Chapter 27
"Ada apa, Nimas?" Dyah Krusina mengelus punggungnya dengan sejuta kasih.
"Orang tua kami," Asmara Dewi Surga dan Setan Purnama telah meninggal dunia dibunuh Maharaja Dunia Persilatan." "Akh." Semua orang yang ada di sana menghela napas panjang.
"Kakang, mengapa kau tak menyebut Pangeran Pemabuk?" tanya Dyah Krusina.
"Ayahku sudah meninggal," jawab Gardapati.
Semuanya kembali menghela napas panjang.
"Berarti tinggal Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka Hitam," simpul Arya.
"Aku rasa Iblis Kembar Bumi masih hidup!" Ratih bertanya pada dirinya sendiri.
"Mengapa?"
Semuanya mengalami nasib yang sama, tumpes kelor.
Melihat semua itu, Prabu Galbah terkejut dan mengalami syok hebat. Akibatnya, sakit jantungnya kambuh. Dia kemudian jatuh sakit dan dalam waktu tak lama mangkat.
Pendeta Ngali Samsujen merasa bersalah karena nasihatnya menimbulkan malapetaka ini. Akhirnya, beliau mati dalam rasa bersalah.
Tinggallah Mahapati Ngerum. Karena rasa setianya, dia ingin melanjutkan misi luhur yang dicita-citakan rajanya. Dia akhirnya ingat pada sahabatnya yang sakti bernama Jaka Sangkala alias Aji Saka, yang tinggal di Tanah Maldewa atau Sweta Dwipa.
Habisnya para migran dari Ngerum ke Tanah Jawa Dwipa itu, menurut Jaka Sangkala, adalah karena hati mereka yang kurang bersih. Mereka tidak meminta izin dahulu pada penjaga Nusantara Jawa Dwipa, padahal, karena sejak zaman dahulu, tanah ini sudah ada yang menghuni.
Yang menghuni tanah Jawa Dwipa adalah manusia yang bersifat suci, berwujud badan halus atau ajiman (aji artinya ratu, man atau wan artinya sakti). Selain penghuni yang baik, juga dihuni penghuni brekasakan, anak buah Batara Kala. Makanya, tak ada yang berani tinggal di Bumi Jawa Dwipa sebelum mendapat izin Wisnu atau Manikmaya atau Semar.
Akhirnya, Mahapati Ngerum diantar Aji Saka menemui Wisnu dan istrinya, Dewi Sri Kembang. Saat bertemu, dituturkan bahwa wadya bala warga Ngerum yang mati tidak bisa hidup lagi dan sudah menjadi Peri Prahyangan, anak buah Batara Kala. Tapi kedelapan Hadipati yang gugur dalam tugas itu berhasil diselamatkan oleh Wisnu dan diserahi tugas menjaga delapan mata angin. Namun, mereka tetap menghuni alam halus.
Atas izin Wisnu, Mahapati Ngerum dan Aji Saka berangkat ke tanah Jawa Dwipa untuk menghadap Semar di Gunung Tidar. Tidar dari kata Tida; hati di dada, maksudnya hidup. Supaya selamat, oleh Wisnu, Mahapati Ngerum dan Aji Saka diberi sifat kandel berupa rajah Kalacakra, agar terhindar dari wabah penyakit dan serangan anak buah Batara Kala.
Singkat cerita, perjalanan ke tanah Jawa Dwipa dipimpin oleh Aji Saka dengan jumlah warga yang lebih besar, 80 ribu atau delapan laksa, disebar di berbagai pelosok pulau. Sejak itulah, kehidupan di tanah Jawa Dwipa yang disebut masyarakat Kabuyutan telah ada sejak 10.000 SM, tetapi mulai agak ramai sejak 3.000 SM.
Sesudah kedatangan pengaruh Hindu, muncul kerajaan pertama di Jawa Dwipa yang lokasinya di Gunung Gede, Merak. Rajanya Prabu Dewowarman atau Dewo Eso, yang bergelar Sang Hyang Prabu Wismudewo. Raja ini memperkuat tahtanya dengan mengawini putri Begawan Jawa Dwipa yang paling terkenal, yaitu Begawan Lembu Suro atau Kesowosidi di Padepokan Garbo Pitu (penguasa tujuh lapis alam gaib) yang terletak di Dieng atau Adi Hyang (jiwa yang sempurna), juga disebut Bumi Samboro (tanah yang menjulang tinggi). Putrinya bernama Padmowati atau Dewi Pertiwi.
Dari perkawinan campuran itu, lahirlah Raden Joko Pakukuhan, yang kelak di kemudian hari menggantikan tahta ayahnya di Kerajaan Jawa Dwipa atau Keraton Purwosarito, dan bergelar Sang Prabu Sri Maha Panggung. Lalu keraton dipindah lokasinya ke Medang Kamulan.
Di keraton bagian barat itu terdapatlah sebuah ruangan indah yang terbuat daripada bambu kuning beratap ilalang. Di sekelilingnya terdapat air yang mengalir, kolam yang jernih, ikan yang berenang. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut menggoyangkan dedaunan yang melambai-lambai. Di ruangan itu duduklah dua atau tiga orang yang bersila gagah. Salah satu dari mereka adalah seorang lelaki paruh baya dengan mahkota emas khas Kerajaan Medangkamulan. Rambutnya beruban, bajunya mewah dengan sulaman emas. Sedangkan orang yang kedua merupakan seorang kakek tua berwajah welas asih. Pakaiannya adalah pakaian khas seorang pendeta. Dan yang terakhir adalah seorang lelaki berusia tiga puluhan bermata tajam. Ia memakai pakaian prajurit lengkap dengan baju zirahnya.
"Empu Darma, jauh sebelum aku menjadi seorang raja, ketika aku masih suka bermeditasi, aku telah mendapatkan ilham dari Yang Mahakuasa, ilham yang menjadikan aku penasaran dan rindu akan sosoknya!" Lelaki paruh baya bermahkota emas itu melayang pikirannya.
"Maafkan hamba, Baginda. Kiranya Baginda dapat memberikan tahu kepada hamba akan ilham tersebut," Empu Darma tersenyum ramah.
"Jika langit dan bumi enggan bersatu, petir biru menyala sembilan kali menyambar sebuah tempat di bumi, di sanalah akan muncul pewaris sang langit dan bumi," tutur lelaki paruh baya bermahkota emas yang tak lain adalah Prabu Dewowarman atau Dewo Eso.
"Jika langit dan bumi enggan bersatu, petir biru menyala sembilan kali menyambar sebuah tempat di bumi, di sanalah akan muncul pewaris sang langit dan bumi," ulang Empu Darma.
Lelaki berbaju prajurit termenung diam mencerna setiap kata yang diucapkan Prabu Dewowarman. Setelah merenung dan menemukan titik terang, akhirnya ia berkata, "Maafkan hamba, Baginda yang mulia, wahai junjungan hamba. Dapatkah Baginda memberikan tahu kiranya titah apakah yang akan diberikan kepada hamba?" Begitulah ucapan lelaki berbaju prajurit yang tak lain adalah Bhayangkara Kerajaan Medangkamulan.
"Dengarlah, wahai Aruna. Dikau memang kesayangan hamba. Aku ingin mengangkat dikau sebagai pembimbing atau petunjuk dalam hal kedigdayaan dan olah kanuragan mengenai anak itu."
"Gusti junjungan hamba yang mulia! Suatu kepercayaan menuntut kewajiban, karena pada hakikatnya kepercayaan itu adalah suatu kewajiban. Suatu pertanggungan jawab. Pengangkatan diri hamba sebagai pembimbing seorang Pangeran Langit dan Bumi Pilihan Sang Hyang Tunggal merupakan suatu kepercayaan yang menuntut pertanggungan jawab besar. Berat rasa hati hamba menyambut tanggung jawab itu. Tapi, bila Baginda sudah merasa bahwa hamba memiliki kemampuan untuk menjalankan titah tersebut, hamba akan menjalaninya dengan segenap jiwa dan raga yang hamba miliki. Bagi hamba, titah Baginda adalah hukum bagi diri hamba. Darah hamba adalah prajurit. Jiwa hamba adalah jiwa perjuangan. Nafas hamba adalah napas pengabdian. Dan hidup hamba adalah untuk membela dan menegakkan negara Medangkamulan ini."
Prabu Dewowarman terenyuh akan ucapan Aruna sang Bhayangkara Medangkamulan itu. Ia tersenyum bangga. Dengan tak kalah tegasnya, ia pun memberi titah kepada Empu Darma.
"Empu Darma, aku titahkan agar dikau pun menjadi pembimbing akan tingkah polah laku anak itu. Akan menjadi senjata kebenaran maupun kehancuran anak itu tergantung setiap patah kata dan tindakanmu."
"Daulat, Gusti...!"
Roda kehidupan terus bergulir, tahun demi tahun, bulan demi bulan, pemangku pemerintahan maupun pewaris dari Sang Langit dan Bumi terus bergulir bergantian. Kehidupan terus berubah seiring dengan berputarnya rotasi bumi. Dan Sang Pangeran Langit dan Bumi adalah salah satu penopang kehidupan Kerajaan Medangkamulan, sebab Pangeran tersebut merupakan jelmaan dari dewa yang berupa sukma. Selanjutnya Sang Pangeran Langit dan Bumi atau Sang Dewa itu selanjutnya dipanggil dengan sebutan Begawan Lembu Suro.
Jauh setelah perbincangan pada zaman Kerajaan Medangkamulan itu, terlahirlah sebuah zaman di mana manusia sudah dapat berkomunikasi dengan berbagai macam suku, kepercayaan, dan bahasa. Di sebuah pegunungan tinggi yang dinamakan Merapi terdapatlah sebuah padepokan/pesantren bernama "Arrahman" yang dipimpin oleh seorang kyai bernama Kyai Ageng Putra. Padepokan itu terasa hidup akan aktivitas yang dijalankan oleh para santrinya. Di sebuah ruangan lain duduklah empat orang manusia berbeda usia maupun jenis. Tampaknya mereka adalah guru dan murid.
"Ancala, Brangaspati, Ningrum, dengarlah dengan saksama. Ketahuilah bahwa aku adalah Sang Pembimbing yang ke-260, sudah turun-temurun dari para leluhurku akan sebuah adat yang kami sebut sebagai 'Ruwatan Tugas Suci'. Maka saat ini aku akan menyerahkan tugas sebagai Sang Pembimbing itu kepada kalian. Pada zaman dahulu kala, Pembimbing Pertama Empu Darma dan Bhayangkara Aruna telah mampu mendidik dan membimbing seorang Pangeran Langit dan Bumi yang merupakan titisan dewa......" Kemudian Kyai Ageng Putra menceritakan hal ihwal kejadian yang terjadi pada masa lampau itu secara garis besar.
"Luar biasa.....!" ucap mereka serempak.
"Ingatlah, wahai muridku...! Jika langit dan bumi enggan bersatu, petir biru menyala sembilan kali menyambar sebuah tempat di bumi, di sanalah akan muncul pewaris sang langit dan bumi."
"Baik, Eyang!"
"Dan satu hal lagi yang harus kalian camkan baik-baik. Sang Pembimbing ke-190 telah mengutuk Sang Pangeran Langit dan Bumi menjadi seorang yang liar dan tak terkendali, karena Sang Pangeran itu telah melalaikan tugasnya! Bukan hanya itu, pada suatu saat nanti Sang Pangeran Terkutuk itu akan lahir dengan bencana yang mengerikan. Petir akan menyalak lebih, yaitu sepuluh kali, yang dinamakan dengan Samburtan Langit. Namun bila bumi bergetar, maka anak itu akan menjadi sebuah berkah menjadi rezeki bagi umat manusia. Itulah Sambutan Bumi."
Begitulah mereka berbincang-bincang mengenai tugas yang mereka emban, pembicaraan yang akan memulai kisah kehidupan ini.
"Begitulah kejadiannya, anakku. Seperti yang kau ketahui, bahwa kelahiranmu memang ditemani sepuluh petir dan bumi bergetar," Ki Brangaspati menghela napas panjang.
"Jadi, aku adalah Pangeran Terkutuk itu, Eyang?"
"Benar. Seluruh dunia persilatan sekarang adalah tanggung jawab engkau. Bila engkau bersikap masa bodoh, maka hancurlah dunia persilatan ini."