Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 115

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 115

Gebrakan demi gebrakan mereka lakukan, tetapi tampaknya tak seorang pun dari keduanya yang bersedia mengalah. Benar-benar sebuah pertarungan yang sangat hebat, sampai-sampai tak ada yang berani mendekati keduanya, meski di luar sana sedang terjadi kekacauan.

Melihat kondisi pertarungan yang tak berubah, Gardapati mulai merasa tekanan dari lawan semakin meningkat, entah karena kekuatannya ataupun karena sesuatu yang lain.

Gardapati menyadari sesuatu. Tangannya melakukan serangan kilat dengan cara menyodorkan telapak tangan, hendak mengajak lawan beradu kekerasan. "Blaarr!" Ledakan besar menggema. Iblis Kembar Bumi terseret mundur empat tindak, sedangkan Gardapati memanfaatkan tenaga pantulan untuk mundur. Satu sampai dua kali ia melakukan salto dan hinggap di bumi dengan tenang.

"Hemm, kemampuanmu menggunakan racun tampaknya sudah meningkat juga," ejek Gardapati.

"Jangan bangga dulu, terima jurus Cakar Seribu Harimauku!" Iblis Kembar Bumi menjejakkan kaki kiri, tubuhnya kembali melambung. Jika pendekar golongan tanggung yang melakukannya, jelas ini adalah kesalahan vital. Tapi, jika tokoh papan atas yang melakukannya, jelas ia sudah punya pegangan.

Gardapati melesat dengan kaki kanan, diikuti geseran kaki kiri, tangan kiri melakukan totokan dengan jari utama. Sementara tangan kanan menangkis serbuan cakar lawan yang sudah berubah menghijau, pertanda racun mengiringi cakar itu. Totokan Gardapati tidak bisa dikatakan cepat, juga tidak bisa dikatakan lambat, tetapi totokannya sangat efektif menyerang titik lemah serangan Iblis Kembar Bumi.

Seketika Iblis Kembar Bumi mengembangkan jurus; kaki dan tangannya berkoordinasi dengan rapat. Serangannya keji dan ganas, semua menuju titik kematian. Gardapati tak gentar, dilayaninya setiap serangan itu dengan tenang. Ia tak bertahan, juga tak menyerang, tak terdesak juga tak mendesak; semuanya ia imbangi menurut jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas tingkat pertama. Ketenangannya dalam bersikap patut dibanggakan, bahkan seulas senyum muncul di bibirnya.

Di lain tempat, di bangunan utama, Si Gila dari Neraka Hitam berdiri menatap sebuah lukisan Gunung Merapi. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.

"Tak kusangka kau begitu berminat terhadap lukisan," sapa Sagara Angkara. Di sampingnya, Ikabala berdiri dengan tenang.

Si Gila dari Neraka Hitam berbalik, dahinya berkerut. "Dewa Dunia Persilatan, Sagara Angkara," desisnya.

Sagara Angkara tersenyum tipis. "Gelar Dewa Dunia Persilatan terlalu berlebihan untukku, namun Sagara Angkara benarlah namaku."

"Bagus, bagus! Kabar mengatakan kau sudah tewas, ternyata kabar memang tak boleh dipercaya kebenarannya. Apakah Si Kerudung Hijau adalah kau?"

"Kerudung Hijau? Ah, aku rasa engkau kali ini salah alamat. Si Kerudung Hijau adalah orang yang sudah kalian peralat dan campakkan. Masakah kalian tak bisa mengenalinya lagi?"

"Gardapati!" Si Gila dari Neraka Hitam menebak, wajahnya berubah hebat. Bersamaan dengan itu, ia melemparkan empat buah pisau terbang.

Ikabala terkejut melihat datangnya serangan mendadak yang begitu hebat, lain halnya dengan Sagara Angkara yang sudah kenyang asam garam. Sejak tadi ia sudah waspada dengan perubahan mendadak seperti ini. Gendewanya dipentang, sekaligus empat buah panah hawa meluncur menghalau pisau terbang.

"Tring... tring... jreb... jreb!" Pisau-pisau terbang itu menancap di dinding kayu. Belum juga sirap suara dentingan, terdengar Si Gila dari Neraka Hitam membentak nyaring, "Terima kematianmu, Hiaahh!"

Bagaikan garuda keblinger, Si Gila menyerang seperti orang kesurupan. Tubuhnya menubruk seakan ingin bunuh diri, gerakannya sama sekali tak beraturan. Sagara Angkara tak mau gegabah, ia langsung menggunakan jurus andalannya. Sambil merapal Aji Jamparing Asih atau "Ajian Manah nu Welas Asih" (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta kasih), Sagara Angkara mengelakkan setiap serangan Si Gila dari Neraka Hitam. Tubuhnya melambung mundur, gendewanya terpentang.

"Wusss! Darr!" Di tengah udara, terjadi ledakan dahsyat. Gumpalan api menyambar ke segenap penjuru ruangan, membakar apa saja yang dikenainya.

Pucat wajah Si Gila dari Neraka Hitam. Tak disangka bahwa lawan menguasai unsur api, salah satu kelemahannya. Belum juga ia mengambil sikap, Sagara Angkara menjejakkan kaki dan meloncat empat kaki ke udara, punggungnya sedikit melenting, muka menghadap langit, gendewa terpentang memanah langit. Seketika kaki kiri diangkat berbarengan dengan anak panah yang dilesatkan, meluncur deras menuju Si Gila dari Neraka Hitam. Itulah jurus yang dinamakan "Memanah Langit Membakar Bumi".

Si Gila dari Neraka Hitam melekatkan tangan di depan dada, mulutnya berkomat-kamit. "Amukan Pendekar Gila!"

"Wungg!" Tubuhnya berputar tak beraturan namun begitu sistematis. Gerakannya, meski amburadul, memiliki susunan aneh yang hanya dapat dipahami oleh si pengguna jurus itu sendiri.

"Duaarr!" Gedung utama itu bergetar, debu mengapung bergulung-gulung. Lantai indah berubah menjadi serpihan bubuk.

"Tapp!" Sagara Angkara menginjak bumi. Begitu menginjak, tubuhnya melesat cepat menerjang dengan gendewa berada di sisi kiri; ini yang dinamakan "Mengejar Badai Api". Meski terkejut, Si Gila dari Neraka Hitam tak menjadi gugup.

"Sraaat!" Sagara Angkara menyabetkan gendewanya. Si Gila dari Neraka Hitam menangkis menggunakan sikut. "Prakk!" Sagara Angkara memajukan kaki kirinya ke depan menahan laju tubuhnya. Gendewanya tercekal di tangan kiri dibantu tangan kanan; keduanya berkutat saling mengalahkan. Sagara Angkara terbang melayang ke udara.

"Heaaaa!" teriaknya nyaring, telapak tangan kirinya dihentakkan ke muka. "Bwosssshhh!" Jalur api panjang menerjang Si Gila dari Neraka Hitam. Itu yang dinamakan dengan Hawa Api Amarah Raksasa. Kedua kakinya menjejak udara, secepat kilat menerjang menyusul jalur api yang ia lepaskan. Si Gila dari Neraka Hitam melepaskan juga pukulan sinar kosong berwarna hijau.

"Jreesshh!" Jalur api terbelah dua. Begitu terbelah, sesuatu yang bergerak cepat menyabet pundaknya, itulah gendewa.

"Duuukk! Ugh!" Telak sekali, pundak Si Gila dari Neraka Hitam terhajar. Belum ia memantapkan kedudukan, Sagara Angkara yang masih dalam keadaan telungkup di udara mengangkat kaki kiri dan berputar cepat ke arah atas dengan jurus Kala Merah merengut korban.

"Duaakk!" Rahang Si Gila dari Neraka Hitam terhajar hingga mulutnya berdarah.

"Tep!" Sagara Angkara menginjak bumi. Tapi ia tak berhenti, tubuhnya melesat menerjang ke muka. Si Gila dari Neraka Hitam menekuk kaki kiri berbarengan dengan penarikan kedua telapak tangan di depan dada, laksana angin berhembus, dihentakkan ke muka.

"Wuussshhhh... Blegaarrrr! Arrgjhhh!" Jurus serangan Si Gila dari Neraka Hitam yang digunakan secara terburu-buru sama sekali tak mampu menghadapi telapak kiri Sagara Angkara. Akibatnya, ia terlempar hingga sepuluh tombak lalu bergulingan.

Sagara Angkara tersenyum puas. Ternyata kemampuan Si Gila dari Neraka Hitam tidak lebih hebat dari Gardapati pada pertarungan tempo dulu, sebab jurus dan siasat yang ia gunakan adalah jurus-jurus lama. Ternyata Si Gila dari Neraka Hitam tak mampu menghadapinya, untuk itu ia harus berbangga hati juga. Ikabala terbelalak melihat pertarungan ini, hampir saja ia tak mempercayai bahwa pertarungan itu adalah nyata.

Ratusan jurus telah digelar, tak terasa pertarungan sudah berlangsung selama empat kentongan, tubuh keduanya bermandikan peluh. Si Gila dari Neraka Hitam merendahkan tubuhnya hingga berjongkok, kedua telapak tangannya dihantamkan pada lantai dengan keras. "Heeaa!" teriaknya keras menggelegar. "Wusshhhss!" Tubuhnya melesat tinggi hingga mencapai langit-langit, lalu menjejak di langit. Dengan memanfaatkan hukum gravitasi, tubuhnya meluncur sambil berputar.

Sagara Angkara melompat mundur, tangan kirinya maju ke depan atas dengan telapak tangan membuka, gendewanya ia simpan kembali. Tangan kanannya terkepal dengan kepalan merah membara hingga mengepulkan asap. "Tinju Bara Matahari!"

"Wussshhh... Blegaarrrr!" Tinju Bara Matahari sebagai bagian dari ajian Bola Api Besar merupakan jurus-jurus dahsyat Sastrajendrahayuningrat. Kedahsyatannya jangan ditanya. Seketika gedung itu terbakar api, api di mana-mana. Medan kini menjadi lautan api. Ikabala segera kabur menjauh.

Bersamaan dengan itu, dari segenap penjuru muncul pasukan berkuda juga manusia berkelebatan. "Kami Pendekar Lima Perguruan datang membawa bala bantuan!" teriak mereka. Para Dhara Sesat yang sudah kelelahan, melihat bala bantuan yang tak bisa mereka bayangkan kini telah datang, semangat mereka kembali berkobar. Sebaliknya, para anggota Istana Iblis semakin ciut nyalinya. Garwita berbinar-binar, mulutnya tersenyum manis.

Tapi itu hanya sekejap, sebab secara mendadak mereka dikejutkan dengan empat sosok bayangan hitam.

"Heh... heh, jadi ini pusat komando para dhara itu?" Seorang lelaki bermata juling tertawa seram. Padahal di bukit itu hanya ada Dwi Garani, Aryani, dan Garwita. Sedang para gadis yang lain sudah pergi membantu turun tangan. Keringat dingin mengucur membasahi tubuh mereka. Aryani dan Dwi Garani melintangkan pedang, siap tempur. Keadaan berubah menjadi tegang.

"Juling, kuberikan gadis yang membawa obor itu untukmu, biarlah gadis berwajah codet ini menjadi milikku," kata seorang lelaki yang memiliki codet di bibirnya.

"Haha, si codet dengan si codet," olok temannya yang memiliki kumis melintang. Sedang satunya lagi yang memakai caping bambu diam saja. Dua lelaki lain bersama Garwita diam saja.

"Aku adu jiwa dengan kalian!" pekik Aryani sambil membuka serangan. Bersamaan itu pula, Dwi Garani juga ikut menyerbu. "Serahkan nyawamu!" bentaknya, dan cepat sekali pedang di tangannya bergerak menyerang dengan hebat.

Si Mata Juling menangkis dengan keras lawan keras. Terdengar suara nyaring dibarengi bunga api yang berpijar. Si Mata Juling terperanjat sekali ketika pedangnya hampir saja terlepas dari pegangan karena benturan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment