Chapter 28
"Pakailah Gelar Pangeran terkutuk agar engkau selalu ingat siapakah dirimu itu!" "Apa aku seliar itu, Eyang?" "Tidak, bila engkau dapat mengendalikan emosi! Ingatlah tentang kerajaanmu, maka itu semua tidak akan berpengaruh banyak." "Baik, Eyang!" Gardapati menghela napas lagi.
Sungguh berat beban yang dipikulnya itu.
"Bagaimana dengan kitab yang kau pelajari?" "Sungguh maha luas, Eyang, saya belum dapat memahami seluruhnya." "Haha... Itulah ilmu, anakku, tak ada batasnya. Semakin engkau mempelajarinya, semakin luas pula ilmu itu. Bisa kau bayangkan betapa luar biasa Tuhan kita yang telah menciptakan semua ini?" Ki Brangaspati berkata mengambang.
"Anakku, temuilah Kyai Ancala, eyangmu yang kedua. Kau harus mempelajari Batin Murni darinya!" "Batin Murni?" "Benar... Pergilah!" Sagara Angkara berdiri, lalu membungkuk dan pergi ke dalam gua.
"Hiaaaattt!" "Hiaaa?" "Blegaaarrr!" Sebuah ledakan dahsyat bergema di samping air terjun, dua bayangan berbeda terpental berlawanan arah.
Di samping dua orang yang bertarung itu, tampak Gardapati, Arya, dan Dyah Krusina.
Sementara yang bertarung di pagi hari itu adalah Astradewi dan Ratih.
"Awas, serangan!" Ratih bergerak ke depan dengan kombinasi gerakan kedua tangan yang seimbang, bergulung-gulung tanpa henti.
Gerakan itu rupanya mengaburkan lawan yang bertarung dengannya.
Astradewi mengangkat tubuh perlahan-lahan ke atas dengan hanya menggunakan salah satu kaki penyangga berat tubuh.
Kaki kirinya terangkat ke atas dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi.
Diawali dengan gerakan menurunkan kaki kiri secara cepat dan menjadikan kaki sebagai pemantapan tumpuan, bersamaan dengan itu, tangan kanan mengiringi dengan suatu dorongan bertenaga kuat, sementara tangan kiri menempel pada sisi bahu kanan itu sendiri.
"Wung!" Sebuah gulungan angin topan bergulung-gulung menyerang Ratih yang waktu itu juga menggulung tangannya, menciptakan angin topan.
"Blegaaarrr!" Ledakan memekakkan telinga kembali terdengar, rumput dan tanah beterbangan terbawa angin, pohon-pohon tumbang akibat bentrokan tenaga dalam itu.
Ratih tak berhenti begitu saja. Dari gerakan menggulung, disusul dengan kombinasi antara cengkeraman pada jari tangan dan penarikan tangan kanan.
Itulah Jurus Angin Api Merogoh Hati.
Astradewi melenting ke atas. Di udara, kaki kanan diangkat sambil memutarkan tangan kiri dalam suatu putaran yang mengarah kepada Ratih.
"Purnama Bergentayangan!" pekik Astradewi.
Bagaikan bayangan, tubuhnya melesat menyerang lawan.
Ratih tak mau kalah, ia pun berkelebat menyongsong serangan itu.
Dentuman tenaga sakti beradu begitu memekakkan telinga. Kesiuran angin dan cahaya tajam menghancurkan apa pun yang dilaluinya. Tak ada yang sanggup lagi melihat keduanya. Debu mengepul seperti jamur raksasa, yang terlihat dari luar hanyalah bayangan Nila dan Jingga, itu pun samar.
"Cukup!" Gardapati berteriak melengking tajam.
Seketika dentuman tenaga sakti berhenti. Hanya debu yang mengepul dan kesiuran angin saja yang belum lenyap.
Sekejap mata kemudian, kedua gadis itu sudah berada di hadapan Gardapati.
"Nimas Dyah, Arya, sekarang giliran kalian!" Tanpa kata, keduanya menjejakkan kaki dan meloncat ke atas pucuk dedaunan di atas pohon.
"Mulai!"
Gardapati berteriak lagi.
"Maaf, Nimas," Arya memperingatkan sambil melakukan suatu lesatan tiba-tiba.
Untuk melakukan lesatan secara tiba-tiba, seseorang harus dapat menguasai keseimbangan dari kuda-kuda yang mantap.
Kedua tangannya melaksanakan suatu pukulan kuat melalui kepalan tangan kanan, dan tangan lainnya membuat suatu cengkeraman udara dari samping luar.
Dari tinjunya melesatlah sinar hijau tua, dan dari cengkeramannya mendesing suatu angin tanpa wujud menyerang titik vital lawan.
Dyah Krusina menggerakkan tubuhnya ke bawah arah kiri, serta suatu perlindungan menyilang pada tangan kanan untuk menangkis cengkeraman udara, dan tangan lainnya berada pada bagian atas menampar sinar hijau tua lawan hingga membentur pohon sampai hancur berantakan.
"Duk... Plak... Blaarrr!" Tak berhenti begitu saja, Dyah Krusina mengembangkan tangan, melayang ke muka.
Kaki kanannya dijinjitkan dan ditarik mendekat pada kaki lainnya sambil memutarkan tubuh berbalik arah jarum jam. Celana payungnya memutar dahsyat seperti cakram.
Sungguh serba salah hati Arya, bagaimana tidak salah bila dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang mendebarkan, sekaligus berbahaya, sebab bisa saja celana payung yang mengembang itu memotong lehernya.
Saking serba salahnya, Arya tak lagi sanggup melakukan serangan balasan. Ia hanya menarik kaki kanan yang berada di bagian depan dan dijinjitkan. Kedua tangan ditarik menekuk untuk penguncian pertahanan tubuh bagian atas.
"Sreeeng!" Sungguh luar biasa akibatnya, kain celana payung Dyah Krusina yang bergesekan dengan tangan Arya mengeluarkan lelatu api seperti logam yang beradu.
Dyah Krusina tak mau kalah. Kaki kirinya diangkat bergantian dengan tangan kanan, tangan kiri memutar searah jarum jam diikuti dengan tubuhnya, jadi secara mendadak roda putaran kain itu berubah dan semakin mendesak Arya.
"Hebat!" Arya memuji sambil menjejakkan kakinya mundur.
Keduanya berkejaran.
Kaki kiri Dyah Krusina menjejak tangan Arya dan berjungkir balik.
Tangan kirinya menerobos dan memukulkan telapak mungilnya di dada Arya.
"Awas!" "Jangan khawatir," Arya menjawab sambil melenting salto ke belakang. Telapak tangan Dyah Krusina lewat sejengkal di atas dadanya.
Kaki Arya yang melenting ditendangkan ke atas. "Duk!" Tangan dan kaki beradu.
Pertarungan itu sungguh sedap untuk dipandang.
Warna keemasan dan kelabu terus bergumul di udara. Tak pernah sekalipun menjejak tanah, hanya dedaunan yang mereka injak sebagai pijakan untuk bertarung.
"Tuk!" Gardapati menjejak di ranting pohon. Bagaikan roket, tubuhnya meloncat ke langit. Di atas tubuhnya melenting balik, kakinya menjejak udara seperti menjejak langit.
Dan dengan kecepatan angin lesus meluncur ke bumi dengan kedua tangan dibuka.
Perlahan, telapak tangannya itu berubah menjadi merah api.
Di atas pucuk pohon, Dyah Krusina merendahkan posisi tubuhnya. Kedua tangannya disimpan di pundak, membuka seperti menahan langit.
Telapak tangannya menguning keemasan, bersiap menerima serangan lawan.
"Hiat! Jejakan Langit Telapak Membara!" teriak Arya. Tak kalah garang, Dyah Krusina pun berteriak nyaring, "Menahan Langit Runtuh!" "Cesss!" Dimulai dengan desisan nyaring, maka meledaklah sebuah gema beradunya dua buah tenaga sakti.
"Blegaaarrr!" Debu kembali mengepul menjadi jamur raksasa. Arya dan Dyah Krusina masih berkutat seru sampai dihentikan Gardapati.
Ketika debu menghilang, tampaklah sebuah lubang raksasa. Di tengahnya terdapat dua lubang bekas kaki. Sungguh dahsyat beradunya tenaga sakti itu! "Sudah cukup latihan hari ini, mari kita duduk untuk membicarakan ke depannya," ajak Gardapati.
Kelimanya pun duduk melingkar di bawah pohon jambu air. Semilir angin menyejukkan wajah mereka yang berkeringat, benar-benar sebuah tempat yang pas untuk bersantai.
"Nimas Dyah, carilah sebuah lokasi yang pas untuk berkumpulnya kaum persilatan dan bangsawan kerajaan. Bagi dua anggota: satu di sini dan satunya di sana. Aku sudah berbicara kepada Aryani untuk bergantian denganmu." "Bagaimana bila di sana kekurangan perempuan, Kakang?" "Orang setempat yang butuh pekerjaan boleh kamu rekrut." "Baik!" "Nimas Dewi!" "Ya, Kakang!"
"Bantulah Nimas Dyah, setelahnya kamu boleh pergi ke mana pun kamu suka." "Enteng sekali, Kakang!" "Haha," Kakang yakin kamu akan membuat dunia persilatan gempar dengan kehadiranmu! Carilah kedua orang yang dulu menjadi kekasihmu. Ajarkan Ilmu Tengkorak Emas dan Naga Api. Juga berbagai macam ajian lainnya. Satu hal lagi, tetap jaga dirimu sendiri." "Baik, Kakang!" "Nimas Ratih!" "Ya, Kakang!" "Bantulah Arya untuk mencari Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka Hitam." "Baik!" "Arya!" "Ya...!" "Kau sudah mendengar perintah pertamamu. Oh ya, tolong tinggalkan jejak Ratan Wasana di mana pun kau berada."
"Mengapa harus Ratan Wasana?" "Itu untuk memancing keluar Kakek Setan itu." "Baiklah, jika keputusan itu sudah bulat." "Dan Kakang hendak ke mana?" tanya Astradewi.
"Bermain Mahkota sekaligus menemui ibunda." "Bermain mahkota?" "Hehe!" Gardapati tertawa misterius.
"Omong-omong, kau akan ke mana, Arya?" tanya Gardapati.
"Ke Rawa Kelindingan." "Carilah pemuda berbakat untuk dijadikan pasukan yang satunya lagi." "Baik, kami pamit," Arya bersama Ratih bangkit, membungkuk, dan pergi ke selatan.
"Nimas Dewi, bantulah Nimas Dyah di sini. Kakang hendak pergi ke Keraton menemui ibunda!" "Baik, Kakang."
Astradewi memeluk Gardapati.
Begitu halnya dengan Dyah Krusina. Gardapati membalikkan tubuh. Bersamaan dengan mengepulnya asap putih, tubuhnya lenyap tanpa bekas. Dyah Krusina dan Astradewi berpandangan, lalu mereka masuk kembali ke dalam gua.
"Aryani!" Dyah Krusina memanggil.
"Perintahkan Dita untuk mengumpulkan segenap anggota kita." "Baiklah, Dhara!" Aryani berbalik dan menghilang di tikungan.
"Mbakyu, kau benar-benar pemimpin yang baik!" Astradewi mengomentari.
"Terima kasih, Nimas Dewi. Kau pun gadis yang baik," balas puji Dyah Krusina.
"Semuanya sudah berkumpul, Dhara!" Aryani berdiri di tikungan.
Astradewi dan Dyah Krusina mengikuti dari belakang.
Di sebuah aula dengan sebuah kolam, tampak berjejer sembilan puluh delapan gadis yang cantik rupawan.
"Saudariku, hari ini tiba saatnya untuk kita menongolkan diri di dunia persilatan. Yang ingin meninggalkan tempat ini, silakan memisahkan diri ke sebelah kananku." Berbondong-bondong para gadis itu memisahkan diri hingga tak satu pun yang tersisa.
"Saudariku, di sana kita bukan untuk bersenang-senang, melainkan menjadi gadis bunga. Pertimbangkan baik-baik. Yang ingin berubah pikiran, silakan memisahkan diri ke kiri." Masih belum ada juga yang memisahkan diri.
Akhirnya, Astradewi yang berbicara.
"Di sini bukan berarti diam seperti sebelumnya. Sesekali kita keluar sebagai gadis biasa untuk menjalankan misi dan sekadar bersenang-senang. Jangan merasa kesepian.