Chapter 13
Gadis berbaju jingga itu menurut, dengan diiringi ketiga kawannya, gadis itu berjalan menuju hutan di sebelah barat.
"Oh, Dewani... sama sekali engkau tak berubah sejak dahulu... biarlah kali ini engkau akan merasakan nikmatnya sakit!" Desis Astradewi yang menyaksikan kejadian itu.
"Wusss.....!"
Astradewi ikut membayangi ketiganya dalam bayangan, dalam jarak satu mil, tiba-tiba dia melihat tiga orang lelaki sedang memperkosa seorang gadis.
Merasa tertarik, Astradewi bergerak mendekati dan menyaksikan kejadian itu sambil ongkang-ongkang kaki di atas dahan pohon tanpa risih sedikit pun.
Dengan bergilir, keempatnya mengerjai tubuh gadis yang sudah lemah lunglai itu.
Tubuh gadis itu sudah memerah, bahkan di beberapa bagian terdapat tanda lima jari, sepertinya gadis itu juga disiksa oleh keempatnya, wajahnya kusut, rambutnya riap-riapan, bajunya sudah tak berbentuk lagi.
Mulut Astradewi menyeringai, ia dapat satu akal untuk menuntaskan dendamnya.
Tanpa mengganggu aktivitas itu, ia berlari ke arah di mana keempat gadis tadi akan menuju.
Tak sepenuhnya nasi kemudian, ia sampai di sana, wajahnya berkerut ketika melihat apa yang terjadi.
Tampak Dewani sedang mengacungkan sebilah pedang pandak di pipi gadis berbaju jingga yang entah kapan kejadiannya diikat di pohon cempedak.
"Cepat katakan... atau aku akan menghancurkan wajah pas-pasanmu ini...!" "Ampun, Mbak... yu... jangan!" Gadis itu merintih ketakutan.
"Plakkkk.....!" Sebuah tempelengan mendarat di atas pipi gadis berbaju jingga itu.
"Kau katakan atau tidak... jawab yang tegas... kau kan yang mengadukan kami kepada guru" Bentak gadis berbaju hijau terang.
Gadis berbaju jingga itu menunduk kesakitan, dari sudut bibirnya meleleh darah segar...
"Tidak, Mabkyu, bukan saya....!" "Hem... baiklah, biar aku gunduli kau dahulu, aku ingin melihat sejauh manakah kekerasan hatimu itu" Gadis berbaju kuning kunyit mencabut pedangnya dan memegang rambut gadis itu.
Gadis berbaju jingga tutupkan mata.
Pedang digerakan dan... "Ughh....!" "Ughhh...! Ugh...!" Terdengar tiga kali lenguhan, mata gadis berbaju jingga dibuka dengan keheranan.
Dan begitu dibuka, tampak di depannya seraut wajah cantik lugu seorang "Hihi... Apa kalian tak kasihan melihatnya" dia sudah lelah, tuh..!" Sebuah teguran bernada merdu bak burung nuri berkicau terdengar, seruan yang mengagetkan tiga orang lelaki yang sedang asyik mengerjai tubuh seorang gadis yang tergolek lemah tanpa daya.
Ketiganya berpaling dan matanya berbinar, ternyata yang menegur adalah seorang gadis berusia belasan tahun yang memiliki tubuh dan wajah menggiurkan, sungguh heran mereka melihat kedatangannya yang tanpa suara.
Tiga lelaki itu semua berwajah sangar, yang pertama memiliki rajahan naga di dadanya, yang kedua di wajahnya tampak menggaris luka bekas bacokan, dan yang ketiga memiliki tangan yang melebihi rata-rata.
"Wah... Gadis cantik, apa kau mau bergabung dengan kami?" Lelaki yang memiliki rajahan naga bangkit berdiri dan berjalan mendekati Astradewi.
Wajah lugu Astradewi tersenyum geli ketika matanya tertuju kepada bagian bawah lelaki itu.
Tangannya ditutupkan di mulut agar tidak keluar suara, namun pundaknya tampak berguncang-guncang.
Keringat dingin tampak mengucur di kening lelaki yang memiliki tangan di atas rata-rata, sepertinya ia menduga bahwa gadis yang dihadapan mereka bukan gadis sembarangan, itu diketahui dari kedatangannya yang seperti hantu itu.
"Kau kenapa, Tangan Kera, melihat gadis seperti itu kau malah ciut nyali?" Bisik lelaki bercodet di muka.
"Gadis itu bukan gadis sembarangan, setidaknya ia bisa mempercundangi kita bertiga dengan mudah... aku takut kita bakal dipecundangi hari ini" Bisiknya lagi.
Sementara itu, Lelaki berajah naga mendekati Astradewi dan melompat hendak memeluk, namun ia memeluk bayangan, tubuh Astradewi raib entah ke mana.
Jangankan lelaki itu, kedua temannya pun tak habis pikir mengenai itu, Lelaki itu celingukan kesana kemari, matanya melotot ketika melihat gadis yang ia hendak peluk itu berada di samping korban mereka.
Terlihat ia membuka jubah luarnya hingga memperlihatkan baju dalam nilanya yang berupa terusan, kulitnya yang putih mulus tanpa cela itu kini terpampang di hadapan lelaki itu, ketiganya menelan ludah, bau harum khas gadis semakin membuat mereka lena.
Tapi, tak ada seorang pun yang bergerak, semua diam mematung, siapa yang mengetahui kekuatan lawan dialah yang akan menang, itulah yang mereka pakai sekarang.
Astradewi pakaikan jubah luarnya di tubuh gadis yang entah pingsan sedari kapan itu lalu berkata.
"Kalian, lekaslah pakai pakaian masing-masing, ikuti aku ke suatu tempat, jangan khawatir tak akan ada pihak yang dirugikan seperti yang kalian bisikan tadi... hihi...!" Ketiga lelaki itu tertegun dan menatap gadis berwajah lugu itu, sejuta perasaan berkecamuk dalam benak mereka, bagai kerbau dicocok hidung mereka memakai pakaian dan berjejer rapi.
"Mari!" Astradewi bergerak duluan membopong tubuh gadis yang mereka jadikan korban.
Ketiganya berpandangan, lalu ikut mengejar, dalam perjalanan.
Ketiganya tak bisa tenang, bayangan mesum mengenai gadis di depannya selalu bergeliatan liar.
Bau harum gadis itu mereka hisap dalam-dalam.
Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menelan ludah, terutama ketika rambut tergerai gadis itu menyibak memperlihatkan tengkuknya.
Atau ketika kain belahan baju terusannya tersibak angin, benar-benar pemandangan yang mengundang berahi.
"Kita sampai....!" Astradewi mengagetkan ketiganya, "Cadas Sedong!" Desis lelaki berwajah codet.
"Mari......!" Astradewi mengajak ketiganya masuk, dan betapa kagetnya ketiga lelaki itu melihat di tempat itu juga terdapat tiga gadis yang menggeletak di sebuah batu cadas datar.
Astradewi tepuk pundak ketiga gadis itu membuat mereka sadar.
Mata mereka membelalak lebar, "Kita di mana?" Gadis berbaju hijau terang menatap langit goa, tubuhnya tak bisa digerakan sepertinya bagian kakinya masih tertotok.
"Apa yang terjadi?" Keluh temannya lagi.
"Siapa kau..!" Dewani membentak Astradewi yang tersenyum mengejek.
"Mbakyu Dewani... masih ingat aku" Astradewi?
"Kau... kau! Perempuan sundal apa yang akan kau lakukan kepada kami?" Dewani marah.
Astradewi tak hiraukan orang, ia malah berkata kepada tiga lelaki yang ia jemput tadi.
"Bagaimana, kalian mau membantuku membalas dendam?" "Apa yang harus kami lakukan, nona?" Tanya lelaki berajah naga.
"Emhh... Kalian lihat gadis ini?" "Tentu, nona!" "Nah, aku mau kalian memperlakukan tiga gadis ini seperti gadis ini, bagaimana?" Astradewi mengungkapkan keinginannya yang membuat lelaki itu pelototkan mata.
"Mak... maksud... non.." "Maksudku... kalian perkosa tiga gadis ini sampai mati... tapi, tentunya siksa dahulu" Astradewi berkata seram namun mulutnya tersenyum polos dan wajahnya terlihat begitu lugu.
"Masakah serius?" Tangan Kera memastikan.
"Apa perlu aku yang membuka baju mereka" Tanya Astradewi.
Ketiganya tertegun, setelah mengatakan bersedia mereka segera mendekati calon korbannya masing-masing, Lelaki berajah naga mendekati Gadis berbaju hijau terang, lelaki bertangan besar mendekati Gadis berbaju kuning kunyit, sedangkan lelaki bercodet mendekati Dewani.
"Tunggu... kalian sisakan baju mereka satu untuk gadis ini... dan kau, tukar dengan kau!" Astradewi menunjuk Lelaki bertangan besar dan lelaki berwajah codet.
Meski tak mengerti, keduanya menurut dan segera menggerayangi tubuh korban masing-masing.
Jeritan ketakutan dari ketiga gadis itu bersahutan, cacian dan sebagainya keluar dari mulut mereka, namun ketiga lelaki itu masakah perduli.
Astradewi santai saja membersihkan tubuh gadis yang dijadikan korban pertama, ia tak pedulikan jeritan kesakitan dan lenguhan orang.
Tubuh gadis itu ia urut-urut dan dipakaikannya pakaian hijau terang milik dari korban yang saat ini dipakai pelampiasan dendam.
Dipanggulnya dan diistirahatkan gadis yang ia tolong itu, tak lupa ia totok beberapa bagian dari tubuhnya.
Lalu Astradewi berjalan dan duduk di antara ketiga pasang orang itu, ia saksikan Lelaki bertangan besar meremas kuat bagian tonjolan di dada milik Dewani hingga membekas, Dewani menjerit kesakitan, matanya berkaca-kaca...
Lelaki berwajah codet juga tampak menindih tubuh lawannya dan sekali-kali memukul pantat sekalinya.
Membuat pemilik tubuh itu menjerit-jerit.
Dengan buasnya Lelaki berajah naga juga menghujamkan senjatanya di bagian lawan, dari selasela adu kekuatan itu keluar darah bercampur cairan bening.
Entah berapa waktu telah berlalu, akhirnya ketiganya menjerit dan terkulai, dari wajah mereka tampak sinar kepuasan, sedangkan korbannya tampak kusut masai menahan derita.
Astradewi belum puas juga dengan wajah lugu dan kekanak-kanakan ia berteriak...
"Ayo... ayo gilir... gilir buat aku puas menyaksikannya, jikalau aku puas maka tubuhku juga aku berikan untuk kalian cicipi... ayo... teruskan!" Astradewi terus memberi semangat kepada tiga orang itu.
Mendengar mereka juga bisa mencicipi gadis itu, maka bagaikan lokomotif yang baru diisi batu bara saja mereka melakukan aksinya.
Desahan... jeritan, tawa kepuasan bersahut-sahutan hingga larut malam dan pagi lagi...
Namun aktivitas itu belum juga berakhir...
Sungguh kejam hati Astradewi menyiksa orang dengan wajah tak bersalah.....
Tapi, itulah yang terjadi....
Orang bilang "orang yang bekerja membersihkan tahi kerbau mustahil bau bunga mawar" Setiap tindakan seseorang selalu tergantung dengan apa yang disebut dengan lingkungan, bila lingkungannya mendidik ia menjadi seorang yang jahat, sulit sekali ia memiliki hati yang baik, meski selalu ada bunga lotus dalam lumpur.
"Apa kau percaya apa yang diucapkannya, Sobat Garda?" Seorang lelaki berjubah merah alias Arya bertanya "Sama sekali tidak..."