Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 12

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 12

Aku Dwipangga, Si Kakek bermulut Racun, Guru dari Bangsawan Sepuluh Nyawa yang kau bunuh, apa kau tak terlalu pengecut dengan mengatakan bahwa kau bukan orangnya? Kakek berjubah ungu itu berkata.

"Oh... Maaf aku baru saja mengetahui bahwa kawan-kawan dalam dunia persilatan memberiku gelar itu, aku memang Gardapati adanya," Gardapati berdiri gagah.

"Sungguh kasihan, seorang Musuh dunia persilatan tak mengetahui gelarnya sendiri...." Ucap Kakek itu lirih.

"Apa maksud ucapanmu?" "Haha... Apa kau tahu bahwa kepalamu itu dihargai seribu kati emas saat ini, seluruh umat persilatan sedang memburumu!" "Terimakasih atas perhatianmu.... namun apakah sebenarnya tujuanmu datang kemari!" "Mendamaikan Arwah Muridku!... Su... ku... le... ku... le... Ha... na... ca... ra... ka..." Kakek itu bergumam lirih, diikuti dengan kawannya yang lain, mata mereka melotot, tangannya menyembah.

"Mereka sedang apa sih" mereka menyanyi namun manteranya ada irama tertentu... Akh,.. suara itu mengganggu pendengaranku" Arya bergumam.

"Su... ku... le... ku... le... Ha... na... ca... ra... ka..." "Su... ku... le... ku... le... Ha... na... ca... ra... ka..." "Ugh...! Kepalaku serasa pecah... mereka ini!" Arya berteriak kesakitan.

Gardapati kerutkan kening, "Sreng.....!" Pedangnya tercabut... lalu melangkah....

"Apa" mengapa tubuhku tak bisa digerakan?" Batin Gardapati.

"Sukma getar suara.. membuat lawan tidak bisa bergerak dengan hawa dalam irama lagu" Kakek itu memberikan sedikit keterangan.

Perlu diketahui bahwa jika membuat energi uda ra lewat suara itu secara berulang-ulang, maka orang yang akan mendengarnya akan terpengaruh, ini sama dengan proses yang disebut dengan Hipnotis.

Sama seperti kita berjalan dimalam hari, pertama-tama, pengulangan kata yang sederhana akan membuat orang tenang, kemudian suara tersebut akan mempengaruhi tingkah laku.

maka dari itulah Gardapati tak bisa menggerakan tubuhnya.

"Ronde kedua... Matilah kalian!" kakek itu lalu bersuit nyaring.

"Piiiipppppp!" Suara itu laksana pekikan naga yang menjerit, bagaikan ratusan singa yang mengaum.

begitu menggelegar membuat Gardapati dan Arya kertakan rahang, darah mengucur dari lobang telinga mereka.

"Aku tak tahan lagi.....!" Arya mengeluh sambil memegang telinganya rapat-rapat.

"Berhenti......!" Gardapati ikut berteriak, suaranya lirih namun cukup mampu meredam suara dari lawannya.

Kakek itu berkata terperanjat.

"Jurus apa yang kau pakai.. sampai jurus pekikan nagaku yang sudah kulatih selama seratus tahun dapat kau redam" "Hanya sedikit jurus dari Sabda Dewa!" Gardapati merendah namun membuat wajah kakek itu berubah pucat.

"Kau.....!" Kakek itu tergagap.

"Hem.....! Rasanya kurang bila akupun tak memberimu sedikit hadiah...!" Gardapati jejakan kakinya hingga ia melambung dan bersalto.

"set... Set...!" Sosok bayangan berjubah hitam yang mengepung ikut merapat.

Ditengah udara, Gardapati berteriak nyaring" Kalian diam ditempat" Bagaikan menerima titah raja, Semua sosok itu berhenti, entah mengapa... meski mereka ingin maju namun tubuh mereka tak menurut juga, itulah keistimewaan Sabda Dewa.

"Awas Telapak Neraka Dewa" Wurrr..... seberkas cahaya orange menerjang kakek berjubah ungu.

"Celaka....!" Batin Sikakek seraya menyongsokan kedua tinjunya menyambuti serangan.

"Blaaaarrrrrrr!" Dentuman Tenaga sakti beradu, pohon bertumbangan, angin berseliweran, debu mengepul, kerikil berloncatan dan rumput tersibak.

Setelah debu hilang tampak sikakek berdiri dengan baju dalam putih yang compang-camping menunjukan tubuhnya yang tinggal pembungkus tulang, jubah ungunya entah pergi kemana, kedua tangannya tampak tersimpan rapi disamping pinggang dengan kaki terbuka.

Sedangkan Gardapati berdiri dalam ketinggian dua tombak, tubuhnya melayang, tak salah itulah keistimewaan dari jurus Ngambang Angin, dengan ilmu itu tampak Gardapati melayang-layang diudara seperti hantu.

"Brukkkk......!" Si Kakek bermulut racun terduduk, tubuhnya menyembah....

"Anak Muda....! Jadilah Pemimpin kami?" Pinta kakek itu tiba-tiba.

"Kami" Apa maksudmu" Gardapati turunkan tubuhnya kebumi seraya menarik Jurus Ngambang Anginnya.

"Maafkan hamba Pemimpin, Hamba sebenarnya bukanlah Guru dari Si Bangsawan Sepuluh Nyawa, melainkan hanya seorang kaum keroco dalam dunia persilatan. namun, hamba sudah lama memendam Ambisi... " "Ambisi?" "Benar, menjadikan umat persilatan sebagai budak kita, dan kita akan menjadi raja dalam umat persilatan" "Jika kamu yang berambisi, mengapa kamu menjadikan aku sebagai pemimpin kamu sekalian, bukankah kamupun dapat melakukan itu dengan sendirinya?" "Benar, Tapi... sudah lima puluh tahun aku memupuk kekuatan dibawah tanah, namun sama sekali kami belum mampu untuk membangkitkannya dari kubur. oleh karenanya aku memilihmu sebagai pemimpin, karena engkau dapat mengalahkanku... dahulu aku sudah bersumpah akan menjadikan siapapun yang mengalahkanku sebagai tuanku dan kini telah kesampaian... mohon terimalah" "Bruk... Brukk.. Bruk!!" Sosok hitam dibalik pohon ikut berlutut seakan ikut meminta gardapati bergabung, "Apa keuntungannya bagiku!" "Saat ini engkau menjadi buruan dunia persilatan, bila engkau menerima kedudukan itu, maka kau akan dapat perlindungan dari kami" "Kau pikir aku seorang pengecut yang bersembunyi dilubang tikus?" Gardapati tersinggung.

"Maafkan Hamba,... tapi... jikalau engkau menjadi pemimpin kami... maka setidaknya orang dari golongan hitam takan memusuhimu, bukankah itu cukup menguntungkan!" "Apa yang menjadi jaminannya bahwa kau akan tunduk pada perintahku!" "Kepalaku... Kepalaku ini yang menjadi taruhannya!" Gardapati menunduk, matanya bersinar......

"Baiklah, tapi... ada sebuah syarat yang harus kau penuhi dahulu..." "Syarat apakah?" "Tak ada seorangpun yang akan mengekang setiap tindakanku dan aku takan muncul dihadapan anak buahku dengan wajahku ini.....!" "Haha... Syarat yang mudah sekali Pemimpin, baiklah... hamba akan patuhi dan siapkan untukmu!" "Mengapa kalian berada disini...! aku hendak keluar dari hutan ini, bisa kalian tunjukan" "Hutan Seribu Jalan ini memang markas besar kita, akan hamba ajarkan bagaimana caranya memahami setiap sudut dihutan ini. mengenai itu adalah hal yang mudah, asal Pemimpin dapat mengeluarkan kita dari kubur itupun cukup!" Jawab Kakek itu.

"Apa Nama Organisasi yang ku pimpin ini" tanya Gardapati.

"Ratan Wasana" "Jalan Penghabisan.... Nama yang bagus....!" "Bagaimana caraku memimpin anak buahku" "Saat ini, seluruh Anggota kecuali orang yang ada disini yang merupakan Anggota inti yakni sembilan puluh sembilan orang itu tak ada seorangpun yang mengetahui ketua ini sebelumnya, yaitu aku....! ketika aku menemui mereka aku selalu memakai topeng........." Lalu Kakek itu menuturkan Mengenai keadaan dalam organisasi Ratan Wasana itu. dari mulai cara berhubungan, jabatan dan sebagainya, semua serba terperinci, dengan tekun Gardapati menyimaknya dengan seksama, namun ialah Gardapati yang Penurut Janggal, meski wajahnya penurut namun dalam benaknya muncul seribu rencana yang akan dilaksanakan...

Dia bukan alat, tapi dia adalah penggerak... tak sedikitpun jalan orang lain untuk menguasai dirinya... dia tahu maksud lawan...

"Lalu Apakah Pemuda berjubah merah ini harus kubunuh?" Tanya Kakek itu.

"Dia Sahabatku.... berarti dia juga anggota Perkumpulan ini" Gardapati menjelaskan....

Kakek itu terdiam, lalu menjelaskan mengenai seputar perkumpulan lainnya.. Gardapati diam mendengarkan sejarah perkumpulan, ataupun hal lainnya.... Namun batinnya berdiskusi dengan Arya si Pemetik Mawar Merah.

Suatu kemampuan yang jarang dimiliki.... namun itulah yang terjadi......

Sekelebat bayangan putih bergerak diatas pohon, kecepatannya bagaikan seberkas sinar petir yang menyambar saja.

"Hemm...... Sudah lama aku tak kemari....!" Desis sosok bayangan itu.

Ternyata bayangan itu adalah seorang gadis cantik berpenampilan serba nila, jubahnya berkibar-kibar dipermainkan angin, begitu halnya dengan rambutnya yang tergerai panjang, dari balik pinggangnya menyembul batang pedang dengan ronce kemerahan.

Matanya jeli memandang pada sebentangan danau diatas gunung.

Siapakah gadis itu? Masih ingatkah dengan gadis cantik itu? ya, dia adalah Astradewi adanya, setelah berpisah dengan Gardapati, lekas ia menuju Perguruan Teratai puth, sebuah perguruan yang dahulu menjadi tempatnya belajar.

Matanya menyipit kala air itu beriak cukup besar, jantungnya berdebaran ketika dari balik itu muncul sebongkahan batu besar, batu yang indah berhiasan teratai diatas air.

"Dreekkk..!" Batu itu membuka, dari dalamnya keluarlah empat gadis cantik berpakaian serba warna.

Yang pertama adalah gadis berpenampilan serba kuning kunyit, sebatang pedang tampak ia genggam di tangan halusnya, rambutnya dikonde dengan konde berwarna perak.

Yang kedua, gadis itu memakai pakaian serba hijau terang, wajahnya hitam manis gula-gula jawa. hidungnya kecil dan mungil, matanya indah dihiasi bulu mata yang lentik.

Seperti halnya yang pertama ia juga menggenggam senjata pedang sebagai andalannya.

Yang Ketiga adalah gadis berwajah biasa namun menarik, wajahnya oriental, matanya hitam bersinar. ia memakai pakaian serba jingga, wajahnya terlihat keruh seperti sedang memendam masalah yang cukup besar.

Dan yang Keempat adalah gadis cantik berwajah angkuh dan sombong, bibirnya dibuat seringai ejek, matanya bersinar nakal dan binal. bajunya merah menyala serasi dengan warna bibirnya yang dipoles.

Terdengar mereka berbincang...

"Mbakyu Dewani, kita apakan gadis buruk rupa ini....!" Tanya gadis berbaju kuning kunyit.

"Emhh.... bagaimana bila kita bawa kehutan Arta saja, mengenai urusan belakangan kita rundingkan disana!" Jawab Gadis berbaju merah menyala yang dipanggil Dewani itu.

"Oh... Jangan Mbakyu... Ratih mohon...!" Rengek Gadis berbaju Jingga.

"Diam kau...! Ikuti kami atau kubunuh" Ancam Gadis berbaju hijau terang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment