Chapter 23
Mereka paham. Kakak tertua mereka menyuruh mereka untuk turun tangan. Dewa Batang Pedang dan Dewa Warangka Pedang maju ke muka. Sebagai tetua golongan putih, mereka memiliki harga diri untuk tidak mengeroyok.
"Siapa yang menanam cabai tidak mungkin berbuah jeruk, siapa yang menanam, dialah yang menuai. Jangan salahkan kami," ucap Dewa Batang Pedang.
"Benar. Entah berapa tahun mereka belajar dari gurunya tentang kebenaran, namun itu laksana pohon kayu tidak berbuah," timpal Drajasengkala.
"Gerr...!" Tanpa basa-basi lagi, keduanya mencabut pedang dan meloncat menghadapi suami istri itu. Drajasengkala yang sudah bertekad hendak gugur tidak lagi gentar dengan kelihaian lawan. Ia menjejak dan meloncat ke udara, pedangnya ditusukkan menyerang titik lemah dari putaran dahsyat pedang Dewa Warangka Pedang.
"Crengg...!" Dentingan dua buah logam beradu. Drajasengkala mengibaskan tangan kirinya, segulung angin dahsyat menyerang lawan. Dewa Warangka Pedang tidak mau kalah, pedangnya diputar dan dilemparkan ke arah dada lawan. Sementara itu, tangan kirinya dijeblakan menahan segulung angin pukulan dari lawan.
"Blaaarrr!" Dentuman dua buah tenaga sakti beradu. Drajasengkala terlempar ke udara, tubuhnya melenting dan mendarat di tanah sedikit sempoyongan. Sementara itu, Dewa Warangka Pedang mundur empat langkah, tangannya terulur ke depan menggupai. Secara luar biasa, pedang yang terlempar kembali ke tangannya.
Widiarti, yang kala itu bertarung dengan Dewa Warangka Pedang, tampak terdesak. Pedang di tangannya ditusukkan dan disabetkan tak beraturan menangkis setiap serangan dari Dewa Batang Pedang. Dirinya terus mundur ke belakang.
"Menyerahlah, Nyonya!" ucapnya. Sungguh gusar hati Widiarti diremehkan orang. Kaki kirinya dimajukan, pedangnya diputar ke samping menangkis tusukan pedang lawan dan dibawa ke bawah. Sedangkan tangan kiri melakukan dorongan ke depan.
"Bukk!" Pundak lawan terhajar telak. Dewa Batang Pedang mundur sambil menahan sakit. Tapi lawan malah memukulkan tangan kanan dengan sebat sementara tangan kirinya ditarik sejajar dengan dada. Sungguh gusar hati Dewa Batang Pedang diikalahkan seorang wanita. Gagang pedang ia pegang dengan kedua tangan, lalu disabetkan ke muka menyamping. Dengan berani, Widiarti simpan pedang menempel di samping tubuhnya.
"Tranggg...!" Dua buah senjata beradu. Dengan memanfaatkan posisi pedang yang berada di samping tubuhnya, Widiarti memutar tubuhnya searah jarum jam sehingga ia memeluk tubuh Dewa Batang Pedang.
"Uhukk!" Dewa Batang Pedang terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. "Senjata rahasia...!" Brukk! Dewa Batang Pedang ambruk di lantai memegang dada yang berlumuran darah.
"Creetttt!" Widiarti mencabut pisau kecil yang menempel di tubuh Dewa Batang Pedang. Ternyata ketika tubuhnya memutar, Widiarti mencabut sebuah pisau kecil di balik tubuhnya, dan ketika ia memeluk, pisau itu ditusukkan dengan tangan kiri. Itu semua dilakukan secepat kilat sehingga tidak seorang pun yang akan menyangka.
Di saat yang bersamaan, ketika Widiarti menangkis pedang, Drajasengkala pun melemparkan pedangnya ke langit. Ia segera membuat kuda-kuda dengan suatu tekukan menikung pada kedua tangan ke dalam, lalu menjatuhkan diri ke depan dengan bagian tubuh membulat serta bersandarkan kekuatan pada kedua telapak tangan. Begitu berguling, ia secara langsung menggunakan kedua kaki untuk melakukan penyerangan. Dewa Warangka Pedang yang berkonsentrasi pada pedang yang dilemparkan terkejut tak menyangka. Ia ingin meloncat, namun sudah tidak ada kesempatan.
"Dukk.. Krak!" Tulang keringnya patah secara menggenaskan. Tubuhnya membungkuk menahan sakit. Tapi naas! Drajasengkala bangun seraya maju menyusup ke dalam pertahanan lawan yang sudah bobol. Dengan suatu jangkauan cakaran dan tangan lain melakukan persiapan matang di balik siku tangan kanan...
"Bret... Arhgg!" Wajah Dewa Warangka Pedang hancur berantakan terkena cakaran. Tubuhnya doyong ke belakang. Bukan hanya itu, Drajasengkala segera melakukan pembalikan pendekatan pada jarak lawan. Dengan geseran langkah kaki dan diiringi suatu ayunan mengangkat ke atas, serta tangan lainnya membuka pada sisi bawah tubuh.
"Tepp.." Pedang jatuh dari langit tepat di tangan kanannya. Tubuhnya memutar yang diikuti oleh pedang.
"Craasshh.. Blukkkkkkkk!" Kepala Dewa Warangka Pedang terlepas dari lehernya, kemudian menggelinding ke dekat kaki Maharaja Dunia Persilatan.
Maharaja Dunia Persilatan tertegun. Setitik air mata jatuh di pipinya. Bukan hanya dirinya yang merasa bersedih, setiap mata yang berada di sana pun memandangnya dengan hati yang sama. Dari sedih, mereka berganti gusar.
"Bunuh... Cincang... Habisi!" Dari segenap penjuru terdengar teriakan-teriakan yang memprovokasi. Tanpa dikomando dan dicegah lagi, dari segenap penjuru bak air bah menyerbu suami istri itu.
Drajasengkala dan Widiarti berpegangan tangan. Dengan sebuah teriakan mengguntur, keduanya menyerbu ke tengah kepungan. Suara dentingan pedang bergema, suara daging terobek terdengar nyaring, suara teriakan menyayat begitu memilukan, tapi... semua itu bukanlah akhir. Dentuman tenaga sakti, tanah yang merekah, pedang patah, tulang patah terus-menerus terdengar.
Drajasengkala dan Widiarti kini sudah berlumuran darah. Baju mereka sudah semerah darah. Pedang mereka terus berputar dan menebas. Di pundak Drajasengkala terlihat sebuah patahan tombak yang menempel, sementara paha Widiarti telah terobek, darah mengucur dari sana. Mereka tidak menyerah. Mereka terus berjuang dan bertarung sampai titik darah penghabisan. Kematian diri mereka tidak menjadi soal. Satu jiwa dibayar sepuluh, dua puluh jiwa cukuplah memadai.
"Crass!" Tangan kiri Drajasengkala tertebas putus. Putus bukan akhir. Pedangnya bergerak. "Crtasshhh!" Sebuah kepala lawan menggelinding. Semakin parah kondisinya, semakin ganas pula pedangnya.
Widiarti mengeluh kesakitan ketika dadanya tertusuk pedang. Tangan kanannya bergerak. Ia memegang gagang pedang itu. Dengan seluruh keberaniannya, pedang dicabut dan digunakan sebagai senjata. Pedang di kanan, pedang di kiri. Laksana banteng ketaton, dia mengamuk dahsyat. Sekali tangan kanan bergerak, dua jiwa melayang. Tangan kiri bergerak, satu nyawa melayang. Lawan yang tinggal seperempatnya lagi mundur teratur, wajah mereka menyeringai buas antara takut dan geram. Puluhan mayat menggeletak seperti sampah yang berserakan.
Drajasengkala dan Widiarti saling berdekatan dan saling peluk.
"Kakang!" Sebuah Gendewa dan anak panahnya kepada Sagara Angkara. Bentuk Gendewa dan anak panahnya sungguh aneh dan tidak lazim sebagai anak panah. Bagaimana tidak, panah itu ujungnya tidak tajam, namun berbentuk cakra. Selain itu, warna Gendewa dan anak panahnya tampak beragam.
"Gendewa dan anak panah itu aku buat sesuai dengan sejarah, Jamparing Panah Chakra! Namun bukan senjatanya yang paling hebat, melainkan simbolnyalah yang paling penting!" Sagara Angkara diam mendengarkan, dia menunggu dan selalu setia menunggu meski kakinya sudah terasa hampir kaku tak dapat digerakkan, ia tetap menunggu. Akhirnya Ki Brangaspati melanjutkan.
"Jamparing di sini maksudnya adalah Jampe Kuring. Panah itu Manah atau Hati (Rasa Welas-Asih). Sedangkan Chakra atau Cakra adalah Titik Pusaran yang bersinar / Roda Penggerak Kehidupan. Jadi, kau tidak boleh menggunakan panah ini dengan menggunakan nafsu angkara, karena panah ini tidak akan bisa melesat tanpa ajiannya."
"Ajian apa, Eyang?" Sagara Angkara bertanya heran.
"Jamparing Asih maksudnya adalah 'Ajian Manah nu Welas Asih' (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih)." Maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah 'ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakkan roda kehidupan yang bersinar'. Kau lihat, selain itu, anak panah dan gendewa ini memiliki lima warna!"
"Benar, Eyang. Sedari tadi saya ingin bertanya mengenai hal itu!" Kemudian dengan tenaga dalamnya, lalu Ki Brangaspati meletakkan Gendewa dan tanah itu dengan mengatur letaknya sedemikian rupa. "Inilah filosofi dari kepercayaan orang Sunda. Warna putih di badan panah ini melambangkan Cahaya Putih di timur yang disebut Purwa, tempat Hyang Iswara. Warna merah di bulu-bulu ini melambangkan Cahaya Merah di selatan yang disebut Daksina, tempat Hyang Brahma. Warna kuning di Gendewa ini melambangkan Cahaya Kuning di barat yang disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa. Warna hitam di ujung busur ini melambangkan Cahaya Hitam di utara yang disebut Utara, tempat Hyang Wisnu."
Kemudian Gendewa dan anak panah itu dibawanya dan diputar hingga menciptakan berbagai warna yang berkisaran. "Dan itulah melambangkan segala warna Cahaya di pusat yang disebut Madya, tempat Hyang Siwa." Sagara Angkara manggut-manggut paham, sebelum ia berkata apa-apa, Ki Brangaspati segera menyuruhnya untuk bersila.
"Anakku, sekarang lakukanlah Samadhi Swara Gayatri Sadhana!" perintah Ki Brangaspati. Seumur hidupnya, Sagara Angkara baru saja mendengar yang dinamakan Swara Gayatri Sadhana. Karena kebingungan, akhirnya bertanyalah Sagara Angkara, "Eyang, aku tidak paham!"
Ki Brangaspati tersenyum, lalu mengajarkannya Sagara Angkara itu dengan apa yang dimaksud dengan Swara Gayatri Sadhana. Sebenarnya Samadhi Swara Gayatri Sadhana adalah samadhi pembangkitan kundalini yang dilakukan dengan menggetarkan suara Gayatri di masing-masing cakra. Adapun rinciannya sebagai berikut: Cakra Muladara "Om Bhur", Cakra Swadisthana "Om Bhuwah", Cakra Manipura "Om Swah", Cakra Anahata "Om Mahah", Cakra Visudha "Om Janah", Cakra Ajna "Om Tapah", Cakra Sahasra "Om Satyam".
Waktu terus bergulir. Lambat laun semakin berjalan, berjalan dengan cepatnya bagai orang yang kebelet. Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya, kecuali sang waktu itu berhenti sendiri, mungkin bosan, mungkin jenuh, ataupun tidak dapat berjalan lagi. Entahlah. Kedai Centhulo yang juga merangkap sebagai penginapan satu-satunya di desa itu masih ramai akan pengunjungnya. Suasana cukup meriah dengan ditemani seguci arak kelapa.