Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 19

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 19

"Lalu mengapa kalian memungut kami?" Apakah itu semata karena ibu kami, Asmara Dewi Surga, adalah putri ketua sebelumnya? "Bahkan silat yang diciptakan Eyang Guru khusus untuk ibuku kalian sembunyikan?" "Apakah kalian malu bahwa ayahku, Setan Purnama, adalah salah satu golongan hitam?" Untunglah takdir berkata lain."

"Benarkah itu, Nimas Dewi? Kau tahu darimana?" Ratih berkaca-kaca.

"Mereka sendiri yang bercakap-cakap, mereka lupa bahwa dinding memiliki telinga," Astadewi mendengus dingin.

Dari raut wajah Pendekar Pedang Teratai terlintas kekagetannya.

Nasi sudah menjadi bubur.

Otaknya berputar, maka ditemukanlah salah satu cara untuk menyelamatkan mukanya. Segera ia berkata, "Kalian pergilah dari sini... jangan pernah kembali kemari... hari ini aku masih memandang ibu kalian.. tapi, lain hari tidak... jangan kau pikir aku memaafkan atas pembunuhan murid kami..."

"Lihatlah mbakyu, mereka begitu ketakutan sebab belangnya terlihat... sudah cukup kita main-main, dewi akan ajarkan mbakyu ilmu ajaran ibu, nanti kita kembali kemari." Astadewi menggandeng tangan Ratih.

Bagai lipas kudung, keduanya pergi berkelebat meninggalkan kesiuran angin tajam di tempat itu. Pendekar Pedang Teratai menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca, segera ia berbalik hendak menemui Eyang Putri Silalatu.

***

DESA CIPATENGGANG adalah sebuah desa yang cukup ramai. Tempatnya sejuk nan nyaman sebab desa itu terletak di samping sebuah telaga yang dikenal dengan nama Telaga Patenggang. Jalanan yang besar, desa yang makmur menjadikan desa itu sebagai salah satu tempat para pelajar zaman itu untuk berpesiar ataupun bersantai ria. Sajak, puisi yang bertumpuk tidak sanggup melukiskan betapa indahnya tempat itu. Dan di desa itulah terkenal sebuah rumah makan tempat berkumpulnya para kaum persilatan juga para pelajar.

"SETEGUK GAIRAH" itulah nama dari rumah makan itu. Tak jelas apakah maksud dari nama itu. Rumah makan itu terletak di sisi telaga, sebagian bangunannya bahkan berada di atas air, cadas menjulang tinggi, akar pohon kiara bergelayutan di atas genting rumah makan. Suara kecipakan orang makan terdengar ramai dan gaduh, canda dan tawa bersahut-sahutan.

"Wahai Telaga Patenggang. Sebentang airmu begitu bening berkilauan sinar sang maha penerang, seakan menjadikanmu bintang-bintang yang menghampar di langit yang kelam. Namun... kaulah bintangnya sang hari.... Aku terlena memandangmu... Aku terbuai menatapmu.... Angin sepoimu berikan aku kesejukan... bawalah aku ke dalam buaianmu... oh kasihku, Telaga Patenggang...."

Terdengar lantunan merdu nyanyian seorang pemuda berbaju perak yang dalam pada itu sedang menghirup aroma tuak dalam gelas bambu. Matanya berbinar bahagia, senyumnya mengembang indah, rambutnya terbawa angin melambai-lambai.

"Pemuda edan... tahukah kau bahwa kau sudah merusak makan siangku!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Pemuda itu berpaling, dilihatnya yang menegur adalah seorang lelaki berusia tiga puluhan, tubuhnya tinggi besar, bajunya keemasan bersulamkan rajawali dan dibalut dengan jubah emas pula.

"Adakah kesalahanku, tuan? Apakah seorang pelajar menyanyi adalah sebuah kesalahan? Tuan adalah kaum golongan putih dan terhormat, mengapa ucapan tuan sama sekali tak terjaga?" Pemuda itu, matanya sayu seakan sama sekali tak mengerti ilmu silat. Tapi ia adalah Gardapati adanya, murid Iblis Bermata Hijau, masakah kemampuannya begitu cetek.

Lelaki yang ditegur Gardapati melengak, seumur hidupnya baru kali ini ia ditegur secara terang-terangan seperti itu. Wajahnya memerah, geraham dikatupkan menahan marah. Dalam dunia persilatan ia dikenal dengan nama Rajawali Buas Berjubah Emas. Ia dikenal dengan kegarangan dan keberangasannya, mimpipun ia tak menyangka bahwa hari ini ia dihina di hadapan kaum persilatan oleh seorang pelajar yang entah siapa.

Gardapati singkirkan rambut yang menutupi wajahnya, ia tak menggubris lawan. Gelas bambunya diangkat, perlahan dengan penuh rasa dan cipta tuak dalam gelas bambu itu diteguknya.

"Brengsek...!" Laki-laki itu mencabut sebuah tongkat hitam berkepala kepala rajawali sepanjang satu depa. Dihantamkannya tongkat itu ke kepala lawan.

"Hentikan Adimas!" Seorang temannya membentak. Ia merupakan lelaki sebaya dengan Rajawali Buas Berjubah Emas, lelaki itu memakai baju yang sama, hanya tak memakai jubah. Di keningnya terdapat rajahan kepala rajawali menengok ke kanan. Serangan dicabut pada seinci di atas kepala Gardapati. Bila bukan orang yang memiliki tenaga dalam besar, mustahil serangan itu dapat digagalkan. Yang lebih hebat adalah Gardapati, di atas wajah tampannya sama sekali tak ada perubahan raut wajah, tetap tenang setenang air Telaga Patenggang.

"Luar biasa.... seorang tokoh golongan putih membokong orang, entah apa argumen para kaum persilatan sekarang, aku mewakili para golongan hitam merasa malu untukmu. Sungguh terhormatlah para golongan hitam yang selalu melakukan kejahatan dengan terang-terangan," Gardapati berkata sambil tetap tak menggubris sekelilingnya.

"Brakkk...!" Seorang lelaki berwajah penuh bekas luka meletakkan seguci tuak di meja Gardapati.

"Kisanak.. Aku si Begal Codet merasa kagum padamu. Benar, aku setuju denganmu.. para golongan putih selalu merasa dirinya adalah utusan Tuhan, membunuh atas nama kebenaran, sungguh dibuat lucu.. contoh kecilnya saja adalah mengenai Iblis Dunia Persilatan, saking ketakutannya Maharaja Dunia Persilatan menganugerahkan emas yang besar untuk kepalanya, melakukan segala cara untuk kepentingan golongan mereka, bukankah itu sama halnya dengan melakukan segala cara. Khas kami golongan hitam...!"

"Haha.... Maharaja Dunia Persilatan, sungguh takabur sekali orang yang memegang gelarnya, gedung sebagai dilambung-lambung, tinggi sebagai dijunjung. Ternyata mengata kedulang paku serpih, mengata ke orang aku lebih."

"Kisanak, aku tak paham dengan bahasamu... kau memang pelajar yang hebat."

"Haha.. Kisanak kau memang sejajar dengan pribahasa yang mengatakan melanting menuju tampuk, berkata menuju benar. Aku kagum padamu. Maksudku adalah pada intinya adalah orang yang dimuliakan dipuja-puja ternyata mencela pekerjaan atau kelakuan orang lain padahal pekerjaan yang sedang dilakukannya lebih tercela dari kita."

"Terimakasih.. terimakasih... mari kita bersulang...!"

Mendadak....

"Kau pemuda edan... apa yang kau lakukan kepada kedua anak dan istriku, hah!" Seorang lelaki setengah baya berlumuran darah membentak di ambang pintu rumah makan, bukan hanya tubuhnya yang berlumuran darah hingga tak jelas rupanya, pedang yang ia bawa pun penuh dengan darah.

"Apakah yang kamu maksud adalah tiga perempuan di kaki Gunung Malabar?" Gardapati menjawab berseri dengan tawa.

"Ya. Gara-gara engkau mereka harus mati ditanganku...!" Lelaki itu menjawab.

"Haha.. sungguh lucu. Kalau mereka mati di tanganmu... apakah sangkut pautnya dengan diriku ini?"

"Hahaha...!" Para hadirin yang kebetulan berada dalam rumah makan itu tergelak, bahkan di antaranya ada yang menyoraki lelaki itu. Lelaki itu tak menggubris, malah ia berteriak kepada Gardapati, "Apa yang kau lakukan kepada mereka... hingga sampai akhir hayatnya mereka melarangku untuk mempersalahkanmu... apalagi mereka sama sekali tak menyesal atas perbuatan mereka.?"

"Haruskah aku menceritakan dari awal?"

"Begitupun baik, saudaraku," Begal Codet menyela, "Duduklah di sini... biar aku yang menceritakan kronologisnya." Lelaki itu tertegun.

"Tidak... aku tak sudi... biarlah aku menunggu di sini... di pintu kematianmu....."

**Sekelebat bayangan berwarna perak secepat busur yang terlepas dari gendewanya. Bayangan itu datang dari Desa Nagasari menuju desa sebelah, yakni Desa Neglasari. Tapi, rupanya Desa Neglasari bukanlah desa yang ia tuju. Ia terus berlari melewati hutan, gunung, danau, desa, dan sungai. Pada hari kedua sampailah sosok bayangan berwarna perak itu di kaki Gunung Malabar. Perlahan tapi pasti laju tubuhnya mulai melambat hingga pada gerbang desa ia berjalan seperti seorang yang lemah, peluh tampak membasahi bajunya yang keperakan. Pemuda yang tak lain adalah Gardapati itu tak memandang ke depan, ia sibuk melihat ke bawah... ke arah sepatunya yang jebol. Pikirannya melayang melamun. Tapi.. takdir berkata lain. Di tengah lamunannya itu tiba-tiba ia menabrak orang.**

"Brukkkk....!"

"Hiyy..!" Gardapati kaget, orang yang ditabraknya pun tak kalah kaget, keduanya jatuh berdebum saling bertindihan. Gardapati merasakan keanehan, orang yang ditabraknya ternyata berbau harum, dan yang paling penting adalah tangannya merasakan benda yang bulat dan kenyal. Kini sadarlah ia bahwa yang ditabraknya adalah makhluk indah yang bernama perempuan. Segera Gardapati bangkit, dilihatnya wajah perempuan yang ditindihnya memiliki wajah cukup menarik, rambut panjang sepundak yang masih basah, dan kini berdebu, hidung yang mungil dan menggemaskan, pipi merah merona menahan malu, leher jenjang mulus menggoda, tubuh rampingnya hanya dibalut kain yang dililitkan sebatas dada, tampak sebagian dadanya mengintip keluar.

"Maaf... saya tak sengaja! Nona," Gardapati meminta maaf sambil membantu gadis itu bangkit.

"Sekali lagi saya meminta maaf!" Gardapati membungkukkan tubuh.

Gadis itu tergagap, "Jangan tuan muda....seharusnya saya yang meminta maaf.. karena terburu-buru saya menabrak tuan muda!"

"Panggil saya Gardapati, Nona!" Gardapati memperkenalkan diri.

"Kalau begitu, panggil saya Anggrek Bulan, Kakang Gardapati!"

"Anggrek Bulan, sesuai dengan tubuhmu yang harum...!" Gardapati berkata spontan. Memanglah yang menarik hati Gardapati bukanlah wajah gadis itu, namun wangi tubuhnya yang khas. Gadis itu tersipu malu. Setelah diam sebentar ia berkata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment