Chapter 116
Si Mata Juling sebenarnya adalah tokoh sesat yang telah terkenal kehebatannya dalam ilmu pedang; ia bahkan mendapat gelar Pedang Selintasan.
Dengan serangan-serangan dari ilmu pedang yang diajarkan Astadewi, baru beberapa belas jurus saja, Dwi Garani dapat mendesak lawan hingga menjadi sangat sibuk.
Terlihat Si Mata Juling masih berusaha mempertahankan diri dengan ilmu pedang andalannya yang diberi nama Selintasan Pedang Membawa Arwah. Namun, karena tingkat ilmu pedangnya kalah jauh, pada jurus kedua puluh terdengar ia menjerit keras dan roboh dengan pundak terbabat pedang hingga nyaris mengenai perutnya. Bisa dibayangkan betapa cepat, ganas, dan kuatnya serangan Dwi Garani itu.
Bersamaan dengan itu, terdengar Aryani membentak nyaring, "Hiat!" Tiba-tiba pedang dan telapak tangan kirinya meluncur ke depan melakukan dua serangan maut yang amat berbahaya.
Sementara itu, Si Codet yang dikenal dengan julukan Golok Setan telah mencabut goloknya. Ia segera melakukan perlawanan sengit karena tidak berani lagi memandang enteng lawannya. Maka, ia mengeluarkan ilmu golok setannya yang terkenal ganas dan dahsyat. Tidak percuma Si Codet mendapat julukan Golok Setan, karena ilmu goloknya memang sangat ganas; semua serangan seolah hendak mencabut nyawa.
Ilmu pedang Aryani juga bisa dikatakan hebat; telapak kiri dan pedangnya menyambar-nyambar, mengacaukan pandangan mata lawan. Mereka bertempur dengan sengit, sementara di samping mereka terdengar suara senjata beradu, pertanda bahwa Dwi Garani sedang dikeroyok lawan.
Aryani menyadari bahwa permainan golok lawannya benar-benar dahsyat. Ia sadar bahwa pertempuran akan berlangsung lama. Untung ia adalah orang yang cerdik; secara sengaja ia membuka pertahanan di dadanya. Melihat kesempatan yang dinanti-nantikan itu, Golok Setan menyerang hebat sehingga Aryani mundur mepet ke pohon.
Cepat ia membacokkan goloknya, akan tetapi tiba-tiba pedang di tangan Aryani telah digerakkan dengan tipu gerakan "Menipu Langit Mendustai Bumi, Menunjuk Mega". Aryani melontarkan pedangnya yang meluncur cepat bagaikan anak panah dan tanpa dapat ditangkis atau dielakkan oleh lawan yang sedang menusuk dada tanpa pertahanan.
"Crep!" Pedang itu menancap pada lehernya.
"Kau..." Golok Setan hanya dapat mengeluarkan teriakan satu kali karena Aryani segera mencabut pedangnya sehingga darah menyembur dengan dahsyat.
Sementara itu, Dwi Garani yang dikeroyok rapat oleh para musuh sudah terluka di beberapa tempat. Namun, nona ini benar-benar luar biasa. Biarpun senjata para pengeroyoknya datang bagaikan air hujan menimpa tubuhnya hingga ia mandi darah, ia masih dapat memainkan pedangnya untuk menangkis dan melawan. Akan tetapi, lambat laun ia mulai merasa lelah. Pada saat itulah Aryani datang membantu sehingga semangatnya kembali terpacu.
Namun, tampaknya gabungan Aryani dan Dwi Garani pun bukan tandingan lawan. Sebentar saja, Aryani ikut terluka pada pundaknya sehingga gerakannya kurang leluasa. Menyadari lawan semakin unggul—sementara dirinya bisa dikatakan satu bagian menang dan sembilan bagian mati—Dwi Garani menjadi nekat. Ia menyerbu ke depan.
"Jreb!" "Ugh!" Sebuah pedang dari Si Kumis menancap di perutnya. Pengorbanan Dwi Garani sama sekali tak sia-sia. Kala pedang menembus perutnya, belati pendek yang ia sembunyikan di balik baju dilemparkan hingga menancap di dahi Si Kumis hingga keduanya tumbang.
Melihat Dwi Garani tewas dengan mengenaskan, Aryani menjadi kalap. Permainan pedangnya semakin kacau, justru ini yang diinginkan oleh Si Caping Bambu. Ia berjongkok mengelak serangan Aryani, lalu dari bawah pedangnya ditusukkan.
"Jrass! Argh!" Pedang menancap dari dagu tembus ke kepala; benar-benar sebuah serangan yang sangat keji.
Garwita yang menyaksikan Dwi Garani dan Aryani tewas menjadi sakit hatinya, tapi apalah dayanya. Air mata mengalir membasahi pipinya.
"Hehe, cantik, kini tinggal kita berdua," Si Caping cengengesan cabul.
Garwita memejamkan mata. Tangan Si Caping bergerak membelai dagu Garwita. Mendadak... "Wussh! Jrash!" Garwita terkejut ketika merasakan cairan basah menyembur wajahnya. Saat membuka mata, betapa ngerinya ia melihat sebatang pedang menancap pas di hidung Si Caping. Wajah Garwita yang pucat semakin mengerikan karena belepotan darah; hampir saja ia pingsan jika tak ada tangan kuat menyangga tubuhnya.
"Kau tak apa-apa, Nimas Garwita? Maaf aku terlambat!"
"Mbak Astadewi?" gumam Garwita kaget.
"Ayo, pandu pasukan kita, mereka sudah kalang kabut tak keruan," perintah Astadewi.
Ketika Garwita mengambil obor, ia melihat Istana Iblis sedang kebakaran hebat. Api membumbung tinggi, dentuman tenaga sakti terkadang terdengar. Benar saja, pasukan Dhara Sesat saat ini sudah tak terkontrol lagi. Segera Garwita mengayun-ayunkan obor. Pasukan Dhara Sesat yang menyaksikan obor komando bersinar lagi segera bergerak teratur kembali. Para pendekar yang melihat pasukan Dhara kembali melakukan pertempuran merasa kagum dengan kerja sama mereka. Kini mereka tak lagi memandang remeh atau menyepelekan pasukan itu; justru dalam hati mereka timbul perasaan kagum dan hormat.
"Lihatlah keadaan pasukanmu, begitu kuat dan hebat," ejek Gardapati.
"Brengsek kau!" maki Iblis Kembar Bumi.
"Pernahkah kau membayangkan keadaan seperti ini?"
"Huh, jangan banyak bacot, terima ini!" bentak Iblis Kembar Bumi.
Berbeda dengan sebelumnya, kini Gardapati berniat mempermainkannya. Oleh karenanya, ia mulai menggunakan jurus-jurus yang dulu sering ia gunakan. Gardapati segera membentak keras, telapak tangannya diayunkan ke depan menyongsong datangnya tubuh Iblis Kembar Bumi. Betapa kagetnya Iblis Kembar Bumi menjumpai ancaman tersebut. Untuk menarik kembali serangannya jelas tak sempat; terpaksa pergelangan tangannya diputar, lalu jari utamanya bergerak menotok.
Gardapati mendesis mengejek. Telapak tangannya ditarik, kemudian ia memukul ke luar. Tak disangka, Iblis Kembar Bumi membabatkan telapak tangan ke arah Gardapati. Gardapati mengempiskan perut untuk menghindari serangan tersebut, sekaligus menyarangkan tusukan jari dibarengi dengan cengkeraman maut. "Crass!" Pundak Iblis Kembar Bumi teremas, darah mengucur membasahi bajunya.
Iblis Kembar Bumi mendengus tertahan. Kakinya menjejak, membuat tubuhnya dengan cepat berkelebat mundur sejauh tujuh depa dari posisi semula. Itulah jurus Cengkeraman Iblis Neraka yang pernah digunakan untuk menghajar Dewa Pedang Kelana. Telapak tangan kirinya menekan pundak kencang-kencang.
"Jika terjadi dahulu, sebelum aku membersihkan tubuhku dari racun, mungkin sekarang kau sudah mampus," kata Gardapati mengejek.
Iblis Kembar Bumi mendengus. Kedua telapak tangannya disilangkan di depan dada sambil membaca mantra, lalu dihentakkan ke bawah. "Terima ini, Chakra Penghancur Bumi!" Berbarengan dengan itu, ia membentuk kuda-kuda silang dengan menarik kaki kiri ke belakang, kedua tangan ditarik di sisi kiri, dan dihentakkan ke muka dengan mengirimkan segulung angin panas yang dahsyat.
Gardapati tak gentar, ia memapaki jurus itu dengan teknik keras melawan keras. "Blarr!" Ketika sepasang telapak tangan saling berjumpa, terjadilah ledakan keras yang memekakkan telinga. Keduanya mundur selangkah. Tiba-tiba Gardapati menyelinap lewat, tangannya digetarkan keras-keras dan mengirim Tusukan Telapak Pedang kepada Iblis Kembar Bumi, langsung menusuk leher lawan.
Tindakan ini sama sekali di luar dugaan Iblis Kembar Bumi, pertahanannya jebol. "Crass! Argh!" Bagai pisau tajam, telapak tangan Gardapati menusuk leher salah satu kepala Iblis Kembar Bumi yang laki-laki. Langsung menggelundung jatuh, sedang kepala satunya lagi menjerit kesakitan.
"Aku adu jiwa denganmu!" bentak Iblis Kembar Bumi marah. Ia maju menerjang Gardapati tanpa memperhitungkan untung atau ruginya. "Biar kuhormati kau dengan Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas tingkat akhir."
Celaka, belum selesai kesenangan Gardapati, mendadak mata tajamnya melihat tindakan lawan. Ia melihat dada lawan menggelembung; ia tahu jurus itu. Jurus tersebut dinamakan "Tiada yang Abadi". Sebuah jurus pengorbanan alias bunuh diri yang dahsyat dengan cara meledakkan hawa murni dalam tubuh, yang juga bereaksi dengan tenaga dalam di sekitarnya.
"Duaaar!" Laksana meteor jatuh ke bumi, angin ribut memporak-porandakan tempat itu, pepohonan tersibak tercabut hingga akar-akarnya. Ledakan itu bukanlah ledakan biasa. Dalam radius seratus tombak, segala apa yang ada hancur berantakan; binatang, manusia, pohon, bahkan karang hancur lebur.
Asap mengepul tinggi. Di dalam asap itu, Sagara Angkara sedang berkutat dengan Si Gila dari Neraka Hitam. Keduanya terhempas cukup jauh ketika sebuah ledakan dahsyat terdengar. Sagara Angkara terkejut melihat betapa dahsyatnya ledakan itu; tak terbayangkan bila ia berada di sana. Perlu diketahui bahwa Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas tingkat terakhir adalah tingkatan terganas dan terdahsyat dibandingkan tingkatan lainnya. Tingkat ini menjadikan semesta luar sebagai sumber tenaga dalam yang siap dilepaskan. Jadi, tidak heran bila jurus Tiada yang Abadi bereaksi dengan Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas tingkat terakhir, tempat itu bisa meledak sedemikian rupa.
Sagara Angkara juga melihat para pendekar sudah berkumpul di suatu titik; pertarungan sudah usai, sepertinya musuh sudah dihabisi seluruhnya. Kala ia memandangi semua itu, mendadak ia merasakan sebuah hawa besar sedang membokongnya. Sungguh gusar bukan kepalang hati Sagara Angkara. Kedua tangannya dihentakkan ke bawah, Aji Bola Api Besar tingkat pamungkasnya langsung digelar. Kaki kirinya maju ke depan kaki kanan, tubuhnya dibalikkan serentak dengan kedua tangan yang dihentakkan ke muka.
"Duaaar!" Kembali terdengar ledakan dahsyat di muka bumi ini.