Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 18

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 18

"Apakah kau sudah melupakan peraturan perguruan kita?" bentak sebuah suara serak dari dalam bangunan itu.

"Ampun, Eyang Guru... Tri tidak bermaksud, namun...!" Jagatri berkata sambil terengah-engah setengah ketakutan dan ngeri.

"Atur nafasmu... tenangkan dirimu baru bicara!" Suara itu mulai melembut.

Jagatri menurut, ia atur nafasnya lalu menghela nafas panjang.

"Sekarang katakan alasan mengapa kau berani melanggar aturan perguruan kita," kata suara itu. "Eyang Guru, diluar terjadi hal yang mengerikan... Dewani, Jayani, dan Setrani terbunuh dengan..."

Jagatri tak sanggup melanjutkan lagi, ia menangis menggerung-gerung.

"Krieeett...!" Pintu terbuka, dan munculah seraut wajah tua yang ramah, rambutnya digelung dengan konde berkepala bunga teratai. Pakaiannya serba putih serasi dengan kulitnya yang hijau carulang. Dialah tetua dari Perguruan Teratai Putih, Eyang Putri Silalatu.

"Mengapa kau malah menangis? Bukankah kau sedang melapor?" Eyang Putri Silalatu mengusap kepala Jagatri.

"Tri tak sanggup mengatakannya, Eyang Guru, marilah Eyang Guru sendiri yang melihatnya!" "Dimana sekarang mereka?" "Di Aula tempat latihan melempar pisau, Eyang Guru!" Alis tua Eyang Putri Silalatu menjungkit, digandengnya tangan mungil Jagatri, dan bersama-sama melesat meninggalkan tempat itu.

Di Aula tempat latihan, gadis pertama bertanya, "Sungguh sadis, siapakah yang melakukan ini, kakak?" Gadis kedua menjawab, "Entahlah... yang jelas ia merupakan iblis yang tidak berhati nurani."

"Akh... itu Eyang Guru," gadis ketiga memperingati, segera saja mereka menyibak. Benarlah Eyang Guru Silalatu dan Jagatri datang ke tempat itu.

"Shhh... Sungguh keji... sungguh keji," gumam Eyang Guru Silalatu melihat ketiga cucu muridnya itu. Ditatapinya ketiga muridnya itu dengan air mata yang bercucuran. Ketiga cucu muridnya yang saat ini sedang digantung dengan rotan, bukan tangannya yang digantung, melainkan kakinya. Ketiganya digantung dengan posisi terbalik dalam keadaan telanjang bulat, sekujur tubuh lebam kebiru-biruan, darah mengucur, terutama dari paha. Bahkan payudara mereka entah menghilang kemana... Muka yang tak jelas lagi rupanya penuh darah dan lebam. Sungguh tak berperikemanusiaan.

"Turunkan mereka... urus mayatnya, jangan dahulu dikebumikan, tunggu sampai Ketua datang," perintah Eyang Putri Silalatu. Lalu ia berbalik dan pergi kembali ke mana dia datang tadi.

Tanpa dikomando lagi, murid-murid Perguruan Teratai Putih itu memecah diri. Ada yang menyiapkan tempat pembaringan, ada yang menyiapkan kain, juga ada yang membantu menurunkan mayat ketiga gadis malang itu.

Diantara semuanya, terdapat seorang gadis berwajah oriental, matanya hitam bersinar. Ia memakai pakaian serba jingga, wajahnya terlihat aneh seperti sedang memendam kunci tentang kejadian itu.

"Astadewi... kau," gadis yang tak lain adalah Ratih itu mendesis tanpa sadar. Dan rupanya desisan itu terdengar oleh gadis berbaju merah muda di sampingnya.

"Ratih... ikut aku," katanya sambil berjalan ke belakang sebuah ruangan yang paling dekat dengan aula itu.

Ratih tertegun, meski tak mengerti, ia mengekor juga di belakang.

"Apa ada apa, Mbakyu Putik?" tanya Ratih setelah mereka tiba di tempat tujuan.

"Kau tahu siapa pelakunya, iya kan?" Putik mencabut pedang dan menodongkan pedang itu di leher Ratih, membuat pemiliknya menjadi panas dingin.

"Maksud Mbakyu...!" "Diam... katakan yang tegas, jika ya maka lehermu selamat, jika tidak...!" "Jika tidak apa?" Sebuah suara lain di belakang tubuh Putik terdengar dingin, Putik terkejut, segera ia berbalik.

"Tuk...!" Sebuah tutukan telak mampir di dadanya, membuat ia menggelosor jatuh.

"Astadewi," Ratih menatap Astadewi yang berdiri sambil tersenyum nakal.

"Ya, Mbakyu," apakah Mbakyu ingin menanyakan perihal ketiga orang yang mengganggu Mbak?" Astadewi bertanya seolah tak pernah terjadi suatu kejadian apapun.

"Nimas Dewi, tak semestinya engkau menyiksa mereka hingga sedemikian rupa," Ratih berkata.

"Mbakyu Ratih, bila engkau selemah itu, kapankah engkau dapat membalaskan dendam kedua orang tua kita?" Ratih terdiam mendengar ucapan itu, memanglah benar... selama ini ia selalu bersikap terlalu lemah, bahkan cenderung penakut.

Ia merenung cukup lama, hingga akhirnya ia berkata, "Lalu, apa yang harus aku lakukan. Benar Nimas Dewi, aku terlalu lemah. Bahkan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Astadewi tersenyum, dengan riangnya ia menjawab seolah apa yang dikatakannya adalah memetik mawar di kebun bunga.

"Baik, kubur orang ini hidup-hidup," Ratih mencelos mendengar ucapan itu.

Hatinya meragu... apakah ia harus setega itu kepada saudara seperguruannya.

Astadewi seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Mbakyunya, segera ia berkata menenangkan.

"Bukankah dia sudah menodongkan pedang di lehermu, Mbakyu?" Apakah seorang saudara akan melakukan itu? Boleh saja Mbakyu melepaskan nyawanya, namun apakah dia akan mengampuni nyawa Mbakyu? Bukankah dia akan melaporkan kepada ketua siapa pelakunya? Tentu mereka tak akan percaya jika Mbakyu mengatakan aku pelakunya... lalu siapakah yang menjadi kambing hitam? Apakah Mbakyu sendiri?

Ratih tertegun mendengar ucapan adiknya itu, sungguh tak disangka bahwa adik semata wayangnya dapat berpikir demikian.

"Engkau benar, Nimas Dewi..." Ratih mulai terhasut.

"Ini...!" Astadewi menyerahkan sebilah pedang.

Raguragu, Ratih mengambilnya, ia pandangi pedang itu.

Matanya terpejam, kemudian dibuka lagi.

"Aku akan menjadi orang yang kejam lagi sadis."

Ratih beranjak ke dekat pohon kelapa, dengan menggunakan sebilah pedang itu, ia mulai menggali.

Seperti tanakan nasi, kemudian jadilah sebuah lobang persegi.

"Nimas Dewi, tolong bawa tubuh gadis sialan itu...!" Astadewi tersenyum kekanakan, segera ia bopong tubuh itu dan dibawa ke hadapan Mbakyunya, lalu ia lepaskan satu totokan membuat gadis yang bernama Putik itu siuman, matanya mendelik, namun ia tak bisa bersuara.

"Mbakyu Putik, selama ini engkau selalu memarahiku... mencaciku... menekanku... kini aku akan melampiaskan dendamku," perlahan tubuhmu ini akan ku kubur dengan tanah hidup-hidup... bukankah itu sangat asyik..." Ratih berkata pelan, namun terdengar seperti guntur di telinga gadis yang tak berdaya itu... hanya mata yang mendelik menyiratkan ketakutan dan kebencian yang dapat dilakukan.

Hati-hati sekali, tubuh itu diletakan... kemudian mulai diurug dengan tanah, perlahan dari kaki yang tertimbun, hingga naik ke paha, ke perut, ke dada, dan terakhir ke kepala.

Ratih melakukannya seperti kesetanan, ia terus tertawa dingin tiada henti hingga tanah yang mengurug rata dengan tanah di sekitarnya.

"Kau, Murid laknat?" Seorang perempuan paruh baya berpenampilan serba putih membentak, tubuhnya gemetar menahan marah. Ratih terkejut, ia balikan badan... dilihatnya sosok yang sekentongan lalu masih dicintai dan dihormatinya berdiri menatapnya dengan marah.

Ada perasaan bersalah dan gentar juga timbul dalam benaknya, namun sudah kadung, nasi sudah menjadi bubur.

"Emhhh...!" Jawabnya dingin.

"Apa kau tak mau menghormatiku lagi?" bentak perempuan itu lagi.

Sebelum Ratih menjawab, terdengar suara keplokan dari samping, "Plok... Plokk... Plokk!" "Siapa kau, cah ayu?" Perempuan yang tak lain adalah Ketua Perguruan Teratai Putih yang biasa dipanggil Pendekar Pedang Teratai itu heran sekaligus mendongkol melihat seorang lain masuk ke dalam perguruannya dan bertindak tak sopan.

"Apa kalian sudah lupa denganku... hihi" Astadewi tertawa.

"Astadewi... kaukah itu?" "Oh... Rupanya ketua masih ingat aku...!" "Mau apa kau kemari?" "Mengambil nyawa... hihi" "Apa kau yang mengambil nyawa ketiga muridku?" "Benar" "Apa kau juga yang menghasut muridku untuk membunuh kakak seperguruannya?" "Akh... salah... salah... bukan membunuh... tapi menguburnya hidup-hidup" Astadewi membenarkan sambil memainkan rambutnya, wajahnya tersenyum lembut dan penuh keluguan.

"Hiyyy.....!" Murid Perguruan Teratai Putih yang baru saja datang pingsan seketika ketika mendengar perkataan itu.

"Kesalahan apakah yang telah kami perbuat hingga kau berbuat sekeji itu?" desis Pendekar Pedang Teratai menghela nafas gegetun, sedih, mendongkol, dan gusar bersatu dalam benaknya...

"Benarkah ketua menanyakannya?" Astadewi mencibir membuat ketua perguruan Teratai Putih itu memerah.

"Mbakyu Ratih... apakah Mbakyu merasakan keanehan ketika belajar di perguruan ini?" Astadewi bertanya.

"Keanehan apa?" Ratih menjawab sambil mendekat.

"Apakah Mbakyu merasakan bahwa kemampuan Mbakyu tak lebih hebat dari saudara seperguruan Mbakyu?" "Aku memang kurang berbakat" Ratih tundukan kepala.

"Hahaha... bukan Mbakyu yang kurang berbakat... tapi merekalah yang menghambat... sampai tuapun Mbakyu belajar disini. Jangan harap dapat mengalahkan mereka..." "Maksud Nimas?" "Coba tanyakan sendiri pada ketua kita yang terhomat" Astadewi memandang Ketua perguruan teratai putih dengan sinis.

"Ketua, apakah sebenarnya yang terjadi?" Ratih penasaran.

"Ini Demi kebaikanmu" "Kebaikan kami ataukah kebaikan perguruanmu ataukah dirimu sendiri" dasar tukang lempar batu sembunyi tangan. Astadewi menyela membuat wajah ketua Perguruan Teratai Putih memerah.

Bukan hanya disela, tapi juga dituduh sebagai tukang lempar batu sembunyi tangan. Sungguh murkanya tak bisa ditahan lagi. Seandainya ketua perguruan teratai putih itu adalah orang yang belum berpengalaman, niscaya siang-siang sudah melabrak lawan.

"Apa maksudmu!" bentak Pendekar Pedang Teratai berludah api.

"Kau mengatakan bahwa musuh kami adalah Iblis Kembar Bumi... tapi kenyataan sebenarnya musuh kami adalah Maharaja Dunia Persilatan. Bukankah kau sengaja memperlambat pengajaran kepada kami supaya kami tidak cepat mengembara ke dunia ramai. Bukankah kau takut kami mengetahui perihal sebenarnya... kau takut kami membalaskan dendam kepada Maharaja Dunia Persilatan dengan silat Teratai Putih."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment