Chapter 108
"Bagaimana kabar sahabat anjingmu yang satunya lagi?" Gardapati mengejek.
Jangan dikira mereka hanya mengobrol biasa. Mereka mengobrol dengan menyalurkan tenaga dalam. Suara mereka tidak jauh berbeda dengan suara geledek. Para pendekar yang berada di kejauhan merasa tubuh dan telinga mereka digetarkan dengan dahsyat, debaran jantung mereka berdetak dua kali lebih cepat.
"Brengsek!" Dia menjejak dan berteriak lantang. Sebuah pukulan kosong dahsyat yang mengandung tenaga dalam inti bumi dilepaskannya. Gardapati justru kesenangan dengan pukulan kosong lawan tersebut. Dengan menyusupkan suara ke telinga Pertapa Berjari Empat, Gardapati memberitahukan apa yang sebenarnya harus dilakukan.
"Jurus pertama. Jangan menghalangi arah serangan." Secara berbarengan, Gardapati dan Pertapa mengerahkan jurus pertama. Si Penjaja Bambu melihat dua orang di tengah lapangan hanya berdiri santai saja. Amurti hendak maju, namun Si Kalajengking Perajut memegang bahunya agar diam di tempat. Mata mereka terbelalak melihat pukulan udara kosong itu menembus tubuh keduanya dan malah menghantam anggota Istana Dewa Iblis yang berada di seberang.
Iblis Kembar Bumi juga terperanjat dibuatnya. Kegusarannya memuncak, namun mendadak dua orang di lapangan itu berbalik kabur. Dari kejauhan Gardapati berteriak, "Saudaraku, kudengar mereka tak pernah melepaskan siapa pun yang kabur dari mereka. Bagaimana bila kita kabur saja? Kita lihat apa mereka punya kemampuan untuk mengejar kita." Karena suaranya dikerahkan dengan tenaga dalam, suara itu menggelegar ke mana-mana.
"Ah, aku bingung mengapa kita harus kabur, padahal membunuh mereka semudah membalikkan tangan," tak kalah sengit, Si Pertapa Berjari Empat juga ikut memanasi. Kemarahan Iblis Kembar Bumi benar-benar mencapai puncaknya. "Kejar dan bunuh mereka! Siapa pun yang berhasil membunuh mereka, akan kuberikan hadiah besar!" teriaknya lantang.
Tak nyana, dari kejauhan terdengar lagi suara Gardapati, "Wah, kepala kita dihargai begitu mahalnya, kita harus bersyukur setidaknya kepala kita lebih berharga daripada kepala anjing."
"Apa sih yang berharga dari seekor anjing?" terdengar sahutan dari jauh.
"Huaaaaa!" Iblis Kembar Bumi marah dan mengejar. Berbondong-bondong anggota Istana Dewa Iblis ikut mengejar tuannya sendiri. Para pendekar yang terkesima akan kejadian ini juga ikut mengejar, sedang beberapa dari mereka pergi. Entah pergi ke mana, tidak seorang pun yang tahu.
"Mengapa kita berlari?" di pertengahan jalan, Pertapa Berjari Empat yang memiliki sikap berangasan namun jujur itu bertanya.
"Sebisa mungkin kita harus mengulur waktu sampai bulan gelap datang."
"Mengapa?"
"Pasukan Dewa Dunia Persilatan yang bersatu dengan Dhara Sesat—yang sedang membalas dendam atas pengkhianatan yang diterima mereka—akan mengepung markas mereka. Dan mereka akan bekerja pada waktu bulan gelap."
"Hah! Jadi latihan di tengah lapangan itu hanya tipu muslihat agar memancing sebagian perhatian mereka kemari?"
"Kau benar. Namun, aku tidaklah pelit; adalah keberuntunganmu menguasai Jurus Alam Semesta Mayapada Cakrawala Tanpa Batas."
"Apa kau tak berniat mengajarkan ilmu ini kepada yang lain?"
"Meski berniat, waktunya sudah mepet. Biarlah itu menjadi keberuntunganmu. Salah mereka sendiri tak mau menuruti usulku."
"Sekarang kita akan ke mana?"
"Rawayan (Jembatan Gantung) Cadas Cucuk."
"Rawayan raksasa itu? Tapi untuk apa?"
"Kita lihat saja nanti!" Setelah berlarian, mereka melihat Rawayan itu sudah berada di depan mata. Rawayan itu terdiri dari dua bentangan. Bentangan pertama sekitar sepuluh menit perjalanan, lalu terdapat dataran luas seluas lapangan di sana, cukup untuk berkumpulnya sekitar seribu orang. Disambung dengan bentangan kedua yang empat kali lebih panjang.
"Kita harus selekasnya berada di lapangan menuju bentangan kedua."
"Baiklah." Lalu keduanya mempercepat gerak mereka. Karena kemampuan mereka termasuk tataran tinggi, hanya dengan menginjak talinya saja mereka dapat berlari dengan pesat. Keduanya berlari sambil bergandengan tangan. Tak begitu lama, mereka dapat mempersingkat waktu berkat kemampuan mereka yang saling menyokong.
Keduanya berpaling melihat sederetan pasukan datang menyerbu yang dipimpin oleh Iblis Kembar Bumi. "Mau lari ke mana lagi kau berdua, hah!" bentaknya nyaring.
"Tak usah kesusu. Kami tidak ke mana-mana. Kami hanya menunggumu di sini," teriak Gardapati dingin.
"Sebenarnya, apa yang akan kita lakukan?" bisik Si Pertapa Berjari Empat.
"Kau berdiamlah di dekat bentangan kedua. Sekarang!"
"Baiklah!" Dari kejauhan, Iblis Kembar Bumi tampak seperti sebuah bayangan hitam. Dari bayangan itu melesatlah sebuah cahaya hitam berbau busuk menyergap.
"Hemmm, jurus Pelintir Bumi ini terlalu cetek untuk dihadapkan padaku!" lirih ucapan Gardapati. Namun, Iblis Kembar Bumi dapat mendengarnya dengan jelas. Tangan Gardapati dikibaskan. Ujung jubahnya mengirimkan serangkum hawa panas berjubel dengan angin menggila. "Duaarrrr!" Gardapati bergetar, sedang Iblis Kembar Bumi terpental ke belakang menghantam anak buahnya.
Dengan sigap ia bangkit kembali dan menerjang. Kali ini ia tak berani gegabah. Di sudut selatan tempat Gardapati berdiri, di belakangnya adalah bentangan kedua. Keduanya berhadapan; semakin lama, semakin banyak berdatangan anggota Istana Dewa Iblis. Mereka berjubel membentuk lapisan yang tak bisa dibendung dari tiga sudut.
"Kau takkan bisa lari lagi. Sekali engkau berlari ke sana, cukup memotong tali Rawayan ini maka kau akan mati. Rawayan Cadas Cucuk adalah sebuah kuburan kematian. Setinggi apa pun ilmumu, begitu jatuh kau akan binasa di antara lautan cadas yang runcing. Haha!"
Gardapati tertawa terbahak-bahak. "Seekor harimau takkan berani memburu kerbau jika ia tak memiliki cakar dan taring. Begitu pula kami. Kami takkan kemari jika kami tak memiliki pegangan yang kuat!"
Gardapati melesat kepada Si Pertapa Berjari Empat, dia mengempitnya dengan sekali gebrak. "Kita kabur, jangan bergerak!" bisik Gardapati.
"Srett!" Gardapati memotong jembatan dengan tenaga dalamnya, lalu meloncat dan menjadikannya sebuah ayunan. "Yuhuuu!" pekiknya nyaring. "Sampai jumpa di Markas Kepala Dua!" Semua orang terpanah dibuatnya.
Mendadak semua orang dikejutkan dengan teriakan dari belakang. "Buka jalan!" teriak Iblis Kembar Bumi. Dengan teratur mereka membuka jalan. Iblis Kembar Bumi melesat ke belakang ke arah tempat dia datang tadi. Betapa terperanjatnya dia menyadari bahwa Rawayan itu sudah dibakar orang. Sejenak ia tertegun.
Kembali terdengar teriakan aneh. "Apa itu!" "Hujan hitam!" Iblis Kembar Bumi tahu keadaan buruk. Berkat kepandaiannya yang tinggi, ia berlari di antara Rawayan yang terbakar, tapi tidak dengan anak buahnya. Seperti terbang ia menyeberanginya.
Mendadak Rawayan jatuh. Iblis Kembar Bumi terperanjat. Ia meloncat tinggi menggunakan tenaga terakhirnya. Naas, tenaga loncatannya kurang sedikit sehingga ia melorot di atas tebing curam. Sigap tangannya meraih akar beringin. Tubuhnya bergelantungan. Ketika melirik ke bawah, seluruh bulu romanya berdiri. Sejenak ia menenangkan diri. Setelah pikiran jernih, ia melihat di atas sana banyak akar yang bisa digunakan untuk naik. Begitulah, dengan memanfaatkan akar itu akhirnya ia selamat.
Betapa gusarnya ia ketika melihat dari kejauhan hujan panah yang rapat seperti air hujan susul-menyusul memberantas anak buahnya. Jeritan kematian bergema dan menjadi irama kematian yang sangat menyedihkan. Iblis Kembar Bumi menggerung gusar dan memukulkan serangan kosong pada pepohonan di dekatnya hingga tumbang berguguran.
Dari kejauhan, Gardapati dan Pertapa Berjari Sakti melihat pembantaian itu dengan sedikit pilu.
"Sudahlah, jika ini tak dilakukan, kita takkan bisa meraih keuntungan," Gardapati menepuk pundak Si Pertapa Berjari Empat.
"Bukan itu yang kumaksud."
"Tapi apa?"
"Aku tak menyangka kau sudah merencanakan siasat seperti ini."
"Untuk memperoleh kemenangan, siasat menipu teman terlebih dahulu adalah siasat yang jitu demi terjaganya suatu siasat."
"Tep!" Mendadak seseorang datang. Mereka rupanya adalah Adi Praja dan Drajasengkala.
"Kalian sudah bekerja dengan baik," puji Gardapati.
"Terima kasih, tapi Iblis Kembar Bumi selamat?" Drajasengkala gelisah.
"Tidak apa-apa. Itu sudah ada dalam perhitunganku! Kalian hebat dapat menciptakan alat yang begitu luar biasa seperti itu."
"Haha, tuntutan kadang memaksa otak untuk bekerja maksimal. Iblis Kembar Bumi pasti akan menyangka bahwa yang memberontak berjumlah ribuan menilik dari panah yang kita lepaskan tadi. Padahal kenyataannya itu atas ulah kita berdua saja, haha!" Adi Praja tertawa gembira.
"Panah tadi hanya dilepaskan oleh dua orang?" Si Pertapa Berjari Empat terbelalak.
"Benar, dengan memanfaatkan pohon sebagai ketapel, kita melemparkan ribuan panah ke atas langit. Meski tidak dipanahkan, namun panah yang jatuh dari ketinggian seperti tadi jelas akan membawa kematian," Adi Praja bangga.
"Oh ya, ini adalah sahabatku, Pertapa Berjari Empat."
"Kami adalah..."
"Aku sudah tahu, kalian adalah Drajasengkala dan Adi Praja yang bergelar..."
"Haha, sudahlah, cukup kau panggil nama kami saja, Pertapa."
"Hem, baiklah."
"Mari kita kembali kepada rombonganmu," kata Gardapati seraya melepaskan kerudungnya.
"Caranya?"
Gardapati, Drajasengkala, dan Adi Praja tersenyum misterius. Secara bersamaan ketiganya tertawa terbahak-bahak. Si Pertapa Berjari Empat melihatnya dengan tanya dalam benak.
"Wah, indah sekali, Mbakyu Dyah!" Astadewi melirik kiri dan kanan. Seluruh penjuru adalah bangunan yang megah. Salah satu bangunan indah itu adalah sebuah istana utama yang mempunyai pelataran bersih dan menawan. Lantai pelataran itu terbuat dari logam putih mengkilap; saking mengkilapnya, mungkin bisa dipakai untuk bercermin. Pelataran itu memanjang sepanjang bangunan bersusun sembilan, dan mempunyai tangga sembilan baris.