Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 117

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 117

Sagara Angkara terlempar sejauh satu tumbak, sementara Si Pembokong alias Si Gila dari Neraka Hitam terlempar jauh, tubuhnya terbakar api.

"Prak!" Tubuhnya menghantam dinding, kebetulan kepalanya langsung membentur sebuah gada yang tergantung di sana.

Otaknya berhamburan; sungguh mengenaskan kematiannya.

Sagara Angkara menghela napas panjang, lalu berkelebat menuju atas bukit.

Di atas bukit, Garwita bersimpuh di hadapan gundukan kuburan; ia menangis dalam diam. Pada nisan tertulis: "Makam Pahlawan Wanita Penghancur Istana Iblis, Aryani dan Dwi Garani." Sementara Astadewi sudah berlalu dari sana, ke mana ia pergi? Sagara Angkara menepuk pundak Garwita, lalu berkata, "Nimas, mari kita berkumpul dengan yang lain."

Bukit Batu Jajar, bukit yang menjadi saksi pembantaian mahabesar di muka bumi ini, dipenuhi mayat yang dikubur secara massal. Mayat-mayat itu dibagi menjadi dua gundukan seperti bukit. Gundukan pertama bertuliskan "Bukit Penghormatan", sedangkan pada nisan kedua tertulis "Bukit Penyesalan".

Sagara Angkara menyapa para pendekar yang datang hari itu. Para pendekar dirawat dengan bantuan para Dhara. Kini tak ada lagi pandangan mencemooh di mata mereka; justru mereka merasa sangat malu dan menghormati para gadis itu.

"Para pendekar sekalian, kini bahaya sudah berlalu. Awan gelap telah sirna, kita kembali ke masa yang dipenuhi sinar mentari. Saya persilakan kepada para pendekar sekalian untuk menyelesaikan sisanya. Saya, atas nama Iblis Dunia Persilatan, meminta maaf kepada Saudara sekalian atas sikapnya selama ini. Saya rasa pengorbanan nyawanya kali ini, yang juga memimpin pertempuran ini dengan gagah, telah usai di medan perang."

Para pendekar menghela napas prihatin. Mau tak mau, mereka memaafkan, meski secara setengah-setengah. Ketika siang menjelang, para pendekar satu per satu mengundurkan diri. Menjelang senja, di bukit itu hanya tertinggal Sagara Angkara, Dhara Sesat, dan Garwita.

"Kalian semua, apakah sudah punya rencana hendak ke mana?" tanya Sagara Angkara.

Para gadis itu mengangguk dengan berseri-seri.

"Pergilah kalian. Pergilah dengan hati lega dan riang gembira. Capai masa depan sejahtera menurut cara yang kalian yakini. Selamat tinggal," kata Sagara Angkara dengan haru. Bagaimanapun, ia pernah tinggal dan bergabung dengan mereka.

"Kami mohon diri," kata mereka yang diwakili oleh seorang gadis bernama Widuri.

Sagara Angkara mengangguk. Satu per satu mereka pergi dengan suara tawa yang masih bisa terdengar. Garwita dan Sagara Angkara berpandangan. Sagara Angkara menarik Garwita ke dalam pelukannya. Garwita menunduk dan bersandar di dada bidang sang kekasih, kemudian mengangkat wajah menatap mata pria yang kini memilikinya. Entah siapa yang memulai, disaksikan matahari terbenam dan diiringi musik alam dari sepoi angin yang memainkan dedaunan, kedua insan itu bersatu dalam pelukan dan ciuman mesra di atas Bukit Batu Jajar yang menjadi saksi bisu cinta mereka.

"Ehem!" Mendadak terdengar deheman.

Keduanya terkejut dan melepaskan pelukan. Mereka melihat Ikabala bersama rombongan ksatria satwa menuju ke arah mereka; Adi Praja dan Danenra juga tak terkecuali.

"Selamat, selamat," seru mereka. Di ujung awan mendung, dua insan bersatu dalam cinta kasih murni; sungguh romantis.

Keduanya tersipu malu, tetapi genggaman tangan mereka tetap erat tak terlepas. Suara tawa lepas bergema di atas bukit, membangunkan sesosok tubuh berpakaian compang-camping; dialah Gardapati. Rupanya, ketika terjadi ledakan, Gardapati segera menggunakan Jurus Kehampaan sebagai jurus simpanan bila Jurus Alam Mayapada Cakrawala Tanpa Batas tak sanggup melukai musuh. Dengan memasuki kehampaan, tubuhnya tidak dianggap sebagai bahan kehancuran, melainkan bagian dari hawa peledak itu sendiri. Oleh karena itu, dia masih dapat bangkit dan melanjutkan hidup.

Perputaran zaman selalu berganti; di mana ada gelap, pasti ada cahaya. Terus berganti dan bergulir dalam roda kehidupan yang nyata.

Taman Surga Khayalan adalah sebuah taman indah di Kerajaan Karangbolong. Berbagai bunga dan beragam warna bertaburan di sana. Kupu-kupu menari dari satu bunga ke bunga lain, menghisap sari bunga sebagai makanan, mencoba berebut dengan kumbang dan lebah. Cahaya mentari menyinari dengan lembut, selembut sutra kualitas terbaik, cerah tanpa awan. Langit biru menjadi saksi bisu atas tertumpahnya darah manusia yang tersesat dalam hawa nafsu.

Pagi baru saja menyapa. Burung perkutut bersiul dengan gembira, suaranya bersahut-sahutan menjadi kesinambungan yang harmonis. Capung kuning hinggap di atas belukar, dikejar kawannya, lalu terbang lagi tanpa pamit. Seekor nyamuk terbang dari sebuah kolam; *sret*, sebuah juluran panjang dari seekor katak kecil memangsanya. Setelah mendapat mangsanya, katak itu melompat ke air, menimbulkan riakan yang saling menyusul membentuk lingkaran bening.

"Kecipak." Seekor ikan melompat ke udara dan jatuh terhempas kembali. Suara air mengalir begitu indah; daun ilalang yang menjulang dipermainkan angin, melambai pada seekor capung harimau. Capung itu berusaha hinggap, namun ketika ilalang itu melambai, capung itu kembali terbang. Begitulah keharmonisan yang terjadi dalam kehidupan; sungguh indah bila dinikmati.

Di pagi itu terdengar suara yang cukup nyaring.

"Hiatt! Haitt!"

*Tok... tak-tok... tok trok tok... taaak!*

Begitulah bunyi serentetan beradunya dua batang kayu yang dibentuk seperti pedang. Di samping orang yang terlibat pertarungan itu, duduklah beberapa orang yang tampak sudah berusia tua. Seorang kakek memakai pakaian megah, ditemani oleh tiga perempuan paruh baya. Meski terlihat tua, kecantikan ketiganya masih sangat tampak. Di pangkuan kakek itu, seorang anak berusia lima tahunan duduk manja menanti kasih sayang.

Sambil duduk, kakek itu mendongak mengikuti pertarungan antara sepasang muda-mudi di atas rumput hijau nan tebal yang dikelilingi bunga. Usia kakek itu kira-kira tujuh puluh tahunan; wajahnya sudah berkeriput, rambutnya sebagian besar sudah memutih, namun seulas senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Dalam usia tuanya, kakek itu memiliki ketampanan yang tidak kalah dari pemuda, dengan hidung bangir, tubuh tegap, dan mata yang masih bersinar tajam.

Pemudi yang sedang bertanding itu berumur sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun; wajahnya bundar memancarkan kecantikan gadis belia. Keringat membasahi keningnya lalu mengucur ke pipi. Ketika ia mengusap keringat dengan lengan baju, kecantikannya tampak dua kali lipat. Adapun pemuda itu memiliki wajah yang tampan dan halus. Wajah keduanya sangat mirip, bagaikan pinang dibelah dua; usia mereka pun sama, hanya berbeda beberapa kejap mata. Jelas bahwa mereka adalah adik dan kakak.

Pedang kayu yang mereka mainkan sangat cepat dan hebat, kaya akan perubahan yang tiada habisnya. Mendadak, pedang kayu pemuda itu menebas dari atas pundak kiri, miring ke bawah, lalu berputar dan menusuk ke belakang. Namun, sang gadis yang juga mempelajari jurus yang sama tahu arah serangan; ia menghindar dengan menundukkan kepala, kemudian membalas menusuk beberapa kali.

Si pemuda mundur dua tindak. Ia bersuit nyaring untuk mengacaukan konsentrasi lawan. Pedangnya berputar cepat, menebas ke kanan dan ke kiri beruntun sebanyak sepuluh kali. Dengan cekatan pula, sang gadis menangkis setiap serangan yang akan merugikannya. Mendadak, gadis itu menusukkan pedang sembari memutar tubuh secara melayang. Terkejut, si pemuda lekas menarik kembali serangan dan menempelkan batang pedang di dada.

"Tak!" Ujung pedang si gadis menusuk ujung pedang lawannya. Sengaja si pemuda melemahkan kuda-kudanya sehingga ia terdorong mundur. Si gadis senang dan menyusuli serangan, tak nyana itu cuma tipuan. Si pemuda menggeser pedang si gadis sehingga melenceng, lalu jari-jarinya berkelebat mencolek dagu si gadis.

"Kau kalah, hahaha!" si pemuda tertawa.

"Kau curang, Kakang! Mengapa engkau menggunakan siasat untuk menjebakku?" si gadis cemberut. "Ayah, kenapa engkau tak membelaku untuk memenangkan pertarungan ini?"

"Sudahlah, anakku Padmarini Majitari. Kakang Naryamu benar, di dalam dunia persilatan, otak juga diperlukan untuk memenangkan pertarungan. Jadikanlah ini sebuah pengalaman!" sang kakek berkomentar.

"Tuh lihat, Nimas Padma! Akh, Mbakyu Nareswari Lituhayu, Kakang Wajendra Dimas, kalian datang?" seru si pemuda yang bernama asli Narya Majita Padma.

"Ibu!" Gadis kecil di pangkuan kakek melompat dan memeluk seorang perempuan berusia dua puluh lima tahunan.

"Ayah?"

"Ayah?" Dua orang yang baru datang itu memberikan hormat kepada kakek tersebut.

"Kalian bangunlah. Bagaimana kabar ibu dan ayahmu, Dimas?"

"Beliau orang tua baik-baik saja, Ayah!"

"Syukur jika begitu, mari bergabung."

"Terima kasih."

"Akh, maaf saya terlambat. Bagaimana kabarmu, Kakang, Mbakyu?" seorang pemuda berusia satu tahun lebih muda dari Nareswari Lituhayu menyapa.

"Kabar kami baik. Bagaimana denganmu, Dimas Nitisara?"

"Kabar saya baik. Kakang, Mbakyu, mari duduk!"

Siapakah sebenarnya kakek itu? Dialah Gardapati, sedangkan ketiga nyonya tua itu adalah istri-istrinya: Astadewi, Dyah Krusina, dan Nawang Tresni. Lalu, yang datang terlambat adalah Nitisara Majita, putra dari Nawang Tresni. Sedangkan Padmarini Majitari dan Narya Majita Padma adalah anak kembar dari Astadewi.

Ketika semuanya sedang dilanda canda dan tawa, mendadak dari kejauhan terdengar sebuah seruan nyaring.

"Dapatkah kami bergabung denganmu, Saudaraku?"

"Haha!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment