Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 118

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 118

"Mengapa tidak? Silakan saja, Saudaraku. Sudah lama kita tidak bersua dan berbincang!" Baru saja Gardapati menyelesaikan ucapannya, enam sosok tiba-tiba muncul.

Mereka terdiri atas seorang kakek, dua orang perempuan paruh baya, serta sepasang muda-mudi yang berusia tujuh belas atau delapan belas tahun.

"Sudah lama kita tidak bersua, Saudara Garda!" teriak seseorang dari kejauhan. Begitu suara itu senyap, orangnya sudah tiba di taman.

"Sejak pertarungan itu, ya? Haha!"

"Saudara Sagara, sepertinya kedua anakmu sangat hebat, persis sepertimu!"

"Haha, kau terlalu merendah. Putrimu, sang Bidadari Penjaga Neraka, adalah sosok yang hebat. Seluruh pendekar di tanah Jawadwipa yang mendengar namanya pasti akan kagum."

"Ah, Paman, Bibi, kalian terlalu menyanjung saya. Padahal saya hanya perempuan biasa," Nareswari Lituhayu merendah.

"Kau terlihat masih muda saja, Adikku!" sapa Gardapati kepada Garwita.

"Terima kasih, Kakang. Ini berkat Mbakyu Kama," sahut Garwita sambil melirik perempuan paruh baya di sebelahnya.

"Kakek, siapakah mereka?" Gadis dalam pelukan Nareswari Lituhayu ikut bicara.

"Huss, jangan tidak sopan!" bentak Nareswari Lituhayu di telinga gadis kecil itu.

Gardapati tidak memedulikan teguran anaknya. Dengan lembut, ia melambai kepada gadis kecil itu. "Kemarilah, biar Kakek perkenalkan!" Gadis kecil itu meronta turun dan mendekati Gardapati.

"Nah, anak-anakku, dan kau cucu tersayangku, Aindita Lituhayu, perkenalkan ini adalah Adimas Sagara Angkara yang dijuluki Dewa Dunia Persilatan. Di sebelah kirinya adalah istrinya, Nimas Garwita, adik kandungku. Dengan kata lain, dia adalah bibi kalian. Di sebelah kanan kalian adalah Nimas Kama."

"Tabib Sakti Jawadwipa," timpal Nareswari Lituhayu.

Setelah semua orang berkenalan, suasana keluarga kecil itu menjadi semakin semarak. Astadewi dan para perempuan saling melepas rindu dengan mengobrol ke sana kemari.

"Saudaraku, dari mana kau tahu bahwa aku ada di sini?"

"Ai, seandainya kami tidak beradu jurus dengan anakmu yang cantik itu, mana mungkin kami tahu keberadaanmu?"

"Kalian beradu jurus?"

"Haha, karena sebuah kesalahpahaman saja. Anak nakalku ini membuat babak belur seorang pencuri buah, dan si pencuri itu rupanya melaporkan kepada anakmu dengan memutarbalikkan fakta. Begitulah."

"Terakhir, kami melihat kemiripan wajahnya denganmu, selain sikapnya yang gagah. Kami mengaguminya dan mengajak sedikit mengobrol. Pada saat itulah ia memberitahukan keberadaanmu sekeluarga."

"Ah, rupanya begitulah kejadiannya. Anak itu malas berlatih dan sedikit manja, jadi mengenai kepandaiannya, kuharap kau tidak menertawakannya."

"Apa yang harus ditertawakan? Kepandaiannya mungkin setara denganmu dahulu ketika bertarung di kedai. Dengan mudah saja anakku dikalahkan, padahal anakku itu lebih suka sastra dan hanya belajar silat setengah-setengah. Akibat kejadian itu, ia mulai menyeimbangkannya. Untuk itu pun aku harus berterima kasih kepadanya."

"Saudaraku, bagaimana bila kita meluruskan sedikit otot yang mulai kaku ini?" tanya Gardapati.

"Hahaha, tak kusangka bahwa kau masih berniat untuk melakukan ini. Baiklah, mari!"

Keduanya merentangkan tangan dan mengadu pukulan. Kepandaian mereka saat ini sudah sangat hebat; tanpa perlu saling membuat kuda-kuda dan ancang-ancang. Hakikatnya, hanya memajukan pukulan saja sudah cukup untuk menghancurkan bukit.

"Duaaarrrrrr!" Kesiuran angin dan cahaya menyeruak ke mana-mana, mengakhiri kisah ini.

Kisah ini menjabarkan bahwa manusia tetaplah manusia. Sebaik apa pun seseorang, tanpa memiliki dasar dan landasan yang kuat, kebaikan itu sendiri akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Setiap manusia memiliki pandangan akan kebenarannya masing-masing. Tuhan memang tidak melarang kita untuk memiliki perbedaan pandangan selama tidak melanggar kaidah-kaidah yang ditetapkan-Nya. Namun, kita pun harus tahu batasan kebenaran kita.

Cobalah untuk menyesuaikan dengan adat yang berlaku dan ukurkan dengan ketetapan agama. Pembenaran diri atau menganggap diri sendiri paling benar adalah perbuatan yang dilandasi ego keakuan. Kita harus berusaha membenarkan apa yang benar dan menyalahkan apa yang salah. Di manakah kita dapat menentukan kebenaran itu? Cukup tanamkan dalam benak bahwa kebenaran itu milik Tuhan dengan mempelajari apa yang diajarkan-Nya kepada rasul.

Kejahatan tidak bisa diubah menjadi benar, begitu pula sebaliknya. Hanya pelaku kejahatan yang bisa berubah menjadi penjaga kebenaran, dan hanya pelaku kebenaran yang tersesat dalam kebenarannya sendiri yang dapat berubah menjadi jahat. Kejahatan memang harus dibasmi, tetapi bukan orangnya. Cukup perilakunya saja. Membunuh pelaku kejahatan atas nama kebenaran adalah kejahatan lain. Bukankah dengan membunuh orangnya, kita pun berbuat jahat? Kita harus selalu memberikan peluang kepada pelaku kejahatan untuk kembali ke jalan yang benar. Ingat, hidup itu pemberian Tuhan; bila kita merampas hidup orang, berarti kita tergolong perampok yang hanya menciptakan rentetan dendam.

Lalu bagaimana bila keluarga kita yang terbunuh? Cukup kita balas dengan kata maaf. Belajarlah untuk memaafkan, maka kesempurnaan hidupmu akan semakin berwarna. Yakinlah bahwa Tuhan memiliki keadilan sendiri. Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik, dan seseorang yang memiliki pikiran yang baik akan mendapatkan kenikmatan dari hidup.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment