Chapter 111
Kami tak bodoh. Sudah lama kami memupuk kekuatan dengan memanfaatkan para murid perguruan besar yang memiliki hati tamak, lalu menghancurkan mereka dengan tiga kubu berbeda.
Kemudian, Gardapati menceritakan kejadian saat dirinya bertarung dengan Sagara Angkara, menderita luka, serta kemunculan sosok berkerudung hijau yang kemudian menjadi istrinya. Singkat cerita, kami memiliki sebuah istana yang kami namakan Istana Dewa Iblis. Pada waktu itu, ada kabar bahwa terjadi pemberontakan di daerah Kalawisa.
Kalian pun tahu apa kejadian selanjutnya. Untunglah istriku menyelamatkan nyawa kalian; pengkhianatan sedang terjadi. Sahabatku, Arya dan Ratih, tewas. Karena sedih, aku berniat mengasingkan diri. Dengan menandai musuh untuk menjadi diriku, aku pergi. Kemudian, aku bertemu seorang gadis di sungai, aku ikut ke rumahnya, dan di sana aku dibimbing secara rohani untuk kembali ke jalan yang seharusnya. Lalu, aku meneruskan kekerajaan Karang Bolong dan ditempa di sana.
Setelah keluar dari sana, aku mulai menyelidiki kejadian yang sebenarnya dari penelusuran ayahku. Tuhan berpihak padaku; aku bertemu dengan sang pengirim surat. Dari sana, aku menelusuri bahwa yang memberikan surat itu adalah Si Gila Dari Neraka Hitam. Tak puas, aku kembali ke kerajaan mengambil surat darah yang dulu dikirimkan. Betapa bodohnya aku, rupanya surat itu adalah surat buatan orang.
Aku sedih. Nama hancur, juga dibodohi dan diperalat orang. Ternyata dalam dunia persilatan, selain ilmu yang tinggi, pengalaman itu sangat penting. Aku pergi ke Jurang Mulut Dewa Neraka dan menelusuri kejadian yang sebenarnya. Di sana, aku menemukan sebuah surat darah yang ditulis Guru sebagai curahan hati dan disembunyikannya. Guru Sang Iblis pun ternyata menjadi korban keganasan mereka berdua. Dengan membutakan pikiran dan otak Guru, mereka memanfaatkan status Guru yang berada di golongan hitam.
Persahabatan mereka memang benar, tapi sesungguhnya ide yang kalian katakan sesat muncul dari mereka berdua. Ayah, Paman Draja, juga yang lain terpaksa menyetujui dan mulai menikmatinya secara perlahan dengan mengorbankan nama baiknya demi kata persahabatan. Itulah sesungguhnya yang terjadi. Mungkin saja faktanya masih ada dan banyak, tapi kini terlambat, semua sudah terjadi.
Mata Gardapati sembab menceritakan semuanya. Perasaan dendam, amarah, kesedihan, kebahagiaan, dan penyesalan semuanya dituangkan. Semua orang di gua itu mendengar curahan hati seorang yang dulunya iblis dengan perasaan campur aduk, seakan mereka menjalaninya sendiri. Mereka juga menangis terharu akan penderitaannya. Kini mereka tahu bahwa sesungguhnya kejahatan itu muncul karena tiga hal: kesempatan, keadaan, dan lingkungan. Pandangan mereka terhadap Gardapati berubah tiga ratus enam puluh derajat; yang awalnya masih membenci, kini menjadi simpati.
"Hah! Sudahlah, mengenang masa lalu memang sakit, tugas masih menanti kita," Gardapati menyadarkan semua orang.
Tanpa ragu, semua orang membentuk lingkaran dengan patuh, seakan siap mendengar setiap perintahnya. Gardapati terkesiap; tak disangkanya dengan mencurahkan hatinya, bukannya membenci, malah mereka seperti menghargainya. Dia terharu. Setidaknya masih ada orang yang memiliki nurani.
"Adi Praja, silakan."
"Baik." Adipraja mengangguk dan membentangkan sehelai kain yang tadi dibawanya.
"Ini adalah peta markas musuh."
"Tunggu dulu."
"Eng?"
"Kau sudah menyalin peta ini sesuai permintaanku?"
"Sudah, bukan hanya peta, tapi jebakan dan cara menghindarinya juga telah disalin," Danenra kali ini yang menjawab.
"Bagus. Agung, kau dapat menjalankan tugas?"
"Tentu!" Seorang pemuda berbaju putih dengan ikat kepala putih menjawab. Wajahnya tidak terlalu tampan, hanya kejujuran terpampang jelas dari raut wajahnya.
"Kirimkanlah salinan peta ini pada sebuah bangunan sederhana di Desa Rawa Kancil. Rumah itu memiliki sebuah pilar dari bambu kuning. Kau berikanlah salinan itu kepada orang yang bernama Sagara Angkara atau Garwita, selain itu jangan diberikan."
Pemuda yang bernama Agung tampak gembira dengan tugas itu, senyuman tanda tersanjung mampir di wajahnya. "Baik!" jawabnya tanpa sedikit pun ragu. Dia mengambil gulungan di tangan Danenra dan hendak keluar.
"Tunggu!" kata Gardapati sambil berdiri dan mendekat.
"Ada apa?"
Gardapati menepuk pundaknya dan menatap wajahnya. "Hati-hati, jangan membahayakan nyawamu sendiri. Ini adalah ikat rambutku, jika ada yang mempersulit dirimu untuk menemui mereka, tunjukkan ini."
Semangat pemuda itu bangkit berkali-kali lipat karena diberikan perhatian demikian; dia sangat tersanjung. Dia melihat bahwa ikat rambut itu terbuat dari kain sutra berwarna kelabu dengan sisi-sisinya dijahit benang emas, jelas ini bukan barang murahan.
"Tentu, matipun aku tak akan menyesal," jawabnya.
"Jangan pernah berpikir untuk mati, kembalilah dengan tubuh utuh dan tanpa suatu kurang apa pun. Paham?"
"Paham, terima kasih," jawabnya lembut.
"Pergilah, doaku menyertaimu!" kata Gardapati.
Percakapan itu tak terdengar oleh beberapa orang, tapi di kalangan para jagoan seperti Si Pertapa Berjari Empat, Kalajengking Perajut Asa, Amurti, dan Si Penjaja Bambu, percakapan itu sangat jelas. Dalam hatinya, mereka mengagumi sikapnya kepada para bawahan. Pantas di bawah kepemimpinannya, Istana Dewa Iblis mencapai puncak kejayaan.
Gardapati kembali duduk dan mempersilahkan Adipraja memulai pembahasan tentang alat rahasia, jebakan, juga jalan-jalan rahasia di markas lawan.
"Sebentar!" Si Jelita Berbau Harum menyela.
"Ada apa?" Gardapati bertanya lembut.
"Ini pedang milikmu, terima kasih atas pertolongannya."
Semua orang tidak tahu maksud pertolongan itu, sementara Si Pertapa Berjari Empat terbahak-bahak. "Ternyata kau pun tahu bahwa seekor ular siap membunuhmu," katanya.
Si Jelita Berbau Harum mendengus. "Ambillah, itu lebih berguna untukmu!"
"Eh?" Si Jelita Berbau Harum kaget. Buru-buru Gardapati menjelaskan, "Sepertinya di keluargamu, kau mendalami ilmu pedang!"
"Salah, dia mempelajari ilmu telapak tangan saja!" Si Pertapa Berjari Empat menyela.
"Haha, tidak, tidak, dia mempelajari ilmu pedang! Benar, bukan?" Gardapati ngotot, ia memandangi Si Jelita Berbau Harum. Di bawah tatapan semua orang, Si Jelita Berbau Harum mengangguk. Lagi-lagi semua orang yang mengenalnya melongo.
"Kalau begitu, mengapa kau tak pernah menggunakan pedang?" tanya Si Penjaja Bambu.
"Karena pedang biasa tak sanggup menahan getaran dahsyat dari ilmu tenaga dalamnya. Sebagai gantinya, ia menggunakan telapak tangan. Tetap saja, meski dapat menggunakan tangan pedang, kekuatan sebenarnya dari jurus pedangnya tidak dapat dimaksimalkan."
"Bagaimana engkau tahu?" Si Jelita Berbau Harum heran.
"Entahlah, ketika melihatmu bertarung, aku merasa jurus-jurusmu adalah jurus ilmu pedang. Perlu kau ketahui, di masa lampau, pedang itu dinamakan Sepasang Pedang Tanpa Kemampuan."
"Namanya aneh."
"Heem, dikatakan Pedang Tanpa Kemampuan adalah karena pedang ini hanya sebuah pedang biasa. Pedang ini memang kuat, tapi tak tajam. Dengan kata lain, pedang ini tergantung kemampuan pemiliknya."
"Aku paham, aku paham," Si Jelita Berbau Harum tersenyum senang, kemudian menunduk malu.
Gardapati tertawa, membuatnya semakin malu. Danenra menyela, "Tak usah sungkan, jika sudah diberikan, kau membunuhnya pun dia tak akan mengambil kembali. Ambillah! Tuanku memang sangat baik, dia bukan tipe orang pelit, kami berdua juga dapat seperti ini karenanya. Perlu kalian semua ketahui, anggota utama Istana Dewa Iblis sepenuhnya bisa dikatakan murid tuanku, hanya mereka tak tahu malu!" katanya sengit dipenuhi dendam.
"Jangan membuka borokku, Sahabat, dan jangan panggil aku Tuan. Sudah kukatakan kita adalah sahabat," Gardapati menenangkan amarah Danenra.
Semua orang yang ada di sana sungguh mengagumi sosok Gardapati; ternyata ia memang penuh kehangatan di dalam, sementara di luar ia sangat ganas.
"Intisari ilmuku sudah kuwariskan, pedangku juga sudah diwariskan, aku bisa pergi dengan tenang nanti." Mendengar perkataan itu, semua orang tergetar hatinya. Sepertinya orang di hadapannya sudah berniat mati dengan musuh. Mereka merasa kegalauan; ketika mereka mengenal sosok sesungguhnya dari sang Iblis, waktunya mungkin tak akan lama lagi.
Si Jelita Berbau Harum memegang gagang pedang dengan erat. Si Pertapa Berjari Empat memegang dadanya yang terasa sakit, bukan di luar tapi di dalam. Tanpa sadar, seorang gadis dari salah satu keturunan Ksatria Satwa yang bernama Mega Anantawuri berkata lirih, hanya dalam kesunyian seperti keadaan itu, siapapun dapat mendengarnya dengan jelas:
"Jangan mati!"
Gardapati terharu ada orang yang memperhatikannya, dia berkata dengan senyuman pahit, "Siapa pun akan mati. Mati sekarang atau nanti sama saja. Namaku sudah rusak, aku beruntung di penghujung perjalananku bertemu kalian, para saudaraku. Biarlah untuk menebus dosa, kubebankan kepada putra dan putriku. Meski aku malu membebankan dosaku kepada mereka, hanya entahlah... aku pastikan bahwa mereka suatu saat nanti akan menjadi pelindung kebenaran di dunia ini. Oh ya, jika memberi tanpa merata, pasti akan menimbulkan kekisruhan dan perpecahan."
Gardapati mengambil buntalannya, rupanya buntalan itu berisi beberapa macam buku. Gardapati melemparkannya ke atas; secara ajaib buku itu berterbangan kepada orang-orang dan jatuh di pangkuan masing-masing.
"Kitab itu berjodoh dengan kalian masing-masing. Lihatlah, yang tak memilih jodoh di antara kalian malah berserakan di mukaku," kata Gardapati.