Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 113

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 113

"Bulan gelap."

"Lewat purnama!"

"Ah, ternyata saudara sendiri. Saya Sagara Angkara, siapakah Kisanak?" kata Sagara Angkara.

"Ternyata Tuan Pendekar. Saya Si Penjaja Bambu, dan ini anak saya, Lutafala!"

"Mari, Kisanak, kita bergegas!"

"Mari, panggil saja Argono."

"Hepp?" Sagara Angkara langsung merapat ke dinding.

Kedua orang itu juga mengikuti. Sagara Angkara segera melihat ke sekeliling dan merasa kagum; di bawah tanah ternyata terdapat ruangan seperti ini dengan tangga melingkar ke atas. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan penjara dan beberapa prajurit yang berjaga dengan disiplin.

"Jarak kita dengan mereka terlalu jauh. Aku tak yakin dapat melemparkan bambu dengan tepat," bisik Si Penjaja Bambu sambil melihat musuh yang berjaga di atas. Setidaknya ada dua puluh lima orang di tempat berbeda.

"Mengapa Ki Argo memilih jalan ini? Ini adalah jalan terjauh untuk mencapai puncak."

"Kami berdua bertugas melepaskan tahanan."

"Oh, kalau begitu, saya serahkan di sini kepada Aki, dan saya akan ke ruangan Si Gila dari Neraka."

"Heem, tapi berbahaya jika mereka membunyikan tanda bahaya."

"Aki lihat, di bangunan ketiga dan keempat, apakah bambu Aki dapat menjangkaunya?"

Si Penjaja Bambu melihat posisi lawan dan mengangguk. "Bisa."

"Kalau begitu, lantai pertama dan kedua saya serahkan kepada saudara Lutafala, setuju?"

"Baik," Lutafala mengangguk.

"Bagaimana dengan yang di atas?" tanya Si Penjaja Bambu.

Sagara Angkara tak menjawab. Ia mencabut batangan dari pinggangnya. "Cklang!" Batangan itu terbuka dan membentuk sebuah gendewa.

"Luar biasa, tapi anak panahnya di mana?" Lutafala bergumam.

Sagara Angkara tersenyum. Ia menarik senar gendewa dengan tangan kanan, lalu selarik sinar membentuk anak panah muncul; jelas anak panah itu terbuat dari tenaga dalamnya.

"Dalam hitungan tiga, kita maju secara bersamaan!"

"Satu!" Sagara Angkara berbisik.

"Dua!" bisik Si Penjaja Bambu.

"Tiga!" Lutafala berkata sambil melompat dan berguling. Senjatanya yang terbuat dari bambu tamiang ditiup dan melancarkan senjata di dalamnya.

Secara bersamaan, Si Penjaja Bambu menyebarkan Haur Kuning Perengut Nyawa dengan cepat dan tepat ke arah musuh. Sagara Angkara menggunakan anak panahnya yang secepat bulu untuk menyergap musuh dengan kecepatan tinggi.

"Crepp... crepp... crepp!" "Bruk... brukk... brukk!"

Untung saja kondisi penjara sedang gaduh, jadi suara itu tak terdengar oleh para penjaga di balik pilar tangga. Ketiganya bergegas ke balik pilar dan melakukan hal yang sama. Hanya dalam hitungan dua puluh, semua penjaga dapat dilumpuhkan.

"Aki, silakan Aki melanjutkan tugas."

"Terima kasih, Tuan Pende..." belum selesai ucapannya, Sagara Angkara sudah berada di ketinggian puluhan tombak. Lutafala menjulurkan lidah saking kagumnya.

"Siapakah sebenarnya dia, Ayah?"

"Dia yang digelari dengan Dewa Dunia Persilatan."

"Ah, padahal usianya masih muda, kemampuannya benar-benar menggiriskan."

"Dia generasi penerus gurunya, mendiang Pendekar Seribu Diri."

"Ah, pantas!"

Mereka tahu kondisi sangat genting. Tak berlama-lama mengobrol, mereka segera bekerja. Setelah kerja keras yang cukup melelahkan, Gardapati sudah semakin dekat ke bangunan utama, sementara malam mulai datang.

Lampu mulai bersinar. Kegelapan datang seperti mendukung Gardapati dan Ikabala melakukan tugasnya.

"Hemmm, benar-benar tempat yang indah juga harum," Ikabala berkomentar.

"Ini adalah kamar para kaum perempuan. Jaga matamu, mungkin kau akan menemukan perempuan sedang telanjang. Awas pikiranmu goyah," bisik Gardapati.

"Terlambat, aku sudah melihatnya... tuh." Ikabala menunjuk seorang gadis cantik yang sedang tidur dalam keadaan polos. Wajah dan tubuhnya dipenuhi peluh, berkilat tertimpa sinar lampu; sepertinya ia kelelahan setelah bekerja.

Gardapati hanya menghela napas. "Ayo, setelah ini kita akan melewati dapur, di sana kita makan dahulu. Aku lapar," bisik Gardapati.

Sekarang giliran Ikabala yang tersenyum. Meski sedikit berat meninggalkan hal yang langka, ia menuruti juga.

"Ah, aromanya!" Gardapati mencium aroma makanan, mendadak perutnya berbunyi. Sepertinya ia sungguh-sungguh lapar. Keduanya bergegas, tampak di meja sudah tersedia berbagai makanan dan para pelayan sedang sibuk memasak.

Gardapati menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Mulutnya bergerak-gerak, entah mengapa, para pelayan itu berhenti bekerja. Secepat kilat, Gardapati memindahkan sebagian makanan ke dalam dua piring lengkap dengan nasinya dan kembali ke tempat semula. Setelah menyimpan di samping Ikabala, ia kembali berkelana mengambil air. Kejadian itu hanya dalam lima hitungan; seolah tak terjadi apa-apa, pelayan itu melanjutkan aksinya.

"Jurus apa itu?" bisik Ikabala sambil mengambil bagian yang tersisa karena Gardapati sudah mulai makan.

"Menghentikan Rotasi Perputaran."

"Aku juga ingin mempelajarinya."

"Jangan, ini jurus ilmu aliran sesat. Untuk mempelajarinya, kau harus meniduri dan menyedot hawa perempuan... eh, maksudku meniduri seratus perempuan!" ralat Gardapati karena ia tahu, menyedot hawa perempuan tak akan dipahami Ikabala.

Ikabala menjulurkan lidah dan menatap Gardapati.

"Ada apa?"

"Apa kau juga meniduri seratus perempuan?"

"Lebih," jawab Gardapati seenaknya.

Ikabala tersedak, buru-buru minum, lalu geleng-geleng kepala. Keduanya makan dengan lahap. Selesai makan, Gardapati mengajak Ikabala segera bergerak.

"Siapa dia?" Ikabala menunjuk seorang pemuda berusia tiga puluhan membawa emas permata.

"Resala Hantu Emas Permata, dia adalah pengurus dalam bagian kekayaan perkumpulan ini."

"Biar aku membereskan!" seru Ikabala sambil meloncat ke hadapannya.

"Siapa kau?" bentak Hantu Emas Permata.

"Ekh... akh, saya... anu!" Ikabala tergagap.

Hantu Emas Permata tertegun. Dalam ketertegunan itu, mendadak ia melihat bogem mentah berada di depan hidungnya.

"Bukk!" "Gubrak!"

"Hehe!" Ikabala tertawa melihat buruannya terlentang pingsan di lantai. Gardapati tertawa melihat keberhasilan kawannya. Dari jauh ia mengirimkan totokan udara tanpa sepengetahuan Ikabala.

"Sembunyikan!" perintah Gardapati singkat.

Ikabala menurut. Ia menyembunyikan tubuh lawannya di kolong meja dan mengikuti kembali Gardapati yang sudah pergi duluan.

"Itu adalah bangunan utama. Sambil menunggu orang, kita sebaiknya menonton saja dahulu."

Ikabala mengangguk. Gardapati mengempit lengannya dan meloncat ke atas sebuah lemari tinggi. Di sana mereka telungkup sambil mengintip keadaan di dalam melalui sebuah lubang yang dibuat Gardapati.

"Ketua, kita sudah terkepung," seorang lelaki berusia lima puluhan datang melapor kepada Iblis Kembar Bumi.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Iblis Kembar Bumi kepada Si Gila dari Neraka Hitam.

"Asalkan tak ada orang yang mempelajari api sebagai dasar kekuatannya, tidak menjadi masalah bagiku. Bagaimana denganmu?"

"Hemmm, aku tak apa, hanya ilmu pamungkasku tak dapat digunakan!"

"Maksudmu, menambah tubuh menambah tulang?"

"Ya, rupanya musuh tahu bahwa malam tanpa bulan adalah kelemahanku! Tapi ilmu lainnya masih normal."

"Hem, bagaimana menurutmu Si Jubah Berkerudung Hijau itu?"

"Aku lihat, dasar kekuatannya adalah angin, meski menjadi panas seperti api dan dingin seperti es, tenang seperti air, kuat seperti bumi. Tetap saja kelihatan dasar ilmunya."

"Lalu bagaimana dengan Si Dewa Dunia Persilatan?"

"Setelah pertempuran dengan Si Iblis Dunia Persilatan yang kita tipu, dia tak terdengar lagi kabarnya, mungkin binasa."

"Hem, Dhara Sesat, ternyata basis kekuatan mereka sangatlah dalam dan rahasia. Tak nyana bahwa meski sebagian dari mereka binasa, masih terdapat banyak anggota."

"Jadi apa tindakan kita sekarang?"

"Bagi menjadi tiga basis kekuatan; satu basis menjaga tempat ini, satu basis bersembunyi guna melakukan serangan bantuan, dan satu basis membunuh mereka."

Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Biar aku yang mengurus di luar, sekalian mengirimkan seluruh anggota kita untuk pergi ke markas melalui merpati," Iblis Kembar Bumi beranjak keluar.

Gardapati menarik Ikabala dan melompat ke langit-langit. Kaki dan tangannya mengembang sehingga menempel di sana. Terlihatlah pemuda berpakaian biru membawa gendewa mengintip sana dan sini. Gardapati menarik napas lega dan menurunkan Ikabala.

Sagara Angkara terperanjat, gendewanya terpentang, yang diarahkan adalah Ikabala. Ikabala merinding bukan main.

"Syukurlah kau sudah datang!" Gardapati berkata dari atas langit-langit.

Sagara Angkara menurunkan gendewanya, Gardapati juga turun.

"Si Gila dari Neraka berada di balik bangunan ini. Aku titip sahabatku," Gardapati beranjak hendak keluar ruangan.

"Kau mau ke mana?" Sagara Angkara dan Ikabala bertanya serempak dengan sama persis.

"Iblis Kembar Bumi memimpin sendiri pasukannya, aku hendak membantu dari luar."

"Hati-hati!" Sagara Angkara berkata, mengkhawatirkan Gardapati.

"Terima kasih kau mengkhawatirkanku, dengan perhatianmu itu sudah cukup dibayar dengan nyawaku," Gardapati tersenyum pahit dan berlalu.

"Walau bagaimanapun, kau adalah sahabatku. Sejak dahulu, aku tahu kau memiliki hati nurani yang terpendam!" bisik Sagara Angkara dan menarik tangan Ikabala.

Gendewanya terpentang. "Jrepp... jrepp!" Dua musuh yang sedang menuju tempat itu tumbang tanpa nyawa.

"Hebat!" desis Ikabala.

"Sudahlah, mari kita segera menuju bangunan utama," ajak Sagara Angkara.

Pertentangan antara garis salah dan benar selalu ada; kekerasan adalah solusi utama pada zaman itu. Jika dari atas, terlihat dua pasukan semut hitam dan semut merah berkumpul berhadapan. Denting pedang dan senjata lainnya bersahut-sahutan di sebuah hutan yang terkenal keangkerannya. Sudah tentu para demit merasa terganggu dengan aktivitas itu, tapi apalah daya.

Dua kubu sudah tenggelam dalam arus kemarahan, nafsu membunuh, dan kesombongan harga diri. Dorong-mendorong, sabet-menyabet, tusuk-menusuk terjadi membabi buta. Kekalapan kedua belah pihak bersatu dengan jeritan penyemangat dan jeritan pilu; potongan anggota tubuh tak menjadi sebuah masalah.

"Jika aku tak membunuh, maka akulah yang terbunuh. Jika aku tak menghunus senjata, maka lawan akan menghabisiku."

"Bunuh!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment