Chapter 29
"Silakan memisahkan diri. Saat ini kalian terdiri dari sembilan puluh delapan orang. Jadi, empat puluh sembilan menjadi Gadis Bunga dan empat puluh sembilan lagi menjadi Dhara Sesat."
Mendengar itu, satu per satu mereka memisahkan diri hingga menjadi dua kelompok. Dari wajah mereka tampak rona kegembiraan yang mendalam.
"Baiklah, yang hendak pergi segera kemasi barang kalian. Nanti malam kita akan berangkat. Dan yang di sini, patuhi perintah wakil Dhara. Kalian akan mengerjakan misi yang cukup berbahaya. Jaga diri kalian baik-baik," Dyah Krusina berpidato.
"Hidup Dhara Sesat! Hidup Dhara Sesat!" teriak mereka berulang-ulang.
Dyah Krusina menepuk pundak Aryani. "Tolong jaga mereka, Mbakyu," pinta Dyah Krusina.
"Tentu, Nimas. Mereka adalah saudariku juga. Ini topeng wajahku. Pakailah jika ada kepentingan yang dianggap perlu. Satu lagi, jangan perlihatkan wajah aslimu di dunia persilatan."
"Terima kasih." Astadewi menepuk pundak Dyah Krusina. Dyah Krusina berbalik dan tersenyum. Setelah berbasa-basi, keduanya segera masuk ke kamar pribadi mereka.
Dalam waktu lima hari saja, Gardapati sudah tiba di keraton. Kakinya menjejak dan melesat terbang ke atas dinding benteng keraton. Dengan ingatannya beberapa tahun yang lalu, ia berloncatan di atap tanpa suara, dan sampai di keputren tempat para putri raja tanpa sepengetahuan para prajurit.
Keputren itu sangat indah dan teratur, dengan berbagai kolam dan ikan-ikan yang juga terawat sempurna. Gardapati tak sempat menikmati pemandangan yang memesona seperti ini, perhatiannya lebih tertuju kepada sebuah bangunan kecil di keputren itu.
Ludah Gardapati tertahan di tenggorokan. Sekilas Gardapati menemukan wajah yang selama ini dirindukan dalam batinnya; wajah wanita yang selalu ada dalam benaknya. Ia mengendap-endap dan secara luar biasa masuk ke dalam bangunan tanpa diketahui penghuninya.
"Ibunda," Gardapati menyembah dari belakang.
Wanita setengah baya berpakaian keraton itu berbalik. Bibirnya terbuka karena kaget. "Gardasakti! Oh, kau datang dari alam baka!" Wanita setengah baya itu bangkit dan memeluk Gardapati. Tubuhnya mengguncang karena menangis. "Maaf, maafkan aku!" Wanita setengah baya itu sesegukan.
"Ibu, ini Ananda Gardapati, anakmu. Ayah sudah meninggal." Gardapati menitikkan air mata dan balas memeluk ibunya.
"Apa!" Wanita itu melepaskan pelukannya, lalu diperhatikannya wajah Gardapati secara mendetail. "Be... benarkah?"
"Mana mungkin Ananda berbohong, Ibu!"
"Kau mirip sekali dengan ayahmu semasa muda, Anakku! Sampai Ibu pun menyangka bahwa kau adalah ayahmu. Ke manakah selama ini? Apakah Perguruan Rajawali Emas sudah mengajarkanmu ilmu yang hebat?"
Wajah Gardapati mendadak merah, tubuhnya gemetar karena gusar. "Masakah mereka akan sebaik itu, Ibu? Jangankan memberikan ilmu, bahkan mereka melarangku untuk membalas dendam."
Wajah wanita paruh baya itu pucat, bibirnya gemetar, dan matanya berkaca-kaca. Gardapati tahu ibunya hendak menanyakan tentang kejadian selanjutnya, maka ia segera melanjutkan.
"Untunglah aku ditemukan saudara angkat Ayah dan dijadikan muridnya. Awalnya Ananda tak mengetahui, tapi dalam jangka waktu yang tak jauh dari sekarang, Ananda mengetahui rahasia tersebut. Bukan hanya Ananda yang akan membalas dendam, tapi semua pihak yang terlibat dengan saudara-saudara angkat Ayah. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui."
"Akh, ternyata takdir tidak selamanya buruk, Anakku! Anakku, kau adalah anak seorang pangeran sebuah kerajaan. Bila engkau membutuhkan pertolongan saudara tirimu, mintalah. Ibu pun akan membantu."
"Ibu, Ananda datang ke sini juga karena Ananda hendak meminta bantuan Ibu untuk memasukkan beberapa anggotaku ke dalam kerajaan."
"Anggota?"
"Heem, Ibu. Saat ini Ananda bersama keturunan saudara angkat Ayah sedang membangun sebuah perkumpulan yang akan membalaskan dendam kematian Ayah."
"Syukurlah, Anakku. Kau sudah memenuhi harapan Ibu. Baiklah, Ibu akan mempersiapkannya untukmu."
"Terima kasih, Ibu. Ananda pamit hendak melanjutkan rencana Ananda. Suatu saat nanti kita akan bersatu lagi." Gardapati bangkit dan memeluk ibunya.
"Semoga berhasil, Anakku. Doa Ibu selalu menyertaimu. Ah, dapatkah engkau melaksanakan permintaan Ibu sebelum engkau pergi dari sisi Ibu?"
"Tentu, Ibu! Apa saja?"
"Ya, apa saja!"
"Ikutlah bersama Ibu menemui adik kandungmu!"
Gardapati melenggong, tapi mana mungkin ia membalikkan lidahnya. Akhirnya ia mengangguk. Wanita setengah baya itu tersenyum, digandengnya tangan Gardapati dan keluar dari bangunan di keputren itu. Mereka terus berjalan menyusuri taman yang penuh beraneka bunga dan kolam-kolam dengan aneka ikan, hingga sampailah di sebuah taman lain yang lebih indah dari tempat sebelumnya.
Di sana tampak banyak sekali para putri yang masih belia bermain-main. Melihat wanita setengah baya itu masuk, para putri itu berebutan mendekat dan memberi hormat. Mata mereka melirik mencuri pandang pada Gardapati. Dalam pandangan mereka, Gardapati adalah sesosok pemuda tampan yang baru kali pertama mereka lihat. Tubuh yang kekar, sifat yang halus lembut meski mulutnya menyunggingkan senyum licik.
Semua putri itu cantik menarik, tapi yang lebih menarik perhatian Gardapati adalah sesosok gadis yang kira-kira dua tahun lebih muda darinya. Wajahnya cantik, mirip dengan ibunya semasa muda. Matanya mirip dengan yang ia miliki. Gardapati mendekatinya, tangannya terulur dan mengusap lembut pipinya dengan senyuman seorang kakak kepada adiknya.
Gardapati merengkuh kepala gadis itu dan memeluknya. Semua mata yang memandang tampak iri melihat itu semua. Gadis yang dipeluk Gardapati memerah malu. Ingin melepas, namun entah mengapa ia tak sanggup melakukannya. Entah itu karena wibawa Gardapati atau hal lainnya.
"Nimas Garwita, kau sudah besar dan cantik sekarang. Kakang merindukanmu!" bisik Gardapati.
"Kakangmas Garda!" Garwita balas memeluk Gardapati.
Bress! Bruukkk! Naas, Garwita memeluk angin. Gardapati menghilang entah ke mana, hanya meninggalkan asap yang mengepul saja.
"Kakang! Kakang Garda... hik... hik! Mengapa kau tak mengizinkan adikmu ini memeluk tubuhmu? Huhu..." Garwita menangis sesegukan.
Wanita setengah baya itu juga menangis. Ia berjongkok dan mengelus-elus rambut Garwita. Satu hal yang dipahami oleh para putri yang ada di sana; pemuda barusan adalah seorang pangeran juga, dan ia adalah saudara kandung dari Putri Garwita.
***
Setelah berlari selama lima hari lima malam, akhirnya sampailah Arya dan Ratih di Rawa Kelindingan. Di sana terdapat puluhan macam tumbuhan raksasa. Keduanya tampak begitu kecil di bawahnya.
"Mengapa kita ke sini, Kakang?" Ratih berkata gemetar sambil celingukan ketakutan.
"Menurut kabar yang Kakang dengar, di sinilah Neraka Hitam itu. Mudah-mudahan Si Gila dari Neraka Hitam masih ada di sini!"
"Apakah dia masih hidup?" Ratih bertanya lagi.
Tiba-tiba, sebuah suara serak menyahut dari atas pohon. "Apakah kau mendoakan aku mati, Bocah!"
"Tidak. Maafkan saya, Orang Tua. Apakah Orang Tua adalah Si Gila dari Neraka Hitam?"
"Dasar bocah tak tahu diri! Beraninya memanggilku Si Gila. Terimalah kematian kalian, haha!" Bersamaan dengan hilangnya suara itu, terdengarlah suara desisan nyaring bersamaan dengan menyeruaknya bau amis.
"Perasaanku tak enak, Kakang!" Ratih berkata sambil mengelus-elus tengkuknya.
"Ular!" desis Arya.
Suiiittt! Fyuiiiitt! Terdengar siulan nyaring yang aneh, lembut mendayu-dayu sekaligus menusuk telinga. Ular-ular yang ada di sekeliling pun sama-sama mengangkat kepala dan merangkak ke depan. Suara dengungan memenuhi angkasa. Tawon beracun yang jumlahnya entah berapa pun mulai berdatangan dari segala penjuru, melancarkan serangan udara yang luar biasa hebatnya.
Arya membentak keras. Kuda-kudanya direndahkan, telapak kiri diputar satu lingkaran besar lalu menghantam keluar. Angin pukulan tajam bagaikan sayatan pedang menyerbu kawanan tawon itu. Seketika itu juga berpuluh-puluh ekor tawon jatuh berhamburan ke atas tanah. Sementara itu, tangan yang lain dengan suatu kibasan memutar melancarkan serangan ke bawah di mana ular-ular itu berada. Ular-ular itu bermuncratan dan mati.
Gugur satu, tumbuh seribu; begitulah kejadiannya. Semakin banyak mereka yang mati, semakin banyak dan ganas pula dua binatang berbisa itu menyerang.
"Kakang, kemarilah. Letakkan tanganmu di punggungku, bantu aku mengerahkan tenaga dalam!"
Tanpa bertanya lagi, Arya meloncat ke belakang tubuh Ratih yang pada waktu itu sedang bersila. Tangan kanan Ratih teracung dengan jari-jari rapat, sementara tangan kiri diletakkan di tanah di samping paha.
Depp! Telapak tangan Arya menempel. Sekejap saja hawa dingin di udara dan di sekitar tempat itu merebak. Dedaunan berkeringat, perlahan membeku. Itu semua terjadi dalam jarak empat puluh tombak dari sekeliling Ratih dan Arya. Ular-ular itu mundur ke belakang, bahkan di antaranya ada yang membeku. Tawon-tawon kocar-kacir melarikan diri, tak jarang di antaranya berjatuhan ke tanah. Benar-benar pameran ilmu tenaga dalam yang luar biasa.
"Tenaga Sakti Berahi Gadis Liar? Akh, bukan! Rembulan Dingin Bersinar di Malam Purnama?" Suara serak itu menjerit kaget.
Jlegg! Di hadapan kedua orang itu berdiri seorang lelaki paruh baya berpenampilan mesum. Pakaiannya compang-camping, wajahnya hitam dekil, dan rambutnya awut-awutan.
"Siapa kau, Cah Ayu? Huaahahaha!" Lelaki paruh baya itu bertanya dibarengi dengan tawa yang menggelegar.
Arya dan Ratih tak sanggup menahan ledakan tawa itu. Keduanya menutup telinga sambil mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi gendang telinga mereka.
"Fyuiiiiiittttttt!" Arya bersiul nyaring mengalahkan suara itu. Wajahnya pucat karena terlalu memaksakan tenaga dalam.
"Bodeng! Siapa kau? Mengapa kau menguasai jurus 'Suitan Tak Ada Kerjaan'-ku?" bentak lelaki paruh baya itu.
"Maaf, Orang Tua. Kami akan menjelaskan siapa kami jika benar Engkau adalah Si Gila dari Neraka Hitam."
"Brengsek!"
Duaarrr! Sebuah pohon sebesar kubangan kerbau hancur dan tumbang terkena pukulan orang tua itu.