Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 110

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 110

Si Penjaja Bambu tertegun. Sebelumnya, Si Pertapa Berjari Empat itu berada di bawah kemampuannya, tetapi saat ini kemampuannya maju secara mengerikan. Dia adalah orang yang jenius dalam ilmu silat, tidak menyangka harus mengalami hal aneh seperti ini. Si Penjaja Bambu diam dan mulai bersemadi. Suasana gua begitu sepi, seperti kuburan di malam hari.

Gardapati membuka matanya. Dia mencabut sebuah pedang beronce kelabu. Dia menatapnya sejenak, lalu menatap Si Jelita Berbau Harum. Pedang itu diputarkannya dan dilemparkan dengan kecepatan kilat. Si Pertapa Berjari Empat yang sedang bersemadi terkejut, terdengar suara daging tertusuk. Dia bangkit dan melihat, rupanya seekor ular kobra tepat di kepalanya telah tertusuk oleh pedang tadi.

Si Pertapa Berjari Empat beranjak ke sisi Gardapati dan duduk. "Mengapa kau menolongnya?"

"Saat ini mereka adalah kawanku. Sejak dahulu, pantang bagiku membiarkan seseorang yang berada di bawah kepemimpinanku terluka atau menderita. Oleh karenanya, dahulu di antara semua orang, akulah orang yang akan pertama kali turun. Aku menyayangi mereka seperti keluarga, kuhormati mereka sebagai ayah, karena mereka memang sahabat ayah. Tak kusangka bahwa mereka akan mengkhianatiku," papar Gardapati penuh kesedihan dan kekecewaan.

Melihat Gardapati dirundung kesedihan masa lalunya, Si Pertapa Berjari Empat merasakan bahwa orang di sampingnya memang lelaki sejati. Meski membuat keonaran, kejam, ganas, dan menentang tiga golongan, entah mengapa ia merasa jauh di hatinya bahwa orang ini memiliki kesucian, ketulusan, dan kelembutan yang terkubur.

"Akh, sebenarnya bagaimanakah kejadiannya sehingga engkau berbuat keonaran dan menjadi musuh dunia persilatan?" tanya Pertapa Berjari Empat hati-hati agar tidak menimbulkan amarah di hati orang di sampingnya. Wajah Gardapati mengeras. Pertapa Berjari Empat terkejut dan mulai tegang, ia menunggu reaksi. Namun, setelah sekian lama, akhirnya ia melihat Gardapati tidak melakukan apa-apa.

"Maaf, jika itu menyinggung perasaanmu!" Pertapa Berjari Empat menghargai privasi Gardapati.

Gardapati tersentuh, ia mulai menenangkan diri. "Mungkin cerita ini akan panjang, kau sudi mendengarkan?"

"Tentu saja!"

Gardapati menarik napas cukup panjang, matanya terpejam, lalu mulai berbicara. Karena sedang larut oleh perasaannya sendiri, ia tidak sadar bahwa seluruh penghuni di gua itu sudah bangun dari semadi. Si Jelita Berbau Harum menatap punggung Gardapati dengan penuh rasa terima kasih. Dalam puncak semadinya, dia memang mendengar desisan ular di sampingnya, sungguh ia sedang menunggu kematian. Tak disangka terdengar suara daging tertusuk, desisan itu hilang, kemudian terdengar percakapan antara Pertapa Berjari Empat dan Gardapati. Sungguh tak terkira tersentuh hatinya, hati yang keras seperti batu mendadak mencair oleh kehangatan. Mendengar orang hendak bercerita, ia memasang telinga.

"Ketika aku berusia belia, jika tak salah aku baru berumur empat tahun. Aku hidup berbahagia dan berkecukupan. Ayahku putra mahkota, ibuku akan menjadi calon permaisuri. Siapa yang tidak bangga? Kemudian lahirlah seorang anak yang kemudian menjadi adikku. Kebahagiaan bertambah."

"Siapa yang menduga bahwa kehidupan itu akan berlanjut dalam kesenangan? Mendadak ayahku berkata hendak berkunjung ke Himalaya. Firasatku buruk, aku mencoba mencegah ayah. Namun, ayah berkata, 'Anakku, jangan khawatir, aku pergi bersama Adimas Raden Pakuan Wijoyo, pasti tidak akan ada masalah.' Aku semakin khawatir, memang Pangeran Pakuan itu memiliki ambisi besar! Tapi ayah ngotot."

"Kehidupan kami berjalan normal, tiba-tiba guntur itu datang. Kami mendapati Paman Pakuan pulang hanya bersama kawannya saja. Kami tahu sesuatu telah terjadi. Singkat cerita, dia memberitahukan bahwa ayah mati di tangan musuhnya. Kami bersedih untuknya. Akibat kejadian itu, adikku diasuh oleh dayang, ibu setiap hari hanya menangis dan menutup diri. Pada waktu itu juga aku telah dinodai dendam. Aku selalu mengecam apa pun yang berhubungan dengan Pangeran Pakuan. Mungkin takut ketahuan belangnya, ia jarang pulang ke istana. Kabar mengatakan bahwa ia menjadi seorang pendekar yang sangat hebat, juga secara tak sah diakui sebagai pendekar tanpa tanding."

"Siang itu tiba-tiba ada orang mengantarkan surat yang ditujukan padaku. Surat itu mengatakan bahwa pembunuh sebenarnya adalah Pangeran Pakuan. Di surat itu juga memberitahukan pesan-pesan yang harus dilakukan olehku. Waktu itu aku masih kecil, melihat tulisan itu mirip tulisan ayah, juga dengan tanda tangannya, aku percaya saja. Pada hari itu juga aku pamit kepada ibu untuk balas dendam dan belajar ilmu silat."

"Entah karena takdir, malam itu kebetulan Pangeran Pakuan pulang. Aku membujuknya untuk mengajari ilmu silat, tapi ia terus menampik. Ia mengalihkannya pada Perguruan Rajawali Emas. Akupun dibopong ke sana. Tak nyana di perjalanan maupun sesampainya di sana, banyak orang menghina dan mencibirku dengan alasan budak setanlah, inilah, itulah. Waktu itu aku memang tak paham, tapi aku ingat dengan apa yang dipesankan oleh ayah dalam surat. Mungkin itu alasannya."

"Setahun kemudian aku belajar di sana, aku sama sekali tak diberi ajar apa-apa selain dimarahi dan memasak. Aku bersabar. Pada usia sepuluh tahun, aku mulai terbiasa dengan hinaan dan penderitaan. Secara alami batinku menjadi kuat, namun bara dendam semakin memuncak hingga sering aku pingsan menahan dendamku. Pada waktu itu, guru yang mengajariku ilmu peringan tubuh mengajakku ke hutan, di sana aku harus terus berlatih. Hanya dia yang baik padaku. Dia pula yang mengajariku satu-satunya ilmu, itupun secara diam-diam, mungkin kasihan padaku. Bayangkan selama beberapa tahun, aku hanya mampu menguasai ilmu peringan tubuh, itu juga ilmu dasar. Betapa sakitnya hati ini. Orang itu adalah seorang koki di perguruan, dengan sendirinya tidak diperbolehkan untuk belajar silat, apalagi mengajarkan orang."

"Tragedi datang lagi, seseorang memergoki kami. Dia melaporkan pada ketua. Koki itu dihukum mati dan aku dihukum rangket, dendamku semakin memuncak. Pada suatu malam, aku memasukkan obat pelancar pembuangan pada makanan orang yang memergoki kami. Alhasil ia pergi ke hutan. Aku senang, dengan hati berdebar-debar aku lepaskan seluruh pakaianku agar nantinya tak menimbulkan jejak. Ketika dia tak waspada, aku memukulnya dengan batu, tapi apalah daya seorang anak kecil sepertiku. Aku terus dihajar babak belur, untungnya aku baru menyelesaikan hukuman jadi babak belurku tidak akan menuai kecurigaan."

"Dalam suatu kesempatan, tak sengaja aku mendorongnya pada bambu runcing, dan dia mati. Meski aku memiliki dendam melewati takaran, tetap saja hati nuraniku bangkit, aku menyesal. Tapi apa boleh buat. Menatap wajahnya, seperti menatap wajah koki dapur yang dihukum mati dibeset pedang, dendamku muncul lagi. Dengan kalap aku menyergapnya, aku tak sadar apa yang kulakukan. Ketika sadar, aku mendapati sedang bermandi darah, seluruh tubuhku dipenuhi dengan darah. Kuperhatikan orang yang memergokiku telah mati tercabik-cabik. Anehnya, aku bahagia. Ini tak wajar. Buru-buru aku membersihkan diri dan kabur membawa pakaian, lalu mengurung diri di kamar. Kematian orang itu meski mengagetkan, namun semua orang yakin bahwa makhluk buaslah yang melakukan itu. Perasaanku sedikit lega."

"Pada usiaku yang keempat belas tahun, aku tak tahan lagi mendapat hinaan yang menyakitkan, aku mencuri kitab Dewa Dunia Persilatan. Aku kepergok dan melarikan diri, kebetulan waktu itu adalah momen para petinggi sedang tidak ada. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah waktu pengeroyokan Iblis Bermata Hijau. Setelah dikejar, aku nyebur ke sungai dan ditemukan oleh Iblis Bermata Hijau, lalu dijadikannya murid. Ketika kecil, aku dipasangi semacam topeng dari kulit sehingga rupaku sendiri aku tak tahu. Setelah lulus perguruan, aku mulai berkelana. Baru saja berkelana, aku sudah diburu oleh orang. Bayangkan saja betapa terpojoknya aku. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan adik seperguruanku."

"Ketika aku sampai di sebuah hutan, aku bertemu dengan Arya Si Pemetik Mawar Merah, kami sangat cocok dan menjalin persahabatan, lalu menyusun rencana ke depan. Pada saat itu juga, kami bertemu dengan seorang kakek, kami bertarung, dan kakek itu menawariku menjadi ketua Ratan Wasana. Tapi aku melihat ada maksud tersembunyi dari kakek ini. Akupun mulai bersiasat. Aku tahu betapa besarnya kekuatan yang dipupuk Ratan Wasana, mustahil dihancurkan jika tak dipancing ke permukaan."

"Setelahnya, aku keluar dari hutan dan pergi ke Kampung Nagasari menghadiri sebuah sayembara. Pada waktu itu aku membuka topengku, aku cukup terkejut dengan wajahku, wajar saja belasan tahun aku tak melihat wajah sendiri. Dengan memberikan samaran kepada Arya, aku yang sudah digelari Iblis Dunia Persilatan memberikan topengku dan dipakai olehnya. Sesuai tujuan, kami mengacau di pesta itu. Mimpi pun aku tak tahu bahwa penyelenggara sayembara itu Paman Drajasengkala. Dengan membabi buta, Maharaja Dunia Persilatan memimpin kaum persilatan membantai mereka, untunglah puterinya berhasil selamat. Seorang putri yang berbahagia, tanpa tahu ujung pangkalnya harus berkelana di dunia persilatan tanpa bekal sama sekali."

"Kami bertemu, sekarang bukan lagi berbicara tentang dendam pribadi, melainkan dendam kelompok. Mendengar betapa ganasnya kaum golongan putih yang mengaku para pihak kebenaran, aku sedih, berujung dendam. Kemudian kami bertemu lagi dengan Nimas Ratih yang memiliki dendam yang sama. Setelah ada Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka Hitam, mereka selalu menasihati kami untuk membangun kekuatan yang besar, kami melakukannya untuk mencapai ambisi besar kami. Terlebih dahulu kami harus menghancurkan penghalang dan memiliki keseganan yang ditakuti orang. Dengan berbagai upaya, akhirnya kami berhasil memancing mereka, para anggota Ratan Wasana yang tersembunyi. Sesuai dugaan, ketika ambisi tercapai, kakek itu akan membunuh kami."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment