Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 11

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 11

Meski terdapat banyak aliran ilmu silat di tanah Jawa, namun kali ini benar-benar berbeda. Pedang itu tak memiliki keistimewaan, sebaliknya pedang itu memang sesuai fungsinya untuk menebas. Aku Rangga, Siharimau, haus darah, benar-benar dipecundangi besar-besaran! batin Rangga dalam hati.

Mendadak, terdengar bentakan keras, "Apa kau sudah melupakan kami?" Suara bentakan itu bersamaan dengan datangnya sekelebatan sinar berwarna perak yang menyambar wajah Gardapati, namun sekelebatan sinar lainnya memapaki. "Trang......!" "Klontrang....!" "Crepp!" Tampak keempat utusan lainnya juga mulai turun tangan, di tangan mereka juga terselip berbagai senjata yang bermacam-macam.

Segera Gardapati meloncat mundur dan bersalto, lalu berdiri di samping Astradewi. Gardapati tersenyum lalu berkata, "Terimakasih atas bantuannya, Nimas Dewi." "Sama-sama, Kakang... tampaknya urusan sudah tak bisa didamaikan... bagaimana bila kita berpencar dahulu dan melakukan cita-cita masing-masing, lalu bertemu di malam Suro Empat Purnama nanti. Bila kita bersama, terlalu mencolok perhatian..." bisik Astradewi dengan mengerahkan ilmu penyampai suaranya.

"Begitupun baik!" Jawab Gardapati sambil memandang kepada lawan. Kedua belah pihak berpandangan, Dahyanti mengerutkan alis melihat pedang pandak yang ia lemparkan tergeletak di lantai begitu saja. Betapa terkejutnya ketika ia melihat di batang pedangnya tertancap sebuah sumpit dari bambu. Bila bukan seorang ahli, manakah mampu melakukan itu. "Luar biasa...!" desisnya lirih.

Dia tak bisa berlama-lama memandangi pedang pandaknya sebab Astradewi dan Gardapati telah mulai menyerang. Graha Sewatama menggunakan pedangnya dengan jurus Tiga Bayangan Pedang Bumi. "Srettt.....!" Tiga hawa pedang menerjang keduanya, Gardapati mendengus dingin... ia sabetkan pedangnya pada hawa pedang itu... "Trang......" "Apa, Hawa pedangku terbelah dua!" Gumam Graha Sewatama.

"Drakk...Drakkk..Blarrr!" Hawa pedang itu menghancurkan dinding rumah makan, Gardapati putar pedang dan sabetkan pedangnya sekaligus kepada Rangga, Ki Aswa, Graha Sewatama, dan Jiwatrisna. "Wirr....Srattt...!" "Tranggg.....!" Pedang itu tertahan oleh empat macam senjata berbeda. Sedangkan Astradewi nyelonong masuk dan menusuk Dahyanti, jubahnya mekar, dan pedangnya berkelebat. "Srettt,....!" "Trang...." "Wusss" Tubuh Astradewi terlempar ke arah selatan, sedangkan Gardapati juga yang melawan empat orang sekaligus tampak kewalahan, ia bersalto di udara.

Dengan memanfaatkan benturan pedang dirinya, mudah saja ia berjumpalitan dan mendarat dengan selamat. Astradewi di selatan dan Gardapati di utara... keduanya bersebrangan. "Sampai jumpa, Nimas Dewi" Gardapati berkelebat di jendela dan menghilang. "Sampai jumpa, Kakang Garda!" Seperti halnya Gardapati, Astradewi juga berkelebat lenyap.

Gusar bukan kepalang, keempat orang utusan perguruan golongan putih melihat buruan kabur. Mereka hendak mengejar, namun Ki Aswa menghentikannya. "Jangan dikejar... lihatlah pakaian kalian...!" Keempatnya tertegun dan menatap pakaian mereka, keringat dingin mengucur. Mereka kini sadar mereka telah dipecundangi. Beruntung lawan masih mengampuni.

Mengapa bisa begitu? Ternyata pakaian mereka terdapat sobekan-sobekan kecil bekas senjata tajam. Mereka sadar, jika lawan menginginkan darah, dengan mudah nyawa mereka melayang meninggalkan raga. Namun, ada yang mengatakan manusia boleh dibunuh asal jangan dihina. Wajah kelimanya merah padam dalam kemarahan.

Seorang pemuda tampan berjubah kelabu dengan rambut gondrong berjalan ngosngosan, perutnya berbunyi keruyukan seperti ayam betina sedang mengeram. "Aduh... ini hutan apa sih, sudah tiga hari aku kutatang-kutiting disini, belum juga aku temukan hewan, apalagi jalan keluar... wuaa, aku laparrrr...!" teriaknya lantang, namun sekeras-kerasnya orang yang kelaparan, seperti apakah suaranya bisa ditebak.

"Emhh... bau daging bakar...!" Gardapati mencium bau di daerah sekitarnya, "Enghhh" Gardapati tiba-tiba melihat seorang pemuda berambut sepundak berbaju merah sedang memakan daging ayam. "Makanan" Teriak Gardapati kesetanan, bagaikan setan saja ia melompat dan menerjang makanan itu, dimakannya makanan itu semampu yang ia bisa.

"Waa... Siapa kau!" Teriak pemuda itu. Namun, Gardapati mana perduli, ia makan terus makanan itu semampu yang ia bisa. Suara daging terobek dan kunyahannya begitu nyaring terdengar. "Tunggu... Tunggu... mengapa kau melahap makananku?" Pemuda itu berteriak gusar. Tapi ia lihat setan yang merebut makanannya tetap asyik makan.

"Sepertinya dia lapar sekali... Dia nggak bakal puas dengan makanan segitu saja, kalau begitu terpaksa...!" "Grauk...Graukkk...." "Aku harus makan semuanya sebelum dihabisi dia!" Seperti setan saja pemuda berjubah merah itu makan meniru pemuda berbaju kelabu yang tak lain Gardapati itu.

"Hei... Sejak kapan kamu berada di hutan ini?" tanya Gardapati memecah keheningan. "Dua hari yang lalu..." Jawab Pemuda berjubah merah singkat dan seenaknya. Lalu menimpali, "Kamu tahu jalan keluar dari sini?" "Jalan keluar atau masuk?" tanya Gardapati. "Yang mana saja" "Kalau aku tahu jalan keluarnya, nagapain aku susah-susah seperti ini... sudah tiga hari tersesat nih..." "Sama ya" Jikalau dicari terus pasti ketemukan?" Tanya Pemuda berjubah merah.

"Entahlah... kamu masih ada makanan untuk ransum kan?" tanya Gardapati. "Ini yang terakhir... happp...!" Pemuda berjubah merah itu memakan daging terakhir. "Mengapa kau habisin" dasar bodoh...!" Gardapati marah. "Masa bodoh, ini makananku... memangnya ini punyamu!" Lelaki berjubah merah menjawab santai.

"Akh... padahal kita tidak tahu sampai kapan kita akan tersesat di hutan ini!" Gardapati mengeluh. "Kamu sendiri sudah tersesat berapa hari?" "Tiga hari... mungkin" Jawab Gardapati "Hehe... ternyata kamu buta jalan, ya?" "Menghinaku" yasudah kau saja yang cari jalan!" "Haha... Jangan khawatir, soal mencari jalan aku jagonya...!" Tanpa lelah keduanya terus berjalan, hari sudah menggelap... namun jalan keluar ataupun jalan masuk tetap gelap, tak ada yang tahu.

"Ternyata kamu cuma banyak omong saja, sudah malam nih...!" "Jangan khawatir... lebih baik kita istirahat saja dahulu... mungkin kita sudah sampai di tepi hutan" Lelaki berbaju merah mulai mempersiapkan api unggun untuk bermalam, tak lupa ia gelarkan kain untuk tidur... "Srettt....!" Sigap sekali kain itu digelar, lalu ia menimpali lagi. "Malam ini tidur disini, besok kita tidur di penginapan desa terdekat" "Ekh... Aku mau tanya sesuatu, boleh?" "Apa...!" bukannya ini tulang daging bekas kita makan tadi...!" Lelaki berjubah merah diam, keduanya diam saling berpandangan...

"Hal-hal kecil besok saja dipikirkan, sekarang kita tidur...!" "Kau ini... Ini bukan hal kecil...!" Gardapati berteriak melengking, jeritannya hingga membangunkan binatang malam yang bertengger di pohon, malam semakin gelap... hanya bulan yang berbentuk cincin di langit yang menyaksikan tingkah mereka... Nyanyian malam semakin syahdu... mengirimkan dua orang yang terlentang pergi meninggalkan alam nyata... selamat datang impian...

Sekelebatan cahaya orange membelah langit di hutan yang entah apa namanya... cuitan burung bersahutsahutan... "Ukhg... Aduh... tidur di alam memang tidak bisa nyenyak...!" "Kemana dia...!" Lelaki berbaju merah celingukan... "Siang amat bangunnya, dasar lelaki pemalas...!" Gardapati muncul dari balik hutan dengan membawa dua buah kelinci putih bermata merah.

"Ini sarapan... Em... maksudku makan siang, karena aku yang berburu, kamu yang memasak... Adil kan?" "Mata lelaki berbaju merah melotot, tubuhnya gemetar keras... "Ke... keterlaluan... Apa yang kau lakukan, hah!?" "Apa...!" Gardapati tertegun heran. "Bagaimana kita bisa kenyang bila hanya dua kelinci... harusnya menangkap kijang kek... beruang kek..." "Hah... Namamu siapa sih!" Gardapati menghela nafas jengkel... "Arya... Orang memanggilku Si Pemetik Mawar Merah" "Oh... Ternyata kau hanya seorang penjahat wanita" Gardapati tak hiraukan orang lagi, segera ia menguliti daging kelinci itu, ditusuknya dengan ranting pohon lalu dibakar... Setelah selesai, Gardapati ambil bagiannya dan mulai bersantap, tanpa basa-basi lelaki berjubah merah juga ikut ambil bagian...

"Deg...!" Mata Gardapati melotot. "Perasaanku gak enak... padahal tidak ada apa-apa!" Gardapati celingukan. "Ada apa?" tanya Lelaki berjubah merah yang tak lain adalah Arya itu. Mendadak... "Waaa...!" "Syutt... Sreng...!" Gardapati mencabut pedang dan menyabetkannya. Namun ketika melihat tak ada kejadian apapun, ia melenggong, ia pandangi wajah pucat pias kawannya lalu berkata. "Hah... Jangan bikin kaget dong" "Kau... kau kira siapa yang lebih kaget... mengapa mendadak menyerangku dengan pedang?" "Lalu mengapa kau berteriak?" "Aku menginjak Arang...!" Arya menjawab enteng, Gardapati mendengus. Dan kembali makan.

Kembali keheningan datang, namun entah mengapa dan kepada siapa Gardapati berkata. "Akh... Apa kau juga tersesat, Tuan!" "Hebat... sungguh hebat... padahal tenaga dalamku sudah kusembunyikan!" Jawab sebuah suara di balik pohon, ketika ia memunculkan diri, tampak seorang kakek-kakek berjubah ungu dengan pakaian dalam putih kumal, sebatang tongkat tampak membantunya dalam berjalan... "Maaf, tapi caraku mendeteksi beda dengan orang kebanyakan" Gardapati merendah.

"Garda... sepertinya kita dikepung...!" Arya celingukan ke sana kemari. Tampak dari balik pohon muncul berbagai sosok manusia berjubah hitam. Gardapati tertawa ewa. "Haha... kamu baru sadar, ya?" "Apa Kau Si Iblis dunia persilatan, Gardapati" tanya kakek itu... Gardapati kerutkan kening, ia heran lawan menyebutnya Iblis dunia persilatan, namun ia juga yakin lawan memanggilnya "Aku memang Gardapati... namun Gelar Iblis dunia persilatan aku belum dapat menerima, mungkin kau salah orang" "Haha...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment