Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 21

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 21

"Sebenarnya ilmu itu bukanlah ilmu baik-baik karena menuntut suatu hubungan khusus antara lelaki dan perempuan. Oleh karenanya, saya merasa bukan hal yang baik untuk mengajarkannya kepada Mbakyu. Saya tidak ingin Mbakyu terjerumus ke dalam dunia ini seperti saya," tutur Astadewi.

"Ah... Nimas Dewi, bagaimana dengan keperawananmu?" Ratih terpekik kaget. Jika adiknya mempelajari ilmu itu, sudah jelas kesuciannya menjadi tanda tanya.

"Tak lama setelah saya pergi dari perguruan, saya mengorbankannya pada tiga orang sekaligus," kata Astadewi sambil menundukkan kepala.

Ratih tertegun kaget, namun dalam benaknya timbul sebuah tanda tanya. Jika adiknya berani mengambil risiko seperti itu, mengapa ia tidak?

"Nimas Dewi, terima kasih atas pengertianmu. Namun, aku juga akan mempelajarinya. Tak peduli bila tubuh ini digerayangi oleh seribu lelaki," Ratih maju dan memeluk adik satu-satunya itu.

"Benarkah?" Astadewi seakan tidak percaya kakaknya akan mengatakan hal tersebut.

Ratih tidak menjawab. Ia melepaskan pelukannya. "Nimas Dewi, jika wajah Mbakyumu seperti ini, Mbakyu pikir takkan ada lelaki yang mau. Tunggulah di sini."

Meski tidak mengerti, Astadewi menurut saja. Ia memandangi punggung kakaknya yang lenyap di antara batu cadas. Ia mengambil sehelai daun dan meniupnya merdu untuk menghibur hati yang sedang pilu.

Sepertanak nasi kemudian...

"Indah sekali permainan itu, Nimas Dewi!" Sebuah suara merdu bak burung nuri berkicau menegur.

Astadewi berpaling. Wajahnya tertegun melihat seraut wajah seelok daun sirih yang begitu mempesona. Rupa bagai peta yang baru ditulis, bibir indah seperti delima merekah, alis melengkung bak bulan sabit, serta mata lentik hitam menggoda yang bersinar sayu. Giginya berderet rapi bak prajurit yang hendak berperang. Rambutnya panjang bergelombang seperti ombak pantai selatan. Lengannya bagai lilin dituang dengan jari-jari semuncung duri landak. Bentuk tubuhnya ramping menyerupai gitar spanyol.

"Mbakyu Ratih!" desis Astadewi seakan tak percaya dengan penglihatannya.

"Maafkan Mbakyu, Nimas Dewi. Inilah wajah asli Mbakyu. Maafkan selama ini Mbakyu menyembunyikannya darimu. Mbakyu pikir memiliki wajah cantik hanya akan mengundang malapetaka belaka. Tapi saat ini..." Ratih menghentikan ucapannya.

Astadewi tersenyum kekanak-kanakan. Dalam sekali jejak, tubuhnya melesat terbang dan memeluk Ratih. Diciuminya wajah kakaknya itu dengan gemas.

"Baiklah, Mbakyu. Saya akan membeberkan teorinya terlebih dahulu sebelum praktik," Astadewi lalu menjelaskan ilmu pertama yang dipelajarinya, *Asmara Teratai Putih*.

Angin meninggalkan seekor cecak yang merayap di dinding. Tubuh Gardapati hilang sama sekali tanpa jejak. Cecak itu merayap masuk melalui celah dinding. Matanya berkilat ketika melihat dua orang yang tidak asing baginya sedang bercakap-cakap sambil duduk.

Cecak itu semakin mendekat. Tanpa diketahui bagaimana prosesnya, tiba-tiba cecak tersebut berubah menjadi sosok manusia. Tanpa ampun, ia menotok kedua orang itu hingga tak berdaya.

"Bagaimana rasanya, Aryasatya, Aryasuta?" tanya Gardapati.

Mata kedua orang itu melotot lebar. Gardapati mengeluarkan dua butir pil sebesar kacang tanah dari sakunya.

"Ini adalah Pil Seribu Hawa Kematian! Silakan kalian mencicipinya." Gardapati mengangkat wajah Aryasatya dan membuka mulutnya secara paksa. Ia menjejalkan pil itu lalu menepuk pundaknya hingga obat tertelan habis. Setelah Aryasatya, ia melakukan hal yang sama kepada Aryasuta.

"Sampai jumpa, Kakak-kakakku yang terhormat!"

Gardapati membungkuk, lalu melancarkan sebuah pukulan hingga salah satu rak di perpustakaan itu terpental menabrak dinding hingga jebol. Tubuh Gardapati seketika lenyap seiring dengan kepulan debu akibat pukulan tangan kosong yang dahsyat itu. Benar-benar sebuah pameran ilmu meringankan tubuh yang luar biasa.

Suara jebolnya dinding itu terdengar sangat keras. Murid-murid Perguruan Rajawali Emas datang berkerumun karena penasaran. Ketika mereka tiba, kitab-kitab berserakan, dinding hancur berantakan, dan kayu rak bertebaran.

Suasana berubah kacau. Mereka percaya bahwa perguruan mereka telah diserang. Murid-murid Perguruan Rajawali Emas berseliweran ke sana kemari. Di antara kericuhan itu, ternyata ada lima orang yang diuntungkan. Mereka tidak lain adalah lima pemuda yang telah dihasut oleh Gardapati.

Tanpa rasa bersalah, salah satu dari mereka yang berkepala botak berteriak, "Semuanya harap tenang! Panggil Ketua ke mari! Bereskan kitab yang berserakan! Yang lain segera lakukan penjagaan di sekitar gunung ini!"

Keempat orang lainnya tersenyum. Mereka segera membagi tugas; satu orang pergi memanggil Ketua Perguruan, sementara yang lain berlari keluar untuk mengomando murid-murid melakukan penjagaan. Untuk membereskan kitab, mereka menyerahkannya kepada murid lain. Ini adalah taktik agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan, mereka dapat mengelak dari tanggung jawab.

"Rakayan, apa yang terjadi?" Seorang lelaki berusia empat puluhan menegur. Wajahnya terlihat gagah dengan rahang kokoh. Keningnya berkerut, tanda ia sudah banyak mengecap asam garam kehidupan. Dialah Ketua Perguruan Rajawali Emas, sang Pendekar Rajawali Berhati Emas.

Ia datang bersama dua orang yang tadi mengambil kitab, yaitu Rajasa dan Rakana. Tak luput pula Sagara Angkara dan Rajawali Buas Berjubah Emas.

"Ampun, Ketua. Seseorang telah menyerang tempat ini. Kakang Aryasuta dan Kakang Aryasatya terluka parah," jawab lelaki botak bernama Rakayan itu dengan takzim.

Pendekar Rajawali Berhati Emas dan Rajawali Buas masuk ke dalam. Benar saja, terlihat di lantai dua tubuh pemuda yang cukup matang tergolek lemah.

"Adimas!" seru Pendekar Rajawali Berhati Emas kepada lelaki di sampingnya.

"Saya paham, Kakang!" jawabnya seraya mendudukkan Aryasuta, sementara Ketua Perguruan Rajawali Emas membangunkan Aryasatya.

Secara berbarengan, keduanya mengerahkan tenaga dalam. Mendadak...

"Blarrr!" Tubuh Aryasuta dan Aryasatya meledak bersamaan. Serpihan daging dan darah bercipratan ke mana-mana.

"Racun Seribu Hawa Kematian," desis Pendekar Rajawali Berhati Emas.

"Racun apakah itu, Kakang?"

"Racun paling ganas di dunia persilatan. Barang siapa yang terkena racun ini akan mengalami sekarat; mati tidak, hidup pun tidak. Jika terkena api ia akan meledak, terkena air juga meledak, apalagi jika terkena aliran tenaga dalam."

"Apakah ada obatnya?"

"Tidak ada. Sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Apalagi racun itu sudah menghilang selama tiga puluh tahun terakhir. Tak disangka akan muncul kembali. Sepertinya badai di dunia persilatan tidak akan lama lagi."

Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Hari semakin terang, namun upaya pencarian pelaku di balik kejadian tersebut masih menjadi tanda tanya besar. Matahari bersinar terik, menghangatkan hati yang sedang terlena dalam kebahagiaan, sekaligus menggusarkan siapa pun yang sedang dalam kesengsaraan. Itulah kehidupan.

"Gardapati... Pelajar berbaju perak berwajah setan!" gumam seorang gadis yang penampilannya sudah semrawut. Rambutnya kusut masai, wajahnya keruh oleh penderitaan. Bajunya robek di sana-sini dengan debu yang menempel tebal.

"Oh Tuhan, mengapa semua ini terjadi? Ayah... Ibu... suatu saat nanti akan kubalas kematian kalian. Mereka... mereka mengaku sebagai golongan putih, tapi mengapa bisa berbuat sekejam itu? Huaaa! Tuhan, berikan aku petunjuk!" teriak gadis itu lantang.

Burung-burung beterbangan karena kaget, binatang hutan berlari serabutan. Termasuk seorang pemuda tampan berpenampilan serba perak yang sedang berbaring di dahan pohon. Wajahnya tampak melotot kaget. Bayangkan jika Anda sedang terlelap dalam mimpi dan tiba-tiba seseorang berteriak keras di dekat Anda. Itulah yang dialami pemuda yang tak lain adalah Gardapati ini.

Dengan mata setengah mengantuk, ia melongok ke bawah dan melihat sesosok tubuh ramping yang sedang bersujud sambil terisak. Benaknya bertanya-tanya, siapakah orang yang telah mengganggu istirahatnya itu?

"Oh, Kakang Gardapati... ke manakah engkau pergi?" gadis itu mengeluh cukup keras.

Gardapati tertegun kaget saat namanya disebut. Ia memperhatikan wajah gadis yang kusut masai itu, lalu tiba-tiba teringat kepada seseorang. Dengan cepat ia mengerahkan ilmu mengambang anginnya dan mendekati gadis itu tanpa suara.

"Haruskah aku mati?" desis gadis itu lagi.

"Sebaiknya jangan dahulu," sahut Gardapati dari belakang.

Gadis itu tersentak. Laksana kilat ia berbalik sambil berteriak, "Siapa kau?!"

Begitu membalikkan badan, wajahnya yang kaget berubah menjadi semakin terkejut, ditambah perasaan malu yang menyerang. Bumi serasa berputar, pandangannya berkunang-kunang, hingga akhirnya segalanya menjadi gelap. Tanpa permisi, gadis itu pingsan seketika.

Gardapati terperanjat. Buru-buru ia memapah gadis itu dan melesat pergi.

Gemericik air membentur cadas dan karang yang menonjol terdengar merdu, bagai dawai dewa cinta dari alam surgawi. Air putih berbuih terus mengalir dari hulu ke hilir seakan tidak ada yang mau mengalah. Matahari senja menjadi saksi romantis saat seorang pemuda tampan membasuh seorang gadis cantik yang tergolek lemah.

Wajah ayunya begitu lembut mempesona. Gardapati mengusap perlahan tubuh gadis itu menggunakan pucuk daun jambu yang telah dipetiknya. Perlahan dan pasti, setelah gadis itu dibersihkan, Gardapati membuka buntalannya dan mengeluarkan seperangkat pakaian perempuan. Entah dari mana ia mendapatkan pakaian tersebut.

Setelah mengenakan pakaian itu ke tubuh si gadis, Gardapati menyisir rambutnya dengan telaten, layaknya seorang gadis yang sedang memainkan boneka kesayangan. Setelah semua selesai, Gardapati meletakkan gadis itu dengan penuh kehati-hatian di atas sebuah batu karang yang datar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment