Chapter 114
"Hancurkan!" "Hiaaa!" Pertempuran di awal malam ini sungguh sangat mengerikan. Sudah jamak bagi pertarungan antar kerajaan untuk menarik pasukannya dan beristirahat, tetapi teori ini tak berlaku bagi kaum persilatan. Pertarungan yang tak ketahuan mana lawan dan mana kawan ini sungguh membuat suasana kalut.
Ribuan obor sama sekali tak membantu. Hanya satu hal yang dapat membedakan, yaitu jenis kelamin. Para Dhara dengan ganas memanfaatkan kelincahan mereka, meliuk ke sana dan ke mari untuk membunuh lawan. Para Dhara ini tidak bergerak sembarangan; semua pergerakannya teratur rapi membentuk formasi. Teknik menyerang, mundur, mengelak, dan menghindar semua terpeta dengan jelas melalui komando lentera putih di atas puncak bukit.
Kubu Istana Dewa Iblis terdesak mundur; bagaimanapun, kesigapan dan persiapan mereka kalah dibanding lawan. Bayangan kematian terpeta dengan jelas dalam benak. Mereka terdesak mundur hingga mendekati batas benteng semak; para ular yang biasa berdiam di sana sudah menghilang entah ke mana. Pertarungan itu membentuk lingkaran berlapis, di mana lingkaran dalam berusaha mengalahkan lingkaran luar, dan lingkaran luar berusaha menekan lingkaran dalam. Benar-benar pertarungan yang menyita waktu dan tenaga.
"Bagaimana menurutmu sekarang, Nimas Garwita? Sepertinya musuh sudah terdesak," Dwi Garani bertanya gregetan sambil memegang sebuah obor yang digunakan sebagai alat sandi.
"Jangan terburu nafsu, Mbakyu Dwi. Jika kita menuruti nafsu, pasti kita akan celaka. Aku sudah mendengar kabar. Kakang Gardapati bilang, musuh sudah membagi pasukan menjadi tiga; satu menjaga istana, dua menyerang kita."
"Dan yang ketiga?" Aryani bertanya tak sabar.
Garwita tetap tenang. Ia melipat kakinya, duduk di sebuah bangku menghadapi meja di atas bukit. Di atas meja tergelar peta Istana Dewa Iblis, dengan berbagai batuan dan ranting kering yang diatur sedemikian rupa.
"Yang ketiga menunggu kita. Lihatlah pertarungan di bawah. Sesungguhnya jika ini adalah pertarungan militer kerajaan, maka aku akan lebih mudah mengatur. Namun ini... untunglah mereka mempelajari barisan yang untuk sementara bisa kita gunakan sebagai bahan kerja sama."
Memang, bila diperhatikan secara cermat, setiap lapis para gadis itu terdiri dari gabungan formasi yang saling bahu-membahu. Formasi itu dalam dunia persilatan disebut dengan barisan "Panah Segitiga Asmara". Setiap barisan terdiri dari sembilan orang; ada yang menyerang, ada yang melindungi, dan begitu seterusnya. Barisan ini berbeda dengan barisan lain karena tidak melingkari buruan, melainkan menghadapinya.
Barisan itu membentuk sebuah segitiga. Orang pertama dijadikan ujung tombak, kemudian di belakangnya terdapat dua orang, di belakang dua orang itu terdapat tiga orang, dan begitu seterusnya hingga mencapai sembilan orang. Karena gelapnya malam, barisan itu tidak terlihat istimewa, padahal jika anggota Istana Dewa Iblis mengetahui itu, niscaya mereka akan berpikir dua kali dalam melakukan siasat pertarungan jangka lama.
"Menunggu kita untuk apa?"
"Menunggu kita kelelahan. Begitu kita lelah, mereka akan segera datang menyerbu."
Keringat dingin mengucur di dahi Aryani dan Dwi Garani, juga para anggota Dhara Sesat yang mendengar dari jauh.
"Kita akan kalah mengenaskan," gumam Dwi Garani lesu, membuat sebagian anggota yang mendengar tadi gemetar.
"Kau tampak tenang sekali, Nimas Garwita?" tanya Aryani heran.
"Hihi," Garwita tertawa kecil. "Sebenarnya, siapakah yang selalu mengirimkan pesan itu?"
"Mbakyu Dewi!" Garwita menjawab kalem.
"Lihat, bala bantuan musuh sudah tiba!" Salah satu anggota Dhara Sesat yang memegang sebilah golok emas berteriak khawatir.
"Lemparkan obor ke langit!" perintah Garwita setengah berteriak.
Meski tak mengerti, Aryani mencabut sebuah obor dan melemparkannya ke langit. Mendadak gemuruh langkah kaki dan teriakan bergema. Setengah pasukan gadis dari balik kegelapan malam yang memakai pakaian hitam melompat ke tengah gelanggang. Berbarengan dengan itu pula, para Dhara yang sedang bertarung berusaha mundur dengan serempak.
Musuh tak menduga akan kejadian ini. Setengah bagian mereka kalah taktik lagi; tak nyana siasat lawan begitu licin sampai-sampai strategi penyerangan mereka gagal total. Wajah Aryani dan Dwi Garani bersinar kembali. Tak hentinya mereka memuji Garwita yang dengan penuh bara api semangat membolak-balikkan sandi demi menggempur musuh.
Kali ini, para Dhara yang menggunakan formasi Panah Segitiga Asmara memulihkan diri dengan semadi, bagaimanapun bala bantuan lebih banyak dari mereka. Sementara itu, bala bantuan yang menggunakan barisan "Sabit Purnama" menggempur dengan dahsyat. Berbeda dengan Panah Segitiga Asmara yang menggunakan barisan sebagai pusat serangan dan pertahanan, barisan Sabit Purnama hanya berfungsi sebagai teknik penyerangan. Seperti golok lengkung atau celurit, barisan itu berputar dan membantai tanpa kenal ampun.
"Bunuh, mati tidak masalah," itulah prinsip barisan kejam tersebut—barisan dari kalangan kaum sesat yang dulu pernah menggegerkan dunia persilatan. Dahulu barisan ini hanya terdiri dari seratus sembilan puluh delapan orang, dan kini digunakan bersama-sama sehingga membentuk lingkaran menyamping yang menutupi markas Istana Dewa Iblis yang luasnya ribuan hektar. Meski menyisakan celah, pergerakan barisan ini sangat aneh dan tak terduga; pergerakannya yang maha luas mampu menutup celah-celah tersebut.
"Sungguh hebat. Sungguh hebat, mengapa kau si dalang tak segera menampakkan diri?" Terdengar sebuah bentakan nyaring yang memekakkan telinga. Seketika pertarungan berhenti sejenak karena kerasnya bentakan itu. Untung, di saat kritis, terdengar bentakan lembut yang menyirnakan kerasnya bentakan tadi.
"Sedari tadi aku di sini menunggumu, mengapa kau sendiri baru nongol?"
Sosok hitam berjubah dan memiliki wajah dua berdiri di atas pohon ketapang, sosok angker yang menciutkan nyali. Namun, lawannya tidak ketakutan, justru merasa tercekik karena terkesima melihat sosok yang dikenalnya: Gardapati yang sedang ongkang-ongkang kaki di dahan pohon ketapang lainnya.
"Kau... kau masih hidup?" katanya gelagapan.
Gardapati tertawa besar melihat kekagetan lawan, dengan lantang ia membalas, "Tentu, sebelum aku mengirimmu menghadap Yang Maha Kuasa, tidur pun aku masih belum tenang."
Wajah Iblis Kembar Bumi memerah gusar. Tenaga dalamnya ia kumpulkan di kedua kaki dan dua tangan. "Kalau begitu, aku akan mencoba mengirimmu lagi ke sana!" bentaknya sambil menerjang.
Seperti halnya di atas tanah, Gardapati membuat kuda-kuda. Kaki kirinya terangkat sedangkan kaki kanannya menapak di dahan. Sambil melompat memapak serangan lawan, Gardapati memutarkan pergelangan tangan kanan yang bergerak ke atas untuk melakukan tangkisan.
"Duikkk!" Kosong. Jelas serangan awal memang sengaja dilakukan untuk memecah perhatian, padahal serangan sesungguhnya Iblis Kembar Bumi adalah yang belakangan; sebuah tinju bertenaga raksasa menggelegar hendak menghajar Gardapati.
Gardapati tak menampilkan emosi apa pun. Menindaklanjuti serangan kosong lawan, ia dengan sebat melakukan dorongan cepat dan bertenaga oleh kedua tangan secara bersamaan. Belum sempat kedua tangan mereka beradu, hawa tenaga yang dipancarkan dari masing-masing sudah beradu menggelegar.
"Duaaarrr!"
Gardapati tertawa dingin. Tangan kiri tetap dalam posisinya, sedang tangan kanan ditarik ke kanan belakang sambil melakukan tendangan samping dengan kaki kiri. Tentu saja gerakan ini memerlukan keseimbangan yang sangat kuat, apalagi setelah bentrokan yang sangat keras seperti tadi.
"Dukk!" Sebat, Si Iblis Kembar Bumi menangkis serangan itu dengan tak kalah mantap.
Pertarungan ini berimbang. Tentu saja keduanya belum mengerahkan ilmu pamungkas; gebrakan ini hanyalah untuk mengukur dan melihat kepandaian lawan. Gardapati tersenyum. Dalam beberapa hal ia memang unggul; ia hanya kalah pengalaman. Dalam pertarungan jujur tentu ia akan menang, namun jika lawan menggunakan trik, tentu ia yang masih muda dan berdarah panas akan kewalahan.
Kaki kiri diturunkan, disambung dengan tendangan atas oleh kaki kanan sambil menarik kedua tangan ke dekat dada. Ini merupakan rentetan serangan yang membuat Iblis Kembar Bumi kelabakan. Jurus sederhana ini bukanlah sebuah jurus, melainkan gerakan sesuai keadaan menurut prinsip jurus "Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas" yang keempat. Jurus ini menekankan pertarungan yang sama sekali tak melibatkan jurus baku, membuat gerakan seperti air yang mengalir, bergerak sesuai kondisi dan keadaan, tentu saja ditopang dengan tenaga dalam yang sudah mumpuni.
Akibatnya jelas sekali, Iblis Kembar Bumi yang menghadapi kewalahan; ia tak tahu jurus apa yang dilakukan lawan, jangankan membaca jurus, untuk memecahkannya pun sangat sulit. Ketika melihat raut wajah Gardapati yang setenang danau, ia bergidik; keringatnya bercucuran, napas memburu, berbeda dengan Gardapati yang biasa saja.
"Tak kusangka kau sudah maju sepesat ini!" kata Iblis Kembar Bumi berusaha memecah konsentrasi lawan, berharap lawan terpecah konsentrasinya lalu ia bisa mengeluarkan jurus pamungkas.
"Terima kasih, tempaan dari kalianlah yang membuatku seperti ini," kata Gardapati dengan senyuman penuh, seolah menikmati penderitaannya.
Iblis Kembar Bumi mencelos. Gardapati tertawa besar melihat ekspresi lawan, meski hanya sekilas ia bisa melihat wajah lawan berubah.