Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 16

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 16

Sakitnya bukan main, tubuhnya doyong dan menabrak tiang. Melihat lawan terkena telak, kaki kiri diturunkan dan dijadikan poros putaran tubuh, sementara kaki kanan melayang.

"Duaghh!"

"Ugh!"

Darah menyembur dari bibir, tubuhnya menggelosor jatuh dan pingsan. Sementara itu, di balik panggung...

"Ayah!"

"Ya, Anakku?"

"Seandainya yang menang adalah pemuda berbaju perak itu, aku pasti akan sangat bahagia," ucapnya lirih.

"Pemuda mana yang kau maksudkan, Anakku Dyah?" tanya Drajasengkala heran.

"Itu, Ayah..." Dyah Krusina menunjuk ke arah pemuda berbaju putih perak yang duduk tenang. Pemuda itu tak lain adalah Gardapati.

"Pemuda yang tampan!" ucap seorang perempuan setengah baya yang memiliki wajah cantik. Meski sudah setengah baya, tubuhnya masih memikat setiap mata. Dia adalah ibu Dyah Krusina.

"Sudahlah, Anakku. Bagaimanapun, pemenang sayembaralah yang berhak meminangmu. Mulut terlanjur terdorong, emas padahannya!" Drajasengkala menasihati. Dyah Krusina menundukkan kepala, wajahnya merah merona bagaikan ayam mengeram telur.

Pertarungan semakin sengit. Peserta datang dan pergi bergantian. Luka dan memar sudah menjadi hal biasa; itulah risiko perjuangan. Pagi beranjak siang, siang beranjak senja, namun pertarungan belum juga berhenti. Dentuman pedang, senjata, dan tenaga dalam menciptakan nada di tengah senja yang kuning kemerahan itu. Sorak-sorai gegap gempita meriah bagai pesta rakyat.

Terlihat seorang lelaki berambut poni berdiri sambil memutar-mutarkan tali dengan bandul besi di tengah panggung.

"Huahaha! Apa tidak ada yang berani menantangku lagi, si Bandul Tali Mati?" sesumbar lelaki itu.

"Hup! Jleg!" Seorang pemuda memakai baju putih dan celana kuning menudingkan pedang dan berkata, "Mentang-mentang kau sudah mengalahkan sepuluh orang tanpa kalah, lantas kau menjadi sombong, Bandul Tali Mati?"

"Haha! Pedang Bayangan, lebih baik kau pulang kembali ke ibumu. Kau yang belum selesai menyusu juga berani naik ke panggung ini!" jawab Bandul Tali Mati.

*Swing! Swing!*

Bandul tali itu diputar dengan dahsyat sampai talinya tak kelihatan lagi. *Wung!* Sekali sentak, ia menyerang Pedang Bayangan.

*Bret!*

Kain jubah Pedang Bayangan robek. Pemiliknya gusar bukan kepalang. Segera ia membabatkan pedangnya dan berteriak lantang, "Mampuslah!"

Pedang disabetkan, namun rupanya Bandul Tali Mati bukan lawan yang mudah. Bandul besinya menyambut serangan itu.

*Trang! Prak!*

Pedang milik Pedang Bayangan patah menjadi dua. *Duk!* Dengan telak bandul besi itu menghajarnya. Pedang Bayangan terhuyung, namun ia malah tersenyum sinis.

*Bret! Buk! Hoek!*

Tiba-tiba tali bandul milik Bandul Tali Mati putus. Bukan itu saja, tubuhnya juga terkena hantaman lawan hingga mulutnya menyemburkan darah segar. Bandul Tali Mati kaget bukan kepalang saat melirik lawannya telah berubah menjadi dua. Wajahnya pias.

"Bayangan Arwah!" desisnya.

"Benar, apa kau melupakan bahwa aku memiliki ilmu ini?" jawab Pedang Bayangan.

"Terima ini!" Pedang Bayangan kembali menerjang dan menghantamkan tinjunya.

*Bug! Bug! Bug! Des!*

Bandul Tali Mati adalah seorang petarung yang dikenal karena senjatanya. Ketika senjatanya rusak, ia kehilangan daya. Wajahnya dihajar telak oleh lawan. Tak hanya itu, Pedang Bayangan meloncat dan memukulkan sikutnya ke rahang lawan. Tanpa ampun, Bandul Tali Mati dibuat limbung dan sempoyongan.

*Bret!*

Lehernya terasa dingin, darah mengucur dari sisi lehernya. Ketika ia sedikit siuman, di lehernya sudah terpatri sebatang pedang lawan. Sedikit saja ia bergerak, lehernya akan lepas dari tubuhnya. Keringat dingin mengucur dari tengkuk dan dahi. Tangan kanannya diangkat sebagai pertanda menyerah kalah. Tanpa kata, ia mengambil bandul talinya dan turun dari panggung.

"Benar-benar pertarungan yang membosankan!"

Terdengar komentar atas pertarungan itu. Semua orang terperanjat sebab mereka hanya mendengar suara tanpa tahu siapa yang berbicara. Jangankan orangnya, dari arah mana suara itu berasal pun tak ada yang tahu.

Gardapati membuka matanya, mulutnya menyunggingkan senyum manis. "Nah, sepertinya baru sekarang ada hal yang menarik."

"Hem, kamu kenal pemilik suara ini?" Sagara Angkara bertanya.

"Siapapun pasti mengenalnya, kau lihat saja nanti. Sepertinya acara perjodohan ini tidak akan berjalan mulus."

"Mengapa kau terlihat senang?" tanya Sagara Angkara heran.

"Aku kemari karena kupikir akan ada yang menarik. Siapa tahu..."

"Siapa tahu apa?"

"Bakal terjadi sesuatu!"

"Sebenarnya akan ada kejadian apa?"

"Rahasia langit tidak boleh bocor!"

Keduanya diam. Kali ini mata Gardapati berbinar-binar menatap ke arah panggung.

"Siapa kau!" bentak Pedang Bayangan.

"Aku adalah aku, untuk apa kau tahu?" jawab suara itu. Suara itu terdengar dari barat, namun juga dari timur; dari utara, namun juga dari selatan.

"Dari suaranya, dia seorang pemuda. Namun, di usia semuda ini sudah menguasai Suara Langit Pembingung Angin. Siapakah dia?" Sagara Angkara bergumam.

"Lihatlah di atas panggung itu," ujar Gardapati.

Sagara Angkara mengalihkan pandangan ke panggung dengan mata berkerut. Belum sempat ia berbicara, Gardapati kembali menyela.

"Maksudku di atas. Di atasnya panggung!"

"Haha!" Sagara Angkara tertawa ringan mendengar ucapan berbelit itu. Terlihat di atas atap panggung, seorang pemuda berbaju kelabu dengan caping lebar sedang duduk ongkang-ongkang kaki.

"Iblis Dunia Persilatan?" tanya Sagara Angkara meyakinkan.

"Kurasa begitu," jawab Gardapati santai, namun bibirnya menyunggingkan senyuman misterius.

"Kisanak, kemampuanmu dalam mengetahui jejak musuh benar-benar hebat. Siapakah gelar Kisanak?"

Gardapati tertegun. Sesungguhnya "Iblis Dunia Persilatan" adalah gelar miliknya, namun ia sengaja menyembunyikannya dan membiarkan orang lain memakai identitas tersebut. Ia merasa bingung dengan gelarnya sendiri saat ini.

"Pelajar Berbaju Perak Berwajah Setan," akhirnya tercetus sebuah nama yang baru saja terpikir olehnya.

"Haha! Benar-benar cocok dengan Kisanak yang memakai baju perak. Hanya saja, mengapa berwajah setan? Padahal wajah Saudara sangat menarik hati, terutama bagi kaum perempuan."

"Di sanalah letak gelar berwajah setannya. Siapapun yang pernah melihat wajah saya pasti tidak akan lupa, seperti melihat setan!"

"Haha, menarik!" Sagara Angkara tergelak, membuat semua orang berpaling kepadanya. Namun hanya sebentar, sebab terdengar letupan keras dari arah panggung.

"Blaarrr!"

Debu mengepul. Setelah debu menghilang, terlihat Pedang Bayangan telentang di tengah cekungan bekas telapak tangan. Luar biasa. Darah mengalir, nyawanya pun telah hilang.

Suasana menjadi ricuh. Sebagaimana yang diketahui, pertarungan dalam sayembara itu dilarang mengakibatkan kematian, namun kini terjadi pembunuhan. Senja berwarna merah, kilatan mentari menyinari genangan darah hingga memantulkan cahaya yang mengerikan.

Pembawa acara maju ke panggung dan berteriak, "Saudara, siapakah Anda? Mengapa Anda melakukan pembunuhan? Bukankah saya sudah menegaskan bahwa tidak boleh ada darah yang mengalir dalam sayembara ini?"

"Siapakah yang dapat menghentikanku bila aku ingin membunuh?" terdengar jawaban tepat di belakang pembawa acara itu.

Pembawa acara berbalik dengan wajah pucat pias. Ia mundur ketakutan hingga terjungkal dari atas panggung.

"Iblis Dunia Persilatan!"

"Dia Iblis Dunia Persilatan!"

*Sreng! Sreng!*

Berbagai macam senjata dicabut. Penonton yang tadinya bersorak mulai mengepung, sementara mereka yang tidak bisa ilmu bela diri lari kocar-kacir. Tuan rumah segera menyembunyikan para perempuan, sementara dirinya sendiri maju ke depan sambil mencabut senjata.

"Nah, ini dia keramaian yang ditunggu!" Gardapati tertawa bahagia, namun ia tetap tidak beranjak dari kursinya.

"Kisanak, apakah pembunuhan itu sangat menarik hatimu?" tanya Sagara Angkara penasaran.

"Tentu saja. Kita orang persilatan sudah biasa dengan pembunuhan. Lagipula, ini bukan sekadar pembunuhan, melainkan pembantaian," jawab Gardapati dingin.

"Apa maksudnya?"

"Lihat itu..."

Sagara Angkara berpaling. Wajahnya memerah melihat pemandangan di depannya. Banyak orang telah bergelimpangan tak bernyawa. Sebelum semua orang terbunuh, Sagara Angkara segera meloncat ke hadapan sosok yang disebut Iblis Dunia Persilatan itu.

"Kalian mundurlah!" teriak Sagara Angkara.

"Apa kau mau menguasai hadiahnya sendirian?" bentak seorang pemuda berbaju hitam.

Sagara Angkara tertegun. Ia belum tahu bahwa kepala Iblis Dunia Persilatan telah dihargai sangat mahal dalam dunia persilatan.

"Persetan dengan uang! Apakah kalian ingin bernasib sama dengan mereka?" teriak Sagara Angkara marah.

Semua orang berpaling dan seketika bergidik. Ternyata mereka telah dibutakan oleh uang hingga tak melihat mayat yang bergelimpangan. Secara teratur mereka mundur hingga kedua tokoh itu berhadapan.

"Kisanak, betapa kejamnya hatimu," ujar Sagara Angkara.

"Haha! Jika tak memiliki hati yang kejam, mungkin aku sudah mati sejak dahulu. Terutama dalam menghadapi manusia yang mengaku golongan putih. Mengaku orang golongan Tuhan, lantas mendiskriminasi orang lain. Inilah aku, korban diskriminasi para tetua golongan putih. Maka dari itu, akan kubantai setiap orang yang mengaku golongan putih. Kau pun tidak terkecuali!" Iblis Dunia Persilatan yang dipanggil Arya ini menunjuk ke arah Sagara Angkara.

Sagara Angkara tak tahan lagi jika hal itu menyangkut para tetua. Dia sangat menghormati mereka, namun kini malah dihina begitu saja.

*Sreng!*

Sebilah pedang panjang dengan ujung berbentuk cagak tercabut dari sarungnya. Itulah Pedang Sayap Dewa, sebilah pedang yang secara mendadak bisa berubah menjadi dua bilah.

"Gunakan senjatamu!"

Arya tertawa. Ia melepaskan caping lebarnya hingga memunculkan seraut wajah tampan. Dari wajahnya, jelas bahwa orang yang bergelar Iblis Dunia Persilatan itu adalah seorang pemuda yang baru berusia belasan tahun.

"Aku gunakan tongkat kayu ini saja!" ucapnya seraya mengambil sebuah tongkat kayu di dekat kakinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment