Chapter 14
"Aku lebih mempercayai diriku sendiri ketimbang orang lain. Aku hanya mengambil sisi keuntungannya saja, lagipula tanpa mereka aku bisa merajai dunia persilatan."
"Aku percaya itu. Kau memang penurut, Janggal. Sekilas kau begitu penurut, namun siapa yang akan menyangka bahwa segudang rencana telah kau persiapkan!"
"Haha... Itulah yang mendiang Guru ajarkan padaku. Dunia persilatan sangatlah keras. Bila kita tak menyediakan payung sebelum hujan, maka kitalah yang akan rugi."
"Benar... Benar... Hanya saja aku meragukan sesuatu hal, sobat Gardapati!"
"Apakah itu?"
"Kemampuanku...!"
"Itu bisa diurus, sobat Arya."
Begitulah percakapan yang terdengar di sebuah kedai makan sederhana. Di sekelilingnya hanya ada bangku-bangku yang berderet, sedangkan kedainya terbuat dari bambu, dan atapnya dari ilalang.
Mereka memang tak lain adalah Gardapati dan Arya. Setelah bertemu dengan kakek berjubah ungu yang memintanya menjadi pemimpin, Gardapati meminta kakek itu mengeluarkannya dari hutan. Setelah sehari berjalan keluar dari hutan, keduanya sampai di desa itu dan memesan makanan.
Ketika sedang asyik bercakap, keduanya tiba-tiba mendengar kabar yang cukup mengagetkan.
"Kabarnya Maharaja sudah menaikkan harga bagi siapa saja yang dapat memenggal Si Iblis dunia persilatan," kata seorang lelaki berpenampilan petani, namun sangat janggal sebab petani itu membawa golok besar. Dalam dunia persilatan, ia lebih dikenal dengan nama Petani Edan Pembawa Golok.
"Wah, wah, benarkah itu, Petani Edan?" Hemm... Bagaimanapun, sumpah Si Iblis bermata hijau masih terngiang di telingaku juga di telinga setiap umat persilatan yang mendengarnya. Jadi, tak heran bila Maharaja sampai melakukan tindakan itu," ucap seorang lelaki berjubah loreng kuning dan cokelat.
"Sumpah apakah itu?" Lelaki berbaju loreng menghela napas panjang. "Menyesal, pada hari itu istriku sedang sakit, makanya aku tidak ikut. Sebelum kematiannya jatuh ke Jurang Mulut Dewa Neraka, dia bersumpah bahwa suatu hari nanti akan ada orang yang menguasai Kitab Dewa Iblis dan Iblis Dewa... dan... memporak-porandakan kembali dunia persilatan."
"Apakah muridnya?"
"Entahlah, muridnya atau apa, aku sama sekali tak tahu."
Tiba-tiba mereka diam dan melanjutkan obrolan ke topik lain. Itu terjadi ketika serombongan lelaki berbaju prajurit masuk ke dalam kedai.
"Hem... Baiklah, untuk memperkuat rencana kita, aku akan mengajari ilmu Dewa Iblis dan Iblis Dewa kepadamu." Gardapati tiba-tiba berbisik lirih dengan ilmu penyampai suara di telinga Arya, Si Pemetik Mawar Merah.
"Uhuk... Uhuk...!" Saking kagetnya, Arya Si Pemetik Mawar Merah tersedak. Nasinya berhamburan ke mana-mana. Wajahnya melotot kaget!
Gardapati mengedipkan mata menenangkannya, membuat Arya kembali tenang sehingga suasana di kedai itu pun kembali hening.
Tiba-tiba...
"BRAAKKK!" Sebuah bangku dihantam orang, terdengar dia berteriak. "Sediakan makanan untuk kami!" Gardapati melirik. Dilihatnya, yang datang adalah serombongan orang; mereka terdiri dari dua kakek-kakek, satu wanita paruh baya, dan satu gadis.
Dengan tergopoh-gopoh, pelayan menyediakan makanan untuk mereka. Sepertinya mereka diistimewakan daripada yang lainnya.
"Saudara Garda... hati-hati dengan wajahmu. Kau sudah terkenal di mana-mana, bisa berbahaya bila bertemu dengan mereka!"
"Kau kenal mereka?"
"Dalam dunia persilatan, dua kakek itu terkenal dengan senjata mereka: Sepasang Pedang Kematian. Yang memakai baju hijau adalah Kakek Pedang Keadilan, dan yang memakai baju merah adalah Kakek Pedang Kebenaran. Wanita itu adalah tuan mereka. Dalam dunia persilatan, ia dipanggil Nyonya Kabar Langit; tak satu pun kabar yang lolos dari telinganya. Dan gadis itu putrinya, Pendekar Gadis Suci."
"Ternyata pengetahuanmu hebat sekali, sobat Arya!"
"Ini berkat pengalamanku dalam dunia persilatan. Dalam dunia persilatan, aku sama sekali tidak terlalu terkenal, sebab aku hanya dari golongan kelas tiga saja."
"Kelemahanmu adalah senjatamu," Gardapati memuji. Wajah Arya memerah karena pujian itu.
"Sebaiknya kita pergi sebelum kejadian yang tak diinginkan muncul. Saat ini tenaga kita masih kurang. Jangan takut kehabisan kayu bakar selama gunung masih menghijau."
"Mari...!" Keduanya pun segera beranjak meninggalkan tempat itu.
"Kita menginap di sini saja!" Seorang lelaki bercaping lebar berbaju kelabu mengusulkan kepada kawannya yang berjubah merah.
Tanpa menjawab, lelaki berjubah merah masuk ke salah satu penginapan itu.
"Sediakan sebuah kamar untuk kami," kata lelaki berjubah merah yang tak lain adalah Arya itu kepada pelayan di tempat itu.
"Baik, Tuan!" Dengan tergopoh-gopoh, pelayan itu membawa keduanya ke salah satu kamar.
Arya mengibaskan tangan menyuruh pelayan itu pergi. Dan dituruti dengan baik.
Lelaki bercaping lebar itu membuka capingnya.
Desa Nagasari adalah sebuah desa cukup besar dengan penduduk yang cukup padat pula. Penduduk desa itu tampak berbondong-bondong menuju salah satu rumah terbesar di desa itu. Kaum tua, kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai penjuru desa. Ada pula yang dari luar desa —dengan kata lain desa lain— ikut pula berdatangan. Tersiarnya berita bahwa putri tunggal Drajasengkala mengadakan sayembara mencari jodoh tentu membuat semua orang bergembira hati. Siapa pun berdatangan untuk ikut mengadu untung. "Jika tidak, ya nasib. Jika ya, nasib juga."
Putri Drajasengkala itu sudah terkenal di mana-mana. Ia terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki kecantikan seperti bidadari. Berbagai pinangan dari orang-orang besar, dari putra-putra para ketua perkumpulan, pendekar muda terkenal, dan dari pihak istana pun pernah ia tolak. Tentu saja, para pemuda itu pun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana wujud rupa dan bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang di antara mereka yang pernah melihat Putri Drajasengkala yang bernama Dyah Krusina. Sebagian lain ingin ikut bersayembara, atau pula dengan maksud-maksud yang lain.
Di halaman rumah itu tampak sudah ramai. Panggung besar dari kayu tampak dihias megah. Di depan panggung, sisi kanan dan kiri tampak duduk beberapa orang. Di atas panggung itu, tampak berdiri seorang lelaki paruh baya berpakaian bangsawan berwarna biru muda. Dalam dunia persilatan, ia dikenal dengan julukan Bangsawan Berhati Emas.
"Para hadirin sekalian, saudara-saudari yang saya hormati... terimalah salamku, Drajasengkala. Pada hari ini, kami mengundang para saudara sekalian dengan maksud mencari jodoh untuk putriku, Dyah Krusina." Seorang lelaki paruh baya berpakaian bangsawan berkata ramah sambil melambai ke balik panggung.
"Suit... Suit...!" Dari balik panggung itu, keluarlah seorang gadis cantik jelita. Wajahnya putih kemerahan, berseri-seri. Pada pipinya yang berona kemerahan, tampak lesung pipit yang menghiasi ketika ia tersenyum malu. Hidungnya bangir dengan alis mata lentik seperti semut yang berjalan. Bulu-bulu matanya begitu melengkung ke atas, rapi seperti prajurit tertiup angin. Rambutnya hitam, digelung ke atas, diikat rantai emas permata. Ujung rambutnya bergantung di belakang punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping. Pinggangnya yang kecil terbungkus pakaian sutra kuning emas bermotif bunga mawar mekar, ketat mencetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih sejak kecil. Kancing bajunya terbuat dari berlian putih yang gemilang. Ikat pinggangnya dari sutra biru yang bergerak-gerak bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutra putih seakan membayangkan sepasang kaki indah, padat berisi, dan sempurna lekuk-lekuknya. Usianya baru sembilan belas tahun. Namun, ilmu silatnya amat tinggi, terbukti dengan matanya yang mencorong tajam. Hal ini tidak mengherankan karena sejak kecil ia digembleng oleh ayah dan ibunya sendiri. Dari ibunya yang bergelar Perempuan Cantik dari Jawadwipa, gadis itu mempelajari sifat keanggunan seorang perempuan. Sedang ayahnya yang bergelar Bangsawan Berhati Emas menggemblengnya dengan silat sehingga bentuk tubuhnya, selain menggiurkan, juga berbahaya bila diganggu secara serampangan.
Para tamu, muda dan tua, yang berjajar rapi di muka panggung menatapnya dengan mata jalang dan mulut ternganga. "Mohon petunjuk dari Tuan-tuan!" gadis itu berkata sambil menjura. Suaranya merdu bagaikan sihir yang membuat semua orang akan terhipnotis; suaranya bernada anggun, manja, merayu. Kesiuran angin harum dari tubuhnya terhisap oleh para tamu hingga mereka mabuk kepayang. Ketika tubuhnya membungkuk, tampak kulit di lehernya terbuka, membuat siapa pun yang melihatnya menelan ludah habis-habisan. Gadis itu bangkit dan berbalik kembali ke belakang panggung.
Setelah bayangan gadis cantik itu lenyap, para tamu pun ribut. Siapa pun yang datang ke tempat itu pasti tidak mengecewakan hati. Bahkan melebihi semua dugaan. "Andai aku menjadi pemenangnya, pasti setiap malam aku akan mendekapnya dengan sejuta kasih... Kuciumi aroma tubuhnya yang membuat hati tergiur itu. Sungguh, aku merasa sayang bila menindihnya dalam kasur impian. Aduh... mati aku...! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama lagi!"
Seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas panjang.
"Lebih baik mati di bawah kaki si jelita daripada pulang bertangan hampa. Bukan hal yang sia-sia jika darahku mengalir untuk mendapatkannya!" sambung pemuda kedua.
"Sungguh bidadari dalam impian..." kata pemuda lain.
"Mulutnya yang mungil itu... ukhhh! Amboi! Mulutnya... Ah, ingin aku menjadi sikat giginya dan berkenalan dengan bibir itu. Aduhhh...! Suaranya terlalu merdu untuk seorang manusia... Akh... aku terlena!"
"Ukh... Tubuhnya begitu menggiurkan hati... Seandainya aku menjadi pakaiannya, pasti bisa merasakan betapa halus dan indahnya... akh!"
"Andai istriku seperti itu... Akh..."