Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 20

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 20

"Apakah Kakang Gardapati berasal dari luar desa? Saya merasa belum pernah melihat pemuda setampan Kakang Gardapati di desa ini." Setelah berkata demikian, gadis itu melengos. Ia tak sadar mengungkapkan bahwa pemuda di hadapannya begitu tampan.

"Hahaha... terima kasih atas pujianmu. Emm, anu... bolehkah saya bertanya?"

"Bertanya apa, Kakang?"

"Di manakah warung yang menjual sepatu? Sepatu saya rusak... Gara-gara inilah saya menabrakmu!"

"Hihihi... Hari sudah larut, di manakah kamu hendak membelinya? Sebaiknya kamu menginap di rumah saya saja. Lagipula di desa ini tidak ada penginapan, itu pun jika kamu tidak keberatan...!"

"Apakah itu tidak merepotkanmu dan keluarga?"

"Tentu tidak... Mari!"

Keduanya pun berjalan menyusuri perumahan di desa itu. Karena hari sudah larut, di desa itu tidak terlalu ramai; hanya dua-tiga orang saja yang berlalu-lalang.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah pekarangan rumah yang terbilang sederhana. Rumah itu terbuat dari anyaman bambu dan kayu. Halamannya terbilang asri dengan berbagai macam tumbuhan dan bunga-bungaan.

"Tok-tok!" Anggrek Bulan mengetuk pintu.

"Krieet...!" Pintu terbuka.

Muncullah seraut wajah mungil mirip Anggrek Bulan. Mungkin dia adiknya, tapi selisihnya tidak begitu jauh.

"Teteh... Teteh pulang sama siapa?" tanyanya.

"Itu teman baru Teteh, tolong siapkan kamar untuknya. Teteh hendak memakai pakaian."

"Baik, Teteh...!"

"Ayo masuk!" Anggrek Bulan mempersilakan Gardapati masuk.

Gardapati tersenyum, ia ikut masuk dan duduk di kursi yang terbuat dari kayu.

Anggrek Bulan masuk ke dalam sebuah kamar di bawah tatapan Gardapati.

"Ekh... Kakang hendak minum apa?" Adik Anggrek Bulan menegur.

"Minum air cintamu saja... Hahaha!" Gardapati berguyon.

Seketika wajah gadis itu memerah malu.

"Minum apa saja yang ada, jangan mengada-ada yang tidak ada!" Gardapati meredakan suasana.

Gadis itu berbalik setengah berlari, ia pergi ke dapur. Tak lama kemudian, ia membawa air yang harum dihirup dalam gelas bambu.

"Ini, Kakang."

"Terima kasih. Air apakah ini? Mengapa wanginya begitu harum dan menenangkan?"

"Air daun sembung, Kakang. Baru kali pertama, ya?"

Gardapati tersenyum. Diteguknya air itu sekadar membasahi tenggorokannya yang kering. Dan tak diduga, segelas air itu habis diteguknya.

Gadis itu cekikikan. Tanpa pamit, ia kembali ke dapur dan membawa guci.

"Akh... merepotkanmu saja. Oh ya, siapa namamu?"

"Kembang Bulan...!"

"Anggrek Bulan... Kembang Bulan... kalian berdua mengambil nama bulan di belakang nama. Apa itu nama keluarga?"

"Emh... kami suku Sunda tidak mengambil nama keluarga untuk keturunan, Kakang. Jadi, nama kami tidak terlalu terikat. Nama bulan diambil dari nama ibu kami, Wulandari."

"Akh... menyangkut Ibu... Ke manakah orang tua kalian? Mengapa aku sama sekali tak melihatnya?"

"Ibu kami pergi ke rumah paman, sedangkan ayah kami pergi ke desa lain. Biasa, lelaki..." seseorang di samping Gardapati menjawab.

Gardapati berpaling. Dilihatnya Anggrek Bulan berdiri di sampingnya, bau wangi anggrek tercium lembut. Mereka mengobrol dengan asyiknya. Kembang Bulan sekali-kali mencuri pandang. Wajahnya cemberut ketika Gardapati mengobrol dengan Anggrek Bulan. Begitu pula sebaliknya, ketika Gardapati bercanda dengan Kembang Bulan, Anggrek Bulan-lah yang cemberut.

Ketika hari sudah larut benar, mereka kembali ke kamar masing-masing.

Di atas pembaringan, Gardapati tak bisa tidur. Ia berguling sana-sini...

"Krieet...!" Pintu terbuka. Gardapati melongo melihat Anggrek Bulan masuk ke dalam kamarnya.

"Anggrek Bulan..."

"Sshhh...!" Anggrek Bulan menempelkan jarinya di mulut.

Anggrek Bulan berjalan mendekat lalu naik ke pembaringan.

Gardapati tahu maksud lawannya. Tangannya terulur menyambut tubuh Anggrek Bulan, direngkuhnya dan digulingkannya di pembaringan.

Entah siapa yang memulai, pertarungan kini bukan melemah, malah semakin ganas.

Tujuh puluh dua jurus lagi telah berlalu. Tampak Gardapati membentuk kuda-kuda sejajar untuk pertahanan yang kokoh. Kepalan tangan kanan dihadapkan ke atas, dan titik konsentrasi pertahanan lainnya pada tangan kiri yang jari-jarinya menunjuk ke atas.

Sedangkan Sagara Angkara melangkahkan kaki kanan menuju ke kanan sambil mengarahkan suatu tusukan yang terfokus dengan baik menuju sasarannya, dengan tangan kiri menyilang di atasnya.

"Serangan bagus!" ucap Gardapati sambil melakukan suatu perputaran mantap. Bersamaan dengan itu, tangan kiri digerakkan dalam tangkisan setengah lingkaran serta akhirnya memasukkan pukulan dengan tangan kanan.

Sagara Angkara menurunkan kedudukan kaki sedemikian rendahnya, menghindari pukulan lawan. Tangan kanan diturunkan ke lantai dan tangan kiri ditarik pada sisi kiri.

Secepat kilat ia menaikkan posisi kaki dengan kuda-kuda yang tangguh dan mantap, dengan gerakan putaran pada tangan kanan untuk melakukan suatu tamparan pada bagian tulang rusuk.

"Plak...!" Tangan beradu.

Rupanya sebelum tamparan pada tulang rusuknya tiba, Gardapati mengayunkan tangan kiri seakan menampar, dan sekaligus untuk menggunakan punggung tangan kanan mengepret kuat-kuat ke arah tamparan lawan.

Tak berhenti begitu saja, Gardapati melakukan suatu sapuan sambil mendoyongkan tubuh seakan terhuyung-huyung ke belakang.

Mendapat posisi kuda-kuda lawan yang lemah, Sagara Angkara segera mengangkat kaki kiri setengah bersilang pada kaki lainnya, dengan imbangan pada kedua tangan yang bergerak memutar sedemikian halusnya serta indah mempesona hendak mencolok mata lawan.

Keadaan Gardapati yang sempoyongan membuat kewaspadaan Sagara Angkara melemah. Mimpi pun ia tak menyangka bahwa itu adalah sebuah jurus yang dinamakan "Ayunan Berputar dari Alam Kubur", salah satu jurus dari Tengkorak Emas.

Dalam kesempatan itu, kaki Gardapati menyapu kuat-kuat pada tulang kering lawan.

"Duk...!"

"Arrgghh!" Sagara Angkara sempoyongan sambil membungkuk menahan sakit di tulang keringnya yang remuk.

Meski kesakitan, Sagara Angkara tidak menyerah begitu saja. Cepat ia melakukan tekukan pada kuda-kuda, dengan kaki kiri lurus berjinjit di depan dan kaki lainnya menekuk. Tangan kanan dengan jari-jari terbuka menekuk memblokir di depan tubuh atas dan tangan kiri menekuk lebih ke depan tangan kanan.

Lalu ia memajukan kaki kiri sambil membuka jari-jari tangan kanan untuk memutarnya ke samping dan dibawa ke bawah, sedangkan tangan kiri melakukan suatu dorongan ke depan.

"Wusss!" Cahaya biru bercampur angin membadai keluar dari tangannya.

Gardapati mengerti lawan sudah mencapai puncaknya. Ia pun membuat kuda-kuda sejajar dengan kedua tangan yang menekuk ke dalam.

Dengan melakukan suatu tubrukan melalui langkah kaki, maka kedua tangan menampar dengan kuat-kuat ke depan.

"Blaaarrr...!"

Sebuah hawa dari dua belah telapak tangan warna emas sebesar kerbau menabrak angin yang menggulung dan bersinar biru.

Kursi dan meja mencelat. Dinding jebol. Air Telaga Patenggang menggelegak. Orang yang berada di sana sibuk menyelamatkan diri.

Setelah situasi agak tenang, tampak Gardapati mendekati Sagara Angkara yang mematung tak dapat bergerak.

"Bila aku minat dengan nyawamu ini, bisa saja aku mengambilnya sekarang. Namun kau belum pantas untuk kubunuh. Meski aku hanya seorang penjahat wanita dan seorang pencuri, aku memiliki harga diri, yaitu tidak membunuh kaum keroco tak bernama." ucap Gardapati keras-keras sambil meletakkan kitab yang mereka perebutkan di atas kepala Sagara Angkara.

Gardapati membalikkan badan dan meninggalkan Sagara Angkara yang melotot gusar, malu bercampur aduk.

Siapa pun tahu bahwa itu adalah sebuah penghinaan yang sangat menyakitkan.

Gardapati keluar rumah makan itu setelah membayar atas kerusakan tempat itu beserta makanan yang ia pesan. Si Begal Codet dan Dhara Kalajengking Maut mengikutinya dari belakang.

Sagara Angkara mematung lalu jatuh ambruk ke lantai. Matanya bercucuran air mata. Tangannya segera meraih pedang miliknya dan diangkat ke atas dalam posisi mata pedang menghadap dirinya.

"Guru... ampuni muridmu yang durhaka ini. Sudah dua kali murid dipermalukan. Sudah tak ada muka lagi muridmu dalam kancah persilatan. Yang lebih membuat murid sedih adalah nama Guru yang tercemar gara-gara muridmu ini."

Matanya dipejamkan. Pedangnya dihujamkan.

"Trang!" Sagara Angkara terkejut, usaha bunuh dirinya digagalkan orang. Matanya membuka. Dilihatnya seorang lelaki berusia tiga puluhan, tubuhnya tinggi besar, bajunya keemasan bersulamkan rajawali dan dibalut dengan jubah emas pula. Dia tak lain adalah Rajawali Buas Berjubah Emas yang berdiri di hadapannya.

"Kisanak... dalam zaman edan ini, orang sepertimu sangat dibutuhkan dalam kancah dunia persilatan guna memerangi kejahatan yang merajalela. Jangan sia-siakan harapan Gurumu. Tenangkan diri dan renungkan kembali perjalanan hidupmu. Apakah kau layak mati dalam kehinaan?"

"E..."

"Jangan bicara dahulu. Ikutlah dengan kami guna merenungkan langkah selanjutnya. Kau bersedia?"

Sagara Angkara mengangguk lesu. Tanpa kata, ia mengikuti Rajawali Buas Berjubah Emas bersama kawannya keluar rumah makan.

Sungai Serayu indah berkelok-kelok bak gadis penari yang melenggak-lenggok. Pohon kelapa dan beringin tampak bersaing mengadu, siapakah yang paling hebat. Sinar matahari bersinar menerobos dari balik daun-daun, menciptakan sebuah pemandangan yang menawan hati.

Di bawah akar pohon beringin yang menggantung tampak dua bidadari cantik sedang bersenda gurau ria, yang satu berpakaian jingga dan yang satu berpakaian nila. Siapakah mereka? Apakah bidadari yang hendak mandi? Ataukah Dewi dari khayangan yang sedang ingin bermain air?

Terdengar gadis berpakaian jingga itu berkata.

"Nimas Dewi..."

"Ya, Mbakyu Ratih?"

"Sampai saat ini engkau belum mengajariku ilmu peninggalan ibu. Meski ilmu yang engkau ajarkan adalah ilmu yang tak kalah dahsyatnya, namun semuanya terasa hambar...!"

"Mbakyu Ratih... bukannya saya tak mau... namun...!"

"Aku menunggu kelanjutan bicaramu."

"Hah...!" Astadewi menghela napas panjang.

"Mbakyu Ratih..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment