Chapter 17
Sagara Angkara tertegun. Ia terkejut melihat wajah lawan. Tidak hanya itu, ia juga kaget karena lawan hanya menghadapinya dengan sebatang tongkat.
"Apa kau meremehkanku?"
"Terserah anggapanmu saja," jawab Arya.
"Bet! Bet!" Keduanya melesat saling berhadapan.
*Ttak! Truk! Trangg!*
Luar biasa, keduanya bertarung seimbang. Senjata beradu dan dentingan nyaring bergema. Angin berseliweran, debu mengepul; benar-benar pemandangan yang sangat langka. Arya menyodokkan tongkatnya berulang-ulang dengan kecepatan laksana kilat menyambar, sementara Sagara Angkara menangkisnya dengan kecepatan cahaya. Arya memutar tubuh dan menyabetkan tongkat, hingga desauan angin terbelah mendesir dahsyat.
"Trangg!" Arya mendengus dingin. Tubuhnya merunduk, tongkatnya menyodok deras ke arah muka lawan.
Sagara Angkara terkejut. Segera ia membuang muka ke samping, namun nahas, telinganya tersodok juga. Ia lekas mempergunakan ilmu peringan tubuh untuk berganti posisi demi membuat lawan kehilangan jejak. Tebasan pedang kemudian menyabet dahsyat menyerang punggung.
"Teknik bagus," Arya berkata sambil berputar laksana gasing lalu meloncat ke udara. Tongkatnya ditusukkan ke bumi berusaha menciptakan sebuah pijakan, setelah itu ia menyabetkan tongkatnya sejajar dengan lutut.
Sagara Angkara tertawa dingin. Ia meloncat menghindar dan pedangnya dibacokkan dengan kuat.
"Tranggg!" Tongkat dan pedang beradu. Dentingan laksana logam terdengar. Aneh, padahal tongkat Arya terbuat dari kayu. Berkat tenaga dalamnyalah semua itu terjadi.
"Hebat!" para pengepung berseru.
"Iblis Dunia Persilatan bukanlah sebuah nama kosong, tapi siapakah pemuda yang melawannya?"
"Aku rasa dia adalah pewaris dari Eyang Begawan Sutrasno, Pendekar Sayap Rajawali Hitam. Lihatlah pedang yang ia pakai."
Berbagai macam argumen dan pendapat berseliweran. Beribu argumen saling tumpang tindih, tetapi berapa pun argumen yang keluar, faktanya tetaplah satu.
"Pedang Surga Khayalan!" Sagara Angkara berteriak nyaring. Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi bayangan. Sekelebatan sinar berdesingan menyerang lawan.
"Putaran Roda Dewa Iblis!" Tak kalah garangnya, Arya memutar tongkatnya menangkis serangan lawan. Perlahan tapi pasti, tongkat Arya memendek seiring dengan tangkisannya. Keadaan semakin kacau, semakin menegangkan, dan semakin genting.
"Akh!" Dyah Krusina yang melihat sayembara dirinya berubah menjadi musibah mengerikan, menutup mukanya dengan kedua tangan.
"Tuan Putri, jangan tutup mukamu. Tidak akan ada yang lebih seru dari ini. Inilah saat yang menegangkan," sebuah suara lembut penuh kasih sayang terdengar di telinga Dyah Krusina.
"Akh! Siapa kau, Kisanak?" pekiknya kaget. Namun tak berselang lama, kepalanya menunduk malu. Mulutnya tersenyum tipis dan pipinya merah merona.
"Saya Gardapati, Tuan Putri," suara itu menyahut. Suara milik seorang pemuda tampan berpenampilan serba perak. Dialah Gardapati.
"Jangan panggil aku Tuan Putri, Kisanak. Aku Dyah Krusina," jawab Dyah Krusina malu-malu.
"Hem, nama yang indah, sesuai dengan orangnya yang indah. Meski kamu bukanlah seorang putri keraton, kecantikanmulah yang menentukan bahwa dirimu pantas mendapatkan gelar itu. Jangankan seorang putri keraton, bidadari pun akan iri kepadamu. Lihatlah rona wajahmu yang kemerahan bak mentari yang hendak beranjak ke peraduan. Lihatlah matamu yang bersinar-sinar; bintang pun akan merasa malu sebab tak dapat mengalahkan sinarmu. Lihatlah bibirmu yang merah merekah seperti mawar itu. Rabalah hidungmu yang bangir itu, gagak pun akan menyerah kalah."
Dyah Krusina diam tak mampu menjawab ucapan yang begitu puitis itu. Seumur hidupnya, baru kali itulah ia dipuji dengan terang-terangan. Apalagi pujian semacam itu. Saking malu dan bahagianya, ia tidak dapat berpikir sejak kapan dan dengan cara apa orang itu berada di sampingnya. Bahkan terlintas dalam benak pun tidak.
"Tapi, gara-gara aku keributan ini terjadi. Lihatlah mayat yang bertumpuk di sana."
"Haha, masih banyak yang belum kamu lihat di dunia ini, Tuan Putri. Di kenyataan hidup yang keras, hanya ada dua pilihan: melarikan diri atau menerima kenyataan. Saat inilah waktu yang tepat bagimu untuk belajar menerima kenyataan!"
Sementara itu di pertarungan, "Trang! Trang!"
Secara mendadak, Sagara Angkara menyilangkan tangan dan menyabet. *Bret!*
"Terlalu cepat," batin Arya sambil sempoyongan berjalan mundur. Pundaknya berdarah terkena sabetan.
"Hebat, kau langsung membagi dua pedang itu!" Arya berkata sambil meringis kesakitan.
"Bagaimanapun juga, aku akan menghancurkanmu!" Sagara Angkara berteriak menyerang Arya yang sedang kesakitan.
"Heaaaa!"
*Bet!* Sagara Angkara mencelos melihat lawan menghilang dari pandangan. Ketika berpaling, dilihatnya lawan sedang bersalto di udara.
"Takkan ada yang lepas dari sayapku ini," Sagara Angkara mendesis sambil berdiri tegap. Kedua tangannya terpentang lebar, sikunya sedikit tertekuk lurus dengan pedang, mirip dengan sepasang sayap yang terpentang.
*Set!* Sagara Angkara mengubah kuda-kudanya. Kakinya terbuka lebar dan sedikit tertekuk. Tangan kiri dimajukan ke muka, tangan kanan diangkat dengan pedang melintang di atas kepala. Pandangan lurus menatap Arya yang juga sedang bersiap dalam jarak lima tombak.
"Hiaaaaa!" Sagara Angkara menerjang maju dengan kecepatan angin lesus.
*Srett!* Pedangnya menusuk tajam. Arya menarik napas panjang dan menyabetkan tongkat yang kini tinggal seukuran tangan.
"Kau terlalu meremehkanku!" Sagara Angkara berteriak marah. Pedangnya yang satu menangkis dan yang satu menyabet perut.
"Mari kita akhiri," Arya berkata lembut. Tongkat menyodok ke muka dan sedikit diputar ke segala arah. Entah bagaimana, tiba-tiba kedua pedang milik Sagara Angkara terlempar lepas.
"Apa?" Sagara Angkara terpekik kaget.
"Emhhhh..." Arya nyelonong maju ke depan. Telapak tangannya menempel di dada lawan.
"Telapak Iblis Dewa Tingkat Dua," bisik Arya sambil tersenyum manis.
Wajah Sagara Angkara pucat bagai kertas.
"Blaaaaarrrr!" Sebentuk hawa hitam pekat berbentuk telapak tangan menghantam dadanya. Laksana kapas tertiup angin, tubuh Sagara Angkara melesat terbang.
*Brakkk!* Telak sekali tubuhnya menghantam dinding hingga hancur berantakan.
Arya tertawa panjang. Tangannya terulur. *Tap! Tap!* Dengan tenaga penghisap, mudah saja kedua pedang itu melesat ke tangannya. Lalu ia berjalan ke hadapan Sagara Angkara yang sedang terengah-engah menahan sakit. Wajahnya berubah keunguan karena racun. Arya menepuk tubuh lawan dengan beberapa kali totokan, tak lupa tangannya juga menjejalkan obat penawar racun. Meski tidak ingin menerima, Sagara Angkara memilih bersemadi juga. Sungguh ia tidak paham tindakan lawan. Semua ulahnya itu dipandangi oleh setiap mata yang melihat. Merekapun heran karenanya.
"Kau adalah duri dalam mata. Sehari kau hidup, maka sehari aku tak tenang. Dengan keberadaanmu, aku akan merajai dunia persilatan, hahaha!" Arya tertawa tergelak-gelak.
Lalu ia melesat menghilang. Bagi kaum persilatan kelas menengah, mereka hanya tahu bahwa Arya menghilang di tempat. Namun, bagi seorang ahli, mereka melihat sekelebatan bayangan laksana hantu menerjang seorang kakek tua lalu kabur ke utara.
*Was! Wes! Wos!* Hadirin menjadi ribut.
Datang dan menghilang. Datang memancarkan darah dan pergi meninggalkan dendam.
"Bila menjadi duri dalam mata, kenapa harus diselamatkan?" gumam Dyah Krusina.
"Itulah siasat orang jenius."
"Maksudmu?"
"Dari zaman dahulu sampai sekarang, setiap kejahatan yang dilakukan oleh para dedengkot golongan hitam selalu berakhir tragis. Mengapa? Itu karena kesombongan dan kewaspadaan mereka turun! Bila musuh dalam mata tetap ada, setiap detik, setiap menit kita akan selalu ingat kepadanya, dan itu sangatlah membantu dalam kewaspadaan. Dengan itulah kita akan mengambil keuntungan dalam kebuntungan."
"Akh, jadi seperti itu. Lalu mengapa dia menghilang?"
"Dia datang bukan untuk mengacaukan pestamu, tapi untuk membunuh dia!" Gardapati menunjuk seorang kakek berbaju hijau dengan sulaman kipas.
"Akh, Kipas Maut dari keluarga Siregar!" pekik Dyah Krusina sambil menutup mulutnya yang mungil.
Mendengar pekikan itu, kaum persilatan berbondong-bondong melihat. Setelah diperhatikan, ternyata di kening kakek itu terdapat lubang sebesar jari tengah dan jari telunjuk. Juga terdapat sebuah lempengan besi berbentuk segitiga. Di dalam lempengan besi itu terdapat gambar sebuah jalan berujung jurang dan tulisan kecil yang berbunyi: "Ratan Wasana".
Gemparlah hadirin. Siapakah yang tidak mengenal Kipas Maut dari keluarga Siregar? Hanya kaum yang tidak pernah berkelana saja yang tidak mengenal namanya. Dalam sehari, kini terjadilah dua kejadian besar: kematian tokoh dunia persilatan dan sebuah perkumpulan baru yang mulai terungkap. Ratan Wasana, sebuah perkumpulan baru yang akan menggemparkan dunia persilatan Tanah Jawadwipa.
"Kakang Gardapati!" Dyah Krusina berpaling. Nahas, bayangan Gardapati telah menghilang. Hanya sebait tulisan di tembok dengan bekas goresan jari yang tertinggal sebagai jejak: "Pesta sudah bubar, semoga kita bersua dalam acara lain. Salam manis dari Pelajar Berbaju Perak Berwajah Setan."
Sungguh duka hati Dyah Krusina. Duka ditinggal pergi sekaligus geli dengan gelar orang yang membuat hatinya terbang ke langit dan jatuh terhempas ke bumi. Hati siapakah yang tidak duka ditinggal pujaan hati? Hati siapakah yang takkan luka ditinggal sendiri? Hanya duka dan kesepian yang menemani hari. Biarlah mentari pagi yang menghangatkan hati.
"Eyang Guru... Eyang Guru!" Seorang gadis cantik berbaju biru langit, berjubah biru laut, dan bercelana panjang berwarna biru laut berlari-hari menyusuri koridor menuju sebuah bangunan indah serba putih. Itulah Paseban Teratai Suci.
"Jagatri, apa yang kau lakukan!"