Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 26

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 26

Bayangan menyongsong tubuh Astradewi ketika ia tersibak dari air terjun. Astradewi merentangkan tangan. Keduanya berpelukan dan berciuman di udara. Sungguh sebuah pameran ilmu peringan tubuh dan pemandangan yang luar biasa indahnya. Baju nila Astradewi berkibar seperti dewi turun dari khayangan. Rambut dan jubah putih Gardapati berkibar indah. Tubuh rapat mereka turun perlahan dalam pelukan yang berputar pelan. Jika tidak memiliki tenaga dalam yang dahsyat, mustahil dapat melakukan itu.

"Kau mengenaliku, Nimas Dewi?" tanya Gardapati setelah mereka menginjak air di bawah air terjun. Di atas air, mereka berdiri dengan tenang seolah itu adalah tanah yang keras. Jangankan tenggelam, beriak pun tidak. "Kakang Arya sudah menjelaskan semuanya!" jawab Astradewi manja.

Gardapati berpaling. Memang dilihatnya Arya berdiri dengan senyum dikulum. Di sampingnya juga terdapat gadis cantik yang mirip Astradewi, hanya saja ia sedikit lebih matang dan dewasa. Tak perlu dikatakannya, ia sudah tahu siapa gadis itu. "Lara, ajak mereka masuk ke dalam," perintah Gardapati tanpa melihat. "Baik, Kakang!" jawab seorang perempuan dari balik batu cadas. Perempuan yang dipanggil Lara itu membungkuk kepada Ratih dan Arya. Arya paham apa yang diminta gadis itu. Tanpa diminta, ia mengikuti gadis itu. Ketiganya meloncati setiap undakan yang terbuat dari batu cadas dan masuk ke dalam air terjun.

"Luar biasa! Tak kusangka bahwa di balik air terjun akan ada ruangan seperti ini," gumam Arya sambil menengok ke sana kemari. Arya, Ratih, dan Lara melangkahkan kaki lebih dulu, sedang Astradewi dan Gardapati mengikuti mereka dari belakang. Ruang di dalam gua di balik air terjun itu kini berubah sejak ditempati Gardapati. Goa itu sekarang memiliki sebuah lorong panjang. Cahaya kuning semakin terang di ujung sana. Lorong itu makin lama makin lebar. Dindingnya bersih tanpa lumut. Semakin ke dalam, semakin luas dan membuat ruangan lebar itu dipenuhi oleh cahaya kuning keemasan.

"Kakang," gumam Ratih. "Ada apa, Nimas?" jawab Arya. "Lihatlah itu?" Ratih menunjuk sebuah batu ukiran di lantai yang berbentuk seperti benda keramat laki-laki. "Haha, kau mau mencobanya, Nimas?" "Emh!" Ratih bergelayut manja sambil cemberut. "Itu adalah benda kesayangan kami. Di tempat ini hampir tidak ada lelaki. Demi memuaskan hasrat kami, benda itulah solusinya," Lara memberikan keterangan.

Mereka melangkahkan kaki tidak terburu-buru. Selain merasa kagum melihat berbagai macam ukiran indah, mereka juga menikmati keindahan lekuk-lekuk langit lorong yang mirip lukisan alam. Memasuki pertigaan, mereka dihadapkan dengan pemandangan yang luar biasa karena lantai gua bagian depan mereka bukan lagi tanah atau bebatuan biasa, melainkan batu berwarna putih bening. Pandangan mata Arya, Ratih, dan Astradewi berseri-seri memperhatikan bebatuan indah yang diukir penuh seni serta beraneka ragam bentuk dan warnanya.

Empat orang perempuan berwajah sangat cantik datang dari arah depan mereka membawa nampan berisi gulungan kain berwarna emas. Keempat perempuan muda itu sama-sama mengenakan pakaian dan jubah hijau muda dari bahan sutra lembut. Rambut mereka lurus panjang sebatas punggung, berhiaskan mahkota intan permata. "Biarkan kami yang melanjutkan tugasmu, silakan kembali ke tempatmu, Lara," bisik salah satu perempuan. "Baik!" Lara berbalik, membungkuk, lalu kembali ke tempat mereka datang tadi. Jelas sudah bahwa Lara adalah petugas keamanan di pintu Goa.

Perempuan kedua segera menyapa Arya dan Ratih yang berjalan paling depan dengan suaranya yang lembut dan enak didengar, "Selamat datang di Goa Dhara Balumbang...." Perempuan ketiga dan keempat yang merupakan pembawa nampan mengambil kain yang membentuk gulungan dan menebarkannya. Kain itu berwarna kuning emas dan membentuk gulungan kecil, tetapi ketika tangan berjari landak itu menyentakkan gulungan tersebut, kain kuning emas itu menebar panjang dan berjalan sendiri mengikuti arah jalan berlantai batu putih itu. "Silakan berjalan di atas kain ini," kata perempuan kedua.

Seumur hidupnya, Arya belum pernah diperlakukan seperti ini. Dengan membusungkan dada, ia mengawali langkahnya di atas bentangan kain itu. Gardapati dan Astradewi mengikutinya dari belakang. Keempat perempuan itu mengawal di kanan-kiri mereka. Kain kuning emas yang tadi digulirkan itu ternyata sangat panjang. Kain tersebut sampai ke tengah balairung istana yang berlangit-langit tinggi dan mempunyai ratusan pilar dari batu. "Selamat datang, Nimas. Maaf, Mbakyu tidak menyambutmu!" Bersamaan dengan suara itu, muncul seorang perempuan bertubuh sangat ramping. Pinggangnya yang kecil terbungkus pakaian sutra kuning emas bermotif bunga mawar mekar, ketat mencetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara. Kancing bajunya terbuat dari berlian putih yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutra merah yang bergerak-gerak bagaikan sepasang ular hidup. Bagian bawahnya ia memakai celana model payung ketat dari sutra putih. Di kedua sisinya terdapat belahan sampai satu jengkal setengah di atas lutut, yang seakan membayangkan sepasang paha indah, padat berisi, dan sempurna lekuk-lekungnya. Ia memakai jubah yang hanya menutupi kedua pundak dan punggungnya yang berwarna sama, putih keperakan. Rambutnya disanggul, mengenakan mahkota kecil berbentuk segitiga dengan ukiran bunga mawar dari jamrud merah, kalung susun tiga berhias batuan putih semacam mutiara dan intan, giwangnya tidak terlalu besar tetapi jelas terbuat dari berlian.

Perempuan itu cantik, wajahnya oval atau lonjong, putih kemerahan berseri-seri. Pada pipinya yang berona kemerahan tampak lesung pipit yang menghiasi ketika ia tersenyum malu. Usianya masih muda, yaitu baru sembilan belas tahunan. Bibirnya ranum indah, hidungnya mancung. Matanya jeli bersinar-sinar nakal, alis matanya lentik seperti semut yang berjalan, bulu-bulunya melengkung ke atas rapi seperti prajurit tertiup angin. Dia tak lain adalah Dyah Krusina, atau dengan kata lain, Dhara Sesat Air Terjun Balumbang. Sesaat Arya, Ratih, dan Astradewi tertegun kagum akan kecantikannya. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara.

Sampai Gardapati berbisik kepada Astradewi, "Itulah orang yang Kakang katakan." Astradewi tersenyum lugu. Kedua tangannya merentang, lalu ditarik. Tangan kanan dalam posisi menyembah dan tangan kiri menekuk dengan telapak membuka di dekat pinggang. Kaki kiri ditekuk, maka melayang terbanglah tubuhnya ke atas undakan di mana Dhara Sesat Air Terjun Balumbang berada. "Saya Astradewi, Mbakyu!" Astradewi memperkenalkan diri. "Kau cantik sekali, Nimas. Tak salah bila Kakang Gardapati sering membicarakan tentangmu!" puji Dyah Krusina tulus. "Terima kasih atas pujiannya, Mbakyu," Astradewi memerah malu. Jika dilihat dari reaksinya ketika disapa atau dipuji, tak akan ada siapapun yang menyangka bahwa gadis yang satu ini lebih kejam dari seorang iblis.

"Plok! plok!" Dyah Krusina menepuk tangan. Dari belakang taman yang membentang di dekat undakan keluarlah seorang gadis cantik lainnya. Dia mengenakan pakaian terusan transparan dengan mahkota intan berbentuk bunga kemboja. Dilihat dari wajahnya, jelas dia bukanlah orang asing. "Aryani, ajaklah tamu kita ke kamar pribadiku!" titah Dyah Krusina. "Baik, Dhara," jawab Aryani sambil berjalan menuju Arya dan Ratih. Ketiganya nampak terlihat melakukan pembicaraan sebentar sampai akhirnya ketiga orang itu meninggalkan tempat menuju sebuah lorong lain.

"Mari, kita pun harus menyusul mereka!" ajak Dyah Krusina sambil mengulurkan tangan. Astradewi menyambut itu dengan gembira. Dan keduanya pun pergi menyusul mereka. Gardapati tersenyum saja melihat semuanya. Kedua tangannya dirangkapkan di dada. Bersamaan dengan kepulan asap putih, tubuhnya lenyap entah ke mana. Sebenarnya, siapakah gadis-gadis yang ada di Air Terjun itu? Masih ingatkah dengan Aryani, gadis yang pertama kali menjadi korban Gardapati? Ya, mereka semua yang ada di sana adalah para gadis korban Gardapati. Meski awalnya terpaksa, tetapi karena sikap baik Gardapati, mereka tinggal di sana secara sukarela. Namun, ada juga yang hendak kabur. Dan yang kabur itu ditangkap lalu dihapus ingatannya. Maka dari itu, jumlah penghuni goa itu masih tetap sembilan puluh sembilan. Mengenai tingkatan di dalam goa itu tidak melihat pada umur, melainkan siapa yang paling dulu masuk ke sana, dialah senior. Tak salah bila Aryani menjadi wakil ketua dari perkumpulan itu.

"Siapakah dia?" tanya Arya kepada Gardapati yang pada waktu itu duduk di sampingnya. "Murid perguruan Pedang Bumi." "Dan?" "Dan anggota Ratan Wasana." "Darimana kau mendapatkannya?" "Dia memata-mataiiku, maka aku menangkapnya. Sepertinya kakek setan itu hendak bermain api." "Haha, sungguh kasihan dia. Lihatlah... tubuhnya sudah seperti jerangkong, tapi para gadis itu masih juga melalapnya?" "Hahaha, wajar saja, selama ini mereka memang kurang kehangatan. Jika kau ingin, kau boleh merasakan semuanya. Itupun jika kau sanggup." "Bolehlah," haha! Arya tertawa terbahak-bahak dan berhenti ketika Ratih menyenggolnya. "Lalu apa rencanamu?" timpalnya. "Kita harus memasukkan anggota kita ke dalam tubuh Ratan Wasana. Selain itu, kita harus mencari Asmara Dewi Surga, Setan Purnama, Iblis Kembar Bumi, dan Si Gila dari Neraka Hitam. Baik orangnya maupun keturunannya boleh juga muridnya." "Untuk apa mencari mereka?" refleks Astradewi menyela. Wajahnya dan Ratih berubah sedikit pucat. "Menurut Nimas Dyah, Ayahnya Bangsawan Berhati Emas, juga Iblis Bermata Hijau, Asmara Dewi Surga, Setan Purnama, Pangeran Pemabuk, Iblis Kembar Bumi, dan Si Gila dari Neraka Hitam adalah saudara angkat. Saat ini Bangsawan Berhati Emas telah tewas dikeroyok kaum golongan putih. Aku takut bila yang lain pun sedang dalam incaran mereka." "Mbakyu," Astradewi memeluk Dyah Krusina sambil menangis tersedu-sedu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment