Chapter 109
Di depan pelataran itu terdapat hamparan rumput pendek yang rapi berwarna hijau. "Sangat menakjubkan, pantas si setan perempuan itu betah di sini!" gumam Astadewi dengan mata melebar dan mulut terperangah. Tingkahnya seperti anak kecil yang diberi permen.
Di samping istana itu terdapat menara di setiap sudutnya. Bangunan tersebut memiliki semacam benteng emas berukir kelas tinggi dan rumit yang mengelilingi bangunan utama. Benteng emas berhias permata itu memiliki pintu lengkung yang juga terbuat dari emas. Pintu itu terdiri atas dua daun pintu yang saling bertaut. Di bagian tengah di antara dua daun pintu tersebut terdapat hiasan dari berlian yang berbentuk pedang saling menyilang.
Mendadak pintu itu terbelah dua. Dari sana keluar sembilan perempuan cantik berpakaian serba hijau. Pakaian mereka hanya berupa penutup dada dari kain yang dibelit, sementara bagian bawahnya hanya kain sebatas lutut. Tubuh mereka langsing; pundak, lengan, pinggang, kaki, dan perut mereka terbuka lepas tanpa kain penutup. Mereka mengenakan alas kaki bertali dari kulit beruang yang melilit hingga di bawah betis.
"Pantas si setan perempuan itu betah di sini, pelayannya saja sudah memakai pakaian seperti ini. Pasti tangannya bergerilya ke sana kemari," gumam Astadewi. Dyah Krusina mendengarkan dengan geli. Pandangan mata para gadis yang berkesan ramah itu tertuju kepada keduanya. Mereka menundukkan muka untuk memberi hormat.
"Selamat datang di istana kami. Tuan Putri sudah menunggu kalian di taman," ujar salah satu gadis. Dyah Krusina mengangguk, lalu mengajak Astadewi melangkah memasuki istana tersebut. Sembilan gadis itu segera mendampingi di kanan dan kirinya.
Setelah masuk, Astadewi lebih memperhatikan keadaan istana yang penuh dengan kemewahan, keindahan, dan keanggunan itu. Astadewi memandang sekeliling bangunan berpilar perak berukir seekor ular naga berbelit yang sedang bertarung dengan harimau dengan hati berdecak kagum tiada henti. Di dalam istana itu, banyak gadis seperti kedua penyambut tamu tadi yang usianya rata-rata sekitar dua puluh dua tahun. Masing-masing mempunyai kecantikan yang berbeda, namun sama-sama menawan hati.
Di hadapan mereka membentang permadani berwarna hijau muda yang mengarah pada sebuah pintu di sudut kanan. Dengan dikawal oleh para gadis yang berbaris di setiap sisi permadani, Astadewi dan Dyah Krusina masuk ke dalam pintu yang terbuat dari berlian transparan sehingga memperlihatkan isi ruangan di dalamnya.
Setelah pintu dibuka, muncul sosok seorang perempuan yang masih tergolong muda, namun memiliki aura misterius sehingga orang akan menyangka bahwa gadis ini sudah berumur cukup matang. Wajahnya cantik, memakai pakaian bangsawan berwarna hijau muda. Perutnya buncit dan ia sedang memangku seorang bayi.
Setelah masuk ke taman, Dyah Krusina membuka jubahnya. Ternyata ia pun memakai pakaian yang sama. Kemudian ia beranjak ke sisi gadis itu dan mengambil bayi tersebut. "Nimas Dewi, ini adalah anakku yang sudah kukatakan padamu."
Astadewi yang terkejut langsung melompat ke sisi Dyah Krusina, melihat bayi mungil dan manis itu dengan gemas. Ia mencubit pipinya hingga bayi itu bangun dan menangis. "Loh, kok menangis?" tanya Astadewi bodoh.
"Ah, kau mencubitnya terlalu keras, Nimas," kata gadis cantik itu.
"Begitu ya! Mbakyu, aku juga mau baju seperti kalian."
"Haha, tentu saja, untuk adikku yang manis," kata gadis itu. "Oh ya, nama Mbakyu itu Nawang Tresni ya. Panggil saja Mbakyu Tres!"
"Ahaha, sesukamu sajalah!"
*Plok, plok!* Nawang Tresni menepuk tangan. Kemudian, muncul seorang pelayan membawa sebuah baki. Nawang Tresni mengambil kain di atas baki itu; rupanya baju yang serupa dengannya, hanya saja berwarna nila.
"Ini sengaja aku buat khusus untukmu!"
"Terima kasih, Mbakyu!" Astadewi mengambil baju itu dan mencocokkannya dengan tubuhnya, lalu memeluk Nawang Tresni. Dia berkata dengan jelas, "Pantas Mbakyu Dyah mengatakan engkau serupa denganku. Kau memang baik, seperti aku."
Nawang Tresni cekikikan geli. Tiba-tiba ia memekik nyaring. Rupanya tanpa sungkan Astadewi melepaskan segenap pakaian yang dimilikinya hingga bugil. Meski terkejut, Nawang Tresni mengakui bahwa tubuh Astadewi benar-benar indah. Sama sekali tak terlihat bahwa tubuhnya pernah dijamah lelaki.
"Kata Mbakyu Dyah, engkau sering berhubungan dengan lelaki. Tetapi aku sama sekali tak melihat tubuhmu pernah dijamah orang, Nimas!"
"Hehe, itu karena ilmu yang kupelajari, Mbakyu. Semakin aku sering berhubungan, tubuhku semakin bagus seperti ini. Aku tak mau berhenti berhubungan karena aku tak mau diperawani lagi."
"Diperawani lagi?"
"Hem, jika selama satu purnama aku tidak disentuh lelaki, keperawananku akan kembali. Dan aku tak mau merasakan sakitnya," jawab Astadewi blak-blakan. Pelayan yang mengantar baki itu memerah malu. Tak disangka, Nawang Tresni juga menimpali, "Diperawani memang sakit, aku juga tak mau lagi. Mau langsung enaknya saja!"
"Huss, kalian ini!" tegur Dyah Krusina. Astadewi dan Nawang Tresni saling berpandangan, lalu cekikikan.
"Sudahlah, Nimas, bagaimana langkah selanjutnya?"
"Emm, jangan khawatir. Kita akan menonton di sini saja. Segala rencana sudah kusampaikan kepada Nimas Garwita."
"Menonton? Apa kita akan kembali ke dunia persilatan?"
"Tidak, mari ikut aku."
Astadewi dan Dyah Krusina mengekor. Nawang Tresni mengucek-ucek air dan meniupkan mantranya. "Nah, itu dia Kakang Gardapati!"
"Ekh!" Astadewi terkejut ketika melihat Gardapati mengobrol dengan si Penjaja Bambu. Di sisinya, Drajasengkala dan Adi Praja juga ada.
"Jadi sekarang kita harus pergi ke Hutan Rawa Angker?"
"Ya."
"Sekarang?"
"Besok. Kan katamu tadi sekarang, kenapa kok berubah lagi?"
"Ya sudahlah. Bagaimana kita bisa menghindar dari anggota Istana Dewa Iblis?"
"Hoalah, kalian sudah kapok dulu aku santroni, ya?" tanya Gardapati.
"Hehe," Amurti tertawa ringan.
Dengan menggunakan kuda, rombongan itu pergi ke Hutan Rawa Angker. Baru saja melewati dua dusun, sepasukan anggota Istana Dewa Iblis datang menyerang. Gardapati mendengus; sekali kebaskan tangan saja, empat hingga lima orang terpental menabrak dinding.
Seperti anak panah yang menembus dedaunan, rombongan itu membelah barisan. Si Pertapa Berjari Empat merasa kesenangan karena sudah lama ia menginginkan hal ini. Dengan gagah berani, ia melancarkan pukulan-pukulan dahsyat dari atas kudanya sendiri. "Rasakan ini! *Syuutt! Blaarrr!*"
Dengan keahliannya, si Penjaja Bambu menggunakan bambu-bambu sebagai senjata maut yang mematikan. *Cepp, cep, cep!* Dengan mudah, siapapun yang menyerangnya mati tanpa suara. Permainan senjatanya memang sudah memasuki taraf kesempurnaan. Begitu pula dengan yang lain.
Setelah membantai habis dan membiarkan yang kabur, rombongan itu terus maju. Tampak mayat bergelimpangan dengan berbagai macam kondisi; kematian mereka sangat kompleks. Ada yang mati dengan mulut berbusa, terkena senjata tajam, hingga tubuh yang remuk.
Perjalanan itu berlangsung selama beberapa hari dan malam. Pagi itu suasana sangat cerah, secerah awan di langit yang biru. Beberapa awan berarak beriringan. Si Penjaja Bambu berbisik kepada Drajasengkala, "Bukankah kalian adalah kaum hitam? Mengapa bergabung dengan kami?"
"Haha, kami hanya mengikuti ke mana pun orang ini pergi saja. Kami berutang budi kepada kekasih dan kepada dirinya. Meski jiwa kami melayang, pengabdian dan kesetiaan kami tetap akan selalu melekat dalam jiwa."
Si Penjaja Bambu salut akan kesetiaan orang ini. Dia kembali berbisik, "Siapa yang mengajari ilmu senjata rahasia dan konstruksi jebakan kepada kalian?"
"Tentu saja DIA, siapa lagi?"
"Kalian, berhentilah berbisik-bisik. Telingaku panas mendengarnya!" si Pertapa Berjari Empat mengumpat. Gardapati tertawa saja lalu memacu kudanya lebih cepat.
"Praja, bagaimana dengan konstruksi bangunan beserta jebakan di Istana Dewa Iblis yang secara diam-diam kuperintahkan padamu?"
"Beres, gambarnya juga sudah kuambil."
"Kalau begitu, selekasnya kita cari tempat aman untuk menjelaskan medan."
"Begitu pun baik."
"Semuanya, kita berhenti dan memulihkan kekuatan di goa ini," seru Gardapati ketika menyaksikan sebuah goa yang ditutupi rimbunan pohon.
"Kenapa kita berhenti di tanah yang begitu kosong?" Pertapa Berjari Empat mendumel.
"Coba kau kerahkan jurus ketiga."
Pertapa Berjari Empat menurut. Wajahnya tampak tenang seperti air yang dalam. Tiba-tiba ia membuka mata dan tertawa terbahak-bahak. "Haha, kau memang hebat. Ternyata jika sudah mencapai puncak akan seperti itu, bersikap biasa saja sama seperti mengerahkan ilmu. Baik, kita beristirahat di sini."
"Ilmu Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas ini benar-benar mukjizat. Beruntung aku mempelajarinya!" gumam si Pertapa Berjari Empat sambil menyingkirkan dedaunan yang menutupi sebuah liang. Ternyata di sana terdapat goa. Jika tak memiliki ilmu seperti Gardapati, jangan harap dapat menemukan goa tersebut.
Semua orang terkejut, tak menyangka bahwa di tempat seperti itu terdapat sebuah goa. Ini adalah sebuah keajaiban. Sedikit perasaan menyesal muncul dari hati sebagian mereka. Seandainya mereka menuruti apa yang dikatakan Gardapati tempo dulu, pasti mereka akan seperti si Pertapa Berjari Empat. Namun, mungkin itu yang dinamakan jodoh.
"Pulihkan tenaga kalian, biar aku menjaga kalian," kata Gardapati sambil berjalan ke mulut goa. Di sana Gardapati duduk dan memejamkan mata. Si Penjaja Bambu hendak menuruti, namun ia melihat si Pertapa Berjari Empat malah berdiri dengan tenang.
"Sejak latihanmu, biasanya kau selalu menurutinya. Mengapa hari ini kau malah berdiri di sana?"
"Siapa bilang aku tak menuruti? Saat ini aku bisa bersemadi di mana saja, kapan saja, dan dengan posisi apa saja!" dengus si Pertapa Berjari Empat.