Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 22

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 22

Sementara itu, dirinya memanggang ikan yang tadi ia tangkap sebelum memandikan gadis itu di sebuah perapian yang baru saja ia buat. Tak menunggu waktu yang begitu lama, bau daging ikan terbakar tercium begitu menggoda. Gadis yang pingsan itu segera bangun dan celinguk kesana-kemari. Wajahnya terlihat bingung mengapa ia berada di sana. Wajahnya merah seketika ketika merasakan bahwa tubuhnya serasa segar seperti baru mandi. Apalagi pakaian yang dikenakannya beda dengan yang ia pakai sebelum mandi.

Wajahnya yang putih kemerahan, berseri-seri malu pada pipinya yang berona kemerahan nampak lesung pipit yang menghiasi ketika ia tersenyum malu. Hidungnya bangir dengan alis mata yang lentik seperti semut yang berjalan. Bulu-bulu matanya begitu melengkung indah. Yang terpenting, sang pemilik keindahan itu memandang Gardapati dengan tatapan aneh, Gardapati berpaling dan tersenyum. "Selamat senja menjelang malam, wahai permata manusia indah yang bernama perempuan, Tuan Putri Dyah Krusina!" tegurnya menggoda.

"Akh...!" Hanya itu yang mampu terucap dari bibir mungilnya, sejuta kata yang ia rangkai sebelum bertemu dengannya sirna musnah. Kesedihannya tertiup angin hingga lenyap tak berbekas. Itulah sebuah kehebatan sebuah kata yang disebut dengan Cinta. Cinta, sebuah kata sederhana yang penuh akan makna.

"Mari makan dan kamu ceritakan apa yang kamu alami sampai kamu menjadi seperti itu!" Dyah Krusina menrut. Ia ikut duduk di hadapan Gardapati. Sesuap dua suap, ia makan daging itu. Setelah menghela nafas panjang, ia mulai bercerita. "Pada waktu itu, sehari setelah kakang pergi dari rumahku..." Suara langkah kaki dan teriakan-teriakan bergema di pagi yang dingin itu. Entah apa yang terjadi.

Puluhan manusia datang dengan senjata terhunus mendekati sebuah rumah di mana kemarin mengadakan sayembara. "Drajasengkala, keluar kau...!" Drajasengkala, yang pada waktu itu sedang makan, terkejut ketika seseorang berteriak memanggil namanya. Ia tahu bahaya, segera ia menarik lengan Dyah Krusina ke sebuah ruangan. "Ingatlah, apa pun yang terjadi, kau harus tetap hidup, anakku. Balaskan dendam kami. Carilah murid atau keturunan dari saudara-saudara angkatku, Iblis bermata hijau, Asmara Dewi Surga, Setan Purnama, Pangeran pemabuk, Iblis kembar Bumi, dan Si Gila dari neraka hitam. Pergilah..." Drajasengkala mendorong Dyah Krusina ke dalam sebuah lorong kecil yang awalnya tertutup oleh lantai.

"Selamat tinggal, anakku...!" desis Drajasengkala sambil menutup lorong itu. Bergegas, ia keluar dari ruangan itu. Di depan pintu keluar, istrinya sudah berganti pakaian ringkas, siap bertempur, ditangannya tergenggam dua bilah pedang. Satu diberikan kepada suaminya, dan satu untuk dirinya sendiri. "Maafkan aku, istriku...!" "Tak ada yang perlu dimaafkan, kakang. Walau kita tak lahir bersama, namun hari ini kita akan gugur bersama sebagai suami istri yang bahagia dan waktu yang bersamaan." Drajasengkala dan istrinya berpandangan, tangan mereka saling genggam.

"Cupp!" Drajasengkala mengecup kening istrinya. Dengan langkah tegar dan penuh keberanian seperti elang menyongsong mangsa, keduanya berjalan keluar halaman. Ditatapnya serombongan orang yang sudah mengepung rumahnya sampai di bagian belakang. Bergegas, kedua suami istri itu maju ke depan. Dan ia berpapasan dengan seorang kakek-kakek berjanggut putih sedagu dan berpenampilan serba putih. Dia adalah Pemimpin dari Dunia Persilatan, Maharaja Dunia Persilatan. Di sampingnya terdapat empat orang kakek yang sebaya dengannya dan juga berpenampilan serba putih.

Mereka kelihatan bersama sebab selain menjadi seorang maharaja dunia persilatan, dia juga seorang tertua dari Pendekar Kelana Lima Pedang Dewa. Kakek yang pertama, yang menjadi dunia persilatan biasa dipanggil dengan julukan Dewa Mata Pedang. Kakek kedua, yang memiliki codet di dagu tanpa jenggot, dipanggil dengan Dewa Gagang Pedang. Kakek ketiga, yang memiliki kumis melintang tanpa jenggot, biasa dipanggil dengan nama Dewa Batang Pedang. Kakek keempat, yang memiliki rambut panjang sepunggung dan diikat seutas tali putih, biasa dipanggil dengan nama Dewa Warangka Pedang. Dan yang terakhir adalah yang termuda, ia memiliki rambut dan jenggot hitam, berbeda dengan yang lainnya, biasa dipanggil dengan nama Dewa Pedang Kelana.

Maharaja Dunia Persilatan menggeram. Kakinya berdiri tegak merenggang dengan mata menatap gusar. Drajasengkala berkerut kening, merasa heran. "Apa kesalahanku, Maharaja Dunia Persilatan?" "Hehe... apakah benar dikau tak mengetahui, Drajasengkala?" "Emmh.....!" gumam Drajasengkala. Ia berpikir sejenak. "Apa ini disebabkan dengan kematian salah satu tokoh dunia persilatan di sini dan juga berkenaan dengan Iblis Dunia Persilatan?" "Benar... maka dari itu kau harus menebusnya dengan nyawamu... setidaknya itulah hasil keputusan para dewan dunia persilatan tadi malam."

"Tunggu dulu...! Apakah karena aku adalah saudara dari Iblis Dunia Persilatan, lantas kalian menjatuhkan pilihan itu kepadaku?" "Kami bukan orang yang mulut berbau madu, panta t bau sengat. Langsung saja aku katakan bahwa tebakanmu adalah benar adanya. Dengan menjadikan sayembara jodoh sebagai topeng, maka kau dapat melampiaskan dendammu. Bukankah Kipas Maut dari keluarga Siregar pernah mengalahkanmu dahulu? Dan kau meminjam tangan Iblis Dunia Persilatan sebagai tangan kananmu, dengan begitu kau dapat terlepas dari kecurigaan. Sayang sekali, kami bukanlah sekumpulan orang bodoh... siasatmu itu telah kami bongkar habis-habisan."

Gusar, marah hati Drajasengkala difitnah seperti itu, wajahnya merah seperti kepiting rebus. Setengah berteriak, ia berteriak lantang. "Tak kusangka, Maharaja Dunia Persilatan yang kuhormati adalah hanya seekor katak di bawah tempurung. Bukankah kata banyak kata bergalau, kata yang benar di tidakan, rahmat Tuhan dilarikan. Ternyata Iblis Dunia Persilatan dan Maharaja Dunia Persilatan dikati sama berat, diuji sama merah." Merah wajah Maharaja Dunia Persilatan, sebagai seorang yang berpengalaman, ia tahu maksud ucapan itu. Adapun maksudnya adalah bahwa dia (Maharaja) adalah seorang yang berpengetahuan cetek, berlagak pintar. Bukankah kata orang banyak tidak dapat langsung dibenarkan kebenarannya, dengan begitu dia merupakan seorang yang tidak mau mengakui kebenaran. Dan selain itu, dia dan Iblis Dunia Persilatan adalah sama derajatnya, alias sama-sama tidak bisa dianggap baik.

Maharaja Dunia Persilatan sudah tak sabar. Ia berseru, "Sahabat-sahabatku... lihatlah orang ini, diberi hati minta jantung, sebaiknya lekas dihabisi saja supaya tidak menjadi duri dalam daging!" "Hiaaat...!" teriak mereka bersamaan. Dua belas pengepung itu segera maju menyerang suami istri itu. Drajasengkala, yang tidak mau memandang enteng lawannya, dengan cepat mendorong tubuh istrinya ke samping. Sedangkan dia sendiri dengan cepat berkelit ke kiri sambil menarik kaki kanannya untuk mendekati lawan.

Lalu dengan gerakan cepat, kaki kanannya menendang ke arah kemaluan lawan. "Terima ini...." Orang itu terbelalak kaget melihat serangan cepat yang dilancarkan oleh lawan yang dihadapinya. Untuk mundur, tak sempat. Maka dengan nekat, pedang di tangannya dibabatkan ke bawah, di mana kaki lawan meluncur. Drajasengkala tertawa latah, ternyata serangan kakinya hanya pancingan belaka. Kakinya ditarik dengan cepat, lalu melontarkan pukulan dengan tangan kirinya ke arah dada lawan. "Desss!" "Uhk...!" Sebuah pukulan mendarat telak di pundak sebelah kanan orang itu. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi pundaknya yang terasa sakit.

Tak kalah ganas, perempuan cantik dari Jawadwipa yang bernama asli Widiarti segera menyerang dengan tebasan-tebasan pedang miliknya. Serangannya begitu gencar, lincah, cekatan, indah, dan gemulai, membuat pedang di tangannya kadang menghilang, kadang datang dengan tiba-tiba, lambat, halus, dan aneh. Ke mana pun lawannya yang memiliki jambul itu menghindar, pedang di tangan Widiarti mengejarnya. Suara dentangan pedang dan senjata beradu di pagi itu, tetangga berdatangan dan mengintip dari kejauhan.

Lama kelamaan, Widiarti semakin mempercepat serangannya. Pedang di tangan kanannya berkelebat cepat, menimbulkan sinar putih keperakan yang bergulung cepat mengejar laki-laki bersenjata tombak. "Craaasssshh...! Arrgghh...!" Kepalanya lepas dari kedudukan. Widiarti sabetkan pedangnya ke arah lawan yang lain hingga ia menjadi kewalahan menghadapi serangan gencar dari Widiarti. Kawannya yang lain marah, ia sabetkan goloknya dengan ganas. Widiarti berkelit ke samping, menghindari sebuah tebasan golok lawan. Kemudian tangannya bergerak mengebut ke arah golok yang hendak merobek ke lambungnya.

Gerakannya tak kalah cepat, sehingga menjadikan lawan agak kaget menghadapinya. Lelaki bersenjata golok itu kaget, dia berusaha menarik serangannya. Namun... "Dukkk,...! Jreebbb..." Kebutan itu membuahkan hasil, sehingga golok itu mencelat. Widiarti tusukan pedang dan mencabutnya ke samping hingga usus lelaki bersenjata golok itu berhamburan keluar. Darah memancar, perutnya terbelah hingga hampir putus. "Hiaaatttt...!" Belum berhenti mendengungnya suara teriakan itu, di sana sudah terdengar satu jeritan keras yang menyayatkan hati yang kesekian kalinya. Itulah jeritan kematian dari salah seorang musuh yang roboh sebagai korban dari pedang Drajasengkala yang sudah merasa gusar tak kepalang.

Akibat terbantainya kedua belas musuh itu hebat sekali. Segera terdengar bentakan galak dan bengis, tanda kemurkaan yang mengepung itu. Kilaulah cahaya dari pelbagai macam alat senjata dan penjuru itu meluruk ke arah Drajasengkala suami istri. Sudah jelas, Drajasengkala suami istri mesti melayani kemurkaan lawan sebanyak itu. Tak ada tetangga yang bisa menolong, tak ada dari mereka yang berani mendekat. Jerit dan teriakan bagai suasana di alam neraka. "Semuanya mundur, kalian bukan lawannya...!" Maharaja Dunia Persilatan berteriak lantang. Kemudian ia berpaling kepada adik-adiknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment