Chapter 24
Canda dan tawa masih menjadi hidangan pembuka yang nikmat, apalagi dengan ditemani seorang gadis yang menawan hati. Di dalam kedai itu, terdengar bisikan kekaguman, baik dari mulut para gadis maupun jejaka. Tua muda tak menjadi halangan. Secara garis besar, bisa ditarik kesimpulan bahwa kaum pria mengatakan, "Gadis itu secantik bidadari." Sementara kaum wanita mengatakan, "Pangeran dari negeri manakah yang datang?"
Dua sejoli yang menjadi pusat perhatian itu tak mengacuhkan ucapan dan pandangan orang; mereka tetap bersantap, mengisi perut yang sudah menagih. Mata gadis yang tak lain adalah Dyah Krusina itu terpejam, helaan napasnya terdengar berat. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan sebuah hal yang sangat besar.
"Kakang bilang bahwa Kakang memerlukan seorang gadis lagi yang memiliki kecantikan luar biasa untuk menjadi ketua pasukan gadis," ucapnya setelah membuka matanya yang jeli.
"Benar, Nimas. Mungkin Kakang akan menarik Dhara Kalajengking Maut untuk menempati posisi itu," bisiknya lirih.
"Emm... Mengapa Kakang tak menawariku?"
"Tidak bisa, Nimas... Tidak bisa. Untuk menempati tempat itu, harus memiliki kejalangan yang memadai seperti halnya adik seperguruanku, Nimas Astadewi."
"Kejalangan?" tanya Dyah Krusina heran.
"Benar, itulah modalnya yang paling utama."
"Maksud Kakang, bercumbu dengan lelaki?"
"Dua-duanya."
"Apakah tidak ada cara lain selain itu?"
"Tidak. Pasukan ini aku ciptakan khusus untuk menghancurkan kaum lelaki Golongan Putih, sekaligus menarik lelaki Golongan Hitam."
"Akhh?!" Dyah Krusina menghela napas panjang.
Gardapati tersenyum lembut dan meminum tuaknya.
"Ayo kita pergi ke atas, Nimas. Hari sudah larut. Sebaiknya kita tidur. Besok kita lanjutkan perjalanan."
"Ya?" jawab Dyah Krusina seraya bangkit dan menggandeng tangan Gardapati. Keduanya pergi ke lantai atas dengan diiringi tatapan iri dari yang memandang.
Setelah kepergian mereka, satu per satu pengunjung kedai itu meninggalkan tempat hingga hanya tertinggal satu-dua pengunjung saja.
"Ctek!" Gardapati menyalakan lilin di kamar itu. Dikarenakan pengunjungnya ramai, mereka berdua hanya menyewa satu kamar saja. Berhubung ketika mereka datang, kamar lainnya sudah ada yang menempati.
"Grep!" Gardapati cukup terkejut ketika dari belakang tubuhnya ada yang memeluk. Wajahnya membalik, dilihatnya Dyah Krusina menyusupkan kepalanya di punggung tanpa kata.
"Nimas?" desis Gardapati.
"Kakang, dengan modal tampangku apakah tidak cukup untuk menduduki jabatan itu?"
"Sangat-sangat cukup... berlebihan malah... tetapi ada hal yang terpenting lagi?"
"Sst!" Dyah Krusina memotong dan menimpali, "Apakah tubuhku ini tak mencukupi?" Dyah Krusina melepas pelukannya dan mundur satu langkah.
"Glek!" Gardapati menelan air ludah. Diperhatikannya tubuh gadis di depannya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Berahinya memuncak. Bagaimana tidak memuncak bila melihat seorang gadis cantik berdiri tanpa sehelai benang pun di antara remangnya malam dan sorotan cahaya lilin. Ya, memang saat itu Dyah Krusina sedang berdiri tanpa sehelai benang pun. Wajahnya merah padam menahan malu. Namun ia tegar dan tetap berdiri.
Gardapati tak sanggup menahan lagi. Direngkuhnya tubuh ramping itu dan dibaringkannya di ranjang. Tak setitik pun yang lepas dari ciuman dan cumbuannya. Desahan napas memburu selalu setia menjadi nada yang mengobarkan semangat dalam melakukannya.
"Kakang, aku serahkan kehormatanku padamu sebagai orang yang kupuja dan kucintai, karena mulai esok aku akan melakukannya dengan setiap lelaki yang ada di dunia. Aku tak membantumu, namun aku yang membantu diriku untuk melampiaskan dendamku. Mulai esok aku akan memohon kepada Kakang untuk menerimaku sebagai ketua dari para gadis itu... Akhh... uhh!" ucap Dyah Krusina di tengah desahan napas berahi dan kesedihannya yang mendalam. Air mata jatuh di pipinya yang licin, namun ia sudah membulatkan tekad. Tak ada seorang pun yang akan bisa menghentikan apa yang hendak dicapainya.
"Ya, Nimas... Mulai saat ini... bila itu sudah menjadi keputusanmu, aku mengangkat kau sebagai ketua para gadis itu... Emmhh!" Gardapati berhenti bicara, sebab benda hangat dan basah sudah menyumpal mulutnya.
"Aku cinta kamu, Kakang Garda!"
"Aku juga mencintaimu, Nimas Dyah."
Malam serasa panjang bagi mereka yang gelisah menunggu sang kekasih, dan menjadi pendek bagi mereka yang sedang diamuk asmara. Asmara. Mungkin kata inilah yang selalu mewarnai kata-kata lainnya. Dendam. Ya, kata itulah yang selalu melekat dalam kata Asmara.
Dendam dan asmara selalu menjadi pemicu dari kehancuran segalanya: harta, sahabat, keluarga, bahkan jiwa yang menjadi taruhannya. Dendam dan asmara tak bisa dipisahkan; di mana ada dendam, di sana ada asmara. Tak sedikit orang yang kehilangan harga diri bahkan nyawa demi keduanya, tak sedikit pula yang mengorbankan segalanya demi hal itu. Dan tak jarang orang selalu melakukannya tanpa sadar, mungkin itu yang dikatakan orang sebagai "Dosa Tak Terasa".
Sebelum fajar tiba, Gardapati dan Dyah Krusina menghentikan aksinya. Keduanya berpandangan dalam pelukan. "Selamat tidur, Kasih, sampai jumpa di esok hari yang indah. Selamat datang diri yang baru. Matahari dan bunga akan tersenyum menyambut wajah barumu di esok hari."
"Terima kasih, Kakang Garda. Selamat tidur dan mimpi indah." Keduanya memejamkan mata dan mulai terlelap dalam impian masing-masing. Itu terjadi apabila tak ada gangguan.
Malam yang seharusnya dilalui dengan indah dikacaukan oleh seseorang yang masuk ke dalam kamar itu.
"Nimas, kenakan pakaianmu! Seseorang ingin main-main!" bisik Gardapati.
Dyah Krusina kaget. Meski matanya setengah mati ingin menutup, terpaksa dihentakkan untuk tetap terjaga. Tangannya menggapai pada pakaian yang berserakan di lantai. Secara ajaib pakaian itu terbang kepada pemiliknya. Tanpa babibu lagi ia segera mengenakan pakaiannya. Begitu pula halnya dengan Gardapati.
"Silakan masuk, Tuan. Tak usah berdiam di atas sana," ucap Gardapati sambil membetulkan bajunya.
"Dep!" Orang yang ada di atas genting sana melarikan diri, sepertinya ia masih terkejut dengan kemampuan lawan. Gardapati enggan melepaskan orang yang mengganggu kesenangannya. Ia melesat terbang mengerahkan Ilmu Mengambang Angin.
Melihat Gardapati sudah mengejar lawan, Dyah Krusina pun tak mau ketinggalan. Ia mengerahkan Ilmu Peringan Tubuhnya untuk mengejar. Orang yang mengintip Gardapati dan Dyah Krusina ternyata memakai topeng dari kulit kayu. Ia terus berlari berloncatan di atas atap rumah.
"Berhentilah di sana!" bentak Gardapati seraya mengerahkan Ilmu Sabda Iblis. Orang yang memakai topeng kulit kayu itu seketika berhenti. Keringat dingin membasahi bajunya hingga basah kuyup. Tubuhnya gemetaran. Dari warna bibir orang itu, jelas sekali bahwa ia sedang ketakutan. Itulah keistimewaan Sabda Iblis daripada Sabda Dewa.
"Kau sudah mendapatkannya, Kakang?" tanya Dyah Krusina di sela napasnya yang memburu.
"Sudah! Bawa dia, Nimas."
"Apa yang akan kau lakukan, Kakang?!"
"Kita lihat saja nanti. Nimas, merunduk!" kata Gardapati setengah berteriak.
"Trang!" Gardapati menangkis serangan dari pembokong. Dyah Krusina berbalik, dilihatnya orang yang bertopeng kulit itu sedang berkutat adu pedang lewat tenaga dengan Gardapati.
"Hebat juga!" puji Gardapati. Orang itu mendengus lalu mundur ke belakang dan membuka jurus. Kedua kakinya agak membuka, ringan kedua tangan setengah melipat dengan pedang mengacung ke kiri.
"Pedang Langit Menusuk Bumi! Ternyata kau dari Perguruan Pedang Bumi!" kata Gardapati sinis.
"Luas juga pengetahuanmu," kata lelaki itu tak kalah sinis.
"Ternyata ada juga murid Perguruan Pedang Bumi yang bertindak sepengecut kau! Haha! Belakangan ini aku sering melihat kaum Golongan Putih bertindak seperti kaum Golongan Hitam. Jujur saja, apa kalian ketakutan?" Gardapati tertawa terbahak-bahak.
"Grrr!" Lelaki itu menggeram marah. Pedangnya dilibatkan sejajar dengan dada. Tangan kirinya bergerak menangkis pukulan yang saat itu sedang dilancarkan Gardapati sebagai serangan balasan. Pedangnya yang sedang beradu ditarik dan kembali ditusukkan dengan mata pedang miring ke samping. Gardapati maju dengan gagah berani menyongsong tusukan pedang. Pedang di tangan kanan ditangkiskan ke bawah sehingga terjadi benturan nyaring, sementara tangan kiri melakukan pukulan dahsyat yang sudah dialiri dengan tenaga dalam.
"Buk!" Dada lawan terhajar telak. Orang bertopeng kulit itu mundur satu langkah sambil meringis kesakitan. Tubuhnya direndahkan sedemikian rupa sementara pedang dilintangkan di dada dan tangan kiri berada di baliknya. Bersamaan dengan itu, Gardapati mengangkat kaki kiri ke belakang menyamping menyusul dengan geseran pada kaki lainnya. Dengan gerak berjaga-jaga pada tangan kanan yang memegang pedang disilangkan di depan dada, dan tangan lainnya dikepalkan di atas kepala.
"Hiyaat!" "Heaa!" Keduanya berteriak nyaring dan kembali berhadapan.
Dyah Krusina menatap pertarungan itu dengan cemas, kadang memegang erat kain bajunya, kadang pula ia berseri kegirangan. Satu jurus pertama, dua jurus kedua terus berurutan hingga pertarungan mencapai puncaknya yaitu jurus kedelapan puluh sembilan. Pedang milik orang bertopeng kulit ditusukkan langsung dengan tangan lainnya berjaga-jaga di samping pinggang. Kaki kirinya diangkat melayang ke belakang dengan posisi tubuh condong ke depan. Begitu berhadapan dengan pedang, Gardapati memutar tubuh ke kanan dengan dibarengi sebuah tendangan menyabet yang cepat dan ganas.
"Des! Akh!" Telak sekali pedang itu terkena tendangan hingga terlepas dari cekalan orang bertopeng kulit itu. Begitu kaki kiri turun ke belakang, tangan kiri menusuk tepat di jalan tidur lawan.
"Tuk! Grep!" Orang bertopeng kulit itu jatuh menggelosor. Dengan sigap Gardapati menangkapnya dan dikempit di ketiak.
"Ayo!" ajak Gardapati kepada Dyah Krusina. Malam itu juga mereka melanjutkan perjalanan.