan guru kalian masing-masing."

"Tapi?"

"Kau jangan khawatirkan di sini. Kata Nimas Tresni, untuk selanjutnya kau tidak akan kembali ke tanah ini. Hanya anak cucumu nanti sajalah yang memiliki kemungkinan untuk kembali ke tanah kelahiranmu ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment