Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 112

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 112

Memang benar ada sekitar sepuluh buku yang tidak memilih tuannya. Gardapati mengambilnya dan menyerahkannya kepada Si Penjaja Bambu.

"Tolong, jika kau masih hidup, sampaikan kitab ini kepada seorang perempuan dusun bernama Lastri di Dusun Kalajati untuk anaknya." Si Penjaja Bambu tertegun dengan perasaan berkecamuk, lalu ia mengambil kitab itu. "Nah, silakan lanjutkan, Adi." "Baik, Istana Dewa Iblis adalah sebuah istana megah yang dikelilingi oleh benteng alam, tetapi kami berdua telah membuat jalan rahasia untuk mencapainya."

"Apa Kakang berniat mati?" Astadewi merasakan kegelisahan yang mendalam.

"Hei, apakah kalian tidak merasa gelisah?" Astadewi bertanya kepada dua orang di sampingnya.

"Jangan cemas, Nimas!" Dyah Krusina menghibur.

"Bagaimana aku tak cemas? Dia..." "Dia tak akan mati meski ia mati!" potong Nawang Tresni.

"Aku... aku tak paham." "Siapapun yang mempelajari ilmu kami, meski mati di dunia nyata, ia akan hidup di sini sampai kontraknya habis." "Jadi, siapapun yang mempelajari ilmu dari sini akan terbagi hidupnya?" "Benar!" "Ah, kenapa tak memberitahu dari awal? Aku bosan di sini. Padahal mungkin jika ikut mereka, aku dapat meregangkan otot." Astadewi cemberut.

"Kau tahu tugasmu di sini?" "Tidak!" "Ah, Nimas, dengarlah. Setelah melahirkan, tenagaku berkurang. Nimas Tresni sedang mengandung, jadi tidak boleh banyak menguras tenaga. Hanya kau yang dapat melakukannya." "Melakukan... melakukan apa?" tanya Astadewi mulai tertarik.

"Memberitahu apa yang seharusnya dilakukan Garwita. Untuk mengirimkan pesan dengan menyusupkan suara melalui tenaga dalam, sangatlah diperlukan tenaga ekstra. Kita dapat menonton, dengan ini kita bisa melakukan pekerjaan yang sulit juga." "Ah, baiklah. Sekarang, apa yang seharusnya aku lakukan?" "Katakan kepada Garwita bahwa sebentar lagi ada tamu akan datang, harap diterima. Yang datang adalah seorang pemuda berpakaian serba putih bernama Agung." "Baiklah, aku akan mengirimkan kabarnya menggunakan angin," kata Astadewi.

"Mbakyu Aryani, sebentar lagi akan ada tamu. Dia merupakan seorang pemuda berpakaian putih, namanya Agung. Sebelum kita memberangkatkan laskar, sebaiknya kita melihat apa yang disampaikannya dahulu," ujar Garwita.

"Nimas, tahu dari mana?" Sagara Angkara bertanya heran. Aryani juga heran.

"Itu..." Garwita menghentikan ucapannya. Seorang gadis cilik dan mungil datang; dengan senyum malu ia berkata, "Mbakyu, ada pemuda berpakaian putih datang. Katanya ingin bertemu Mbakyu atau Kakang." Sagara Angkara dan Aryani kaget; ternyata apa yang dikatakan Garwita benar adanya. Buru-buru Aryani datang menyambut. Benar saja, pemuda berpakaian putih itu berdiri memegang sebuah kain lukisan putih.

"Kisanak, apakah yang bernama Agung?" Agung yang diperintahkan Gardapati untuk datang terkesiap. Ia heran bagaimana gadis cantik di hadapannya dapat mengetahui nama aslinya.

"Dari manakah Nona tahu?"

"Haha, itu nanti saja. Mari kita masuk!" Agung masih memandang Aryani dengan mulut melongo; ia mengagumi kecantikan wajahnya, tubuhnya yang gemulai, dan pakaiannya yang tipis membentuk lekuk tubuhnya.

"Ada apa?" tanya Aryani lagi.

"Oh... tidak... tidak." Agung terkejut, wajahnya memerah malu. Aryani cekikikan. Keduanya masuk; Agung melihat rumah itu sederhana, namun tertata rapi. Ia melihat banyak sekali gadis cantik di sana, wajahnya menunduk malu.

"Saya Agung, saya hendak bertemu dengan Tuan Sagara Angkara dan Nona Garwita."

"Duduklah, saya Sagara Angkara, dan ini Nimas Garwita," Sagara Angkara memperkenalkan diri dan mempersilakan duduk. Agung terkejut; ternyata sosok Dewa Dunia Persilatan itu terlihat sangat muda, mungkin sebaya atau bahkan lebih muda darinya. Garwita pun terlihat lebih muda. Ketika menatap wajah Sagara Angkara, ia merasakan ketenangan; ketika melihat Garwita, ia merasa wajahnya memancarkan cahaya kelembutan, sehingga memunculkan rasa hormat dalam hatinya. Ia duduk dengan nyaman, meski hanya duduk di atas dipan.

"Ada pesan apakah dari Kakang Gardapati?" tanya Garwita.

Mendadak Agung melonjak kaget. Ia kaget dengan ucapan itu; selain itu, ia melihat wajah Garwita sangat mirip dengan Gardapati, juga logatnya seperti orang keraton. Ia memahami sesuatu, lalu buru-buru berdiri dan menghormat.

"Maafkan atas ketidaksopanan saya, Tuan Putri."

Garwita gelagapan menyuruhnya kembali duduk. "Saudara Agung, saya sudah melepaskan gelar keraton, begitu halnya dengan Kakang Gardapati. Janganlah sungkan."

"Terima kasih." Agung kembali duduk dan menyodorkan kertas lukis yang dibawanya. Aryani kaget pesan sepenting itu hanya dibawa seperti membawa benda tak berharga saja. Tak tahan, ia bertanya, "Apakah surat penting itu engkau bawa seperti tadi?"

"Iya, memangnya kenapa?"

"Ah, aku tak percaya. Bagaimana bila musuh merebutnya?"

"Dalam keadaan seperti ini, bertindak terang-terangan jauh lebih aman. Melakukan hal yang sembunyi-sembunyi hanya akan menimbulkan kecurigaan," jawab Agung santai.

Sagara Angkara paham; ia juga pernah melakukan trik semacam itu dulu. Garwita membuka kertas itu dan memekik kaget.

"Ada apa, Nimas?" Sagara Angkara memburu.

"Ini... ini peta markas musuh, lorong rahasia, jebakan pesawat rahasia..."

"Ah, tak disangka, dengan begini tugas kita lebih mudah," Sagara Angkara menyunggingkan senyum.

"Kalau begitu saya permisi," kata Agung sambil melirik Aryani yang juga tengah memperhatikannya. Buru-buru keduanya saling memalingkan wajah. Sagara Angkara yang melihat kejadian itu tertawa. Agung malu setengah mati.

"Jadi apa yang harus kita lakukan, Nimas?" Dwi Garani bertanya.

"Kumpulkan para pemimpin laskar."

"Baiklah, aku pamit."

*Wusss!* Dwi Garani mengerahkan ilmu peringan tubuhnya untuk berlalu.

"Saudaraku, tinggalah dan berjuanglah bersama kami."

"Tapi Kakang Gardapati?"

Mendadak di telinga Garwita terdengar bisikan halus. "Biarkan saja ia di sana, Kakang Gardapati sudah bergerak, ke sana pun percuma."

"Mengapa Kakang tak menunggunya?" Garwita berkata sendiri. Semua orang memandangnya heran.

"Kembali terdengar bisikan, Kakang Gardapati yakin kami mengawasinya, jadi ia dengan santainya meninggalkan pemuda itu."

"Ah, kau di sini saja, Kakang Agung," Garwita menunjukkan keakrabannya. Agung kaget, ia hendak membantah.

"Kakang Gardapati sudah bergerak, pergi ke sana pun percuma."

"Kenapa tak menungguku?" Agung mengerutkan kening. Tiba-tiba ia ingat bahwa Garwita juga mengatakan, "Mengapa Kakang tak menunggunya?". Ini pasti tentang dirinya. Ia tak bertanya lagi dan mengangguk paham.

Sagara Angkara berdiri, "Aku berangkat duluan, Nimas. Biarlah Agung dan Nimas Aryani yang menemanimu." Belum selesai ia berkata, orangnya sudah hilang; tak ada kesempatan untuk Garwita membantah atau berkata yang lain. Agung kagum dengan kecepatan Sagara Angkara; rautnya yang diselimuti ketenangan dan bola matanya yang biasa saja jelas sudah menunjukkan betapa dahsyatnya ilmunya.

Rombongan dibagi menjadi dua belas kelompok, masing-masing dipimpin oleh seorang jago kawakan dan pemuda yang berpengalaman cetek. Mereka berpencar ke segala arah dan masuk melalui lorong rahasia yang sudah dibuat. Lorong-lorong itu dimasuki dengan cara yang berbeda-beda namun sederhana. Contohnya yang dilewati Gardapati; untuk memasuki lorong itu memiliki pintu rahasia dan tuas pembuka. Gardapati hanya memasukkan sebatang rumput pada lubang sebesar lubang semut. Sekilas tampak seperti main-main, tapi kesederhanaannya itu jelas tak akan terpikirkan oleh orang.

Gardapati berjalan dengan Ikabala, seorang pemuda berusia belasan, tubuhnya kekar, wajahnya tampak lugu, pakaiannya hanya terbuat dari kain kasar. Gardapati senang bersamanya; selama perjalanan mereka berbincang. Gardapati mengajarkan sebuah ilmu yang aneh dan sederhana.

"Apa namanya, Kakang? Aku lupa!"

"Malang dan Menang."

"Malang dan Menang... Malang dan Menang." Ikabala menghafal dalam hati.

"Coba kau katakan lagi teorinya," perintah Gardapati.

"Aku malang, jika kalah aku lari, jika kuat aku lari, jika seimbang aku lari, menang hari esok, kalah hari ini. Aku menang, aku kalah, aku menang, aku menang, jelas menang, aku seimbang pasti menang, aku adalah si menang. Berjalan di antara hati tulus pasrah, tak ada beban, tanganku menyerang ke kanan pasti yang kena kiri, kakiku melayang ke atas, pasti yang kena kaki. Muslihat dunia takkan pernah habis."

"Kau paham maksudnya?" tanya Gardapati.

"Tidak, kalau Kakang?"

"Tidak, aku hanya hafal teorinya. Menurut guru, orang yang tak bisa berpikirlah yang dapat menguasai ilmu ini. Bukankah kau berkata tidak dapat berpikir? Makanya kuberikan ilmu itu. Barangkali berguna untukmu."

"Terima kasih, kau memang baik."

"Jangan bicara!" bisik Gardapati sambil menarik Ikabala di sebuah tikungan. Ikabala diam, kemudian dua orang anggota Istana Dewa Iblis lewat. Gardapati menjentikkan jarinya.

*Tuk... tukk... Set!*

Dua-duanya jatuh, Gardapati menangkapnya agar tak menimbulkan suara. Ikabala menyentuh nadi kedua orang itu. "Mati."

"Tak salah orang ini dipanggil iblis, cara turun tangannya benar-benar menggiriskan," batin Ikabala.

"Kita bergerak."

"Ayo bergerak, hati-hati dengan langkahmu!" Si Penjaja Bambu berkata kepada seorang pemuda yang bersamanya. Pemuda itu berwajah hitam manis, mukanya bulat. Dia bernama Lutafala.

"Baik, Ayah!" katanya.

Di sampingnya tergeletak empat orang anggota Istana Dewa Iblis, di leher mereka tampak bambu haur kuning sebesar kelingking menancap.

"Ah?" Sagara Angkara dan Si Penjaja Bambu berhadapan. Keduanya kaget. Sagara Angkara melihat pakaian kedua orang itu dan anggota Istana Dewa Iblis yang menggeletak, ia tahu bukan musuh. Begitu pula dengan Si Penjaja Bambu, hanya anaknya yang tidak berpikir demikian, sebatang bambu diarahkan kepadanya.

"Tidak bergerak!" kata Sagara Angkara pelan. Bukan "jangan bergerak" seperti lazimnya, tapi "tidak bergerak". Jelas ini merupakan kata sandi.

"Ya!" jawab Si Penjaja Bambu. Jawaban ini juga tak lazim.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment