Chapter 107
"Alasannya kau akan menemukannya sendiri nanti."
"Kapankah sebaiknya kami pergi?"
"Asal kalian tidak boleh lewat nanti malam saja!"
"Baiklah, Nimas Dewi, sekarang juga kami akan pamit."
"Antari?"
Antari dan Astadewi berpelukan erat setelah saling mengusap air mata. Antari melesat pergi.
"Dewi?"
"Anudhari."
Kembali keduanya berpelukan, lalu melakukan apa yang dilakukan Antari. Kepergiannya membuat Astadewi sedih juga; bagaimanapun kedua orang itu sudah lama menemaninya ke mana pun ia pergi.
"Sekarang kita pun pergi. Aku kemari hendak menjemputmu."
"Tapi bagaimana dengan...?"
"Keberadaanmu di sini hanya akan jadi penghalang. Masing-masing harus memiliki peranan," tegas Dyah Krusina.
Dyah Krusina menatap Garwita. Dengan pengerahan konsentrasi, ia berkata, "Sebarkan anggota sekarang di dekat markas musuh. Kakang Gardapati juga sedang berusaha memancing sebagian besar kekuatan mereka. Jangan terlambat, satu malam dua hari lagi adalah waktunya."
Garwita terkejut. Di telinganya terdengar sebuah bisikan yang meresap ke dalam otak. Ia pun memulai pengalaman pertamanya.
"Baik."
Setelah mengatakan itu, ia merasakan tubuhnya panas dingin. Sagara Angkara terkejut. Ia segera menempelkan telapak tangannya dan menyalurkan tenaga dalamnya.
"Kau hebat sekali, Nimas, cukup baik untuk pengalaman pertama. Hanya saja pikiranmu terpecah dua. Sebaiknya jika tak terpaksa, kau cukup mendengar saja. Kami akan memandumu."
"Baik!"
Dyah Krusina memakai kerudungnya dan menggandeng Astadewi. Keduanya menghilang lenyap dari pandangan.
"Kakang Sagara, Mbakyu Dwi, segera sebarkan anggota mengepung markas!"
"Hemm, baiklah, jika itu memang keputusanmu," jawab Sagara Angkara.
"Yani!"
"Aku tahu, Kakang! Permisi."
Aryani berkelebat lenyap. Sagara Angkara menggandeng tangan Garwita dan berkelebat lenyap, menyusul Dwi Garani diikuti yang lain. Tanah lapang ditiupi angin bercampur debu. Pertapa Berjari Empat dan Gardapati berdiri di tengah lapangan.
"Kau sudah paham dengan kelima Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas yang kuajarkan barusan?"
"Sedikitnya aku paham. Hanya..." jawab Pertapa Berjari Empat.
"Hanya apa?"
"Mengapa tak kau ajari aku Jurus Telapak Iblis dan Dewa Dunia Persilatan saja?"
"Kau bodoh. Kuberikan kau jurus intisari dari segenap ilmu silatku yang sudah kulebur menjadi satu. Sekarang kau meminta jurus yang banyak kelemahan itu?"
Pertapa Berjari Empat tertegun. Masakah si empunya menghina jurus kebanggaannya sendiri dan membanggakan jurus barunya ini?
"Hanya lima jurus?"
"Ya, hanya lima jurus!"
"Kudengar kau memiliki ribuan ajian dan kesaktian, masakah hanya dilebur menjadi lima jurus?"
"Sebenarnya malah aku ingin meleburnya menjadi satu. Namun, aku masih tak sehebat mendiang Pendekar Seribu Diri. Jadi, aku hanya bisa mengubahnya menjadi lima."
"Aku tak mengerti..."
"Kau adalah keturunan mereka. Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini?"
"Ah, aku terlalu bodoh!" keluh Si Pertapa Berjari Empat.
"Semakin bodoh orang, semakin pintarlah dia," kata Gardapati. "Ingatlah, Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas adalah jurus tanpa bentuk pasti. Rasakanlah setiap perubahan dengan tenang. Hati-hati!"
Gardapati menghentakkan kakinya pada tanah. "Bwwuurrrr!" Debu di lapangan membumbung tinggi, membungkus keduanya. Para anggota Istana Dewa Iblis berdatangan, namun tak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam lingkungan debu yang bergumul itu. Dengan nekat, salah seorang dari mereka menginjakkan kakinya di tanah lapang yang memiliki pergumulan debu dahsyat tersebut.
"Arrgggghhh!" jeritnya pilu. Tubuhnya terseret kepulan debu yang berjubel dan berseliweran dahsyat. Anehnya, gulungan itu sama sekali tak keluar dari lapangan, hanya terbang ke angkasa seperti pilar penyangga langit.
Beberapa saat kemudian, "Brulll! Crat, crat!" Dari dalam gumulan debu memancar cairan merah berikut hancuran daging. Jelas sekali bahwa tubuh orang yang nekat itu telah dicacah habis. Pertapa Berjari Empat yang sudah diberitahu teori Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas merasa tegang. Beberapa saat ia tak bisa menggunakan matanya karena terjangan badai debu ciptaan Gardapati itu.
Kejap mata selanjutnya, Pertapa Berjari Empat sudah merasakan bahwa ia tidak mungkin bisa bertahan menghadapi terjangan badai yang mahadasyat ini. Maka, ia mengambil keputusan untuk menggunakan jurus pertamanya. Dengan kecepatan melawan kecepatan, kosongkan isi, rasakan gejala alam, biarkan tubuh menyatu dengan alam, kendorkan saraf, gunakan pernapasan dalam, tutup pernapasan luar, ambil duri menusuk darah kematian.
Awalnya ia tak merasakan hal apa pun, hanya sakit yang mengoyak kulit. Namun, rasa sakit menuntutnya untuk meningkatkan konsentrasi. Hampir saja ia pingsan, namun dalam kekritisan itu, hawa murninya bangkit mendorong tenaga olah kanuragan dan tenaga murninya untuk bekerja. Entah bagaimana, ia merasakan butiran debu itu begitu lambat; desiran angin, arah yang dituju, dan besar kecil debu itu terpeta jelas dalam benaknya. Tanpa sadar tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang tak bisa diukur lagi.
Menyerang sebelum diserang, menangkis sebelum ditangkis, menyampok sebelum disampok, menghindar sebelum tiba. Meski badai debu itu sangat hebat, tak membuatnya kewalahan. Semakin lama semakin pelan. Ia tak tahu sudah berjalan begitu lama. Ia mulai menggunakan jurus kedua dan selanjutnya. Memasuki jurus kelima, ia dengar teorinya sangat sederhana: "Semesta dalam dan semesta luar adalah sama. Kendalikan semesta dalam maka berarti mengendalikan semesta luar, menyatu dalam nada alam. Gejolak bara api karena kau adalah api, deburan air yang ganas karena kau adalah air, hembusan badai mengamuk karena kau adalah angin, kuat kekal berguncang karena kau tanah."
Entah pikiran dari mana, ia merasa Gardapati menggunakan jurus kelima untuk melatihnya, maka ia pun melakukannya. Ia mengendalikan badai itu sendiri dengan menciptakan pusaran badai dalam badai yang berlawanan arah. Karena keleluasaan dan kemendarahdagingan Gardapati lebih hebat, Si Pertapa belum dapat menghancurkan badai itu, hanya cukup melindungi dirinya saja. Terus diulang dan diulang.
Entah berapa lama, Si Pertapa Berjari Empat tak tahu. Selain menggunakan Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas hasil gubahan Gardapati, ia juga memasukkan beberapa teori miliknya sendiri. Kini ia tidak melawan, bahkan membiarkan dirinya menyatu dengan kekuatan mahadasyat yang diperlihatkan oleh badai ciptaan Gardapati itu. Dirinya betul-betul seperti bayangan. Ke mana pun dan bagaimana pun badai itu menerjangnya, seperti pedang menusuk bayangan. Amblas begitu saja.
Mulutnya malah menyunggingkan senyum tenang di tengah-tengah gulungan badai debu itu. Setelah mengulang beberapa ribu kali, ia mulai dapat mengikuti gerakan angin badai. Dengan mata batinnya, ia dapat merasakan gerakan debu maupun angin yang menyerangnya. Kakinya menjejak, "Wiiirrr! Blaaarrrrrrrr!"
Sudah sepekan ini para anggota Istana Dewa Iblis berdatangan dari segenap penjuru. Para penduduk sudah pergi entah ke mana. Bahkan keributan di sini sudah terkenal ke penjuru tanah negeri. Baik dengan sembunyi maupun terang-terangan, para pendekar berdatangan. Dalam kekacauan seperti ini, sepertinya Istana Dewa Iblis tidak berani membantai mereka. Si Penjaja Bambu melihat kejadian itu dengan hati kebat-kebit.
Nasib Si Pertapa Berjari Empat masih menjadi tanda tanya. Jika melihat korban para anggota Istana Dewa Iblis yang berupaya masuk, jelas kematian dan kehidupan berbanding sembilan puluh dengan sepuluh bagian; lebih condong pada kematian.
"Lihatlah apa yang dia lakukan pada sahabat kita, percuma saja kita mempercayainya!" bisik Si Jelita berbau harum Keki. Saat ini mereka mendekam di atas genting dengan pakaian serupa dengan genting itu sendiri.
Mendadak dari gulungan debu itu meledak sebuah kekuatan mahadasyat. Semua orang terpana. Debu yang berterbangan mulai rontok. Semua orang menunggu dengan perasaan berkecamuk. Perlahan sekali, ketika keadaan mulai normal, terlihatlah Si Pertapa Berjari Empat duduk tenang dengan pakaian atas tercabik-cabik, sedang Gardapati sama sekali tak mengalami kejadian apa pun.
"Bunuh!" teriak para petinggi Istana Dewa Iblis.
Ratusan pasukan Istana Dewa Iblis yang mengelilingi tanah lapangan seperti banjir datang menghadang. Para pendekar dari kejauhan melihat hal itu sudah dapat memastikan bahwa kedua orang itu akan mati. Namun, kenyataannya ternyata jauh dari perkiraan orang.
"Lihatlah para debu ini mengepung kita!" kata Gardapati dingin menggelegar. Untuk sejenak para pengepung itu berhenti di tempat. Mereka sibuk menutup telinga mereka. Di antara mereka ada beberapa yang mengucurkan darah. Belum sirna kekuatan teriakan menggelegar itu, mendadak Si Pertapa Berjari Empat juga ikut berpartisipasi menyumbangkan tenaga dalamnya pada suaranya yang juga menggelegar.
"Huahahahah! Lihatlah mereka datang mengantarkan nyawa mereka pada kita. Bagaimana, apa kita bantai mereka sekaligus?"
Para anggota Istana Iblis yang memiliki tenaga dalam rendah adalah yang paling menderita. Percakapan yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu benar-benar mengganggu mereka. Keadaan menjadi kacau balau. Mendadak Iblis Kembar Bumi datang ke sana. Dia membentak nyaring, "Serang!"
Terbukti, bentakan itu cukup meredakan suasana. Mereka kembali stabil.
"Membunuh mereka adalah terlalu mudah, kita bermain-main saja dahulu. Lumayan untuk buang-buang waktu kita yang berharga," Gardapati menjawab dengan tenaga yang dilipatgandakan.
Keadaan kembali kacau. Beberapa dari mereka menjerit ngeri dan ambruk dengan gendang telinga pecah.
"Sesuai kehendakmu, sahabatku. Apakah ini orang yang menjadi komplotan anjing-anjing itu?" Iblis Kembar Bumi marah bukan main. Lawan melecehkannya dengan terang-terangan. Tangannya terkepal erat, matanya merah membara. Dia merasa gusar bukan main.
"Kalau itu adalah komplotan anjing, berarti dia adalah kepala anjing, huahahaha. Nah, kepala anjing..."