Chapter 25
Jalanan begitu sepi dan lengang. Tanpa kejadian apa pun, mereka tiba di sebuah hutan lebat yang biasa disebut Hutan Larangan. Disebut Hutan Larangan karena di hutan itulah terdapat sebuah jurang yang dinamakan Jurang Mulut Dewa Neraka.
"Nimas Dyah, kita istirahat di gua itu saja?" ajak Gardapati sambil menunjuk sebuah gua.
Wajah lelah Dyah Krusina mengangguk. Tanpa kata, ia berlari lebih dahulu dan masuk ke dalam gua itu. Gardapati mengekor di belakang dan menurunkan orang bertopeng yang dikepitnya di mulut gua.
"Kakang, sepertinya di sini pernah dihuni orang. Lihatlah, di sana ada pemandian, di sana ada dapur, dan di sana ada pembaringan." Gardapati manggut-manggut sementara dalam batinnya ia berkata, "Mungkinkah ini gua yang ditinggali Nimas Dewi?"
"Mandilah dan tidurlah. Tempat tujuan kita sudah dekat," perintah Gardapati.
"Baik, Kakang," kata Dyah Krusina seraya beranjak ke sebuah bilik pemandian.
Gardapati melangkah ke mulut gua, dijinjingnya orang itu dan dibawa ke pembaringan. Tak lupa ia mengikat tangan dan kakinya di batu pembaringan hingga membentuk huruf X. Hati-hati sekali Gardapati membuka topeng itu. Muncullah seraut wajah laki-laki cukup tampan yang sedang ditelan usia tiga puluh tahunan. Kumis dan janggutnya tipis bekas cukuran. Matanya sedikit sipit; sepertinya pemuda ini memiliki campuran dataran tengah. Rambutnya dipotong cepak. Dalam dunia persilatan, ia biasa dipanggil dengan nama Pangeran Pedang Dataran Tengah.
Gardapati melucuti seluruh pakaian laki-laki itu hingga telanjang bulat, lalu memeriksa pakaian yang dikenakannya tadi. Ia menemukan sebuah belati indah yang terbuat dari giok. Gagangnya terbuat dari emas dengan ukiran abstrak dari berlian. Ditemukan pula dua buah tabung senjata rahasia, sebotol pil obat, sebotol racun pemabuk, setumpuk uang emas dan perak, serta sebuah lencana perak bergambar hutan. Gardapati termenung memperhatikan lencana itu hingga tenggelam dalam lamunan.
Dyah Krusina keluar dari bilik pemandian tanpa sehelai benang pun. Bajunya ia pegang di tangan. Dilihatnya Gardapati duduk termenung memegang sebuah benda di samping pembaringan laki-laki yang juga tanpa sehelai benang pun. Ia berjalan mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Ada apa, Kakang? Apa laki-laki ini orang bertopeng tadi?"
"Heem... tidak apa-apa, Nimas. Bersemadilah sebentar, pulihkan tenagamu."
"Tapi Kakang... Dyah... engh..."
"Kakang tahu maksudmu! Bersemadilah!"
Meski cemberut, Dyah Krusina menurut. Ia duduk di samping Gardapati dan bersemadi tanpa sehelai benang pun. Gardapati tersenyum, telapak tangannya diletakkan di dada Dyah Krusina, dan matanya terpejam. Ia pun terlelap dalam semadinya.
Dua kentongan kemudian, keduanya terbangun. Wajah Gardapati tampak pucat, sementara Dyah Krusina tampak bersemangat seperti elang yang siap terbang menyongsong langit.
"Kakang!"
"Aku tidak apa-apa!" potong Gardapati seraya bangkit dan menotok untuk membebaskan Pangeran Pedang Dataran Tengah. Pangeran itu bangun dengan mata melotot; antara heran, kaget, dan takut bercampur aduk.
"Kakang, mengapa membangunkannya?" tanya Dyah Krusina.
"Praktikkan apa yang Kakang ajarkan. Kakang hendak bersemadi." Tanpa menunggu jawaban, Gardapati berkelebat ke ujung gua dan mulai bersemadi.
Dyah Krusina melamun. Ia ingat dalam semadinya Gardapati mengajarkannya sebuah ilmu yang bernama Hawa Peleburan Yin dan Yang. Sebuah ilmu dahsyat dari dataran yang entah di mana asalnya. Perlu diketahui, Yin dan Yang mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia di bumi ini, baik disadari maupun tidak. Bagaikan saling mengejar untuk melengkapi satu sama lain. Kita temui pergantian siang dan malam, pertemuan pria dan wanita, kelahiran yang menggantikan kematian, keburukan melengkapi keelokan, kejahatan memberi rupa pada kebaikan, kemalangan yang selalu berganti dengan keberuntungan, serta penyakit dan penderitaan yang digantikan oleh kesembuhan dan kegembiraan. Bila Yin dan Yang sudah dilebur, bisa dibayangkan kehebatannya.
Dyah Krusina menatap wajah calon korbannya. Bibir bawahnya ia gigit. Perlahan sekali tangan kanannya bergerak mengelus dada pria itu. Mata Pangeran Pedang Dataran Tengah melotot, mulutnya terbuka, namun tak sedikit pun suara keluar dari tenggorokannya. Jelas sudah bahwa jalan darah bisunya ditotok secara khusus.
Dyah Krusina menciumi dada bidang itu dan beranjak naik ke leher sampai akhirnya ke bibir laki-laki itu. Bibir dan tangannya bergerak lincah menggelora dalam setiap sudut yang mampu dicapainya. Dyah Krusina mendesis bagai ular yang sedang terancam. Ia memosisikan tubuhnya pada lawan. Perlahan ia mendorong masuk. Bagaikan pedang masuk ke sarungnya, pedang itu melesak ke dalam. Suara desahan bercampur suara aneh lainnya terdengar begitu menggoda.
Satu kentongan kemudian, tubuh Pangeran Pedang Dataran Tengah bergetar dahsyat. Dyah Krusina tersenyum senang, tempo pertarungan diubah semakin cepat. Pangeran itu mengerang dalam diam dengan mata terpejam penuh kepuasan. Begitu pula dengan Dyah Krusina. Tubuhnya tergeletak dan tertidur di atas tubuh lawan.
Sementara itu, Gardapati sudah terbangun dari semadinya. Tubuhnya sudah terasa lebih baik dan wajahnya kembali berseri-seri. Ia menatap wajah kedua orang yang tidur itu dan tersenyum sadis. Gardapati keluar dari gua; entah apa yang akan dilakukannya, tidak ada yang tahu.
"Dari mana saja engkau, Kakang?" tanya Dyah Krusina yang saat itu sudah berpakaian kembali.
"Dari luar, hehe," jawab Gardapati seenaknya sembari duduk di hadapan Dyah Krusina. Tangannya merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan selembar kulit.
"Apa itu, Kakang?"
"Topeng. Mulai saat ini engkau harus mengenakannya," jawab Gardapati seraya memasangkannya di wajah Dyah Krusina.
Kulit itu putih bersinar layaknya kulit manusia. Di bagian dahi terdapat tahi lalat yang menambah kecantikannya. Wajah Dyah Krusina memang berubah seratus delapan puluh derajat, namun itu semua tidak mengurangi kecantikannya. Jika wajah sebelumnya terkesan anggun dan lembut, kali ini wajahnya terlihat jalang dan nakal, sangat pantas untuk ukuran tubuhnya yang proporsional.
"Rencana apa yang akan kita lakukan, Kakang, sampai aku harus mengenakan topeng ini?"
"Pertama, kita akan membuat perkumpulan rahasia yang akan menghisap nyawa kaum golongan putih. Mengenai itu sudah Nimas pahami. Lalu yang kedua, kita akan membangun sebuah rumah bunga dan Nimas menjadi pemiliknya. Itu untuk sumber dana perkumpulan kita. Untuk hal itu, Kakang berikan Nimas satu topeng lagi. Dan yang terakhir, Nimas menjadi diri Nimas sendiri. Nimas berlagak seperti seorang nona dari putri Drajasengkala yang sengsara dan meminta keadilan pada dunia persilatan. Usahakan agar Nimas diterima oleh guru dari golongan putih."
"Untuk yang pertama dan kedua Dyah setuju sekali, tapi yang ketiga rasanya Dyah keberatan, Kakang."
"Haha... sebelumnya Kakang sudah dapat menebak hal itu. Nimas, hidup itu seperti kita melintasi pegunungan. Kadang datar, kadang naik hingga puncak, dan kadang pula turun. Itulah realita kehidupan yang tak bisa dibantah oleh siapa pun. Contoh kecilnya adalah kehidupan Kakang. Ketika masih kecil, hidup Kakang normal seperti orang lainnya. Suatu hari usaha ayah meningkat, tapi itulah awal bencana. Merasa tersaingi, pamanku yang ternyata tokoh golongan putih membunuh ayahku. Aku terlunta dan terbuang. Niat membalas dendam selalu dihalangi oleh perguruan yang menerimaku sebagai murid. Diri ini semakin merana. Pada suatu ketika, Kakang nekat mencuri kitab dan kabur. Kakang diburu hingga melarikan diri sampai akhirnya dipertemukan dengan guru yang menciptakan Kakang seperti ini. Saat ini Kakang sedang berjalan naik untuk menjajah dunia persilatan dan suatu hari akan mencapai puncaknya. Kakang yakin pula bahwa suatu hari nanti Kakang akan turun kembali dan terkalahkan. Kamu paham apa yang Kakang maksud, Nimas?"
"Setengahnya, Kakang. Kakang belum menjelaskan mengapa Dyah harus menjadi orang ketiga."
"Baiklah, Kakang jelaskan secara gamblang. Itu dimaksudkan apabila kita jatuh nanti, tak satu pun yang mengenal wajah aslimu. Apalagi statusmu sebagai murid tokoh golongan putih. Siapa yang akan menyangka kejahatan yang telah kamu lakukan? Kakang melakukan ini demi kebaikanmu."
"Terima kasih, Kakang!" Dyah Krusina memeluk tubuh Gardapati dengan haru.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan!" ajak Gardapati seraya mendorong tubuh Dyah Krusina dengan lembut. Ia berjalan dan membopong kembali tubuh Pangeran Pedang Dataran Tengah.
"Mengapa dibawa lagi, Kakang?"
"Ini untuk makanan anak buahmu, haha!"
Keduanya tertawa dan berjalan keluar gua.
***
Air terjun Dhara Balumbang begitu gemulai dengan gaun putihnya yang menggoda hasrat. Suaranya syahdu bergemericik laksana ribuan alat musik yang ditabuh. Langit gelap dipenuhi bintang dan sang rembulan. Angin begitu dingin menggigit tulang, berembus membelai tiga sosok manusia di bawah air terjun itu. Yang pertama adalah Arya, sang duplikat Iblis Dunia Persilatan, dan dua lagi adalah Dewi Asmara berwajah lugu Astradewi serta Ratih, sang pendatang yang belum mendapatkan gelar.
"Siapa kalian?" bentakan melengking nan merdu terdengar memecah keheningan malam itu, mengalahkan dahsyatnya suara air terjun.
"Kunikmati malam indah ini dengan sesuap gairah membara," jawab Astradewi. Arya dan Ratih bertanya dalam hati mengapa Astradewi memberikan jawaban yang berbeda dari pertanyaan tersebut.
"Puncak Asmara membuatku lena dalam surga khayalan," jawab suara lainnya yang berbeda dengan bentakan orang pertama.
"Kakang!" Astradewi bersorak girang. Kakinya menjejak, tubuhnya melayang terbang. Itulah jurus Ngambang Angin yang dahsyat. Sebuah sosok lain dari balik air terjun menerobos keluar.