Chapter 15
"Setiap malam pasti akan kukerjai!" Bermacam-macam seruan para muda dan tua itu, yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati masing-masing yang menggelora.
Sudah lazim kalau sekumpulan lelaki bercakap-cakap mengenai perempuan, apalagi mengenai kecantikan dan urusan ranjang.
Mereka lebih berani menyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan kadang-kadang terdengar kata-kata yang kurang sopan.
Yang tadi tak kenal, kini mereka bersahabat. Selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka tiada habisnya memuji-muji dan membicarakan Dyah Krusina yang diam-diam mereka perebutkan.
"Baiklah... untuk mempersingkat waktu, sayembara ini saya ucapkan dibuka. Mengenai aturan mainnya, biarlah pembawa acara keluarga kami yang menuturkan," Drajasengkala berkata.
Ia kemudian mundur dan membalikkan badan menuju balik panggung, sementara pembawa acara yang merupakan seorang pemuda berusia tiga puluhan maju ke depan.
"Mohon maaf, saudara-saudara tuan pendekar, perkenankan saya memimpin acara ini. Saya adalah Banusura, kepala rumah tangga keluarga ini." Banusura berhenti sejenak lalu melanjutkan.
"Baik, langsung saja. Peraturan dalam permainan ini adalah: Pertama, siapapun boleh menggunakan senjata atau masing-masing, dengan catatan tidak ada darah yang mengalir atau dengan kata lain kematian. Jika hanya patah tulang, memar, atau tergores, itu tidak menjadi masalah.
Kedua, jika sudah mengaku kalah, yang menang dilarang berbuat semena-mena.
Ketiga, siapapun yang berdiri terakhir di arena ini, dialah pemenangnya.
Adapun hadiahnya adalah sebuah senjata yang bernama Ki Raden Agung Suto, yang merupakan keris berlekuk tiga belas; satu peti emas; dan yang terakhir, dapat mempersunting Ni Dyah Krusina, putri sulung dari bangsawan berhati emas." Tepuk tangan dan sorak-sorai bergema di mana-mana, terdengar si pembawa acara itu kembali berkata.
"Nah, saudara-saudara, acara yang kita nantikan akan segera dimulai! Silakan kepada tuan penantang untuk menaiki panggung!" seru prajurit pembawa acara itu.
"Huuu..." sorakan dari penonton bermacam-macam, tetapi suasana ricuh hanya sesaat saja, karena dua peserta mulai memasuki panggung.
Tidak terdengar suara satu pun.
Dari sisi kiri panggung, keluar orang berwajah tampan, raut mukanya menyiratkan sikap angkuh.
Baju yang dikenakan berwarna putih dengan celana hitam.
Warna yang sangat kontras.
Kemunculan pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun ini membuat sorak-sorai penonton meledak, karena mereka juga tidak sabar melihat pertandingan berikutnya.
Pemuda itu sudah berdiri menghadap penonton dengan tatapan wajah dingin dan angkuh.
Tidak berapa lama kemudian, dari sisi kanan panggung naik seorang pemuda berpenampilan sederhana. Rambutnya yang panjang sepinggang dibiarkan terurai dipermainkan angin.
Baju yang dikenakan pemuda itu berwarna biru.
Sesampainya di depan penonton, keduanya membungkuk sebagai tanda penghormatan, lalu saling berhadapan dan saling merangkapkan tangan di dada.
"Maaf, saya yang akan memenangkan pertandingan ini, Giring Perak!" ucap pemuda berbaju biru.
"Haha, Pangeran berbaju biru, jangan takabur dulu!" jawab pemuda berbaju putih yang tak lain adalah Giring Perak.
"Settt...!" Keduanya memasang kuda-kuda.
"Hiyaa...!" Giring Perak maju ke hadapan Pangeran berbaju biru. Secepat kilat ia melakukan tendangan atas dengan kaki kanan. Pangeran berbaju biru merunduk sehingga serangan itu lewat di atas kepalanya, namun ia cukup tercekat ketika kaki kiri Giring Perak kembali menyambar.
Sekali lagi dengan gesit Pangeran berbaju biru mengelak.
Wusssh...
"Oh... Hebat!" Penonton bersorak-sorak.
Giring Perak tersenyum dingin, tubuhnya berjongkok. Dengan kecepatan kilat, ia melakukan sekaligus lima belas tendangan.
Pangeran berbaju biru kelimpungan, terutama ketika sebuah tendangan memutar nyaris menghantam kepalanya.
"Wah, cepat sekali... Tampaknya si baju biru bakal kalah!" Seorang penonton berteriak lantang.
Pangeran berbaju biru jengkel juga mendengar itu. Sekaligus ia meloncat dan membabat lawan dengan menggunakan telapak tangan.
"Hiaattt!" "Plak... plak... plakk...!"
Benturan tangan bersahut-sahutan, laksana ombak yang menggulung desa.
Pangeran berbaju biru menghantamkan telapak tangannya bersusulan, membuat lawannya mundur terus-menerus.
Dengan gusar, Giring Perak mundur dan meninju lawan.
Pangeran berbaju biru tersenyum dingin. Tangan kiri menangkis, sementara tinju tangan kanan melayang. Lawan menghindarkan kepalanya, namun tangan yang terlanjur melayang ditekuk sehingga sikunya dengan telak menghantam pelipis lawan.
"Bukkk!" Giring Perak mundur terhuyung. Namun, bukan berarti dia menyerah. Tangan kanannya dipukulkan, membalas serangan lawan.
Pangeran berbaju biru menangkap pergelangan tangan lawan. Kaki kirinya menyapu membuat tubuh lawan terbang membalik dan jatuh telungkup. Sigap sekali ia menginjak leher lawan, membuat Giring Perak tak dapat berdiri. Dengan kata lain, kalah.
Pangeran berbaju biru tersenyum dan membantu lawan bangun. Setelah itu, ia menjura kepada para penonton.
"Terima kasih. Mohon petunjuk saudara-saudara sekalian." Terdengar para penonton berbisik-bisik.
"Hebat sekali!" "Ilmu keduanya benar-benar hebat!" "Pertarungan di tengah, aku tak dapat melihatnya... terlalu cepat!" "Huppp...! Jleggg!" Seorang lelaki berbaju merah darah dan bercaping lebar berdiri di panggung.
Tak ada kata dalam bibirnya. Ia diam saja, laksana seorang patung.
"Caping Darah, aku minta petunjukmu!" Pangeran berbaju biru menjura. "Tak berani... tak berani," Caping Darah menjawab.
"Maaf!" Pangeran berbaju biru maju ke depan dan menendangkan kakinya. Tetapi, si Caping Darah bukan lawan yang empuk. Tubuhnya merandek ke tanah, menjadikan tangan sebagai rotasi putaran tubuh. Ia menendang bagian bawah kaki lawan, sebut saja tulang kering, dari belakang.
"Dugh!" "Oh!" "Teppp... Jleggg!" Tubuh Pangeran berbaju biru ambruk, namun jatuhnya itu diawali dengan kepala yang disangga. Sekali ayun, ia meloncat lagi dan berjongkok.
Belum sempat ia berdiri dengan stabil, Caping Darah maju ke hadapannya. Segera ia layangkan tinju ke arah kepala lawan.
"Cari kematian!" dengus Caping Darah. Tangan kanannya menangkis. "Plakkk!" Kakinya berputar. "Bugghhh... Ugh!" Dengan telak, sikut kiri Caping Darah menghantam wajah lawan. Benar-benar serangan yang hebat!
Semua tamu berdecak kagum. Namun, tampaknya semua pertarungan itu tidaklah cukup menarik di hadapan seorang pemuda tampan berbaju putih keperakan.
Wajahnya terlihat biasa saja, seolah semua pertarungan itu hanya sebuah permainan yang membosankan. Malah, terlihat ia memejamkan matanya. Bila Putri Dyah Krusina adalah idaman para lelaki, maka pemuda yang tak lain adalah Gardapati itu adalah idaman para perempuan.
Terdengar kasak-kusuk dan cekikikan dari para pelayan ataupun istri dan anak dari para tamu undangan dalam acara itu. Meski mendengar, Gardapati acuh saja sampai ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Hai, Kisanak?" sapa suara itu.
Gardapati membuka matanya. Ia melirik siapakah orang yang menegurnya. Terlihat seorang pemuda gagah berusia dua puluh tiga tahunan berbaju hijau toska tersenyum padanya.
"Hai juga... siapakah Kisanak?" Gardapati bertanya halus.
"Perkenalkan, saya Sagara Angkara... dan siapakah nama Kisanak?" "Gardapati!" jawabnya singkat.
"Apakah Kisanak hendak mengikuti sayembara ini?" "Tidak. Apakah Kisanak juga hendak mengikuti?" "Tidak. Saya hanya hendak menyaksikan keramaian saja, sekalian hendak mencari sahabat." "Oh...!" Gardapati menjawab dan kembali memejamkan mata.
Diam-diam pemuda berbaju hijau toska itu memaki dalam hati atas kedinginan orang di sampingnya. Daripada pusing, ia mengalihkan kembali perhatiannya pada panggung.
Terlihat bahwa Pangeran berbaju biru melayang jatuh. Dengan cepat, Caping Darah menendangkan kakinya.
"Bukkk...!" "Gusrakkk...!" Bep...! Telak sekali tendangan Caping Darah! Seketika Pangeran berbaju biru pingsan dan terjatuh ke bawah panggung.
Belum sempat Caping Darah berdiri tegak, seseorang telah membentaknya.
"Jangan sombong kau, Caping Darah!" "Jlegg...!" Bentakan itu berhenti. Di atas panggung telah berdiri seorang pemuda berjubah coklat, wajahnya sangar dan sombong. Bibirnya selalu tersenyum ejek, menghina orang lain.
"Ternyata kau, Pangeran Jubah Coklat...!" Dingin sekali ucapan Caping Darah.
"Huh!" Bet...! Tangan terkepal Pangeran Jubah Coklat mengeluarkan dua buah pisau kecil dari sela jarinya. Kening Caping Darah mengerut, sindirnya tajam.
"Selalu ada senjata rahasia, ya!" "Apa kau keberatan?" jawab Pangeran Jubah Coklat tak kalah tajamnya.
"Apa aku terlihat keberatan? Hanya aku miris saja dengan kelicikanmu. Apa jadinya Putri Dyah Krusina jika diperistri olehmu!" "Kau...!" Pangeran Jubah Coklat tak kuasa menahan gusar. Sekali menerjang, ia menyambar dengan pukulan yang terselip pisau itu hingga enam, tujuh pukulan.
Caping Darah menyunggingkan senyum sinis. Dalam kudanya, ia tak pindah kedudukan. Hanya dengan liukan tubuhnya, ia dapat menghindari serangan lawan.
"Settt...!" Kali ini serangannya disabetkan. Tentu saja Caping Darah enggan dijadikan korban keganasan lawan. Dengan menjadikan kaki kiri sebagai tumpuan, ia menjejakkan tubuhnya hingga melesat mundur.
"Daun Darah Terhembus Angin!" gumam Pangeran Jubah Coklat.
"Benar... ternyata kau kenal juga...!" jawab Caping Darah.
"Wussh...!" Tubuh Caping Darah menerjang. Begitu di hadapan lawan, dirinya dihadapkan dengan sebuah sapuan kaki.
"Bwettt...!" Ilmu peringan tubuhnya dikerahkan. Tubuhnya meloncat ke belakang dan menjejakkan kakinya di tiang panggung.
Tubuhnya meloncat sambil berputar. Tangan kiri disimpan terkepal dekat pinggang, sementara tangan kanan ditekuk dekat kepala.
Begitu Pangeran Jubah Coklat membalikkan muka, wajahnya tampak pias melihat kepalan lawan hampir mampir di pelipisnya.
Ia ingin menghindar, namun terlambat. Keinginan tetap keinginan. Belum sempat otak merespons, pelipisnya sudah terhajar lawan.
"Duaakkk...!"